“Itu … punya Jendra masih … bisa dipakai kan?” tanya Rania.
Wajah Syahnaz semakin memerah. Sepanjang sarapan, ibu Jendra terus menanyakan seputar kehidupan ranjangnya secara blak-blakan. Ia bahkan merasa sungkan untuk membahasnya.
“Iya, Ma. Masih berfungsi dengan normal, kok,” jawab Syahnaz malu-malu.
Rania tampak menghela napas lega. “Aku khawatir dia tidak punya selera lagi pada perempuan. Soalnya waktu dia menikah dengan Elisa, hanya beberapa bulan saja sebelum kecelakaan terjadi.”
Syahnaz tak berani berkomentar. Kalau ia menceritakan yang sebenarnya, mungkin juga Rania akan syok. Putranya bahkan sangat agresif, bisa mengajaknya bercinta kapan saja. Tak ada sama sekali indikasi adanya penyimpangan atau kelainan. Jendra sangat sehat, terutama adik kecilnya.
“Jadi, tiga tahun ini ia sama sekali tak mau dekat dengan wanita manapun. Dia bilang mau menunggu sampai Elisa sembuh. Kamu pasti tahu kan, bagaimana perasaanku sebagai ibu. Dia anak pertama keluarga yang paling diandalkan. Kalau dia sampai tidak ada keinginan untuk memiliki anak, bisa berakhir garis keturunannya. Apalagi aku tidak yakin jika Elisa bisa sembuh.”
“Mama jangan bicara begitu. Kita harus yakin kalau Elisa bisa sembuh,” tepis Syahnaz. Ia melihat sendiri jemari Elisa bisa bergerak. Artinya, ada kemungkinan bahwa wanita itu bisa sembuh. Apalagi perawat yang mengurusnya juga mengatakan bagian otak Sebagian besar masih berfungsi dengan baik.
“Sebenarnya aku tidak pernah membenci Elisa atau mengharapkannya supaya cepat mati. Tapi, dia sudah terlalu lama koma tanpa perkembangan yang signifikan. Aku hanya kasihan pada Jendra, Elisa membuatnya susah maju dan berkembang. Pikirannya selalu terbagi antara Elisa dan pekerjaannya.”
“Itu karena Mas Jendra seorang lelaki yang sangat bertanggung jawab. Ia ingin melindungi istrinya,” balas Syahnaz.
Wanita manapun pasti akan iri dengan cinta dan perhatian yang dicurahkan seorang suami seperti Jendra. Meski dalam keadaan koma, wanita itu masih mendapatkan cinta yang sempurna dari Jendra. Lelaki itu juga tanpa sungkan mengatakan bahwa hubungannya dengan Syahnaz sama sekali tidak didasari rasa cinta, ia hanya memanfaatkan Syahnaz untuk kepentingannya saja. Begitu pula dengan Syahnaz, ia juga menyadari posisinya hanya sebagai seorang wanita bayaran.
“Kalau bisa, kamu coba rayu dia biar mau menikahimu dan menyerah dengan Elisa,” pinta Rania.
Ucapan Rania kembali mengingatkannya pada perlakuan wanita itu terhadap Elisa. Meskipun ia suka Rania memperlakukannya dengan baik, tetap saja ia kecewa karena wanita itu bisa begitu tega memaki dan menjelekkan Elisa, menantunya sendiri, yang kini tengah terbaring sakit. Lagi pula, ia juga masih mencintai suaminya, Aditya. Ia hanya ingin urusannya dengan Jendra cepat selesai. Ia juga berharap Elisa segera sembuh agar ia bisa meninggalkan rumah itu dengan tenang nantinya.
“Oh, iya. Kamu kan sudah sebulanan berhubungan dengan putraku. Apa sudah ada tanda-tanda kehamilan?” tanya Rania.
“Aku belum mengeceknya, Ma,” jawab Syahnaz.
“Loh, periksa kandungan itu penting. Apalagi kamu memang dipersiapkan untuk hamil. Apa belum ada tanda-tanda seperti haid yang terlambat atau apa?” cecar Rania. Ia seakan tidak sabar untuk mendengar berita kehamilan dari wanita pilihan putranya itu.
“Aku sudah telat haid 2 minggu, Ma. Tapi kata Mas Jendra, tunggu saja sampai satu dua bulan supaya hasilnya lebih meyakinkan.”
Rania mengembangkan senyuman lebar. “Pokoknya, Mama sangat menantikan kabar baik dari kalian, jangan lupa minum suplemen supaya kondisimu tetap sehat.”
“Iya, Ma.”
