“Syahnaz, ayo naik ke atas!” pinta Jendra. Lelaki itu tampak telah mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian yang lebih santai.
Perbincangan antara Syahnaz dan Rania terhenti saat Jendra memanggil. Ia berdiri di anak tangga terbawah menunggu respon Syahnaz.
“Mama, aku ke sana dulu,” kata Syahnaz dengan sopan.
“Oh, iya.”
Syahnaz bangkit dari duduknya dan menghampiri Jendra. Lelaki itu berjalan menaiki satu persatu anak tangga lebih dulu, Syahnaz mengikutinya di belakang.
Syahnaz kembali memanjakan matanya melihat kemewahan rumah itu. Lampu krital yang tergantung menjuntai ke bawah dari atas dipasang di sisi tangga tampak indah dan mewah. Setiap ruangan yang ada di sana berukuran luas, sangat nyaman untuk bermain kejar-kejaran.
Saat tiba di lantai atas, Syahnaz melihat pintu kamar yang sedikit terbuka. Ia penasaran dan membukanya lebih lebar. Tiba-tiba seorang perawat muncul dari balik pintu itu dan mengagetkannya.
“Kamar kita ada di sini,” kata Jendra.
“Ah, iya!”
Syahnaz segera meninggalkan kamar itu dan menghampiri Jendra. Ternyata kamar yang akan ia tempati ada di samping kamar itu. Ia masih penasaran dengan kamar sebelah, kenapa ada perawat yang keluar dari sana.
Jendra membawanya masuk ke dalam kamar. Kamar itu bergaya terlihat sangat luas dan mewah didominasi dengan warna coklat muda dan emas. Ada lampu kristal juga yang tergantung di langit-langitnya. Berada di sana sama seperti di dalam kamar hotel kelas president suit.
“Ini akan menjadi kamar kita. Kalau ada yang kurang kamu suka, katakan saja. Aku akan menggantinya. Baik itu cat, perabot, atau ornament.”
“Tidak, kamar ini sangat bagus,” ucap Syahnaz.
“Ikut aku!”
Jendra kembali mengajaknya ke sisi lain dari kamarnya. Di sana ada ruangan khusus yang memuat sepatu, tas, pakaian, serta berbagai aksesoris mewah lainnya. Syahnaz hanya bisa tercengang melihatnya.
“Kamu boleh mengenakan apapun yang telah disediakan di sini. Aku memang menyediakannya untukmu,” ucap Jendra.
Syahnaz hanya mengangguk.
Tiba-tiba Jendra menarik tubuhnya hingga punggungnya menempel pada dinding. Lelaki itu mendekatkan wajah seraya mengelus pipinya. Syahnaz bisa membaca jika lelaki itu tengah memberi kode untuk mengajak bercinta seperti biasa.
“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Syahnaz.
Jendra menghentikan gerakannya, mengurungkan niat untuk mencium bibir wanita yang ada di hadapannya. Ia sedikit tidak suka Syahnaz menjeda aktivitas romantic itu.
“Kamu mau tanya apa?”
“Tadi, aku lihat di kamar sebelah ada perawat keluar dari sana,” ucap Syahnaz.
“Istriku ada di kamar sebelah. Dia yang merawatnya,” jawab Jendra dengan raut wajah datar.
Mendengar jawaban seperti itu, Syahnaz langsung terdiam. Lelaki itu benar-benar tidak mau mengelak ia memang sudah beristri.
Syahnaz sangat penasaran, sakit apa istri Jendra sampai lelaki itu butuh wanita lain. Ia juga berpikir, apakah istri Jendra tidak akan marah jika suaminya membawa wanita lain ke rumah.
Nyatanya ibu Jendra malah sangat senang bertemu dengannya. Ia merasa keluarga itu memang benar-benar aneh.
Jendra menyentuh dagu Syahnaz, ia hendak menciumnya namun Syahnaz menghentikannya.
“Mm, maaf, Mas. Apa tidak apa-apa kalau kita tidak menyapa istri Mas Jendra dulu?” tanyanya.
Jendra tertawa kecil mendengar pertanyaan wanita itu. “Baiklah, aku akan mengenalkanmu kepadanya.”
Jendra meraih tangan Syahnaz. Ia membawanya keluar dari kamar menuju ke kamar sebelah di mana ada istrinya di sana.
Kamar sebelah didesain seperti layaknya rumah sakit. Di ranjang perawatan ada seorang wanita yang terbaring. Wanita itu terlihat sangat cantik.
Kulitnya bersih dan mulus, rambutnya pirang bergelombang. Ia seperti seorang putri yang tengah tertidur. Hanya saja, di bagian lehernya terpasang sebuah selang ventilator yang terhubung pada peralatan medis yang ada di sisi tempat tidur. Layar monitor yang menampilan denyutan jantung juga terus berbunyi menandakan kondisi pasien itu stabil.
