Lily telah mengganti gaunnya dengan pakaian khusus latihan yang sangat nyaman di tubuhnya. Gadis itu bersorak bahagia, akhirnya dia terbebas dari kumpulan gaun menyebalkan untuk beberapa saat. Kini gadis itu berjalan menuju Lapangan tempat dimana sang ayah dan kakaknya sering berlatih. Dari kejauhan ia dapat melihat kakak dan ayahnya tengah menunggunya di sebuah pohon yang tak jauh dari lapangan. Ia memutuskan untuk berlari ke arah keduanya.
Lily tersenyum, membuat kedua lelaki berbeda usia itu terkekeh karena tingkah gadis kecil mereka. Para ksatria yang sedang berlatih sontak saja terkejut, ini kali pertama mereka melihat Grand Duke yang dikenal sebagai 'Naga Perak' Kekaisaran itu tersenyum. Lalu yang lebih mengherankan lagi, Nona mereka yang biasanya beriasan tebal dengan sikap yang sombong kini terlihat tidak menggunakan riasan sama sekali. Gadis itu bahkan ingin ikut latihan. Sungguh tidak bisa dipercaya!
"Kamu sudah siap?" Tanya Arsean. Lily mengangguk dengan yakin. Gadis itu menoleh ke arah para ksatria, ia tersenyum sepintas lalu kembali menatap sang ayah. Arsean mengangguk, mereka lantas menuju ke tengah lapangan. Cuaca hari ini agak mendung, namun kelihatannya tidak akan hujan, sehingga sangat pas untuk melakukan latihan.
"Lari keliling lapangan 20 kali. Jangan curang, Aku mengawasi kalian." Lily terbelalak. Tunggu, 20 kali?! untuk anak sekecil dia?! Ayolah dia bukan anime sebelah yang harus mati-matian melawan iblis.
Melihat protesan yang tergambar jelas di wajah putrinya, Arsean menyeringai. "Bukankah kamu ingin menjadi kuat? Latihlah fisikmu dulu." ucapnya dengan nada sarkas, sedikit menyindir Lily yang sejak dulu tidak pernah mengikuti latihan fisik. Di novelnya, Liliana memang membenci latihan fisik, itu sebabnya dia menjadi karakter yang lemah.
Lily tentu saja tersulut, ia mulai berlari mengelilingi lapangan itu. Tolong jangan remehkan dia. Saat masih menjadi Liana, ia bahkan dilatih lebih keras dari pada ini, tapi itu ketika umurnya sudah sebelah tahun dan saat itu ia memang latihan secara bertahan, bukan langsung keras seperti ini. Bisa hancur badannya kalau begini.
Oke Lily, kamu bukan Liliana tapi kamu Liana! Latihan ini tidak seberapa untukku, bahkan latihan karate dan anggar lebih berat daripada ini! Batin Lily menyemangati dirinya sendiri. Gadis itu terus berlari, mengabaikan peluh yang bercucuran di wajahnya. Sekarang Gadis itu baru di putaran ke dua.
"Apakah tidak apa-apa seperti ini, Ayah?" tanya Atlas yang khawatir melihat wajah adiknya. Arsean menggeleng kecil. Pria itu justru tersenyum melihat sambil memandangi wajah lucu putrinya yang tengah berlari.
"Ayah yakin dia mampu, adikmu berbeda dari sebelumnya, Atlas. Kali ini tekad para Althair mengalir deras dalam darahnya." ucap Arsean. Atlas menghela napas kasar, lalu mengangguk menyetujui Ayahnya.
"Kalau begitu, aku juga akan melatihnya lebih keras, mumpung ini tahun terakhirku di mansion kan? Tahun depan aku sudah di akademi." Tutur Atlas sambil tersenyum miring.
Yah, pada akhirnya mereka semua sama-sama menyeramkan. Semoga kamu selamat Lily.
Beberapa menit pun berlalu, Lily menyelesaikan putarannya yang ke dua puluh dengan susah payah. Gadis itu segera meluruskan kakinya sesaat setelah berhasil menyelesaikan dua puluh putarannya. Gadis itu mengatur napasnya dengan pelan, mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Tidak lama setelahnya napasnya kembali normal, membuat gadis itu tersenyum tipis.
"Aku kira kamu akan pingsan." Lily menoleh ke samping, disana sang kakak sudah berdiri sambil memegang pedang kesayangannya. Pedang dengan bilah berwarna biru terang, khas seorang Althair sekali. Wajahnya terlihat bersemangat, tapi Lily punya firasat tidak baik soal itu.
"Oke, Latihan akan aku ambil alih. Ayah akan melatihmu setahun lagi, setelah aku mulai masuk akademi. Sebelum itu aku yang akan melatihmu. Persiapkan dirimu dengan baik, karena aku tidak akan lembut." Atlas menatapnya datar untuk pertama kalinya. Lily menghela napas dan mengangguk. Gadis itu segera bangun.