***
Hari ini Syahnaz pergi ke rumah sakit diantar oleh supir pribadi yang ditugaskan Jendra. Sudah lama ia tidak melihat kondisi ibunya dan Jendra mengijinkannya untuk pergi. Lelaki itu memberi syarat bahwa ia boleh saja datang ke rumah sakit asalkan tidak diam-diam sekalian bertemu dengan Aditya. Dia mengancam akan melakukan sesuatu jika Syahnaz berani melanggarnya.
Syahnaz memasuki area lobi rumah sakit ditemani dua orang bodyguard yang mengikuti dari jarak yang lumayan jauh agar orang tidak curiga. Itu juga syarat dari Jendra agar diperbolehkan pergi. Jendra memang tipe yang sangat posesif, terutama pada apa yang dianggap sebagai miliknya.
“Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?” tanya petugas dari bagian informasi dengan nada ramah.
“Selamat siang, bisa bantu saya mencarikan pasien dengan nama Ibu Sumi dari XXX dirawat di bagian mana?” tanya Syahnaz.
“Tunggu sebentar, akan kami carikan informasi pasien tersebut.” Petugas rumah sakit itu lantas berkutat dengan keyboard dan layar monitor di hadapannya.
“Ibu Sumi pasien jantung dirawat di Ruang Cempaka, silakan jika Anda mau mengunjungi bisa lewat sebelah sana dan mengikuti papan petunjuk yang sudah disediakan,” kata petugas tersebut.
Syahnaz mengulaskan senyum. “Terima kasih,” ucapnya seraya berjalan ke arah yang telah ditunjukkan.
Anak buah Jendra masih turut mengikutinya di belakang. Syahnaz memfokuskan pandangannya mengikuti plang tanda panah yang menunjukkan rute ke arah ruang perawatan Cempaka. Saat tiba di sana, ia merasa ada yang aneh.
Syahnaz merasa ruang perawatan itu terlalu banyak orang. Saat ia masuk ke dalam ruangannya, benar saja, dalam satu ruangan terdapat banyak pasien yang hanya disekat oleh tirai-tirai berwarna putih. Ia tidak menyangka jika ibunya akan dirawat di sana.
Syahnaz sangat percaya pada Aditya akan merawat ibunya dengan baik. Uang muka yang mereka dapatkan dari Jendra sebesar satu milyar masih sisa banyak setelah digunakan untuk melunasi hutang suaminya itu. Jika digunakan untuk biaya operasi, seharusnya juga masih ada sisa yang lumayan untuk memberikan kamar perawatan yang bagus untuk ibunya. Apalagi bulan ini ia juga sudah mentransfer 50 juta yang Jendra berikan ke nomor rekening Aditnya.
Syahnaz melewati satu persatu bilik pasien, mengintipnya dari celah tirai untuk mencari keberadaan ibunya. Saat ia melewati bilik keempat, akhirnya ia menemukan ibunya.
“Ibu ….” Seru Syahnaz.
Ia langsung mendekat dan memeluk ibunya, menumpahkan segala kerinduan yang dirasakan. Tanpa sadar buliran air mata mengalir di pipinya. Ia merasa terharu bisa bertemu dengan ibunya lagi. Sumi juga terlihat senang melihat kehadiran putrinya.
“Akhirnya kamu datang, Nak! Ibu kira terjadi sesuatu kepadamu. Aditya bilang kamu sibuk bekerja di luar kota,” kata Ibu Sumi yang kini tampak lebih sehat.
Syahnaz tidak habis pikir dengan apa yang ada di pikiran Aditya. Begitu banyak uang yang dipegang, tapi tega menaruh ibunya di kelas terendah rumah sakit. Rasanya ia ingin bertemu dengan lelaki itu dan meminta penjelasan. Ia bersusah payah bertahan hidup dengan Jendra demi menyelesaikan masalah hutang Aditya, tetapi lelaki itu tidak membalas kebaikannya terhadap ibunya.
“Ibu bagaimana kondisinya?” tanya Syahnaz cemas.
Sumi menyunggingkan senyum. “Seperti yang kamu lihat, ibu sudah semakin membaik. Tapi, kata dokter masih butuh perawatan selama beberapa bulan sampai memastikan bahwa operasinya benar-benar berhasil.”
Syahnaz merasa lega. Selama berpisah, ia selalu memikirkan tentang ibunya. Ia takut terjadi apa-apa dengan satu-satunya orang tua yang masih dimilikinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Indah Milayati
anjrxxx banget tuh lakik
2023-11-08
1
Andariya 💖
wah..shanaz ini adtya menang ya .bukin😡😡😡
2023-11-07
1
Soraya
lebih baik kmu yg mengurus ibu syahnaz
2023-11-07
4