Jendra melepaskan gandingan tangannya. Ia berjalan mendekat ke arah ranjang kemudian mencium wanita yang tengah terbaring di sana dengan penuh kelembutan. Ia membelai rambut pirang wanita itu.
“Ini istriku, namanya Elisa. Dia sudah tiga tahun koma karena kecelakaan,” kata Jendra.
Syahnaz mematung di tempatnya. Tanpa penjelasan lebih panjang, ia akhirnya paham kenapa Jendra membutuhkan wanita lain untuk bisa dihamili.
“Kenapa kamu diam di situ? Kemarilah, katanya kamu mau bertemu dengan Elisa,” ucap Jendra.
Syahnaz menggeleng. “Maaf, Mas. Sepertinya aku tidak bisa,” ucapnya seraya berlari pergi dari sana.
Syahnaz kembali ke kamar sendirian. Ia tidak tega melihat kondisi wanita itu. Ada rasa bersalah yang bercongkol di hatinya seolah dia merasa berdosa sudah berada di sana. Ia memposisikan dirinya sebagai seorang wanita.
Tidak mungkin ada yang rela melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain. Ia hampir tak bisa bernapas membayangkannya.
“Kenapa kamu pergi?” tanya Jendra. Ia menyusul Syahnaz kembali ke dalam kamar.
Syahnaz hanya menunduk tak berani memandang Jendra.
“Katamu mau menyapa Elisa?”
“Maaf, Mas. Aku tidak bisa. Rasanya aku seperti orang jahat yang sudah merebut suami orang saat istrinya sedang sakit,” jawab Syahnaz.
Jendra tersenyum. Ia duduk di sebelah wanitanya dan mengarahkan pandangannya pada dia.
“Siapa bilang kamu merebut suami orang. Aku kan hanya membayarmu sampai aku bosan,” ucapnya.
Syahnaz terkejut dan mengarahkan pandangan pada lelaki itu. Jendra juga sepertinya langsung menyadari kesalahannya.
“Ah, maksudku, aku hanya membayarmu sampai melahirkan anak,” ralatnya.
Meski demikian, agaknya Syahnaz tetap tidak enak hati berada satu atap dengan istri dari lelaki itu. Wanita manapun pasti akan sakit hati dengan kehadiran wanita lain di rumahnya.
“Bagaimana kalau aku tinggal di apartemen lagi? Aku tidak masalah tinggal sendirian di sana,” kata Syahnaz.
Jendra menggelengkan kepala, tidak menyetujui kemauan Syahnaz. “Memang tidak masalah untukmu, tapi akan jadi masalah untukku. Kamu juga pasti ingat kalau aku mau kamu mendapat pelayanan terbaik, apalagi kamu akan mengandung anakku,” kilahnya.
“Tapi, aku tidak enak dengan ….”
Belum selesai Syahnaz bicara, Jendra menjeda dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir Syahnaz.
“Terkadang kita harus melakukan suatu hal yang tidak menyenangkan demi seseorang yang kita sayang. Aku membutuhkan keberadaanmu di sini demi mempertahankan Elisa di rumah ini. Kamu juga mau berada di sini demi membayar hutang suamimu, kan?”
Syahnaz terdiam. Ia sedikit malu Jendra ternyata mengetahui tentang masalah hutang itu.
“Mama selalu memintaku untuk meninggalkan Elisa, tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku sangat mencintainya. Makanya aku bilang akan membawa seorang wanita ke rumah ini yang akan melahirkan anakku, dengan Syarat Elisa harus tetap menjadi istriku. Jadi, kalau kamu memang kasihan dengan Elisa, bertahanlah untuk tinggal di sini.”
“Apa kamu tidak ada perasaan bersalah padanya?” tanya Syahnaz.
Sekarang giliran Jendra yang terdiam.
“Kamu sangat mencintai istrimu, di saat yang bersamaan kamu tidur dengan wanita lain. Apa kamu tidak merasa bersalah padanya?” tanya Syahnaz sekali lagi.
Jendra menyeringai. “Lelaki bisa tidur dengan banyak wanita tanpa perasaan cinta. Aku hanya mencintai istriku,” ucapnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
𖤓࿐кιиαяα 😘💞࿐
disini pasti Syahnaz sangat kecewa sama jendra
2024-02-21
0
Truely Jm Manoppo
Dasar Jendra .... mulutmu pengen ditampol pake kampak ya 😡😡😡
2023-12-26
0
Sukliang
mulut pedas sekali
2023-11-26
1