Tidak Terprediksi

"Lily! Kamu baik-baik saja?!" Bella menghampiri putrinya yang kini tengah diobati oleh Noi. Gadis itu hanya mengangguk kaku, leher dan punggungnya masih agak sakit untuk digerakkan. Tidak lama setelahnya, seorang Pria juga ikut masuk, siapa lagi kalau bukan Arsean. Jika biasanya pria itu selalu saja memasang wajah datar, kini ada raut kekhawatiran yang tercetak jelas di wajahnya.

"Apakah ada luka serius? iblis apa yang menyerangmu?" Tanya Arsean, ia nampak sedikit panik melihat keadaan sang putri. Lily menggeleng, ia tersenyum dan mencoba menenangkan kedua orangtuanya.

"Aku baik-baik saja, hanya lebam di punggung dan leher karena menabrak pohon saat melawan iblis. Untuk yang kulawan sepertinya bukan iblis tingkat bawah, tapi bukan tingkat atas juga. Sepertinya dia ada di status 'tak teridentifikasi' mengingat kemampuannya yang lumayan merepotkan. Tapi dia tidak punya teknis iblis." Tutur Lily. Gadis itu memijat bahunya yang sedikit pegal.

Arsean menghela napasnya, pria itu sedikit lelah dengan masalah yang terus saja mengusik keluarganya akhir-akhir ini. Ia menatap Bella yang juga ikut menatapnya, wanita itu mengangguk. Bella lantas bangkit dari duduknya, membuat Lily ikut bingung.

"Ibu ingin kemana?" tanya Lily penasaran. Entah mengapa ia merasa aura ibunya lebih berat dari sebelumnya, ada rasa marah dan kecewa? Tapi ia tahu perasaan itu tidak di tujukan untuknya. Bella berbalik dan tersenyum menatap putrinya itu.

"Ibu harus memperbaiki barrier yang sepertinya rusak. Jika saja barrier itu tidak rusak, mungkin iblis sialan itu tidak akan melukai putri Ibu." Tatapan mata Bella menajam membuat Lily sedikit tersentak kaget. Entah mengapa sekarang sang Ibu terlihat menyeramkan.

Setelah Bella keluar dari ruangan tersebut, kini hanya ada Arsean dan Lily yang masih mencerna keadaan. Gadis itu menghela napas kasar disusul dengan Arsean yang tiba-tiba pergi menyusul Bella. Lily menjadi lebih bingung, sebenarnya ada apa dengan ibu dan ayahnya?

Tiba-tiba Lily merasakan luapan energi sihir yang besar dari arah taman bunga miliknya. Ia sangat yakin bahwa energi ini adalah energi milik sang Ibu. Energi ini membungbung tinggi ke atas dan mulai nyebar ke seluruh kawasan mansion.

"Menurutmu apa yang sedang Ibu lakukan, paman?" Regan tersentak saat mendengar pertanyaan sang nona, padahal ia sudah menghilangkan hawa keberadaannya, namun anak dari majikannya ini dapat mendeteksinya, sebuah kemajuan yang sangat baik. Pria itu tertawa pelan, terkesan berwibawa dan tidak dingin seperti biasanya.

"Saya terkejut anda dapat menyadari keberadaan saya, nona." Tutur Regan dengan nada lembut. Lily bisa tahu bahwa Regan tengah memang topengnya ketika bicara karena gadis itu tahu, Regan adalah salah satu orang yang paling membenci sifat kekanakan milik Liliana sebelumnya.

Maklum saja, Regan sudah menjadi asisten sekaligus sahabat dari Grand Duke sejak lama, tentu saja ia juga mengikuti pertumbuhan dari putra-putri sahabatnya itu dan Liliana membuatnya sangat kesal karena sifatnya yang semena-mena dan suka membuat masalah di mana-mana. Kelakuan gadis itu kadang mampu membuat Arsean dan Bella ingin marah, namun tidak bisa. Parahnya, di novel kebencian Regan menjadi lebih besar ketika Liliana ketahuan merencanakan pembunuhan kepada Rea.

Lily menghela napasnya lagi, entah sudah berapa kali ia melakukan itu. "Entahlah, hawamu sangat jelas terasa, Paman. Oh iya, Paman belum menjawab pertanyaanku loh~" Lily menatap Regan yang masih tersenyum sopan, tidak mempedulikan raut wajah Lily yang sangat mengesalkan baginya.

"Nyonya Duchess sedang memperbaiki barrier yang digunakan untuk melindungi mansion ini, Nona." Ucap Regan. Lily mengangguk, dugaannya ternyata akurat.

"Baiklah kalau begitu, terimakasih paman." Lily tersenyum sambil menatap Regan yang tertegun. Pasalnya Pria itu memang mendengar rumor bahwa nona mereka berubah, tetapi ia belum melihat secara langsung. Ia kira hanya penampilan dan kekuatan gadis itu saja yang berbeda, namun sikapnya juga. Kali ini Lelaki itu mengulas senyum yang terlihat lebih tulus.

"Anda tidak perlu mengucapkan terima kasih, Nona. Itu sudah menjadi kewajiban saya."

...----------------...

Tahta matahari kini telah digantikan dengan bulan, disusul dengan seisi dunia yang mulai gelap. Lily tengah terbaring di kamarnya sambil menatap langit-langit kamar. Setelah makan malam yang terbilang lebih dingin dari biasanya itu, Lily izin untuk masuk ke kamarnya lebih dahulu dengan beralasan untuk istirahat. Sebenarnya ia tidak sepenuhnya bohong sih, punggung memang masih terasa sedikit sakit, tapi luka luarnya sudah sembuh tanpa bekas. Entahlah, Lily saja tidak mengerti dengan kondisi tubuhnya sendiri.

Gadis itu menatap telapak tangannya yang ia kepalkan erat, hatinya terasa sesak mengingat mayat orang-orang yang bergelimpangan akibat iblis tadi siang. Raut sedih sang ibu yang Lily tau bahwa wanita itu sedang merasa marah dan kecewa karena barriernya berhasil ditembus, serta raut khawatir sang ayah membuatnya menahan amarah.

"Sebenarnya sekuat apa Iblis atas? Yang 'Teridentifikasi' saja sekuat itu. Apakah aku bisa mengalahkan mereka?" Lily memejamkan matanya. Gadis itu merasa bahwa dia masih terlalu lemah untuk melawan iblis tingkat atas, kekuatannya saat ini masih belum cukup.

Semenjak mengubah tujuan hidupnya, Lily lumayan berambisi untuk menjadi kuat kedepannya. Intinya, selain dia harus menghindari Matheus, dia juga harus bisa menjadi lebih kuat untuk melindungi keluarganya dari Para Iblis biadab itu.

"Tampaknya aku memang harus pergi ke sana untuk mencari informasi." Lily bangkit dari posisi timurnya. Gadis itu mengganti pakaian tidurnya dengan sebuah Pakaian yang mirip hanfu (?) namun lebih pendek, hanya selutut berwarna biru tua, dilengkapi dengan celana bahan berwarna hitam. Ia melengkapi outfitnya dengan Pisau perak khusus milik ayahnya yang sengaja ia ambil. Kemudian sentuhan terakhir, gadis itu mengenakan jubah hitam panjang dengan tudung yang menutupi hampir seluruh rambutnya. Untuk berjaga-jaga, Lily membaca sebuah mantra untuk mengubah warna rambut dan matanya menjadi berwarna hitam, persis seperti dirinya di kehidupan terdahulu.

Sebenarnya ini agak memalukan, tapi Lily baru mengetahui kalau di dunia yang ia tempati ini, sihir juga berlaku. Pasalnya di novel hanya difokuskan pada percintaan klasik dan sedikit mengungkit perihal penggunaan elemen dan pedang sihir. Dia baru tahu dari sang ayah mengenai sihir penyembuh, teleportasi dan lain-lain. Ya maklum saja sih, Lily terlalu malas memikirkan hal ribet seperti itu, tapi demi kelangsungan hidup orang di sekitarnya dan dirinya sendiri, ia harus belajar lebih giat terutama tentang sihir dan elemen.

Lily segera menuju ke jendela kamarnya, gadis itu terjun dengan mulus ke bawah, tepat di Taman bunga miliknya. Gadis itu menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada ksatria yang melihat dirinya menyelinap keluar. Dengan hawa keberadaan yang dihilangkan, Lily segera berlari menuju tembok pembatas mansion. Dengan menggunakan skill semasa sekolahnya, Lily berhasil melewati tembok sekolah dan mendarat dengan mulus di luar area mansion. Tujuannya kali ini adalah pasar malam.

