Baiklah, mari kita mulai. Gadis berambut perak itu memasuki gerbang istana sekaligus memulai petualangannya.
...----------------...
Lily berjalan memasuki istana dengan langkah anggun sedangkan Zack berada di belakangnya dengan Raut wajah datar. Para pelayan yang melihat itu mulai saling berbisik membicarakan kemunculan Lily yang cukup mengejutkan.
"Siapa nona itu? Bukankah dia sangat cantik?"
"Benar! kulitnya seputih salju, bahkan bibirnya tampak merah alami. Gerakannya sangat anggun!"
"Tapi tunggu, rambut perak itu... bukankah hanya keturunan Grand Duke De Althair yang memilikinya? Beliau hanya punya seorang putri. Jadi, apakah itu-"
"Tuan Putri Liliana?!"
Lily diam-diam menarik senyum tipis mendengar pekikan para pelayan yang sedang menggosipinya.
Haha rasain tuh! Batin Lily. Gadis itu tetap berjalan dengan tegak, menghiraukan tatapan heran para pelayan.
"PUTRI GRAND DUKE DE ALTHAIR, NONA LILIANA ILIOSA DE ALTHAIR MEMASUKI TEMPAT PERTEMUAN."
Seluruh mata memusatkan perhatiannya kepada gadis berambut perak dengan gaun biru tua itu. Wajahnya yang cantik mampu membuat para nona menggigit bibir. Mereka tidak percaya dengan perubahan yang terjadi pada gadis perusuh yang sering mereka kucilkan. Wajahnya kini terlihat sangat cantik tanpa riasan berlebihan, apalagi dengan tatanan rambutnya yang terlihat sangat menyegarkan, ditambah dengan rambut peraknya yang unik, membuat para gadis sukses merasa iri.
Iris biru cerah milik Lily menatap Putri Claudia selaku penyelenggara pesta. Dengan anggun bak bangsawan pada umumnya, Lily memberikan gestur hormat kepada sang putri.
"Salam Saya kepada Tuan Putri Claudia Esmeralda De Polaris." Claudia mengangguk dan tersenyum tipis. Gadis itu segera mempersilahkan Lily untuk duduk di salah satu kursi di dekatnya.
"Salam juga, Nona Liliana. Senang bisa melihatmu hadir di acaraku setelah beberapa tahun absen. Bagaimana keadaanmu, apakah sudah membaik?" Tanya Claudia. Nada bicaranya tampak bersahabat, setidaknya gadis ini tidak sesinis yang Lily pikir.
Lily tersenyum tipis. "Mohon maaf telah menolak beberapa undangan Tuan Putri beberapa tahun belakangan, kondisi saya saat itu masih belum stabil. Keadaan saya saat ini sedang sangat baik." Lily membalas perkataan Claudia dengan sama lugasnya. Claudia terkekeh lalu memulai pesta minum teh di taman istana itu.
"Nona Lily, maaf jika lancang, apakah benar dua setengah tahun yang lalu kediaman anda diserang?" Seorang Nona berambut Merah muda dengan kipas berwarna Senada mulai bertanya. Ia menutupi mulutnya dengan kipas tapi Lily dengan jelas tau ekspresi Gadis itu saat ini.
"Anda benar, nona Amelia. Mansion Althair memang diserang beberapa tahun lalu." Jawab Lily dengan ekspresi tenang, tidak sesuai dengan ekspresi Amelia. Gadis itu bermaksud untuk mengungkit masalah dan membuat Lily emosi, tapi sayangnya itu tidak berhasil.
Para bangsawan lain mulai berbincang melanjutkan pembahasan yang sebelumnya telah dipancing oleh Amelia. Putri Marquess Aldean itu tersenyum licik karena berhasil memancing perdebatan. Sementara seorang gadis berambut Biru tua tampak menyimak dengan hikmat para bangsawan yang tengah berdebat. Ia menaruh cangkir teh dengan anggun, lalu menatap Lily yang masih dengan tenang menatap para bangsawan yang mulai menanyainya.
Lily mengernyit ketika menemukan bau racun yang lumayan pekat pada teh yang dihidangkan untuknya. Gadis itu hanya membuat gestur minum sambil menahan napas untuk mencegah bau racun itu masuk ke penciumannya.
Teh ini beracun. Lily menghela napas dan menurunkan cangkir teh miliknya, untung saja ia belum sempat meminum sedikitpun.
"Bukankah itu berarti, Barrier yang telah dibuat oleh Grand Duchess Arabella telah melemah Nona? Apakah kemampuan Beliau sudah menurun?" ucapan gadis berambut biru tua itu membuat seluruh atensi terarah padanya. Lily menatap gadis beriris ungu itu, menelisik seluruh ciri fisiknya.
Tidak salah lagi, dia adalah Andrea Florytha De Aquila , putri dari Kerajaan Northaxia. Dilihat langsung ternyata auranya memang cukup kuat tapi entah kenapa rasanya aneh. Dan juga, fisiknya memang sangat mirip dengan orang yang menusuk Liliana.
