"Sebenarnya, siapa pemilik suara yang kudengar di kepalaku?"
...----------------...
Lily menghela napas lagi. Setelah menghabiskan sup yang dibuat Noi, gadis itu memutuskan untuk menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Ia masih memikirkan kalimat yang terngiang di kepalanya itu.
"*Lily" *
*"Liana" *
"Liliana"
Mencoba menghiraukannya, gadis itu akhirnya memilih menutup matanya dan tidur. Ia tidak begitu memikirkan suara aneh yang mulai memanggilnya sejak tadi.
Apa suara di kepalaku lagi? Aish! Lama-lama aku bisa gila! Lily mengacak rambutnya yang tergerai.
"Lily!" Suara Max yang memanggilnya membuat Lily langsung menoleh ke arah Jendela. Dahinya mengerut pasalnya Max lumayan malas untuk mengunjunginya karena barrier sang ibu yang cukup merepotkan untuk di tembus.
Max terlihat panik, napasnya bahkan masih tersengal. Pemuda Elf itu segera menarik-narik Lily untuk bangun dari tidurnya. Lily tentu saja bingung, apa yang terjadi pada sahabatnya itu?
"Lily kamu harus ikut! Hutan Thávma memanggilmu!" Lily masih tetap kekeh berbaring di ranjangnya.
"Maksudmu apa Max? Mana bisa hutan memanggil, memang dia punya mulut?" Max berdecak kesal, Elf itu memilih untuk menarik Lily untuk terjun dari kamar Lily. Gadis itu tentu saja panik tapi tidak melawan. Jauh di lubuk hatinya, ia merasa kalau hutan itu memang tengah membutuhkannya.
Mereka berdua lantas berlari ke dalam hutan, menghiraukan jika ada ksatria yang melihat mereka berlari seperti orang gila. Pada akhirnya mereka sampai ke perbatasan dan segera memasuki hutan. Entah mengapa Lily merasakan suatu lonjakan besar dalam dirinya, seperti ada perasaan menggebu-gebu, darahnya berdesir aneh.
"Perasaan apa ini?" Lirih Lily yang masih mampu didengar oleh Max. Pemuda itu masih menarik tangan Lily, mengajak gadis itu berlari ke jantung hutan, tempat sebuah pusaka hutan yang telah tersimpan lebih dari seribu tahu lalu.
Cahaya biru terang mencapai tubuh Lily dan Max, tujuan mereka sudah berada di depan mata. Pemuda Elf itu menyibak sebuah semak belukar yang menghalangi pandangan mereka. Lily tercengang menatap sekelilingnya yang penuh dengan mahluk mitologi. Para Fairy, werewolf yang sedang berada di bentuk serigala, Para kurcaci, Elf, hingga para sekelompok mahluk berbentuk persis seperti manusia namun memiliki manik merah darah dan taring yaitu para vampire.
Lily berjalan perlahan kearah sekumpulan mahluk yang mengelilingi sebuah pedang yang tertancap di sebuah batu. Pedang itu tampak telah tertutup lumut, membuat siapapun tahu kalau usia pedang tersebut sudah sangat lama. Hanya saja, Cahaya yang sangat terang memancar dari pedang tersebut. Cahaya berwarna biru cerah yang terang, namun terasa hangat bagi Lily. Perasaan Familiar yang begitu erat. Para mahluk itu menatapnya dan memberikan jalan bagi ia dan Max untuk menuju pedang itu.
Lily bisa merasakan bahwa pedang itu memiliki kekuatan besar, sangat besar hingga mampu membuat siapa saja yang mendekati pedang itu akan merinding karena Aura yang dikeluarkan.
"Kenapa kamu memintaku untuk kemari, Max?" Lily masih menatap ke depan, tepat kepada pedang itu. Max tersenyum tipis, ia menunduk, diikuti oleh para mahluk lain. Mereka seolah memberikan penghormatan kepada Lily. Gadis itu tentu saja terkejut, ia buru-buru meminta yang lain untuk berdiri namun tidak dituruti.
