Sebelumnya di Mansion
"Kamu ingin kemana, Bella?" Arsean yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya berpapasan dengan sang istri yang baru saja keluar dari kamar mereka. Bella menggeleng.
"Aku hanya ingin ke kamar putri kita, sudah begitu lama aku tidak melihat wajah putri kita yang tengah tidur." Tutur Bella dengan wajah yang penuh semangat. Arsean hanya bisa menggelengkan kepalanya. Pada dasarnya sang istri dan kedua anaknya itu memang mirip.
Arsean mengikuti langkah sang istri menuju kamar sang putri. Tepat saat mereka membuka pintu dengan perlahan, keduanya dikejutkan dengan kamar Lily yang kosong. Bella segera memanggil seluruh pelayan dan meminta mereka untuk mencari putrinya di penjuru mansion. Wanita itu bahkan hampir menangis jika sang suami tidak menenangkannya.
Tiba-tiba terdengar sebuah suara dari dekat jendela dan benar saja, Seorang dengan jubah hitam tiba-tiba mendarat dengan santai. Gadis berambut hitam itu menatap Arsean dan Bella dengan keterkejutan yang kentara.
...----------------...
"Jadi, bisa jelaskan apa yang kamu lakukan sampai kamu harus kabur malam-malam dari mansion, Liliana íliosa De Althair?" Ucap Bella dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya, membuat Lily seketika menunduk. Gadis itu takut melihat kabur amarah sekaligus kekhawatiran dari sang ibu. Arsean masih bergeming, membiarkan sang istri yang mendisplinkan sang putri sesekali.
"Jawab, Lily." Lily mendongak, menatap ayah dan ibunya secara bergantian. Helaan napas terdengar dari bibirnya. Gadis itu memejamkan mata terlebih dahulu, mengembalikan warna rambutnya seperti semula. Lily membuka matanya, iris berwarna sebiru langit itu menatap kedua orangtuanya dengan ragu.
"Aku pergi ke pasar malam Di desa Fos lewat hutan thávma, mencoba mencari informasi tentang Hakai Lucafier." Suaranya Lily terdengar mengecil di akhir, namun masih bisa didengar oleh pasangan suami istri itu. Arsean tentu saja terkejut.
"Untuk apa kamu pergi ke sana?! Dan kamu tahu kalau hutan thávma itu berbahaya?! tidak ada orang yang bisa keluar hidup-hidup dari hutan itu." Arsean berucap dengan sedikit emosional. Ia marah sekaligus khawatir. Bella memutar-mutar tubuh Lily, memeriksa tubuh putrinya itu dengan teliti karena takut ada luka yang terlewat.
Lily menghela napas lagi, ia tersenyum meyakinkan kedua orangtuanya. "Aku tidak apa, ayah, Ibu. Aku selamat sampai ke tujuan maupun ketika kembali. Lalu alasanku memilih lewat hutan itu agar lebih cepat karena jika lewat jalan utama akan memakan banyak waktu."
"Hutan itu juga sebenarnya tidak memakan korban kok kalau mereka tidak mencoba untuk menginvasi hutan. Para penghuni hutan hanya melindungi rumah mereka, aku bahkan berteman dengan mereka hehe." Lily tertawa canggung di akhir kalimatnya, membuat kedua orangtuanya sedikit kaget, ya walaupun mereka akan tahu kalau cepat ataupun lambat ini akan terjadi.
Arsean menghampiri putrinya dan mengelus rambut perak yang masih ditutupi jubah itu. "Yah, mau bagaimana lagi. Asalkan kamu baik-baik saja. Jadi kamu telah bertemu dengan para mahluk mitologi itu?" Lily membalasnya dengan anggukan membuat Arsean tersenyum. "Begitu ya, sepertinya memang tidak salah lagi."
"Maksud Ayah?" tanya Lily.
"Kamu mirip dengan kakek buyutmu. Beliau bisa berkomunikasi dengan mahluk mitologi tanpa usaha. Normalnya mereka akan menjauhi kita karena mereka takut pada kita, pengecualian untuk Hewan sihir karena setiap Pengguna sihir dan elementer memang memiliki masing-masing satu. Kakek buyutmu dulu memiliki Naga sebagai Hewan sihirnya, hewan ini sudah tidak terlihat selama 100 tahun belakangan. Kakekmu memiliki Phoenix Es yang cukup langka, yang kemudian diturunkan kepada Ayah, lalu kakakmu memiliki Elang salju." Lily tampak berbinar mendengarkan penuturan ayahnya.
