"Emm, boleh Lily memotong rambut?"
...----------------...
Bella menatap putrinya bingung, ia meletakkan punggung tangannya di dahi sang putri. "Tidak panas, kondisimu sudah baik." Lily menghela napas mendengar perkataan sang ibu.
Gadis itu berpikir kalau pertanyaannya memang cukup mengejutkan. Pasalnya di Novel, Liliana dikenal sebagai gadis maniak rambut panjang. Gadis itu bahkan tidak pernah membiarkan seorang pun memotong rambutnya, bahkan kedua orangtuanya sendiri. Ini karena saat berumur lima tahun, Matheus memuji rambut panjang Lily yang berwarna perak dan anak laki-laki itu mengatakan bahwa ia sangat menyukai gadis berambut panjang. Nah sejak itulah Liliana memutuskan untuk memanjangkan rambutnya, seperti yang diinginkan Matheus.
Ck, dasar budak cinta. Batin Lily. Bodo amat jika dia berambut pendek, yang penting ia merasa nyaman.
Arsean menghela napas, pria itu tersenyum dan menepuk pelan kepala putrinya. Pria itu terlihat bahagia dengan perubahan sikap putrinya, walaupun terlalu tiba-tiba.
"Yasudah, ayo Ibu potongkan." Bella akhirnya mengalah, ia menuntun sang anak ke dalam kamarnya.
"Apakah ayah merasa ada yang aneh dengan Lily?" Atlas berceletuk, dirinya penasaran dengan adiknya yang berubah 180 derajat. Entah mengapa gadis itu terasa asing namun familiar secara bersamaan. Seperti, Lily memang adiknya, namun entah kenapa ini seperti pertemuan pertama mereka. Sedangkan sebelum koma, Atlas merasa asing dengan sosok gadis berambut perak yang selalu saja membuat keributan setiap hari. Dan Arsean bisa merasakan perasaan yang sama.
"Dia memang adikmu, Atlas." Arsean beranjak pergi meninggalkan putranya yang kebingungan dengan perkataan sang ayah.
Sebenarnya apa yang terjadi?
...----------------...
"Wah! Lihat sayang, ternyata kamu memang lebih cocok dengan gaya rambut pendek sebahu ini." Tutur Bella yang kini tengah memperhatikan putrinya di depan kaca. Lily berdecak kagum dengan tampilannya sekarang. Memang sih wajahnya masih sama dengan yang dulu, hanya saja ia tidak mengira bahwa rambut perak akan sangat serasi dengan wajahnya. Belum lagi dengan kulit seputih salju milik Lily membuatnya terlihat seperti salju hidup, kurang matanya saja yang putih.
"Woah! Ini keren sekali Ibu!" Tanpa sadar Lily sudah mulai terbiasa dengan kehadiran sang Ibu, gadis itu sudah tidak canggung lagi. Mereka tampak sangat akrab.
Entah mengapa aku merasa seperti benar-benar bersama darah dagingku pada akhirnya, tidak seperti sebelum Lily koma. Kali ini aku merasa sangat nyaman. Batin Bella ketika melihat putrinya yang masih mengagumi hasil potongan rambutnya yang bagus.
Wanita itu mulai menganalisis segala keanehan yang terjadi pada putrinya. Mulai dari ketikan bangun, putrinya tampak tenang ketika dipanggil dengan nama 'Lily' padahal sebelumnya dia selalu mengamuk dan ingin dipanggil 'Ana'. Lalu, sikapnya yang tidak lagi seenaknya. Entah mengapa semenjak bangun dari koma, Lily seolah kehilangan sikap seenaknya itu entah menyuruh pelayan dengan sewenang-wenang. Yang terakhir berdandan menor. Ini aneh, tapi benar adanya. Selain sikapnya yang jauh lebih tenang, Lily menjadi orang yang anti dengan segala riasan menor di wajahnya, tidak seperti sebelumnya. Entah ini pertanda baik atau buruk, Bella tidak bisa memprediksi. Ia hanya berharap supaya Putrinya selalu baik-baik saja.
"Ibu kenapa melamun?" Suara Lily menarik kesadaran Bella sepenuhnya, membuat wanita itu mengulas senyum lembut sebelum menggeleng.
"Tidak apa-apa, Ibu hanya memikirkan sesuatu." Ujar wanita itu yang berusaha menenangkan putrinya. Wanita itu lantas merapikan bekas rambut yang masih berceceran, ia tidak ingin ada yang memanfaatkan rambut putrinya untuk hal-hal tidak baik.
Wanita itu lantas menuntun putrinya. Lily hanya mengikuti saja, meskipun ia juga bingung apa yang sebenarnya terjadi. Mereka berdua berjalan beriringan sambil sesekali tertawa, tak sedikit juga para pelayan yang melihat mereka dan menyapa dua wanita kesayangan Grand Duke itu. Bella membalas dengan anggukan serta senyum anggun sedangkan Lily menyapa balik, membuat para pelayan terkejut.
"Ini benar-benar Nona kan? Kita tidak bermimpi?"
"Dimana rambut panjang Nona? Dia memotongnya?!"
"Padahal yang kudengar, nona tidak mau memotongnya sampai kapanpun karena pangeran suka gadis berambut panjang."
"Tapi nona kelihatan imut dengan rambut pendek dan auranya berubah menjadi jauh lebih positif!"
"Benar, Nona sangat cantik!"
"Apa yang kalian bicarakan?!" Secara tiba-tiba, Atlas muncul dibelakang sekumpulan pelayan yang tengah bergosip tadi. Pemuda itu membawa sebuah pedang berbilah emas berbilah biru ditangannya. Para pelayan langsung meminta maaf dan pergi dari sana membuat Atlas geleng-geleng kepala.
"Ada-ada saja." Pemuda itu beranjak menuju Lapangan tempat ia berlatih.
...----------------...
Keduanya kini sampai di sebuah hamparan taman bunga yang luas. Mata Lily berbinar melihat beberapa jenis bunga yang ada disana. Mawar, Tulip dan Lily mendominasi area tersebut. Lily melepaskan genggaman tangannya dari sang ibu lalu berlari dan mulai mengamati bunga-bunga yang Indah itu.
Bella terkekeh mendapati putrinya yang antusias, padahal sebelumnya gadis berambut perak itu sama sekali tidak mau untuk berkunjung ke taman yang dihadiahkan oleh Arsean. Namun sekarang gadis itu tampak asik menyentuh bunga-bunga berbagai warna itu. Bella merasa bahwa putrinya memang telah berubah dan ia bersyukur karena itu.
"Ibu ayo kesini! Bunga Lily ini bercahaya!" Lily berseru panik membuat Bella sepenuhnya kembali ke dunia nyata. Wanita itu segera menghampiri putrinya yang mundur masih syok dengan kejadian dihadapannya.
Beberapa saat lalu
Liana memandangi hamparan bunga yang sangat terawat, untung saja para pelayan masih Sudi untuk merawat hamparan bunga ini. Ia mengamati bunga-bunga yang didominasi oleh bunga Lily biru. Gadis itu, walaupun tidak di dunia sebelumnya setidaknya salah satu wishlist- nya terpenuhi.
Tiba-tiba bunga Lily yang ia perhatikan sejak tadi mengeluarkan cahaya yang terang, cahaya itu berwarna biru langit dan merambat ke tubuh Lily. Gadis itu panik, ia merasakan rasa kebas dan mati rasa yang merambat keseluruh tubuhnya.
"Ibu ayo kesini! Bunga Lily ini bercahaya!" serunya panik. Sang ibu segera menghampirinya yang masih syok, tangannya masih kebas tapi sudah tidak mati rasa. Dapat ia lihat kalau wanita cantik itu juga tertegun. Lama kelamaan, cahaya tersenyum menghilang, bersamaan dengan rasa pusing yang mulai menyerang Lily.
Ck, apakah aku akan mati lagi? Tidak lucu sama sekali sih kalau itu sampai terjadi. Batin gadis itu sebelum tubuhnya limbung, untung saja sang Ibu bisa menahan tubuhnya.
"Lily! Lily, bangun nak! Arsean!" Bella dengan panik memanggil Suaminya. Wanita itu segera memangku sang putri dan menepuk-nepuk pipi gadis itu dengan lembut, sayangnya tidak ada respon. Kurang dari semenit, Arsean datang dengan teleportasi dan segera menggendong sang putri serta menteleportasikan dirinya beserta anak dan istrinya ke kamar Lily.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
AngelaG👁💜
Menakjubkan!
2023-07-25
2
Achewalt
pantengin terus karya si author, pasti gak nyesel!
2023-07-25
1