Lily tahu, Rea berusaha untuk memancing amarahnya dengan menyinggung sang Ibu. Jujur saja ia memang tersinggung. Tapi Lily bukanlah Liliana yang meledak-ledak, dia adalah Liana yang mampu memahami kapan dia harus mengeluarkan amarah, kapan dia harus memendamnya. Lily balas tersenyum, membuat Rea mengerutkan keningnya bingung.
"Padahal tidak ada yang tahu sebelumnya mengenai detail barrier yang melemah selain ayah dan ibuku. Apakah anda tahu sesuatu, Putri Andrea?" Lily bertanya dengan nada setenang air. Rea sedikit gelagapan, namun ia menutupi dengan tawa kecilnya.
"Haha, itu hanya asumsi saya Nona, saya yakin barrier Milik Grand Duchess Arabella yang telah terkenal hingga seluruh kekaisaran, tidak mungkin akan mudah hancur karena serangan iblis." Ucap Rea diiringi senyum formal. Lily tersenyum kecil.
"Sesuai yang ada dengar, Putri Andrea. Jika tidak, untuk apa leluhur beliau dijuluki 'si benteng tanpa tanding' jika barrier yang beliau buat tidak sekuat itu." Seorang gadis berambut merah tampak ikut bergabung ke dalam perdebatan.
Kalau Lily tidak salah ingat, Gadis itu adalah adik dari salah sahabat pangeran Matheus. Nama gadis itu adalah Zevalia Sheliora De Orion, Putri Kerajaan Easthaxia. Gadis itu tersenyum pada Lily. Ah iya dia ingat. Dalam Novel, Zeva selalu berusaha untuk berteman dengan Liliana, namun gadis itu menolak kehadirannya dengan alasan Gadis berambut merah itu cukup berisik.
Liliana bodoh, orang setulus dia malah dibuang, lalu Amelia malah dijadikan teman. Ya walaupun aku sama bodohnya sih dulu. Batin Lily sambil merutuki dirinya sendiri.
"Terimakasih Putri Zave, saya merasa terhormat atas pujian anda." Zave ikut tersenyum melihat senyum tulus milik Lily. Saat ia ingin melanjutkan, tiba-tiba sebuah teh panas mengenai gaun miliknya, membuat gaun itu terlihat basah. Lily bisa mencium bau menyengat dari teh yang tersiram ke gaunnya, bau racun yang cukup pekat. Terimakasih kepada Noi yang mengingatkan Lily untuk memakai gaun putih lain sebagai dalaman sebelum gaun utamanya, setidaknya Cairan beracun itu tidak mengenai kulitnya.
"Maafkan saya Nona, saya tidak sengaja." Rea tampak berusaha membersihkan gaun Lily, namun dengan cepat si surai Perak itu segera mundur dan mengisyaratkan gadis itu berhenti.
"Saya baik-baik saja, Putri. Saya bisa membersihkan ini. Mohon maaf Putri Claudia, acara anda hancur karena saya." Lily menunduk penuh sesal, Claudia menggeleng. Gadis itu tampaknya sudah sedikit memaafkan Lily karena jarang berbuat onar lagi.
"Anda tidak perlu meminta maaf Nona, seharusnya saya yang meminta maaf. Sebagai gantinya, maukah anda mengganti gaun milik anda dengan milik saya terlebih dahulu? Akan terasa sangat tidak nyaman duduk dengan gaun basah." Tawar Claudia yang dibalas oleh gelengan Lily.
"Mohon maaf Putri, sepertinya saya akan langsung pulang. Mungkin lain kali saja Putri, maaf apabila terkesan tidak sopan, saya permisi." Lily berbalik, Zack membantu memapah sang nona. Sesaat ketika berjalan, Lily berpapasan dengan Pemuda berambut Ungu. Pemuda itu sempat berhenti dan menatap Lily yang mengacuhkannya.
"Tunggu, itu Liliana?" Gumam Pemuda itu.
"Kakak, kamu disini?" Pemuda, yang ternyata adalah Matheus itu berbalik dan mendapati sang adik yang telah berada di belakangnya. Pemuda itu mengangguk singkat, pandangannya masih berada di Lily.
"Gadis itu adalah Nona Liliana, dia sudah banyak berubah, setidaknya tidak ada kekacauan yang terjadi. Dan ya, nona Liliana harus pulang lebih dahulu karena tersiram teh milik Putri Rea." Dahi Matheus mengerut.
"Teh itu mengandung racun?" tanya Pemuda itu. Claudia tentu saja menggeleng.
"Mana mungkin. Sebenci-bencinya aku pada dia, meracuni seseorang bukanlah gayaku. Apakah kamu merasakan ada racun di teh itu kak?" Matheus mengangguk. Ada sesuatu yang janggal. Sebenarnya apa yang terjadi pada gadis itu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments