15

Rio mengantarkan Alexa pulang. Di dalam mobil sejenak terjadi keheningan. Alexa yang tengah sibuk menguyel-uyel boneka yang tadi di dapatnya. Rio dengan pikirannya sendiri. Hari ini adalah hari terbahagia buat Rio.

"Makasih ya, udah ngajak aku ke pasar malam. Aku seneng banget." ucap Alexa membuka percakapan.

"Gak perlu makasih, aku juga seneng-seneng kok bisa jalan sama kamu." ujar Rio fokus menyetir sambil sesekali melihat ke arah Alexa yang tengah duduk di sebelahnya.

Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka tiba di kediaman Alexa yang cukup besar itu. Alexa lagi-lagi mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Rio sebelum ia benar-benar turun.

"Sekali lagi, makasih ya." ucap Alexa yang mendapat anggukan dari Rio. Alexa memasuki rumah setelah mobil Rio tak terlihat lagi dari arah pandangnya.

"Dari mana aja kamu Lex." ucapan mama tiri Alexa menghentikan langkah kakinya.

"Mama perhatiin kamu sering pulang malam akhir-akhir ini. Kamu ada hubungan apa sama pacar Alana itu?" seru Ratna, mama tiri Alexa. Karena Ratna tak hanya asal menebak, ia mendapatkan informasi bahwa Alexa sering pulang malam karena seorang cowok. Seorang cowok yang pernah dilihat di makam Alana.

"Alexa habis dari butik ma, nyari baju buat audisi piano lusa." ucap Alexa.

"Inget ya. Jangan sekali-kali kamu deket sama pacar Alana itu. Kamu gak tau dia ada maksud apa ngedeketin kamu." ujar Ratna memperingatkan Alexa agar tak terlalu dekat dengan Jinan.

"Tapi Jinan baik ma, dia gak ada niat jahat sama Alexa." Alexa berusaha membela Jinan namun tanpa membentak mama tirinya tersebut.

"Kamu baru kenal dia Lex, kamu gak tau sifat aslinya seperti apa. Pokoknya mama gak mau tau, kamu harus jauhi itu cowok." seru Ratna. Alexa hanya terdiam tanpa berani melawan mama mertuanya tersebut. Itulah kelemahannya dari dulu. Mama tirinya selalu mengekangnya, dan Alexa tak akan pernah berani melawan apapun yang mama tirinya katakan. Tidak seperti Alana, pasti ia akan berontak jika ada yang mengusik hidupnya.

...***...

"Maaf sepertinya aku gak bisa jemput hari ini. Akan ada supplier yang datang untuk meeting hari ini. Jadi aku harus menemui supplier itu untuk menu baru di cafe nanti."

"Datanglah ke cafe jika kamu mau. Setelah meeting, kita bisa jalan-jalan dengan motorku seperti yang kamu mau."

Isi pesan teks dari Jinan, mengabarkan jika Jinan tak bisa menjemput Alexa hari ini. Mau tak mau Alexa lagi lah yang harus datang ke cafe hari ini. Sebenarnya ia selalu kepikiran dengan omongan mamanya semalam. Tapi sepertinya ia tak punya alasan untuk menjauhi Jinan. Karena memang Jinan selalu baik padanya selama ini.

Alexa telah sampai di cafe milik Jinan itu. Seperti yang di katakan Jinan, Alexa melihat Jinan tengah berbincang dengan beberapa orang di salah satu meja yang berada di cafe tersebut. Jinan tampak sexy saat ia sedang serius dengan pekerjaannya.

Jinan hanya melirik Alexa sekilas saat wanitanya itu baru tiba di cafenya. Ia ingin sekali menghampiri Alexa namun memang keadaannya saat ini sangat tidak memungkinkan.

Alexa berjalan menuju ke meja kasir dimana Rio berada.

"Haii." sapa Rio saat Alexa berada di depannya di sambut senyuman dari wanita tersebut.

"Jus alpukat, seperti biasa." ucap Rio dan Alexa barengan. Mereka pun tertawa saat keduanya mengucapkan kata yang sama secara bersamaan. Sepertinya Rio sudah sangat hapal minuman favorit Alexa.

Jinan melirik Rio dan Alexa sekilas. Ia merasa aneh karena Rio dan Alexa bisa tertawa begitu lepas. Namun ia tak mau terlalu memikirkannya, ia kembali fokus ke pembahasan meetingnya.

"Pulang dengan aman kan kemarin?" tanya Alexa kepada Rio. Karena memang keduanya belum sempat bertukar nomor.

"Aman. Aku mau ngabarin, tapi pake apa. Aku lupa kita bahkan belum tukeran nomor. Nih, catat nomor kamu." ucap Rio menyerahkan hp nya kepada Alexa.

Alexa pun dengan cekatan memainkan jemarinya di layar handphone milik Rio. Setelah menuliskan nomornya, Alexa memencet tombol hijau untuk menelepon dirinya sendiri.

"Sudah masuk." ucap Alexa mengembalikan handphone milik Rio.

"Terimakasih ya pak, selamat bekerjasama dengan cafe ini. Saya jamin bapak tidak akan pernah menyesal sudah menjadi supplier cafe ini." ucap Jinan menyalami client nya tersebut. Para tamu Jinan itu pun mengangguk dan pergi dari cafe Jinan yang lumayan besar ini.

Setelah tamunya pergi, Jinan berjalan ke arah Alexa yang masih berdiri di depan meja kasir. Dengan senyum Jinan menghampiri Alexa, memeluk pinggang wanitanya tersebut dan tak lupa mencium pipi kanan dan kiri Alexa seperti yang biasa ia lakukan.

"Maaf ya nunggu lama." ucap Jinan tanpa melepaskan pelukan di pinggang Alexa seakan tak ingin wanitanya ini pergi darinya.

"Gak lama kok." jawab Alexa dengan senyum manisnya.

Tak terasa ada sepasang mata yang memandang kemesraan dua sejoli ini. Melihat seperti tatapan tidak rela saat Jinan memeluk mesra wanita di depannya tersebut. Namun apa daya, wanita tersebut memang milik Jinan. Tidak ada hak jika Rio harus melayangkan keluhannya.

"Kemarin udah dapat bajunya?" tanya Jinan.

Alexa menganggukkan kepalanya.

"Langsung pulang kan?" tanya Jinan memastikan.

"Aku sama Rio..." belum sempat Alexa menyelesaikan kalimatnya, Rio sudah menimpali "Iya lah kita langsung pulang."

Alexa menatap Rio heran. Kenapa Rio harus berbohong ke Jinan. Sepertinya ini bukan hal yang harus di sembunyikan. Alexa pun mengurungkan niatnya untuk menceritakan kemana saja dia semalam bersama Rio.

"Jadi gimana sama Bobby?" tanya Alexa penasaran bagaimana proses pengintaian Bobby dan Jinan kemarin.

"Kita mergokin Sintya sama cowok di kampus. Trus mereka menuju ke suatu tempat, ternyata mereka ke sebuah hotel. Pas sampe hotel, Bobby nelpon Sintya buat tanya keberadaannya, tapi ternyata Sintya berbohong. Trus mereka malah menuju ke sebuah ruangan, Kita udah mikir yang macam-macam. Itulah yang bikin Bobby murka sampe akhirnya dia menghampiri Sintya, dan ternyata semua cuma salah paham. Ternyata Sintya hanya sedang menyiapkan pesta kejutan ulang tahun buat Bobby." Jinan menerangkan panjang lebar tentang kejadian kemarin yang membuatnya lupa akan janjinya dengan Alexa.

"Trus gimana?" Rio ikut bertanya karena penasaran.

"Gue gak tau, gue tinggalin mereka di sana. Gue rasa mereka butuh waktu berdua." Jinan menjelaskan.

"Jadi maaf ya, aku sangking paniknya sampe lupa janjiku sama kamu." ucap Jinan merasa menyesal.

"Minta maaf lagi. Kan aku udah bilang gak apa-apa. Toh ada Rio yang nemenin aku. Rio juga yang milihin gaunnya buat aku." ucap Alexa terus terang.

Rio memejamkan matanya sejenak. Mengapa Alexa sejujur itu sama Jinan. Rio sangat mengerti bagaimana Jinan jika sedang cemburu buta. Itu juga yang bikin dia memutuskan untuk merahasiakan bahwa mereka sempat jalan-jalan berdua ke pasar malam.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!