20

Setelah pergi ke psikiater, Jinan memutuskan pergi ke pantai. Menghirup udara malam bersama dengan kenangannya disini. Menatap bulan yang di temani satu bintang terang di sampingnya. Cukup itu yang ia lakukan. Mengistirahatkan otaknya sejenak dengan menghirup angin malam yang selama ini selalu membuatnya tenang.

...***...

Rio tengah bercanda ria dengan Alexa di rumahnya. Alexa memang belum pulih betul, tapi sudah lebih membaik jadi dokter bisa menyarankan untuk pulang. Tangan Alexa pun sudah tak lagi menggunakan penyangga tangan. Hanya gips yang terpasang sebab tangannya belum sembuh total.

Saat Rio dan Alexa tengah asik berbincang, Bobby datang untuk menemui Alexa.

"Lo disini juga. Gue perhatiin lo sering nemuin Alexa ya." ucap Bobby melihat Rio ada di rumah Alexa.

"Gue cuma mau liat keadaan Alexa."

"Apa Jinan yang nyuruh lo?" tanya Bobby seolah tak tau apa yang terjadi.

"Enggak lah. Jinan pernah bilang apapun tentang Alexa sama gue." ujar Rio. Entah mengapa perkataan Rio membuat hati Alexa merasa sesak. Mungkin memang tak ada nama Alexa di hati Jinan, sehingga dengan begitu mudah Jinan melupakannya.

"Oh iya lex, gimana keadaan lo."

"Sudah lebih baik."

"Bisa gak lo besok ikut gue? Hari ini gue ajak Jinan ke psikiater untuk menata masalah hatinya, karna gue rasa Jinan harus bisa melawan rasa takut kehilangannya. Dokter menyarankan dia melakukan hipnoterapi besok, dan bawa lo kesana."

"Apa separah itu?" tanya Rio yang ikut khawatir dengan keadaan Jinan. Bobby mengangguk.

"Gue tau Jinan brengsek karena nyakitin elo. Tapi lo juga harus paham dengan masalah hatinya. Bukan waktunya buat kita benci sama dia, gue rasa Jinan butuh dukungan kita buat sembuh. Jinan harus bisa sembuh sampai dia bisa mengikhlaskan yang memang sudah pergi."

"Jinan dan Alana sama. Mereka saling ketergantungan. Mungkin Alana akan mengalami hal yang sama jika Jinan yang pergi. Gue tau lo sakit hati, tapi tolong ikut gue besok. Setelah ini terserah lo mau apa."

Bobby berusaha menjelaskan apa yang terjadi dengan Jinan. Karena masalah mengikhlaskan memang bukan masalah yang mudah bagi Jinan. Bobby berharap Alexa bisa mengerti.

Alexa tampak memikirkan sesuatu. Jika ini untuk kesembuhan Jinan, Alexa harus mau ikut dengan Bobby. Apa yang dikatakan Bobby benar. Jinan dan Alana memang gak bisa dipisahkan. Alexa saksinya, dia mendengarkan sendiri bagaimana Alana bercerita banyak tentang Jinan. Mungkin jika Jinan yang pergi, Alana akan mengalami hal yang sama, atau bahkan lebih parah.

"Oke, aku ikut."

Bobby tersenyum lega dengan jawaban Alexa.

...***...

"Apa mas Jinan sudah siap?" tanya dokter Laras saat Jinan sudah duduk di sofa hipnoterapi.

Jinan mengangguk.

"Tarik nafas, keluarkan.... Tarik nafas yang dalam, keluarkan perlahan...." dokter Laras memberi arahan. Dokter laras menepuk tangan sekali hingga membuat Jinan memejamkan matanya.

Di saat Jinan memejamkan mata, Bobby menyuruh Alexa masuk ke ruangan yang juga di temani Rio. Rio kekeh ingin ikut karena ingin melihat sahabatnya tersebut.

"Kamu saat ini ada di sebuah taman bunga yang sangat luas. Ada seorang perempuan mendekatimu, perempuan yang sangat kamu cintai. Katakan apapun yang ingin kamu katakan sama dia. Keluarkan semuanya." ucap dokter Laras dengan sangat lembut.

Tak terasa air mata mengalir dari mata Jinan yang tertutup. Tanpa mengatakan sepatah kata Jinan seketika terisak.

"Angkat tanganmu, peluklah wanitamu." dokter Laras kembali menuntun Jinan dengan suaranya yang lembut.