"Sang pemilik jiwa asli telah kembali, bersama dengan jiwa yang lebih kuat untuk melawan sang penghancur. Sebagai para penjaga, kami memohon kepada Anda, Gadis dalam ramalan untuk mengambil hak anda kembali dan berjuang menghapus eksistensi para iblis di dunia ini." Ucap Max. Tubuh Lily seketika menegang, tubuhnya seperti membeku saling terkejutnya. Ia masih belum bisa mencerna semua fakta baru yang ia terima. Air matanya mengalir tanpa diminta setelah dua tahun ia sampai di dunia ini.
"Aku- kenapa aku? Kenapa harus aku? Siapa aku?!" Lily berteriak. Ia jatuh terduduk, membuat para mahluk itu segera menghampirinya dan memastikan keadaan gadis itu.
Lily meremas tanah hutan sambil menunduk, air matanya terus mengalir. Ia terus-terusan berpikir. Siapa dirinya? Mengapa orang-orang menyebutnya gadis dalam ramalan? Lily tahu dia memang bertekad untuk membantu nenek penjual kalung membalaskan dendamnya, memberantas si iblis keparat Hakai Lucafier dan antek-anteknya. Tapi fakta tentang ia yang memang memegang tak takdir ini membuatnya takut. Takut untuk kalah, takut mengacaukan semuanya, takut menghancurkan semuanya. Ia takut bahwa dengan hadirnya dia disini, alurnya akan semakin buruk.
Padahal awalnya Lily hanya ingin hidup dengan baik, membuat alur hidup yang bahagia bersama keluarganya dan menghindari kematian. Kenapa sekarang ia malah seperti ini?
Lily terkekeh sambil menangis. "Terkutuklah jiwa heroik ku yang menyebalkan."
PLAK
Tamparan yang begitu renyah terdengar di penjuru hutan. Seorang Wanita ber ras Vampire melayangkan tamparan ke wajah Lily. Wajah gadis berambut hitam itu terlihat emosi.
"Hei gadis manusia! Bangun! Kau yang ditakdirkan, kau yang mengemban semuanya! Kami semua bergantung padamu! Bukankah seribu tahun lalu sebelum kau mati, kau akan kembali untuk kami? Melindungi kami dan para manusia dari iblis menjijikan itu?! MANA JANJIMU?!" Urat-urat tercetak di wajah gadis vampire itu. Air matanya ikut menetes membuat Lily terhenyak. Mahluk penghisap darah yang terkenal kejam di cerita masa kecilnya kini menangis dihadapannya. Hal itu membuat dirinya terenyuh. Ia menatap para mahluk yang juga menatapnya dengan tatapan penuh harap.
Lily tidak mengerti, tapi entah Lily berdiri. Kakinya membawa gadis itu menuju Pedang yang masih memancarkan cahaya biru terang, seterang manik matanya. Kini gadis itu tepat berada di hadapan Pedang itu.
"Inikah takdirku?" gumamnya lirih. Lily memegang gagang pedang itu. Dengan seluruh kekuatan yang ia miliki, gadis itu menarik pedang itu dari baru, membuat cahaya berwarna biru cerah sebuah cahaya emas lainnya memancar ke langit, membuat sebuah lingkaran sihir aneh yang begitu indah. Tanda di punggung tangan kanan Lily ikut bersinar, teriakan gadis itu kini ikut terdengar memekakkan telinga siapapun yang mendengarkannya.
Pedang itu tercabut, membuat lingkaran sihir di langit meledak.
Pandangan Lily yang awalnya sepenuhnya tertutupi cahaya kini tiba-tiba menggelap. Tubuh Lily tiba-tiba limbung, membuat Lily seketika jatuh dari atas pijakan dan terjerembab ke arah para mahluk yang ikut panik.
Sebenarnya apa yang terjadi?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Fira Yuniar
huwaa 😭 ini benar-benar bagussss
2023-09-08
1
Yusantika
Maaf banget kak kalau kelamaan nggak up, soalnya ada beberapa masalah sebelumnya jadi baru bisa aku up sekarang. Makasi banyak karena tetap nungguin cerita ini up🙌
2023-09-03
0
Jasmine Flow
alhamdulilah baru up si outhor...lama bgt up nya
2023-09-03
0