Pagi ini Syahnaz tengah disibukkan dengan aktivitasnya menyiapkan pakaian yang akan Jendra pakai ke kantor. Ia memilih setelan kemeja, celana, jas, serta dasi yang sekiranya cocok untuk dikenakan untuk lelaki itu.
Pekerjaan itu merupakan hal yang baru untuknya. Sering ia membayangkan untuk melakukan hal itu kepada suaminya, Aditnya. Namun, takdir membawanya untuk menjalani pengalaman pertama itu bersama Jendra.
“Aku rasa dia mau pakai apapun juga akan cocok,” gumamnya sembari memandangi kemeja berwarna biru yang dipegangnya.
“Syahnaz ….”
Terdengar suara panggilan dari arah kamar mandi.
“Iya, Mas?” Syahnaz menjawab panggilan itu.
“Ambilkan aku handuk baru di lemari!”
Syahnaz mengerutkan dahi. Ia merasa sudah menyiapkan handuk di dalam kamar mandi sebelum lelaki itu masuk. “Iya, sebentar!” katanya.
Syahnaz meletakkan pakaian Jendra yang sudah dipilih di atas meja. Ia lantas mengambil selembar handuk dari dalam lemari dan membawanya ke arah kamar mandi yang terhubung dengan wardrobe di kamarnya itu.
Ia mengetuk pintu. Jendra membukanya sedikit dan mengulurkan tangannya. Ia memberikan handuk itu kepada Jendra.
“Ah!” pekiknya saat tangannya juga ikut ditarik Jendra.
Syahnaz ditarik masuk ke dalam kamar mandi oleh Jendra. Ia terlihat kaget. Apalagi di dalam sana Jendra terlihat basah dengan tubuh polosnya tanpa ditutupi apapun. Reflek ia mengalihkan pandangan. Meskipun sudah berulang kali melihat tubuh indah itu, ia tetap malu jika berhadapan dengannya dalam kondisi semacam itu.
“Mas, pakai handuknya. Aku sudah menyiapkan baju di luar. Setelah ini kita harus sarapan supaya kamu tidak terlambat ke kantor,” kata Syahnaz dengan nada malu-malu.
Jendra menerima handuk itu, namun menaruhnya di gantungan dinding begitu saja. Sementara, ia malah menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
“Aduh, hangatnya,” ucap Jendra seraya bermanja menyusupkan wajahnya ke leher wanitanya.
“Mas, bajuku jadi basah, aku kan baru mandi,” rengek Syahnaz.
Ia mencoba menjauhkan lelaki yang seolah tengah menggodanya itu. Ia merasa geli saat lehernya diciumi. Namun, Jendra tak mau menjauh darinya. Padahal, semalam mereka juga baru selesai bercinta.
“Tidak apa-apa. Kalau bajumu basah, nanti bisa ganti lagi. Di sini bebas mau mandi berapa kali, airnya tidak akan habis, jangan khawatir,” bisik Jendra sembari memberikan gigitan kecil yang membuat wanita itu meremang.
“Mas, kamu belum sarapan, loh. Nanti kamu juga telat ke kantor,” kata Syahnaz. Ia terus menahan suara agar tidak mengeluarkan lengkuhan.
Jendra semakin rakus untuk mengecupi seluruh leher wanita itu dan menggigit gemas telinga sampai Syahnaz menjerit kecil. Ia tersenyum puas.
“Tadi aku mandi sambal membayangkanmu. Milikku jadi tegang lagi, bagaimana kalau kita lakukan sekali lagi?” tanya Jendra dengan nada menggoda.
“Mas, kamu akan benar-benar telat kalau melakukan ini.” Syahnaz masih berusaha untuk mengingatkan Jendra. Namun, lelaki itu seakan sudah terbawa hasratnya.
Jendra bahkan tak segan menarik agar tangan Syahnaz memegang miliknya yang terasa panas dan tegak sempurna.
“Aku akan melakukannya dengan cepat,” rayu lelaki itu.
Akhirnya Syahnaz hanya bisa menurut. Ia pasrah saja saat Jendra melepaskan pakaiannya dan membawanya berciuman di dalam kamar mandi.
Lelaki itu menyalakan shower air hangat dan keduanya kembali bercinta dan bercumbu dengan mesra di bawah guyuran air shower itu.
Jendra selalu bersemangat melakukannya. Entah sudah berapa kali mereka lakukan, Jendra seperti tak menunjukkan penurunan Hasrat terhadapnya. Seolah setiap hari lelaki itu selalu menggebu-gebu mengajak bercinta.
Usai percintaan di pagi hari yang mendadak itu, Syahnaz membantu Jendra mengenakan pakaiannya. Ia cukup kewalahan karena Jendra hampir saja telat pergi ke kantor.
“Lain kali jangan begini, Mas. Kamu kan pemimpin perusahaan, harus menunjukkan contoh yang baik pada karyawan supaya wibawamu tetap terjaga,” ucap Syahnaz sembari memasangkan dasi di leher Jendra.