Kira-kira aku apa ya? Batin Lily yang mulai penasaran. Tiba-tiba sebuah tangan menarik telinganya, membuat gadis itu seketika memekik kecil karena kesakitan.
"Sudah-sudah, sekarang kamu harus tidur ya anak nakal! Kalau sampai kamu kabur-kaburan lagi, ibu pastikan Florea akan memakan semua bunga di kebunmu." Mata Lily seketika melotot, membayangkan Kucing besar berbulu coklat itu mengunyah bunga-bunganya membuat Lily bergidik ngeri.
"Ibuuuu, jangan lakukan itu." Lily memasang wajah menggemaskan andalannya yang tentu saja tidak akan mempan bagi Bella. Arsean terkekeh pelan melihat tingkah istri dan anaknya itu. Ia lantas menarik sang istri untuk meninggalkan kamar sang putri.
"Bye bye Ayah, Ibu. Jangan buatkan aku adik ya!" Teriak Lily ketika kedua orangtuanya itu menghilang dari balik pintu. Gadis berambut itu melepaskan tusuk kondenya dan menaruhnya di meja rias. Lily memutuskan untuk beres-beres dan segera tidur.
"Huft, besok akan sangat melelahkan."
...----------------...
Pagi itu, kamar Lily tidak sedamai biasanya. Para pelayan tengah sibuk mempersiapkan gaun cantik untuk nona mereka yang akan menghadiri pesta minum teh setelah dua tahun absen. Mereka berusaha sebaik mungkin untuk membuat penampilan sang nona menjadi sangat cantik. Lily kini telah di pakaikan sebuah gaun yang terlihat lebih rumit dari gaun yang biasa ia kenakan. Gaun berwarna biru tua dengan perpaduan warna hitam dan putih di beberapa sisi bordirannya. Tak lupa dengan sedikit detail emas dan perak yang menghiasi, membuat gaun itu terlihat sederhana namun tetap menakjubkan.
"Noi, bisa tolong pakaikan tusuk konde perak yang ada di meja ya? Tolong pakai itu saja untuk hiasan kepala, aku tidak ingin kepalaku sakit." Pinta Lily kepada sang Pelayan. Noi mengangguk menurut. Dengan telaten, gadis itu mulai menata rambut perak Lily, lalu memasangkan tusuk konde itu. Sebagai sentuhan terakhir, Noi memasangkan sebuah jepit rambut kecil di rambut Lily.
"Selesai! Woah! nona sangat cantik!" Noi memekik senang setelah melihat hasil karyanya, pelayan yang lain pun begitu. Ah iya, hubungannya dengan para ksatria dan pelayan sudah sangat baik, terlebih setelah insiden penyelamatan yang dilakukan Lily membuat Gadis itu semakin dihormati. Lily tidak terlalu mempermasalahkan itu, ia sudah cukup bersyukur karena dirinya sudah tidak dibenci lagi.
Lily tersenyum tipis, gadis itu terkekeh. "Terima kasih, Noi. Ini juga berkatmu." Noi tampak malu-malu kucing. Lily terkekeh, mereka berdua lantas segera turun menuju lantai bawah. Lily melihat Sang Ayah dan Sang Ibu tengah berbincang hangat, sesekali tertawa. Hal itu membuat Lily merasa bahagia, setidaknya kerenggangan yang dijelaskan dalam novel tidak terjadi.
"Ayah, Ibu, aku akan segera berangkat." Bella mengangguk sembari tersenyum, wanita itu memeluk putrinya sebentar.
"Jangan terlalu dipaksakan ya? Jangan hiraukan ucapan para putri yang merendahkanmu, buktikan kalau dirimu sudah menjadi lebih baik, oke?" Lily mengangguk. Bella tersenyum menatap sang putri.
Arsean menepuk pundak putrinya, ia tersenyum tipis. "Mulai hari ini, Zark akan menjadi ksatria pribadimu, menggantikan Willy yang meninggal saat melindungimu. Zark, kemarilah." Seorang Pemuda dengan rambut secoklat karamel yang Lily tebak berumur 17 tahun itu datang dan berlutut dihadapan ketiganya. Wajahnya lumayan tampan, kalau di bumi mungkin dia sudah menjadi most wanted.
"Salam, Yang Mulia Grand Duke, Yang Mulia Grand Duchess, Tuan Putri Liliana, Hamba Menghadap." Ucapnya yang dibalas oleh anggukan Arsean, Bella dan Lily.
"Bangunlah, Zack." Menerima perintah, Pemuda itu segera bangkit. Lily dengan jelas bisa menatap wajahnya.
Dari Auranya, dia sepertinya sudah ada di tingkat menengah, lalu mananya termasuk besar. Dia lumayan berbakat. Batin Lily sambil menganalisis Pemuda dihadapannya.
"Mulai saat ini, kau akan menjaga putriku. Jaga dia dengan sepenuh hati. Jika dia sampai terluka, nyawamu taruhannya." Ucap Arsean dengan penuh penekanan, auranya terasa mengintimidasi.
"Saya berjanji akan melindungi Putri Liliana, Yang Mulia." Arsean tersenyum tipis mendengarkan ucapan meyakinkan dari ksatrianya. Kini Arsean menatap Lily, mengisyaratkannya untuk berkenalan dengan Zack.
Lily maju. "Halo, Ksatria Zack. Aku Liliana, tapi tolong jangan panggil aku putri ya? Panggil saja Nona Lily seperti yang lain dan aku akan memanggilmu Kak Zack, bagaimana?" Zack tampak hampir menyela, tapi ditahan oleh Lily.
"Tidak ada bantahan. Ayah Ibu, aku pergi dulu ya? Kak Zack, Ayo!" Lily berjalan menuju kereta kuda meninggalkan Kedua orangtuanya yang tersenyum menatap tingkah putri bungsu mereka lalu Zack yang tampak mengimbangi kecepatan sang Putri.
Lily memasuki kereta itu dengan hati-hati, takut tatanan rambutnya rusak. Setelah sampai di tengah, ia segera menyandarkan tubuhnya di bantalan empuk kursi itu. Zack sendiri memilih duduk bersama sang kusir, padahal pemuda itu sudah diminta oleh Lily untuk menemaninya.
Sepanjang perjalanan, Lily melihat-lihat pemandangan pohon di sepanjang jalan. Ada juga beberapa tanaman dengan warna unik. Lily terlihat sangat senang, padahal dia sudah pernah melihat lebih dari ini. Zack terkekeh melihat raut nonanya yang sangat antusias.
"Kak Zack, Apakah Kerajaan Southaxia masih jauh?" Lily bertanya pada Sang Ksatria.
"Sekitar satu jam dari kediaman anda nona. Jika anda mau, anda boleh tidur, jika sudah sampai akan saya bangunkan." Tutur Zack dengan sopan. Lily menghela napas ia kemudian mengangguk dan sedikit menyenderkan bahunya pada jendela. Pikirannya melayang kepada alur di novel, dimana pada pesta minum teh yang akan dilaksanakan, Liliana akan sangat dipermalukan, terutama oleh Rea yang jelas dicintai oleh Matheus. Pasalnya walaupun Lily bertemu lebih dulu dengan pangeran itu, namun intensitas mengobrol mereka sangat sedikit. Sedangkan Rea memang sudah sering bertemu Matheus karena ayah Rea memiliki banyak kerjasama dengan Kerajaan Southaxia.
Selain itu, adik dari Matheus, Putri Claudia sangat tidak menyukai tokoh Liliana. Ia menilai kalau Liliana terlalu murahan untuk kakaknya.
Reputasimu sangat buruk, Liliana. Batin Lily sedikit miris. Tapi Lily tidak terlalu peduli dengan semua itu. Tujuannya sekarang hanya tetap hidup, melindungi keluarganya dan membunuh Hakai Lucafier. Sisanya ia hanya berlaku seperlunya.
Tak terasa, kereta Lily telah sampai di gerbang Istana Kerajaan Southaxia. Zack yang berniat membangunkan sang Nona segera mengurungkan niatnya ketika melihat sang Nona sudah bangun. Ksatria itu segera membantu sang Nona untuk menuruni kereta. Lily menatap gerbang itu dengan tatapan datar.
Baiklah, mari kita mulai. Gadis berambut perak itu berjalan memasuki gerbang istana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Frando Wijaya
waw!!
2024-08-28
0
Jasmine Flow
apa yg akan di lakukan lily selànjutnya?...
2023-08-05
0