17

Jinan makin menenggelamkan wajahnya di leher Alexa. Rasanya sangat nyaman hingga membuat matanya terpejam. Ia seperti ingin mengobati rasa rindunya pada seseorang. Tak terasa air mata Jinan mengalir di sela-sela matanya yang terpejam. Alexa yang menyadarinya pun membalik tubuhnya lalu memegang kedua pipi Jinan.

"Kenapa?" tanya Alexa lembut. Jinan masih saja menundukkan kepalanya, bahkan tak mau mengangkatnya saat Alexa memegang kedua pipinya.

"Aku merindukan mu Alana." gumam Jinan yang juga terdengar oleh Alexa.

Alexa melepas tangannya dari pipi Jinan. Ia merasakan sesak di dadanya. Di saat romantis seperti ini, Jinan berani menyebut Alana di depannya. Bahkan ia dengan jelas mengatakan bahwa dia merindukan Alana.

"Maafkan aku Alexa. Aku tidak bisa sepenuhnya melupakannya. Tempat ini, banyak kenangan kami di sini. Pantai ini adalah saksi perjalanan cinta kami."

Jinan mengeluarkan semua isi hatinya.

Alexa merasakan perih di bagian ulu hatinya. Perih yang tidak bisa di sembuhkan hanya dengan obat. Jadi apakah selama ini Jinan mempermainkannya. Tapi entah mengapa mulutnya seakan terkunci. Ia tak bisa mengatakan apapun di saat Jinan membuat pengakuan besar seperti itu.

Tiba-tiba telepon milik Jinan berdering. Jinan merogoh sakunya dan mematikan telepon yang ternyata dari Rio tersebut. Bukan waktu yang pas untuk dirinya berbicara di telepon.

Alexa menatap hp milik Jinan tersebut. Terlihat sangat jelas wallpaper hp itu adalah foto Jinan dan Alana. Alexa tak kuasa menahan perih di hatinya lagi. Alexa pun melangkah meninggalkan Jinan. Namun Jinan meraih tangan Alexa.

"Tapi bisakah kamu memberi ku kesempatan lagi. Aku bahkan berusaha memperlakukanmu dengan baik." ucap Jinan sembari memegang tangan Alexa.

Alexa berbalik menatap Jinan. Ia ingin mengeluarkan semuanya.

"Kesempatan untuk apa Jinan. Kesempatan kamu mempermainkan ku lagi? Kamu memperlakukanku dengan baik? Ya, aku akui itu. Tapi di matamu aku ini adalah Alana. Kekasih yang tak akan pernah bisa kamu lupakan sampai kapanpun."

"Kamu pernah mengatakan betapa kamu menyukai bintang, karena Alana lah bintang itu. Kamu bahkan menyuruhku menggunakan baju seperti yang biasa di pakai Alana hanya untuk kepuasan hatimu. Kamu bahkan tak mengganti wallpaper hp mu dengan foto lain. Lalu bagaimana caramu melupakan Alana?"

"Cukup Jinan. Cukup sampai disini. Aku akan memaafkanmu untuk ini. Tolong jangan berusaha mengambil hatiku lagi jika kamu masih tertinggal oleh masa lalu mu. Tolong..... Jangan hanya karena kamu, aku membenci saudaraku sendiri."

Alexa tak kuasa menahan air matanya. Sesekali ia mengusap air matanya sembari meninggalkan Jinan. Bagaimana bisa ia kalah dari orang yang telah pergi dari dunia ini.

Jinan yang diam mematung setelah mendengar keluh kesah Alexa. Dia Jinan pun menangisi kebodohannya sendiri. Khawatir dengan Alexa, Jinan menyeka air matanya dan berlari mengejar Alexa yang mulai hilang dari pandangan matanya.

Jinan memegang tangan Alexa saat dirinya berhasil mengejarnya.

"Ayo, aku antar."

"Gak perlu Jinan, tolong tinggalin aku sendiri." Alexa melepas tangan Jinan yang memegang tangannya.

"Kamu mau naik apa? gak ada taksi jam segini. Tolong jangan bikin aku khawatir. Ikut aku ya, setelah kamu sampe rumah, kamu bisa pikirin lagi tentang kita. Bahkan jika kamu gak mau kenal aku lagi, aku bisa terima. Tapi sekarang, biarin aku mastiin kamu selamat sampai rumah." ucap Jinan mencodongkan wajahnya ke arah Alexa. Tak berselang lama Alexa pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.

