Rio sepertinya benar-benar terhipnotis oleh paras Alexa. Selama ini ia hanya melihat Alexa dari kejauhan saat perempuan itu mendatangi Jinan ke cafenya. Ia tak pernah menyangka bahwa ia bisa sedeket ini dengan Alexa dan terpana dengan keanggunan wanita yang berstatus pacar Jinan ini.
"Helloooo.. Rio.. kamu ngelamun lagi." Alexa menepuk pundak Rio saat Rio tak hentinya menatap wajah cantik Alexa.
"Ehh sorry. Yuk jalan." ucap Rio yang masih berusaha mengatur degup jantungnya.
Berapa banyak wanita yang telah ia temui. Dan sudah banyak pula wanita yang menggodanya, namun baru Alexa lah yang berhasil membuat jantungnya berdegup tak karuan. Jikalau Alexa bukan pacar Jinan, pasti dia langsung ambil sikap maju untuk menjadi pacar Alexa.
"Mau jalan lagi gak? Kita mampir ke suatu tempat mau gak?" tanya Rio saat mereka baru memasuki mobil. Mumpung Alexa sedang bersamanya, Rio ingin gunain kesempatan untuk lebih dekat lagi dengan Alexa. Seketika ia ingin melupakan jika Alexa adalah kekasih sahabatnya sendiri.
"Kemana?"
"Ke pasar malam. Mau?"
"Mau." jawab Alexa antusias. Alexa memang sedari dulu ingin sekali pergi ke pasar malam, tapi mama tirinya selalu melarangnya.
"Oke, let's go." seru Rio menginjak gas dan melajukan mobilnya menuju pasar malam yang di maksud.
Sesampainya di pasar malam, Alexa tersenyum riang melihat berbagai permainan yang ada di sana. Akhirnya keinginannya pergi ke pasar malam terwujud berkat Rio.
Alexa menarik tangan Rio menuju ke salah satu permainan lempar bola. Rio tersenyum melihat tangannya yang di gandeng Alexa.
"Rio, mau main buat aku gak?" tanya Alexa saat di depan permainan lempar bola berhadiah itu.
"Oke. Mas satu ya." Rio meminta satu paket yang berisi 6 bola.
Rio dengan hati-hati mencoba melempar bola pingpong tersebut ke dalam gelas yang berjejer rapi di depannya. Lemparan pertama, kedua, ketiga gagal. Ternyata meskipun sudah berada tepat di depannya, bola sangat sulit masuk.
Lemparan keempat, kelima gagal. Tinggal satu bola lagi. Rio menatap Alexa yang penuh harap Rio bisa memasukkan bola terakhirnya. Dengan mata elangnya, Rio melempar bola terakhir dan akhirnya berhasil.
Alexa bersorak riang dan refleks memeluk Rio. Rio yang sadar di peluk pun malah mematung sembari mengatur degup jantungnya.
Penjaga permainan memberikan sebuah boneka teddy bear kepada Alexa. Alexa dengan senang hati menerimanya dan memeluk erat boneka tersebut lalu berterimakasih kepada Rio.
"Padahal kita bisa beli aja kalau kamu suka boneka." ucap Rio melihat Alexa yang terlihat senang setelah mendapat bonekanya.
"Beda dong yo, ini kan pake usaha." ucap Alexa menggandeng tangan Rio kembali mengajaknya ke permainan yang lain.
"Naik itu berani gak?" tanya Rio menunjuk kora-kora yang sedang beraksi. Alexa dengan sigap langsung menggeleng.
"Enggak, naik itu aja." ucap Alexa malah menunjuk bianglala yang sedang berputar pelan.
"Naik itu dulu, ayok." seru Rio segera menarik tangan Alexa menuju kora-kora.
"Tapi aku takut yo."
"Tenang aja, kan ada aku. Pegangan deh." Rio menggandeng tangan Alexa yang duduk di kursi kora-kora. Alexa terus memejamkan matanya karena takut. Kora-kora melambung makin tinggi. Karena ketakutan, Alexa menggandeng lengan Rio yang duduk di sampingnya.
Saat laju kora-kora berhenti, Alexa segera mengajak Rio untuk turun. Ia merasakan perutnya seperti sedang di aduk-aduk. Ia sangat mual hingga ingin muntah. Mungkin karena inj baru pertama kalinya ia datang ke tempat seperti ini.
"Maaf ya, aku maksa kamu." ujar Rio merasa menyesal melihat Alexa merasa tak nyaman.
"Gak apa-apa. Aku menikmatinya kok, walaupun sedikit pusing dan mual."