Atlas lantas memintanya melakukan berbagai latihan fisik seperti push up, sit up dan berbagai latihan yang tidak manusiawi. Lily jadi agak menyesal meminta dirinya untuk dilatih dengan sang ayah dan sang kakak. Tahu begini dia minta latihan dengan Regan, Asisten sang ayah. Pada akhirnya Gadis itu melakukan semua latihan yang diperintahkan karena dia harus menjadi lebih kuat.
...----------------...
2 Tahun Kemudian
Seorang gadis dengan rambut perak sebahu tampak melawan pria yang berambut senada dengannya. Mereka saling bertukar pukulan dan tendangan. Gerakan mereka cepat, keduanya saling menyerang dan menghindar. Tepat saat sebuah berusaha untuk menghindar, gadis itu hampir kehilangan keseimbangan dan terkena pukulan di perut yang membuatnya terdorong beberapa meter.
Gadis itu terengah-engah, napasnya sedikit sesak karena mengimbangi kecepatan serangan si pria. Bisa kalian tebak gadis itu?
"Hanya sebatas itu kemampuanmu, Lily?!" Pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah Grand Duke De Althair itu kini tengah menguji hasil latihan sang putri selama 2 tahun terakhir.
Lily mendecih, ia kembali mempersiapkan kuda-kudanya dan menatap tajam sang Ayah, berusaha untuk menganalisa celah yang bisa ia tembus. Sedetik kemudian, gadis itu melesat dengan cepat dan mulai melancarkan serangan ke beberapa titik vital Arsean. Ia melayangkan ke arah wajah pria itu, namun berhasil ditangkis dengan mudah. Tetapi yang mengagetkan, Lily tiba-tiba meloncat dan melakukan salto lalu memusatkan sejumlah mana dan berniat memukul kepala sang Ayah.
Arsean terbelalak, pria itu menghindar secepat mungkin dari serangan Sang putri.
Tepat setelahnya, pukulan itu mengenai tanah dan menimbulkan dentuman besar. Sebuah kawah kecil terbentuk. Arsean segera berlari dan memeriksa keadaan Sang Putri. Pria itu bergidik ngeri melihat dampak pukulan putrinya itu jika berhasil mengenai kepalanya, untunglah ia sempat menghindar.
Lily keluar dari dalam kawah mini yang penuh debu itu. Wajahnya terlihat berantakan tapi gadis itu malah tersenyum lebar ke arah sang Ayah membuat Arsean ikut tersenyum.
"Ayah, bagaimana? Keren kan?" Tanya Lily ketika gadis itu telah berada tepat di depan sang Ayah. Arsean terkekeh, ia menepuk pucuk kepala Lily, putrinya ini telah berkembang sangat pesat.
"Kerja bagus, ayah bangga padamu." Puji Arsean. Lily memekik senang dan memeluk sang ayah yang juga dibalas pelukan oleh pria itu.
Arsean melepas pelukannya, ia lantas melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap putrinya datar. "Lalu, siapa yang akan membereskan kekacauan ini?" Tanya pria itu. Lily tersenyum canggung. Gadis itu lantas berbalik dan berjongkok. Ia meletakkan telapak tangannya di atas tanah. Beberapa detik setelahnya, sebuah cahaya berwarna coklat mulai menyebar mengelilingi lapangan itu, gemuruh dari dalam kawah terdengar. Tidak lama setelahnya, lapangan tersebut kembali ke kondisi sebelumnya.
Lily berbalik dan menatap ayahnya. "Sudah kan, Yah?" Arsean terkekeh dan mengangguk. Tidak lama setelahnya mereka kemudian duduk di bawah pohon yang berada tak jauh dari lapangan. Lily bersandar di bahu sang ayah, tubuhnya lumayan lelah.
Selama 2 tahun belakangan banyak yang berubah. Mulai dari kakaknya yang kini telah memasuki tahun pertamanya di Akademi, lalu dirinya yang sudah melatih fisiknya mati-matian, mengontrol mana, mempelajari tata Krama, mengontrol elemen dan banyak lagi. Untungnya 2 tahun panjang itu ia jalani dengan lancar tanpa halangan, ya walaupun Lily kadang harus istirahat karena cidera setelah latihan tapi semuanya baik-baik saja.
Selain itu, ada banyak fakta baru yang ia ketahui, termasuk tentang insiden ketika Liliana berumur 4 tahun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Jasmine Flow
lanjut thor...makin seru nih...ak pengen lihat pertarungan lily yg sebenarnya di wonderland. jangan kelamaan thor up nya...
2023-07-28
0
CantStopWontstop
Gak sabar tunggu lanjutannya!
2023-07-27
1
BX_blue
Wah, beneran seru nih cerita, pengen beli bukunya!
2023-07-27
1