Lelaki itu hanya mengulaskan senyum sembari memandangi wajah cantik sang wanita.
“Kamu jadi nggaks empat sarapan, kan?” omel Syahnaz. Ia sudah seperti seorang istri yang panik di pagi hari.
“Tidak apa-apa, Sayang. Aku sudah kenyang mendapatkan sarapan darimu tadi,” goda Jendra.
Wajah Syahnaz memerah, namun ia tidak ingin lelaki itu tahu jika ia menjadi malu-malu dengan pujian itu. “Sudah siap, Mas. Ayo aku antar ke depan,” ucapnya.
Jendra memberikan kecupan singkat di bibir Syahnaz sebagai tanda terima kasihnya. Mereka lantas berjalan keluar kamar.
“Kamu tidak usah mengantarku ke bawah, masuk saja dan ganti baju. Aku mau ke kamar Elisa sebentar,” kata Jendra seraya memeluk dan mencium wanitanya lagi.
Syahnaz mengangguk. Ia memang masih memakai bathrobe karena buru-buru membantu Jendra bersiap. Ia membiarkan Jendra melangkah menuju ke kamar sebelah, dimana Elisa terbaring. Secara diam-diam, ia mengikuti dari belakang.
Tampak Jendra menghampiri Elisa, menciumnya, seraya berbicara sesuatu dengan wanita yang sudah tiga tahun koma itu. Syahnaz bisa merasakan kasih sayang tulus yang Jendra berikan kepada wanita itu.
Sekilas, terbersit rasa iri di hatinya dengan posisi Elisa di hati Jendra. Namun, segera ia tepis dan mengingatkan dirinya bahwa hubungannya dengan Jendra tak sedekat itu. Perjanjian di antara keduanya hanya sebatas untuk sesuatu yang menguntungkan bagi kedua belah pihak.
Syahnaz kembali ke kamarnya. Ia tidak akan lebih jauh terlibat dengan dilemma rumah tangga di rumah itu. Ia hanya akan fokus melayani Jendra sampai nanti ia hamil dan melahirkan. Lalu, ia akan kembali menjalani kehidupan dengan Aditya, suaminya.
Syahnaz memilih pakaian santai berupa blouse dan celana kulot untuk di rumah. Ia mengeringkan rambutnya untuk kesekian kali dengan hair dryer. Jangan ditanya lagi, entah berapa kali sehari ia harus mandi selama bersama Jendra. Shampoo dan sabun sampai cepat habis karena sering dipakai.
Setelah selesai merapikan diri, Syahnaz berniat untuk datang ke kamar Elisa. Sepertinya ia sudah siap untuk menemui wanita itu, setelah menahan diri selama beberapa hari. Ia akan meminta maaf karena telah lancing berada di sana sementara kondisi Elisa masih koma.
Saat hendak masuk, ia menghentikan langkah. Tampak di sana ada dua orang perawat yang tengah mengurus Elisa. Rania, ibu Jendra juga ada di sana.
“Jadi perempuan menyusahkan terus! Sudah berapa lama coba tidak ada kemajuan sama sekali? Menggerakkan tangan sedikit saja tidak bisa! Entah apa yang Jendra pikirkan sampai terus membiarkan mayat hidup ini tetap dirawat!”
Syahnaz sampai melebarkan mata saat mendengar Rania menggerutu. Ia tidak menyangka wanita ramah yang menyambutnya saat pertama datang di rumah itu bisa berkata kasar terhadap seseorang yang bahkan sedang tidak berdaya.
“Anda jangan berkata seperti itu, Nyonya. Tuan Jendra sangat mencintai Nona Elisa,” kata salah satu perawat yang ada di sana.
“Hah, anakku tidak akan punya masa depan kalau terus mengurusnya. Mereka sudah tiga tahun menikah dan tiga tahun pula dia seperti ini. Jadi sama saja putraku menikahi mayat hidup yang tidak berguna!” kata Rania.
Syahnaz hanya bisa mengelus dada mendengarkan ucapan menyakitkan itu. Ia tak bisa membayangkan betapa sedihnya Elisa jika bisa bangun dan mendengarkannya.
“Setiap hari bisanya tidur! Buang air dan kotoran di tempat tidur, menyusahkan orang! Sekarang tambah lagi dia haid!” Rania kembali menggerutu.
“Itu tandanya bagian hipotalamus dan hipofisis yang ada di otak masih berfungsi dengan baik, Nyonya. Makanya Nona Elisa masih mendapatkan siklus bulanannya, meskipun tidak teratur. Kita berdoa saja agar Nona Elisa bisa lekas pulih,” kata sang perawat dengan bijak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Qorie Izraini
meetua ohmertua...
2023-11-13
1
Mamah Kekey
ohh..baru tau yah orang koma juga bisa haid ..klau kecing dan bab itu biasa ..orang lumpuhpun sama.
2023-11-11
0
🍾⃝ᴍͩᴇᷞʟͧʟᷠɪᷧᴀ𝐀⃝🥀
masih malang kamu shanaz
2023-11-09
0