Tangan Jinan seketika terangkat seolah ia sedang memeluk seseorang. Jinan menangis tersedu-sedu hingga bersuara. Alexa yang melihat Jinan pun ikut menangis sambil menutup mulutnya. Rio merangkul Alexa untuk menenangkannya.

Setelah 10 menit berlalu Jinan hanya menangis tanpa mengucapkan sepatah kata, akhirnya Jinan mengeluarkan isi hatinya.

"Kenapa kamu pergi? Kenapa kamu ninggalin aku? Kamu tau aku gak bisa tanpa kamu. Orang tuaku sudah pergi, kenapa kamu ikut pergi ninggalin aku. Aku hancur, aku takut, aku gak mau sendirian. Aku mencintaimu, aku membutuhkanmu Alana."

"Maaf, maafin aku yang belum bisa ngasih apapun untuk kamu. Maafin aku yang gak ada ketika kamu melawan rasa sakit mu. Maafin aku ngebiarin kamu berjuang sendirian. Maaf membuatmu lama menunggu."

Jinan mengeluarkan semua isi hatinya dengan terbata-bata karena kalah dengan isak tangisnya. Rio yang tau kisah cinta Jinan dan Alana pun iku meneteskan air matanya. Ternyata selama ini Jinan menyembunyikan luka yang sangat dalam.

"Alana tau kamu sangat mencintainya. Alana pun sangat mencintaimu. Alana mau kamu berhenti merasa bersalah, berhenti merasa menyesal. Buang semua sesalmu, maafkan Alana karna harus meninggalkanmu, dan juga maafkan dirimu sendiri. Tak perlu takut, lanjutkan hidupmu seperti yang Alana mau. Makan dengan teratur, tidur yang cukup, berteman dengan banyak orang, jalankan bisnismu, dan terima wanita lain yang datang kepadamu di kemudian hari."

"Lepaskan pelukanmu, biarkan Alana pergi dengan tenang. Katakan padanya kamu sudah ikhlas. Biarkan Alana pergi dengan tersenyum."

Dokter Laras berbicara selembut mungkin seolah menyampaikan pesan Alana untuk Jinan.

"Pergilah, Aku ikhlas. Aku akan bahagia disini seperti yang kamu inginkan." ucap Jinan menurunkan tangannya yang tadi seolah sedang memeluk Alana.

"Alana pergi dengan senyum termanisnya tanpa meninggalkan penyesalan karena kamu telah mengiklaskannya. Terimakasih. Ingatlah satu hal, Alana sudah pergi dan tak akan mungkin bisa kembali lagi. Sekarang atur nafasmu, hapus air matamu."

Jinan pun mengatur nafasnya seperti yang dikatakan dokter laras.

"Di depan sana ada seorang perempuan sangat mirip dengan Alana datang mendekatimu. Dia semakin dekat hingga sekarang ada tepat di depanmu. Siapa wanita ini? Apa kamu mengenalnya?" ujar dokter Laras yang masih membantu Jinan menyelami alam bawah sadarnya.

"Dia Alexa, saudara kembar Alana." jawab Jinan tanpa ragu.

"Apa ada yang ingin kamu sampaikan sama Alexa?"

Lagi-lagi Jinan mengeluarkan air matanya.

"Maafin aku. Maaf aku gak bisa lepas dari masa laluku. Maaf karna lebih banyak menyakitimu. Aku menyukaimu, sungguh. Maaf belum bisa memberikan hatiku seutuhnya."

"Baik. Kamu sudah minta maaf. Alexa pasti juga sudah memaafkanmu. Sekarang perlahan buka matamu dan hatimu sudah menjadi lebih tenang."

Jinan membuka matanya secara perlahan. Dia duduk dengan tegak mengusap air mata yang tersisa di wajahnya. Jinan menghela nafas cukup dalam hingga akhirnya ia tersadar dan melihat Bobby, Rio, dan Alexa sedang berdiri tak jauh darinya.

Jinan tersenyum ke teman-temannya , masih mengatur isak tangisnya yang masih tersisa.

"Alexa, kok disini?" tanya Jinan.

"Saya yang mengundangnya. Saya hanya ingin tau bagaimana cara kamu memandang Alexa setelah melakukan hipnoterapi ini. Dengan kamu bisa mengenali di alam bawah sadar mu, itu sedikit menunjukkan bahwa kamu telah ikhlas melepas yang sudah pergi." ucap Dokter Laras menarik kesimpulan.

"Kamu hebat Jinan. Kamu lelaki terhebat yang pernah aku temui. Sungguh." Alexa tersenyum manis ke arah Jinan. Jinan pun ikut tersenyum membalas senyuman Alexa.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!