3 hari kemudian.
Jinan memandangi Rio yang terlihat lebih ceria di bandingkan biasanya. Saat ini keduanya tengah berada di cafe Jinan. Terlepas dari Rio kecewa dengan sikap Jinan, Jinan tetaplah sahabat Rio. Dan memang hanya Rio lah sahabat Jinan.
"Yo nanti ada barang datang ya, kamu bisa terima kan. Hari ini gue mau ada perlu sama Bobby." ucap Jinan berbicara dengan Rio namun matanya fokus melihat buku catatan yang ia bawa.
Merasa tak ada respon dari Rio, Jinan pun menatap sahabatnya itu. Jinan terlihat heran karena Rio senyum-senyum sendiri dari tadi.
"Lo baru menang undian apa gimana yo?" ucap Jinan menepuk bahu Rio untuk menyadarkan lamunannya.
"Ehh, lo ngomong apa?" tanya Rio setelah ia sadar dari lamunannya.
Jinan menghela nafasnya dalam.
"Hari ini ada barang datang, lo bisa kan terima. Gue ada perlu sama Bobby." ucap Jinan yang udah males ngejelasin.
"Iya bisa."
"Gue tinggal. Kalau udah beres semua lo bisa pergi buat nemuin Alexa." sindir Jinan lalu pergi meninggalkan cafe.
Mata Rio membulat. Bagaimana Jinan bisa tau kalau Rio mau menemui Alexa.
"Ah bodo amat, toh Jinan udah gak ada hubungan apa-apa sama Alexa." gumam Rio lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
...***...
"Bob, siapa yang gila?" ucap Jinan menatap papan nama yang terpasang di depan sebuah rumah. Ternyata Bobby mengajaknya ke psikiater.
"Ya elo lah, pake nanya lagi."
"Gue masih waras Bob." mata Jinan membulat tak terima di cap gila oleh Bobby.
"Orang waras mana yang nganggep orang yang masih hidup sebagai orang yang sudah mati. Udah ayo masuk." Bobby mendorong tubuh Jinan untuk masuk ke ruangan psikiater.
"Pagi Laras." sapa Bobby kepada psikiater yang sekaligus temannya itu.
"Ehh Bob, udah dateng. Ayo duduk." Laras mempersilahkan Bobby dan Jinan duduk di depannya.
"Ini dia nih yang gue ceritain." ucap Bobby menunjuk Jinan yang ada di sebelahnya.
"Maaf dok, tapi saya gak gila." Jinan membela diri.
"Mana ada orang gila bilang dirinya gila." ucap Bobby emosi.
Laras sebagai dokter pun hanya tersenyum melihat Bobby dan Jinan.
"Gak boleh Bob, kamu gak boleh menyebutnya gila." ujar Laras membela Jinan.
"Tuh denger kuping lo." ucap Jinan merasa dapat pembelaan.
"Oke, dengan mas Jinan ya. Jadi apa keluhannya mas? Ceritain apa yang bikin hati kamu gak tenang. Saya siap mendengarkan." ucap Laras lembut.
Bobby terdiam, Jinan pun hanya terdiam.
"Apa kamu belum siap untuk bercerita? Gak apa-apa, saya siap nunggu sampai mas Jinan siap untuk cerita." ucap dokter Laras.
"Satu tahun lalu saya kehilangan Alana, perempuan yang saya cintai. Setelah dia pergi, saya pun memilih pergi dari kota ini selama satu tahun untuk melupakannya. Karna saya pikir saya sudah ikhlas, saya kembali ke sini. Tapi saya bertemu perempuan yang sangat mirip dengannya, dan ternyata dia adalah saudara kembar Alana." ucap Jinan mulai bercerita.
"Saya mendekatinya seolah saya mencintainya. Tapi ternyata salah. Saya hanya menganggapnya sebagai Alana. Ternyata saya belum sepenuhnya ikhlas." lanjut Jinan dengan mata berkaca-kaca.
Dokter Laras mengangguk sembari dengan telaten mendengarkan keluh kesah Jinan.
"Berapa lama kamu dan Alana berhubungan"
"Sekitar 4 tahun."
"Lalu apa kamu sangat mencintainya?"
"Sangat."
"Apa dia berpesan sesuatu sebelum dia pergi?"
"Dia bahkan meninggalkan surat. Menyuruh saya ikhlas dan melanjutkan hidup saya."
"Baik. Lalu apa yang bikin mas Jinan gak bisa melanjutkan hidup dengan normal sesuai pesan dari Alana?"
"Mungkin karna saya sangat mencintainya."
"Betul mas Jinan. Mulai hari ini tolong tanamkan ini di otak mas Jinan. 'aku sangat mencintai Alana, itu juga alasanku harus melanjutkan hidup sesuai keinginannya' apa mas Jinan bisa?"
"Apa aku bisa?" Jinan bertanya pada dirinya sendiri.
"Pasti, pasti bisa. Boleh saya mengatakan sesuatu ke mas Jinan?" tanya dokter Laras.
Jinan mengangguk.
"Terimakasih sudah kuat, sudah bertahan hingga sejauh ini. Alana pun pasti bangga. Mulai hari ini kita sama-sama berusaha ya, berusaha untuk sembuh, berusaha untuk ikhlas, karena semua yang ada di dunia pasti akan pergi."
Jinan yang sedari tadi berusaha menahan air matanya pun tak kuasa menahan nya lagi. Ia nunduk menangis tersedu-sedu sambil menutup wajahnya. Bobby berusaha menenangkan Jinan dengan mengusap punggung lelaki yang hatinya sedang tidak baik-baik saja itu.
"Gak apa-apa, menangislah, keluarkan semuanya. Buang semua rasa penyesalanmu. Mulai hari ini maafkan dirimu sendiri, ikhlaskan yang sudah pergi. Alana sudah bahagia, kamu pun berhak untuk bahagia."
Jinan semakin menangis tersedu-sedu.
"Kamu hebat mas Jinan. Kamu lelaki, kamu pasti kuat. Kamu hebat karna mempunyai cinta yang sangat besar. Tapi tanpa kamu sadari, cintamu juga yang melemahkanmu secara perlahan. Bangkit, hidup terus berjalan."
Jinan masih tetap menangis mengingat kenangan dia dan Alana yang memang susah untuk di lupakan, dan mungkin memang tak ingin Jinan lupakan. Bobby dengan sigap memeluk Jinan untuk memberinya kekuatan. Hingga di perasaan Jinan mulai tenang, Jinan melepas pelukan Bobby.
"Maaf dok." ucap Jinan setelah selesai dengan tangisnya.
"Tidak apa-apa. Itu normal. Saya sarankan mas Jinan melakukan hipnoterapi. Besok mas Jinan bisa datang ke sini lagi jika mas Jinan setuju. Kita akan menyelam lebih jauh ke alam bawah sadar mas Jinan."
"Apa perlu dok?" tanya Jinan memastikan.
"Untuk kasus ini saya sangat menyarankan. Karena efek dari sulit mengikhlaskan yang mas Jinan alami adalah efek negatif yang bisa menyakiti banyak pihak."
"Baik dok, lakukan apa yang menurut dokter baik untuk mental saya." ujar Jinan yang sepertinya udah mulai pasrah dengan keadaan.
Bobby pun tampak tersenyum mendengar jawaban Jinan. Akhirnya sahabat barunya itu mau melakukan tindakan.
"Bak mas Jinan, untuk hari ini sampai disini ya. Saya akan resepkan obat, tolong di minum secara teratur." ujar dokter laras menuliskan beberapa resep obat di sebuah kertas.
"Sampai ketemu besok ya mas Jinan. Saya harap kita besok bertemu dengan keadaan mas Jinan lebih fresh dari hari ini."
"Terimakasih dok." Jinan mengulurkan tangan nya untuk berjabat tangan dengan dokternya.
"Ee Bobby, bisa gak kita bicara sebentar." tanya dokter Laras kepada Bobby.
"Lo tunggu di luar aja sebentar." ucap Bobby menyuruh Jinan keluar lebih dulu.
"Ada apa?" tanya Bobby setelah Jinan keluar.
"Seperti yang di katakan tadi. Dia menganggap saudara kembarnya sebagai pacarnya yang sudah pergi. Apa bisa kamu bawa perempuan itu besok? Untuk memastikan hipnoterapi besok bisa berhasil untuk Jinan atau tidak. Tapi jangan sampai Jinan tau jika perempuan itu datang kesini." ucap dokter Laras meminta tolong kepada Bobby.
"Dia baru saja keluar dari rumah sakit kemarin. Gue usahain deh buat Jinan. Semoga bisa." ucap Bobby ragu.
Dokter laras pun mengangguk penuh harap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments