Lily kini sendirian di kamarnya. Gadis itu tidak diperbolehkan beraktivitas untuk sementara selama masa pemulihan. Noi sedang sibuk di dapur. Kakaknya tengah berlatih bersama Ayahnya sedangkan sang Ibu sedang melakukan pertemuan dengan seorang bangsawan yang Lily tidak tau namanya. Gadis itu tengah bosan, tapi pikirannya malah tidak berhenti memikirkan segala keanehan yang ia alami.
Oke mari kita pikirkan, sekarang pemilik elemen cahaya adalah aku, berarti kemungkinan besar Rea bukan pemilik elemen cahaya lagi, karena hanya ada satu pengguna elemen Cahaya setiap 1000 tahun sekali. Tapi tunggu- Ah benar juga! Lily menepuk tangannya saat dirinya mulai mendapatkan titik terang. Gadis itu segera berlari ke arah meja dan dengan rusuh mulai menulis segera informasi yang dia temukan.
"Oke jadi kita mulai dari penyerangan Iblis ke Mansion Althair. Penyerangan ini terjadi secara tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan, lalu Lily tiba-tiba ditusuk oleh sosok misterius yang aku yakin itu pasti seorang gadis, soalnya suaranya terdengar sengaja direndahkan." Lily mulai menulis.
"Lalu, orang itu menusuk jantung Liliana dan mengucapkan kata-kata aneh tentang cahaya blabla, tapi ada kemungkinan itu adalah- Rea?! Oke semuanya masuk akal." Lily melingkari nama Rea di kertas.
Gadis itu menyandarkan tubuhnya pada kursi, ia menatap langit-langit kamar, sedikit tidak percaya dengan kenyataan baru yang ia dapatkan. Walaupun belum ada bukti yang kuat, tapi Lily yakin kalau asumsinya benar. Ini dibuktikan dari informasi yang ia dapat dari novel. Kemunculan Rea dan kekuatannya seolah di sengaja, lalu ada satu scene dimana Rea berkata bahwa cahaya itu memang pantas untuknya, bukan orang lain. Awalnya sebagai pembaca, Lily tidak begitu peduli, bisa saja itu memang alur yang dibuat. Namun ketika dia mengalami sendiri, maka semuanya lebih terasa berdampak.
Lalu apakah di novel elemen cahaya Liliana tidak tersegel sehingga bisa diambil? Lalu kenapa elemen esnya juga tidak ikut diambil?
"Oh iya, itu bisa saja untuk menutupi kecurigaan. Tapi yang menjadi misteri adalah, siapa yang menyegel potensi Liliana? Apakah Grand Duke atau pihak lain? Atau mungkin-" sebuah nama terlintas di otak Lily membuat gadis itu mengerang frustasi. Ia lantas kembali ke atas ranjang dan memutuskan untuk tidur sambil mengistirahatkan otaknya.
...----------------...
Cahaya mulai masuk ke sela jendela Lily, membuat gadis itu terganggu. Tiba-tiba, seseorang membuka korden dengan kasar, membuat cahaya langsung mengenai wajah Lily. Gadis itu mengerang sebentar, lalu perlahan membuka iris matanya yang sebiru lautan dan seterang langit biru itu. Ia menoleh mendapati sang Ibu yang tengah berkacak pinggang di sampingnya.
Lily hanya nyengir lebar, lalu bangun dan mengusap pelan matanya. Bella hanya menggeleng maklum sambil tersenyum, sudah sangat lama wanita itu tidak melihat tingkah polos putrinya. Berapa ya, Ah, 5 tahun mungkin? Sebelum Insiden yang menimpa ketiga anaknya terjadi.
"Selamat Pagi, Ibu." Sapa Lily sambil sesekali terhuyung. Bella terkekeh, wanita itu memeluk putrinya itu dan menggoyangkan tubuh kecil itu ke kanan dan ke kiri.
"Selamat Pagi sayang. Mandi dulu ya? Setelah itu baru kita sarapan, oke?" Lily mengangguk antusias. Bella segera memanggil para pelayan untuk membantu putrinya mandi. Gadis kecil itu hanya menurut saja ketika ditarik ke dalam kamar mandi. Bella memilih untuk mencari gaun yang bagus untuk sang putri. Sepertinya karena hari ini sangat cerah, gaun berwarna biru pastel ini akan sangat cocok. Wanita itu lantas mengambil gaun tersebut. Noi juga tampak sedang membereskan tempat tidur nona-nya.
"Noi, Gaun untuk Lily sudah aku pilihkan, aku taruh di atas ranjang ini ya." ujar Bella sambil tersenyum ke arah gadis berambut coklat itu. Noi tersenyum dan menunduk hormat.
"Sesuai perintah anda, Grand Duchess." Ucap Noi. Bella tersenyum, ia lantas turun menuju ruang makan untuk menemui sang suami dan sang putra.
...----------------...
"Nona jangan berlari, anda bisa terjatuh." Ucap Noi yang kepalang panik melihat nonanya menuruni tangga dengan berlari. Lily hanya terkekeh, gadis itu berhenti sebentar.
"Hehe, maafkan aku Noi, aku terlalu bersemangat." Ucap Lily yang kembali berlari kecil. Gadis itu lantas duduk di sebelah sang kakak. Pemuda itu lantas menyentil dahi gadis nakal di sebelahnya dengan sedikit tenaga, menimbulkan bunyi 'tak' yang cukup terdengar di telinga Arsean. Lily mengaduh kesakitan, gadis itu lantas memukul pundak pemuda yang berumur dua tahun di atasnya itu.
