“Mas Aditya ….”
Seorang wanita berpakaian minim dan terbuka terlihat girang saat melihat kehadiran Aditya di sebuah klab malam. Ia yang awalnya tengah duduk bersama beberapa temannya, langsung pergi menghampiri Aditya. Dengan tingkah genitnya, ia memeluk tubuh Aditya.
“Mas, aku kira kamu nggak bakal datang ke sini lagi setelah menikah. Aku kesepian sebulanan ini nggak ada kamu,” ucap wanita itu dengan ekspresi merengut.
“Mana mungkin aku bisa lama-lama tak melihatmu, Sonya,” ucap Aditya.
“Ayo ikut aku! Kita harus bersenang-senang malam ini!”
Sonya menggandeng tangan Aditya dengan mesra. Ia membawa lelaki itu berjalan menuju ke lantai atas yang terdapat ruang-ruang privasi untuk lebih nyaman ngobrol sambal minum-minum.
Sebenarnya Aditya memang berniat untuk insyaf setelah menikah. Ia sangat berharap bisa membina rumah tangga dengan harmonis bersama Syahnaz. Tidak bisa dielakkan, ia memang seorang lelaki nakal yang menyukai kehidupan malam. Namun, untuk pasangan hidup tentunya ia ingin mendapatkan yang terbaik.
Selama berpacaran dengan Syahnaz, Aditya bahkan tak berani menyentuh wanita itu, meskipun ia tahu hasratnya selalu menggebu-gebu. Ia sering melampiaskannya kepada wanita bayaran yang ditemui di klab malam, salah satunya Sonya.
Sonya memang seorang wanita malam yang aktif melayani pelanggan di klab itu. Hubungannya dengan Aditnya lebih dari sekedar pelanggan dan penyedia jasa kepuasan seksual. Wanita itu bahkan tak jarang rela melayani Aditya tanpa bayaran. Ia akan menolak pelanggan lain jika Aditya datang ke klab malam itu.
Bagi Sonya, Aditya adalah pelanggan terbaiknya. Selain tampan dan royal, Aditya juga dianggap sebagai lelaki yang paling bisa memberikannya kepuasan. Meskipun dia banyak pelanggan, ia termasuk wanita malam yang suka pilih-pilih pasangan.
Pekerjaannya bukan sekedar demi uang, tapi juga mencari kepuasan. Ia tak akan segan menolak pelanggan yang jelek apalagi bertubuh gempal. Ia pernah merasakannya sekali karena demi uang yang lumayan banyak, tapi ia sendiri kerepotan melayani lelaki jenis itu. Ia lebih menyukai pelanggan yang tampan, seperti Aditya.
“Aku kangen bangen sama kamu, Mas,” rengek Sonya sembari bergelayut manja di sofa ruangan yang mereka masuki.
“Aku juga kangen kamu, Sonya,” jawab Aditya. Ia memang tidak bisa tahan jika Sonya sudah menggodanya.
Sonya mengulaskan senyum. Dengan sengaja ia menurunkan atasannya yang berbentuk kemben. Ia arahkan tangan Aditya untuk menyentuh dadanya yang sintal dan montok.
“Wah, kamu nakal sekali, Sonya,” ucap Aditya yang kaget sekaligus bahagia. Ia sangat suka dengan wanita tipe-tipe agresif seperti Sonya.
“Sudah lama kamu tidak menyentuhnya, Mas. Rasanya jadi gatel pengin dipijitin sama kamu,” kata Sonya dengan nada menggoda.
“Masa sih? Pasti sudah banyak juga lelaki lain yang suka memegang ini selama aku tidak ada.”
“Auw!” teriak Sonya saat Aditya sengaja memberikan cubitan kasar pada gundukan dadanya.
“Aku cemburu, nih!” ucap Aditnya.
Sonya tersenyum senang. “Makanya, sering-sering datang ke sini, Mas. Kamu tahu kan, aku nggak bakal melayani lelaki lain kalau ada kamu,” ujarnya.
Dengan nakal Sonya menurunkan tangan menyentuh bagian sensitif milik Aditya. Seperti tidak sabaran, ia membuka celana lelaki itu dan memegangi sesuatu yang sangat dirindukannya selama satu bulan ini. Sesuatu yang selalu bisa memberinya kepuasan.
“Jadi, kenapa kamu datang ke sini? Apa istrimu tidak bisa memuaskanmu?” tanya Sonya sembari sibuk bergerilya dan menciumi lelaki di sampingnya.
Aditya mengambil menuangkan minuman ke dalam gelasnya lalu meminum secara perlahan sembari menikmati perlakuan Sonya terhadapnya. Ia datang ke sana memang untuk mengobati rasa kesepian setelah Syahnaz ia jual ke lelaki lain.