"Sebentar tunggu sini." Rio berlari untuk membelikan minuman untuk Alexa. Ia segera kembali dan memberikan minuman tersebut kepada Alexa.
"Makasih ya." ucap Alexa tersenyum dan meneguk air mineral dari Rio tersebut.
"Mau pulang aja? Kamu kayaknya gak nyaman." ucap Rio sedikit khawatir.
"Enggak, ayo main lagi." ucap Alexa seakan lupa dengan rasa pusingnya. Alexa menuju wahana permainan bom-bom car. Ia mengajak Rio menaiki mobil-mobilan tersebut.
Dengan penuh canda tawa, mobil Rio dan mobil milik Alexa saling bertabrakan. Mereka berdua seperti sepasang kekasih yang sedang di landa asmara. Jika orang yang tidak tau, pasti akan mengira Alexa dan Rio adalah sepasang kekasih.
Lelah dengan bom-bom car, Alexa mengajak Rio menaiki wahana bianglala. Lingkaran warna-warni yang berputar secara perlahan itu menarik perhatian Alexa sejak pertama kali datang ke tempat ini. Pasti sangat menyenangkan berputar sambil menikmati pemandangan kota dari atas.
Di saat Alexa tengan terpesona dengan pemandangan lampu kelap-kelip di bawah sana, Rio menatap lekat wajah wanita di depannya tersebut. Wanita pendiam ini ternyata sangat menyenangkan jika di bawa ke tempat yang pas.
"Apa kamu gak pernah ke pasar malam?" tanya Rio tanpa mengganggu aktifitas Alexa. Alexa menggeleng cepat.
"Kehidupanku hanya seputar rumah, kuliah, dan piano. Dari dulu aku ingin sekali bebas seperti Alana yang bisa kemana saja. Tapi aku tak seberani Alana yang bisa berontak jika mama melarang kami. Itulah kenapa, perlakuan mama ke kami berbeda. Karena Alana dari awal tak pernah menerima jika papa menikah lagi. Tapi aku, hanya bisa menerima apa yang terjadi di hidup aku. Jika mereka bilang tidak, makan tidak akan ku lakukan."
Alexa bercerita betapa ia ingin sekali seperti saudara kembarnya itu yang berjiwa bebas. Alana tak suka jika orang lain mengekangnya, bahkan jika itu papa atau mama tirinya sekalipun. Tapi Alexa tak memiliki keberanian seperti Alana. Ia hanya berusaha menuruti apapun yang mama dan papanya katakan.
"Lalu bagaimana kamu dan Jinan bisa dekat secepat itu?" tanya Rio yang selama ini penasaran mengapa Jinan begitu mudah mengambil hati Alexa.
"Dari dulu, Alana selalu menceritakan tentang Jinan kepadaku. Bagaimana Jinan memperlakukannya, bagaimana Jinan bisa meratukannya. Semenjak mama meninggal, dan papa memutuskan menikah lagi dalam waktu cepat, Alana sangat marah hingga ia menjadi anak pembangkang. Hingga akhirnya ia sakit kanker otak, lalu sembuh berkat operasi, dan mama mengusirnya karena saat itu kami kehabisan banyak uang untuk pengobatan Alana. Saat itulah Alana bertemu Jinan, lelaki yang bisa merubah Alana menjadi pribadi yang ceria lagi."
"Hanya dari cerita Alana yang selalu membanggakan Jinan, aku bisa merasakan bagaimana Jinan memperlakukan Alana. Perlahan aku menyukai sosok Jinan ini, walaupun selama ini kami tak pernah bertemu. Aku bahkan sempat berdoa jika aku ingin lelaki seperti Jinan datang ke hidupku. Sepertinya Tuhan mengabulkan doaku." ucap Alexa panjang lebar.
"Lalu setelah bertemu Jinan, apakah kamu merasakan apa yang dirasakan Alana?" tanya Rio kembali.
"Entahlah. Dia memperlakukanku dengan baik, sangat baik, tapi aku merasa Alana tak pernah hilang dari hidupnya. Mungkin memang Jinan butuh waktu, aku akan memakhluminya."
"Semoga Jinan gak hanya mempermainkan wanita setulus dia." gumam Rio di dalam hati setelah mendengar perkataan Alexa.
Tak terasa bianglala pun berhenti berputar. Mereka pun turun dan memutuskan untuk pulang karna jam sudah menunjukkan pukul 10 malam dan pasar malam akan segera tutup.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Shyfa Andira Rahmi
curiga jodoh alexa rio bukan jinan😁
2024-08-31
0