Lily merentangkan tangannya, menghirup udara segar yang dia rindukan. "Hah! Entah berapa lama aku tidak jalan-jalan malam seperti ini, mungkin terakhir kali itu setahun yang, itupun cuma keluar buat liat-liat doang." Lily memandangi pemandangan sekelilingnya. Hutan yang ia lewati termasuk area yang jarang di sentuh, ada banyak hewan aneh tapi indah, tumbuhannya juga seperti itu. Ada yang bersinar, lalu ada yang ukurannya di luar nalar. Gadis itu bahkan masih terkagum-kagum melihat kehadiran hewan-hewan itu. Wajar saja sih, pemandangan ini hanya bisa ditemukan di dalam hutan liar yang belum tersentuh, kalau jalan setapak biasanya masih mirip dengan dunianya yang dahulu.

"Oh, Lily! Lama tidak bertemu, kamu ingin kemana?" Lily menoleh dan terkekeh menatap seorang manusia bertelinga runcing, seorang elf. Ah iya, entah mengapa para mahluk yang jarang muncul seperti elf, werewolf dan fairy sering muncul di hadapannya. Kata mereka 'Auramu hangat, kami selalu tenang saat berada di dekatmu!' padahal Lily selalu memasang wajah dingin dan datar bak tembok, tapi mahluk-mahluk ini dengan santainya menghampirinya. Tapi Lily tidak masalah, setidaknya dia jadi sering diajak tour ke dalam hutan yang begitu indah itu, mungkin kata 'Wonderland' cocok untuk menggambarkannya. Lily jadi merasa seperti karakter Alice yang berpetualang di dunia yang asing ini.

Selain itu, ada satu kemampuan yang entah harus gadis itu syukuri atau sesali. Sama seperti indra penciumannya dan pendengarannya yang sangat sensitif, penglihatannya pun begitu. Jika normalnya seorang penyihir atau elementer atau apalah di dunia ini sebutannya Lily tidak tau, bisa melihat aura jahat dengan memfokuskan penglihatannya penglihatannya, gadis itu tidak. Dia Bahkan bisa langsung melihat aura jahat, arwah atau bahkan iblis yang menyamar tanpa perlu latihan apa-apa. Mungkin kalau di dunia sebelumnya, dia sudah dikatai Indigo oleh orang-orang. Tapi Lily memilih untuk tidak memberitahukan hal ini kepada keduanya orangtuanya.

"Miguel dimana, Max?" Lily bertanya dengan Elf tampan itu yang dibalas gelengan.

"Tidak tahu, dia tadi bermain denganku, tapi sekarang entah kemana dia- Oh Lily, pasarnya sudah terlihat! Aku pergi dulu ya, nanti kita bertemu lagi!" Elf itu segera berlari meninggalkan Lily, membuat gadis itu terkekeh pelan. Gadis itu memalingkan wajahnya menuju pasar yang terlihat amat sangat meriah. Ada yang berjualan makanan bahkan sovenir yang terpampang jelas disana. Senyum perlahan terlukis di wajah cantiknya, kakinya melangkah menyusuri pemandangan yang gemilang.

Kakinya terus melangkah hingga menemukan sebuah toko tua yang terlihat hampir tidak terurus. Pintunya dibiarkan terbuka, ada beberapa bagian yang lapuk, membuat kesan toko ini terlihat sedikit horor. Tanpa menunggu, Lily segera memasuki toko tersebut. Wajahnya menatap sekeliling tempat, sesuai ekspetasinya. Ada banyak barang antik di sekeliling tempat seperti pedang, bola sihir, kristal sihir dan barang-barang yang tidak Lily tahu namanya.

Secara tiba-tiba, seorang nenek-nenek tengah tersenyum sambil menatapnya. Lily seketika merinding melihat tatapan nenek itu padanya.

"Selamat datang, Gadis dalam Ramalan."

Terpopuler

Comments

Jasmine Flow

Jasmine Flow

ayo dong thor...kpn up nya...ak udah antusias banget nih.sebab ak suka cerita genre seperti ini.

2023-08-02

0

Jasmine Flow

Jasmine Flow

mulai di buat penasaran nih sama outhor... oiya thor.kasih dong lily hewan pendamping...mungkin bisa utk menjadi penjaga dia.secara kan dia gadis yg begitu disuakai para mahkluk hutan.cerita ini ak banget.menyukai petualangan yg berbau hutan belantara. ok lanjut thor...

2023-08-01

0

Pluto

Pluto

Baper banget sama ceritanya.

2023-08-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!