Jinan menggandeng tangan Alexa menuju tempat ia memarkirkan motornya. Dengan lembut Jinan memakaikan helm di kepala Alexa. Alexa hanya terdiam menurutinya.

Di dalam perjalanan, Jinan dan Alexa nampak terdiam dengan pikirannya masing-masing. Bahkan Alexa pun tak mau lagi melingkarkan tangannya di perut Jinan yang sedang memboncengnya.

Jinan sendiri sedang tidak fokus menyetir. Berkali-kali ia mendapat klakson dari motor maupun mobil di belakangnya karena hampir menyerempet motor lain.

"Jinan awaaaasss." teriak Alexa saat matanya terkena sorot lampu mobil yang melaju ke arahnya. Mendengar teriakan Alexa, Jinan lantas membanting stir motornya ke arah kiri hingga ia menabrak pembatas jalan. Jinan jatuh tertimpa motornya sendiri, sedangkan Alexa terpental sekitar 2 meter dari Jinan.

Jinan ditolong oleh orang-orang yang melihat kejadian tersebut. Jinan berjalan tertatih mendatangi Alexa.

"Lex.. ."

"Jinan.. Tanganku.." Alexa menangis karena tangannya sakit untuk di gerakkan.

...***...

Jinan dan Alexa saat ini tengah menjalani pengobatan di ruang UGD. Bobby dan keluarga Alexa datang untuk melihat kondisi Alexa.

"Kenapa bisa kayak gini Lex. Apa yang terjadi?" tanya Ratna saat melihat tangan anaknya yang sedang di pasang gips oleh perawat.

Alexa hanya menangis melihat tangannya yang mengalami patah tulang. Ia harus mengubur mimpinya untuk ikut lomba piano.

Ratna menghampiri Jinan yang juga sedang di tangani oleh para suster.

"Ini semua gara-gara kamu kan. Lihat sekarang. Karena ulah kamu, Alexa tidak bisa ikut lomba piano besok. Gara-gara kamu, Alexa harus menunda lagi untuk ikut lomba piano." Ratna marah besar kepada Jinan karena menjadi penyebab kecelakaan.

"Maafkan saya tante."

"Apa dengan minta maaf kamu bisa mengembalikan semuanya? Kamu juga Alexa, mama sudah melarangmu dekat dengan cowok ini. Lihat sekarang yang terjadi, lihat apa yang kamu peroleh." Ratna memarahi keduanya yang memang berada di ranjang yang bersebelahan.

"Segera pindahkan anak saya ke ruangan, jangan jadikan satu dengan lelaki ini." Ratna terlihat meminta kamar untuk perawatan Alexa. Tak lama, Alexa pun di pindahkan ke kamar rawatnya.

Sedangkan Jinan tak mau menjalani rawat inap. Karena menurutnya dia hanya terluka di bagian kakinya saja. Dia masih bisa berjalan meskipun harus sedikit pincang.

Bobby mendekati Jinan dan menepuk pundak lelaki yang masih duduk di ranjang ruang UGD. Bobby berusaha menenangkan Jinan yang sedang merasa bersalah tersebut. Karena Bobby tak mau bertanya lebih dalam tentang kecelakaan tersebut. Baginya kecelakaan ini hanyalah musibah yang semua orang bisa mengalaminya.

"Sudahlah bro, jangan pedulikan perkataan mamanya Alexa. Jangan terlalu merasa bersalah, ini musibah, semua orang bisa mengalaminya. Fokus aja ke kesembuhan mu." ucap Bobby yang tidak tau akar permasalahan Jinan dan Alexa hingga membuat mereka mengalami kecelakaan.

Jinan pun diam seribu bahasa, merasa bersalah telah melukai hati dan fisik Alexa. Andaikan ia bisa mengulang waktu, mungkin ia tak akan memberi harapan untuk Alexa.

Rio baru datang dan langsung berlari menghampiri Jinan.

"Gimana keadaan lo? Apa ada yang serius?" tanya Rio khawatir. Jinan menggeleng tanpa berbicara apapun.

"Terus, Alexa gimana?"

"Tangannya patah. Dia udah di pindahkan ke ruang rawat inap." Bobby menjawab pertanyaan Rio.

Rio segera berlari, sepertinya ia ingin menemui Alexa. Jinan menatap Rio heran. Sahabatnya terluka disini, tapi mengapa Rio sepertinya lebih mengkhawatirkan Alexa?

"Kenapa dia yang panik?" ucap Bobby yang juga merasa heran.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!