"Jangan ganggu adikmu, Atlas." tegur Arsean dengan intonasi setenang air yang berhasil membuat Lily dan Atlas seketika menjadi tenang. Bella terkikik melihat tingkah suami dan kedua anaknya itu. Sesaat sorot matanya menyendu, namun akhirnya kembali ceria seperti biasa. Hal itu tidak luput dari pandangan Lily.
Ibu kenapa? batin Lily.
Arsean selaku kepala keluarga segera memulai acara sarapan, tak lama setelahnya para pelayan mulai menghidangkan sarapan kepada keluarga Grand Duke Althair. Suasana hening, hanya dentingan sendok yang terdengar, seluruhnya fokus pada makanan masing-masing.
Hingga setelah sesi sarapan usai, celetukan milik Lily sukses membuat Arsean hampir menyemburkan teh miliknya.
"Ayah, hari ini apakah aku boleh ikut berlatih?"
Lily agak kaget dengan reaksi Ayahnya yang berlebihan. Sedangkan sang Kakak malah menatapnya dengan tatapan tajam lalu sang ibu menatap dengan tatapan khawatir. Gadis itu bertambah bingung, ada apa dengan keluarganya ini?
"Tidak. Kamu bahkan pingsan kemarin, sekarang ingin berlatih? Tidak." Atlas menyambar pertanyaan Lily terlebih dahulu. Pemuda itu tentu tidak akan membiarkan adiknya terluka.
"Apa alasanmu ingin berlatih?" Suara Arsean sukses menarik atensi semua orang di meja makan itu. Lily meneguk ludahnya kasar, tatapan Arsean berubah mengintimidasi. Namun gadis itu tidak akan menyerah begitu saja, ini demi kelangsungan hidupnya, jadi dia harus yakin.
Lily menatap ayahnya dengan tatapan setenang air. "Berkaca dari kejadian yang menimpaku beberapa waktu lalu, aku merasa bahwa aku memang harus mulai melatih kekuatanku sekarang, Ayah. Terlebih kita juga tidak tahu bukan, apa yang terjadi di masa depan." Lily mengepalkan telapak tangannya. Ia teringat dengan beberapa scene di novel, entah mengapa hal itu membuatnya merasa sedikit emosional. Terlebih nasib Keluarga Althair di akhir chapter, Lily harus mencegah itu.
"Aku tidak ingin menjadi beban di keluarga ini. Kakak adalah jenius berpedang sejak kecil, Ayah adalah Jendral Besar Epitychìa dan Ibu adalah salah satu Wanita terkuat di Kekaisaran Epitychìa, lalu aku? Bukankah aku hanya bisa membuat malu saja? Liliana Íliosa, putri Grand Duke yang tidak berguna." Gadis itu menunduk, menyembunyikan air matanya yang mulai mengalir melewati pipi mulusnya. Arsean, Bella dan Atlas tertegun mendengar kata-kata yang gadis itu katakan.
Lily berkata jujur. Dengan melihat ingatan Liliana, ia menjadi sedikit mengerti mengapa gadis itu melakukan banyak hal buruk di masa lalu, dia hanya tidak ingin dipandang rendah oleh orang lain, maka dari itu Liliana bersikap arogan agar ditakuti. Memang hal itu tidak dibenarkan, tapi juga tidak bisa sepenuhnya ia salahkan.
Lalu tentang obsesinya pada Matheus, Liliana itu sebenernya hanya terlalu buta dan takut kehilangan pemuda yang ia sukai sekaligus orang pertama yang menyayanginya secara tulus, menurut Liliana tentunya. Padahal kenyataannya tidak begitu, Kedua orangtuanya menyayanginya sama rata dengan sang kakak, hanya saja Liliana seperti memasang tembok besar semenjak insiden 5 tahun lalu yang menimpanya, membuat kedua orangtuanya menjadi bingung harus bersikap bagaimana kepada putri bungsunya itu. Tentang insiden tersebut, tidak ada informasi lebih, bahkan di novel pun serupa.
"Kamu yakin?" Lily mendongak, menatap iris yang serupa dengannya itu. Gadis itu mengangguk.
"Umm. Aku ingin menjadi lebih kuat agar bisa melindungi orang yang aku sayangi dan menjaga kehormatan Keluarga Althair." Iris lautan milik Lily memancar penuh keyakinan. Arsean tertegun sejenak melihat binar itu, mengingatkannya kepada dirinya sendiri di masa lalu.
Arsean tersenyum, kali ini sorot matanya berubah lembut. "Ayah suka semangatmu. Mulai hari ini, kamu akan ikut berlatih denganku dan Atlas. Dan ya," Pria itu menjeda kalimatnya. Seringaian muncul di wajahnya yang rupawan, membuat Lily seketika merinding, "latihan ini tidak akan mudah, jadi persiapkan dirimu." Ucap Arsean sebelum meninggalkan meja makan.
Lily mengangguk dengan raut syok. Gadis itu membayangkan bagaimana kerasnya latihan bersama sang Ayah.
Semoga aku baik-baik saja nanti. Batin Lily
Mari kita doakan supaya MC kita ini selamat hingga latihan selesai~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Zhunia Angel
Senang baca cerita ini!
2023-07-26
1