"Ini, di alam bawah sadarku? Tapi kenapa sekarang bukan hanya ada bunga Lily biru?" Lily memandang Padang bunga Lily biru dan Matahari yang tampak cantik. Gadis itu tidak pernah menyangka bahwa kombinasi dua bunga ini sangat keren!
"Jadi, kamu berhasil mencabutnya, Lily?" Lily berbalik. Ia melihat Shiki yang kini tersenyum lembut kepadanya. Pakaiannya masih sama seperti yang ia lihat terakhir kali, hanya saja terdapat lukisan naga emas yang terukir di jubahnya membuat aura Shiki berkali lipat lebih agung.
"Shiki?" tanya Lily untuk memastikan bahwa dihadapannya memang benar-benar Shiki. Pasalnya, aura Lelaki yang berada di hadapannya sangat kuat.
Shiki hanya tersenyum. Ia lantas menggenggam yang Lily dengan lembut. Lelaki itu mengajak Lily untuk duduk di rumput.
"Kamu pasti bertanya-tanya, kenapa aku terlihat berbeda, bukan?" Lily hanya mengangguk. Pikirannya masih kosong, terlebih ia baru saja menarik sebuah pedang yang dilindungi oleh para mahluk mitologi di Hutan Thávma.
"Seribu tahun lalu, ada seorang gadis yang memiliki bakat begitu besar. Ia terlatih, kuat dan baik hati. Gadis itu bernama Liana-"
"Tunggu, Liana itu-" Shiki menaruh telunjuknya di depan bibirnya, memberikan instruksi untuk diam.
"Gadis itu bernama Liana Illiosa De Althair, Putri Pertama Grand Duke De Althair. Meneruskan tugas sang Ayah, Gadis itu ditunjuk sebagai Jendral Perang Kekaisaran. Ia terkenal dengan Elemen Es nya yang sangat kuat. Saking kuatnya, ia mampu membuat sebuah kerajaan membeku dalam hitungan detik. Kekuatannya ditakuti oleh para iblis, bahkan Hakai Lucafier pernah hampir terbunuh karenanya. Namun karena Hakai harus dibunuh oleh sang Cahaya, Liana tidak bisa membunuhnya. Dia akhirnya berhasil terbunuh di hutan Thávma karena melindungi para mahluk mitologi yang konon memiliki inti jiwa setara 100 manusia. Itulah kenapa, mereka sangat diincar oleh para Iblis."
"Liana menancapkan pedangnya untuk membentuk segel agar siapapun tidak bisa mengambil pedangnya yang dikatakan dapat membelah pintu Valley of the Demons, Markas Hakai Lucafier. Itulah kenapa raja iblis sangat mengincar pedang itu dan berusaha menghancurkannya." Lily membuka mulutnya saking terkejutnya gadis itu. Shiki terkekeh pelan lalu melanjutkan.
"Dan aku? Aku adalah Roh Hewan sihir yang dimiliki oleh Liana. Roh yang hanya dimiliki oleh satu orang, baik itu dirinya sendiri ataupun para reinkarnasi. Tidak ada yang bisa menjadikanku sebagai hewan sihir mereka. Ini karena aku akan ikut mati ketika para pemiliknya mati dan ikut lahir mendampingi jiwa para reinkarnasinya." Shiki lalu mengambil tangan kanan Lily dan membalikkannya, memperlihatkan punggung tangan gadis itu dimana sebuah lambang es yang dililiti naga kini bersinar.
Lily membulatkan matanya. "Itu sebabnya kamu menemuiku sebelum aku mati? Lalu novel itu bagaimana? Kenapa Liliana menjadi antagonis?" tanya Lily beruntun yang hanya dibalas Senyuman lembut oleh Shiki.
Usapan di kepalanya membuat Lily kembali mendongak. "Semuanya akan kamu ketahui seiring waktu. Semuanya memiliki waktunya masing-masing." Ucap Shiki. Iris hitam itu menatap Iris biru cerah milik Lily.
"Kamu tidak perlu meragukan dirimu. Kamu pantas memiliki seluruh kekuatan ini, kamu hanya perlu terus berlatih dan melindungi orang-orang yang ingin kamu lindungi. Seluruh manusia, para mahluk mitologi, kamu ingin melindunginya bukan?" Lily terdiam sebentar. Namun sesaat kemudian, ia menatap Shiki dengan tatapan penuh keteguhan.
"Kamu benar Shiki, bukan saatnya aku mengeluhkan diriku yang lemah, yang tidak pantas menerima takdir ini. Tapi, ini tentang bagaimana caraku bisa menjadi sangat pantas untuk mengemban takdir ini." Lily tersenyum lebar membuat Shiki ikut tersenyum. Lelaki itu membimbingnya untuk berdiri. Lelaki itu lantas menunduk, memberikan gestur hormat kepada Nonanya.
"Senang bekerja sama dengan anda kembali, Nona." Ucap Shiki penuh keteguhan. Lelaki itu mendongak dan menatap Lily yang kini mengangguk.
"Senang bekerja sama denganmu kembali, Shiki."
Shiki lantas berdiri, matanya terpejam. Sesaat kemudian, Tubuhnya berubah menjadi naga perak dengan ukiran emas yang begitu indah. Tiba-tiba, naga itu terbang dan segera menukik tajam ke arah Lily dan memasuki tubuh gadis itu.
...----------------...
"Lily!" Lily langsung duduk, ia menatap Max dan seluruh mahluk penghuni hutan yang tampak sangat cemas. Disebelahnya sebuah pedang tergeletak begitu saja. Lily segera mengambil pedang itu. Ia menutup matanya, tak lama kemudian seberkas cahaya muncul dari tanda miliknya bersamaan dengan pedang itu yang ikut bersinar. Penampakan pedang itu berubah, dari awalnya yang terlihat berkarat dan berlumut menjadi mengkilat dengan ukiran es di sisi bilahnya. Gagangnya yang terlilit ukiran naga kini terlihat jelas.
Entah mengapa insting Lily terasa jauh lebih tajam daripada sebelumnya. Gadis itu segera berdiri, ia menggores sedikit jari telunjuknya, membuat darahnya mengucur. Dengan segera ia bergerak kearah batu tempat pedang yang sekarang menjadi miliknya tertancap.
"Semoga ini berhasil." Lily memfokuskan partikel esnya yang kini bercampur dengan tetesan darahnya yang berada di atas batu.
"Teknik Es : Kombinasi, Barrier Darah!" Sebuah Cahaya berwarna merah, biru dan emas beresonansi dan memancar ke langit, membentuk sebuah lingkaran sihir yang melingkupi seluruh hutan bahkan hingga seluruh daerah Centraxia. Lily hampir saja limbung jika sebuah tangan tidak menahan punggungnya dari belakang.
"Teknik itu berbahaya, kamu tahu bukan, Lily?" Lily tentu saja terkejut, ia berbalik menatap Shiki yang kini berada di belakangnya. Bagai anak kecil, ia segera memeluk Orang yang telah ia anggap sebagai kakaknya itu. Lelaki berambut sebahu itu tentu saja menyambut pelukan dari sang nona yang juga telah ia anggap sebagai adiknya itu.
"Woah, aku tidak menyangka kamu akan ada di dunia nyata! Ini keren sekali, aku jadi punya tiga kakak Yes!" Pekik Lily yang masih berada dalam gendongan Shiki. Max dan Miguel yang menyaksikan itu tertawa keras sedangkan para mahluk lain tertawa melihat interaksi menggemaskan pelindung mereka. Setidaknya Nona mereka baik-baik saja dan telah menerima takdir.
Lily turun dari gendongan Shiki. Gadis itu segera menghampiri teman-temannya dan memeluk mereka satu per satu sambil berucap terima kasih. Gadis itu berjanji akan menjaga mereka semua sekaligus melindungi keluarganya dan seluruh manusia dari para iblis mengerikan itu.
...----------------...
"Barrier Darah, hmm menarik." Seorang Lelaki tampan dengan iris merah darah dan rambut hitam legam yang panjang tampak duduk di singgasana. Hanfu* hitam miliknya terpasang di tubuh yang atletis. Auranya sangat kuat, siapapun mampu tunduk dalam kuasanya, kecuali MC kita tentunya. Lelaki itu tengah melihat Fenomena langit sebagai tanda terbentuknya Barrier darah.
"Apakah Reinkarnasi dari Wanita keras kepala itu sudah lahir? menarik sekali. AKHIRNYA AKU BISA MEMBALASKAN DENDAMKU WANITA SIALAN! KAU DAN SELURUH REINKARNASIMU AKAN MATI DI TANGANKU!" Ucap Lelaki. Setiap kata-katanya tersirat dendam yang begitu dalam.
"Xavier." Seorang Pemuda berambut Perak dengan Mata semerah darah muncul di hadapan lelaki itu. Si pemuda segera berlutut.
"Awasi kembali kekaisaran itu, khususnya Daerah Centraxia. Temukan secepatnya Gadis Cahaya dan Pemilik Pedang Moíra. Bawa dia ke hadapanku, hidup ataupun mati." Titah Lelaki itu. Pemuda itu mengangguk, lantas menghilang.
...----------------...
"Oh, namanya Pedang Moíra?" Shiki mengangguk. Lily menatap pedang yang kini ada di tangan salah satu kurcaci bertopi kuning. Mereka kini tengah duduk di rerumputan. Lily sesekali tertawa melihat tingkah sekumpulan mahluk mitologi yang ternyata cukup random. Tiba-tiba seorang Vampire kecil yang tampaknya sejak tadi melihat telunjuk Lily yang mengeluarkan darah mendekat. Ia terus-terusan menatap lekat jari itu. Hal tersebut disadari Lily.
"Hai, kamu ingin darahku?" Anak kecil itu mengangguk kecil sambil tersenyum lebar memperlihatkan gigi taringnya yang sedikit menyembul. Lily mengangguk, ia lantas menyodorkan tangannya yang terluka. Anak kecil itu langsung bersorak dan meminum darah yang masih mengalir. Lily tertawa saat merasakan lidah anak itu menjilati telunjuknya. Setelah puas, anak kecil itu melepaskan jari milik Lily dan mencium pipi Lily lalu berlari pergi.
"Terima kasih kakak cantik!" Lily mematung. Ia menatap Anak kecil itu yang kini sedang meloncat kegirangan bersama sekumpulan kurcaci dan para anak elf, mereka tampak rukun.
"Vampire di dunia ini tidak seperti legenda di duniamu. Mereka mengonsumsi Darah hewan, sesekali juga mengonsumsi darah manusia jika mereka ingin. Populasi mereka juga sangat sedikit, hanya ada di hutan ini. Dahulu banyak mahluk mitologi yang dibantai oleh Hakai Lucafier dan akhirnya melarikan diri lalu hidup di sini." Ucap Shiki. Lily memandang dengan miris.
"Apakah Valley Of Demons itu dulu adalah tempat tinggal mereka?" tanya Lily. Shiki mengangguk membenarkan.
"Mereka sebenarnya adalah Iblis yang hadir karena kesalahan manusia. Iblis yang hadir dari hasil hubungan terlarang manusia dengan kaum iblis berdarah murni, tepatnya raja iblis sebelumnya. Akhirnya Hakai mengacau di Wonderland dan mulai membentuk banyak pasukan iblis buatannya." Jelas Shiki. Gadis disebelahnya hanya menghela napas, ternyata dunia yang ia tempati sangat kompleks.
"Karena ini bukan sebuah karangan Lily, ini semua nyata dan Jangan terkejut kalau aku bisa tahu apa isi pikiranmu, itu karena roh ku bersatu denganmu." Lily mengangguk paham.
"Aku penasaran, hal mengejutkan apa yang terjadi di hidupku selanjutnya." Gumam Lily yang masih mampu didengar oleh Shiki. Lelaki itu tersenyum lembut.
"Ada banyak hal, tapi semuanya akan impas Lily."
...----------------...
Hanfu* : Hanfu berasal dari bahasa Mandarin yang memiliki arti 'pakaian orang Mandarin'.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Frando Wijaya
udh gw duga.... berarti yg kenyataan ini byk yg berhati iblis...
2024-08-28
0
Frando Wijaya
ternyata bner....pangeran ini kna Kendalikn Oleh raja iblis ini... yare2 🙄
2024-08-28
0
Frando Wijaya
1000 tahun yg lalu?! klo begitu.... berarti Liliana yg jiwa ini reinkarnasi?! lantas yg zaman modern lily hidup itu..hanya palsu?
2024-08-28
0