Ada rasa sesal telah melepaskan wanita yang selama ini sangat ia dambakan sebagai istri. Ia bahkan belum sempat mencicipi manisnya tubuh wanita itu setelah menikah. Ia malah dengan bodohnya memberikan Syahnaz kepada Tuan Jendra. Tapi, kalau bukan karena Syahnaz, ia tidak mungkin bisa melunasi hutangnya. Sisa pembayaran hutang dan biaya rumah sakit juga masih cukup banyak di tangannya.
Tiba-tiba Aditya hilang hairah. Ia menyingkirkan tangan Sonya dari miliknya lalu menaikkan kembali resleting celananya. Aditya mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Ia menghisap rokok itu sembari bersandar dengan santai pada sandaran sofa.
Sonya agak terheran melihatnya. Padahal biasanya lelaki itu akan semakin bergairah ketika mereka sedang berdua. Aditya terlihat malas-malasan untuk bercinta dengannya.
“Kamu kenapa, Mas? Aku sudah kurang menarik, ya?” tanya Sonya dengan raut wajah sedihnya. Ia bahkan sudah membiarkan kedua buah dadanya terbuka di depan Aditya, namun lelaki itu tak tertarik padanya.
“Sepertinya malam ini aku hanya butuh curhat padamu. Aku sangat pusing,” ucap Aditnya.
Sonya kembali mendekat ke arah Aditnya.
“Pusing kenapa, Mas? Apa ada masalah di kantor?” tanyanya.
Aditya menggeleng. Sekali lagi ia menghisap rokoknya kemudian menyembulkan asapnya.
“Aku sudah menjual istriku,” katanya.
Sonya langsung tercengang mendengar ucapan Aditya. “Apa?” tanyanya tidak percaya.
“Kamu tahu kan, kalau aku punya banyak hutang pada Bos Danu. Dia mengancam akan membunuhku jika tidak bisa melunasinya. Aku tidak punya uang sebanyak itu untuk membayarnya. Jadi, aku jual istriku kepada orang yang memberikan harga tinggi.”
“Serius?” tanya Sonya memastikan.
Ia masih tidak bisa mempercayai ucapan Aditya.
Lelaki itu bahkan berpamitan beberapa minggu sebelum pernikahan, ia bilang tidak akan lagi bisa menemui Sonya karena akan fokus pada satu wanita yang akan dinikahinya. Sonya sempat iri kepada wanita itu, karena pasti Aditya sangat mencintainya. Mendengar Aditya menjual wanita itu, sungguh sangat mengagetkan untuknya.
Aditya menoleh ke arah Sonya seraya menyeringai. “Kapan aku berbohong padamu?”
“Tapi … tapi, bukannya kamu sangat mencintainya?” tanya Sonya lagi.
Aditya menekan sisa puntung rokoknya pada asbak. Ia lantas meminum segelas alkohol dalam sekali tegukkan.
“Tentu saja aku sangat mencintainya. Tapi, realita sering kali berbeda dengan harapan kita. Aku tidak punya cara lain untuk mendapatkan uang secara instan jika tidak mengorbankannya.”
“Lalu, kenapa kamu sedih? Bukannya kamu sendiri yang sudah menjual istrimu sendiri?”
Sonya menertawakan Aditya. Ia ikut meminum satu gelas alkohol yang ada di depannya.
“Namanya juga cinta, pastilah aku sedih kehilangan dia,” tutur Aditnya.
Sonya kembali berusaha menempel kepada Aditya. Ia menaiki tubuh Aditya sehingga kini posisinya seperti dipangku. Sonya memfokuskan tatapan Aditya kepadanya. Ia merasa ini kesempatan dirinya untuk meraih perhatian dari Sonya.
“Kan ada aku, Mas … ayo, lampiaskan semua gairahmu kepadaku. Aku akan menerima dengan pasrah. Aku pastikan kamu puas dan aku lemas,” kata Sonya dengan nada menggoda.
“Hahaha … kamu sangat pandai bicara, Sonya. Aku tahu goyanganmu memang yang terbaik. Kamu masih jadi favoritmu sampai sekarang.”
Mendengar pujian Aditya membuat Sonya semakin liar. Ia memasang wajah sensual sembari melepaskan satu persatu kancing kemeja Aditnya. “Ayo, kita jadikan malam ini menjadi sangat bergairah,” ajaknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Juan Sastra
nasibmu sahnaz, di nikahi lelaki bejat lalu di beli lelaki brengseek,, yg hanya butuh tubuh dan rahimmu..
2024-03-05
0
αуαηgηуαᴳᴼᴶᴼᴷᴵᴷᴼᵇᵃᵍⁱ2
astaga,, speechless 😩
2024-02-12
0
kusyiwa hiroshi
pantas aja sampai banyak hutangnya, uang minim tp gaya hidup selangit..kasihan syahnas ssbenernya..dan bgmn masib ibunya syahnas,apa memang dirawat dg baik atau malah diabaikan?
2023-11-13
2