2

Walaupun terasa begitu berat, Jinan terpaksa harus membuka matanya.

"Lhoh kok aku disini." ucap Jinan setengah sadar.

"Ya kamu ngapain kesini, pake acara mabuk segala." jawab Alana cuek.

"Pusing banget." ucap Jinan memegang kepalanya.

"Salah sendiri mabuk-mabukan." Alana beranjak ke dapur mengambilkan minum untuk Jinan.

"Nih minum." Alana menyerahkan segelas air putih kepada Jinan.

Jinan meneguk habis air minum dari Alana.

"Sudah bisa buka mata? Mending sekarang kamu pulang nan." ucap Alana.

"Ngusir?" ucap Jinan.

"Iya, kan kamu sendiri kemarin yang ninggalin aku gitu aja. Jadi ngapain sekarang kamu ada di sini?"

"Iya maaf khilaf yang.. Maaf ya udah marah-marah kemarin." ucap Jinan.

"Untuk itu udah aku maafin, karna emang itu salahku juga karna gak ada waktu buat kamu. Tapi kamu mabuk-mabukan itu yang gak bisa aku maafin." ucap Alana kesal.

"Aku mabuk juga karna siapa yang." ucap Jinan.

"Ya karna kamu sendiri. Apa? Mau nyalahin aku?Sebesar apapun masalah kita kalau kamu masih inget kalau aku paling gak suka kamu mabuk, kamu pasti gak bakal lakuin itu nan." ucap Alana.

"Iya-iya maaf. Aku janji ini yang terakhir." ucap Jinan.

"Udah berapa kali kamu janji Jinan..." ucap alana terlalu kesal.

"Beneran ini yang terakhir yang, Janji." ucap Jinan mengacungkan jari kelingkingnya.

Alana menghembuskan nafasnya.

"Yaudah sana mandi, kamu bau banget. Ambil baju gantimu dulu di kamar." ucap Alana berjalan ke dapur ingin memasak sarapan.

Tanpa ba bi bu Jinan pun langsung pergi ke kamar mengambil celana pendek dan kaos berukuran over size kesukaannya.

Kondisinya, Alana ini memang sedang ngontrak rumah sendiri. Alasan nya pun yang Jinan tau hanyalah karna Alana ingin lebih mandiri, dan agar lebih bebas ketemu sama Jinan.

Gak jarang juga saat menikmati waktu luang, mereka hanya sekedar nonton di rumah berdua. Apapun itu asal mereka bisa ketemu sih kalau kata Jinan.

"Sarapan dulu sini." ucap Alana saat Jinan baru keluar dari kamar mandi.

Jinan pun menuruti duduk dan menikmati sayur sop buatan kekasih hatinya itu.

"Hari ini kemana kita?" tanya Jinan sambil mengunyah makanannya.

"Ke pantai biasanya aja nan, tapi sore aja deh ya, aku capek banget. Kita istirahat dulu deh di rumah." ucap Alana.

"Iya terserah kamu aja." ucap Jinan melanjutkan makannya.

***

Jinan sedang sibuk memainkan game di hp'nya. Tiba-tiba Alana meletakkan kepalanya di pangkuan Jinan setelah dia selesai mencuci peralatan makannya.

Jinan segera meletakkan hp nya lalu mengelus puncak kepala Alana.

"Capek banget ya kerjaannya." ucap Jinan lembut.

"Iya, entahlah nan. Aku sering bikin kesalahan sekarang. Gak tau kenapa aku jadi pelupa juga. Makanya aku mau gak mau juga harus lembur buat perbaiki kesalahan aku. Maaf ya jadi gak pernah ada waktu buat kamu." Alana berusaha menerangkan kepada Jinan.

"Kalau emang berat, kenapa gak resign aja sayang. Kalau emang kamu gak mau kerja di cafe aku, kamu bisa kerja di tempat lain yang mungkin lebih santai dan gak terlalu nguras otak." jelas Jinan.

"Semua pekerjaan gak ada yang mudah Jinan. Semua pekerjaan pasti ada tantangan'nya sendiri-sendiri. Toh aku sudah 3 tahun bekerja di sana, pasti lama-lama akan lebih mudah. Kalau harus cari pekerjaan lain, pasti harus adaptasi lagi. Aku gak mau, bakal lebih capek lagi menurut aku."

"Yaudah terserah kamu aja. Aku kan cuma khawatir. Jangan karna kamu terlalu capek, akhirnya bikin kamu sakit. Vitamin yang aku beliin masih ada gak? Kalau habis nanti aku beliin lagi." ucap Jinan.

Alana pun bangun dari rebahannya. Alana menggenggam tangan Jinan.

"Makasih ya selalu ada buat aku, maaf kalau aku selalu bikin kamu marah." ucap Alana tiba-tiba.

"Aku yang harusnya makasih. Sesibuk apapun kamu, kamu masih inget aku walaupun cuma di fikiranmu." ucap Jinan.

Alana pun berhambur memeluk Jinan.

***

Alana berlari kecil ke arah ombak kecil yang menuju pantai. Jinan hanya tersenyum memandangi gadisnya yang entah kenapa sangat menyukai pantai itu.

"Jinan ayo sini." Alana melambaikan tangannya memanggal sang pacar.

"Gak usah main air lah yang.. Udah mau gelap ini." ujar Jinan mendekati Alana.

"Bilang aja kamu takut air kan." ledek Alana.

"Enak aja, emangnya aku kambing." ucap Jinan tak terima lalu mencipratkan air ke wajah Alana.

Mereka pun dengan asik bermain air tanpa mengenal waktu. Bahkan mereka sampe berlari-larian tanpa memperdulikan ada banyak orang di sana.

Setelah dirasa capek, Alana dan Jinan pun memilih duduk di bawah payung beralaskan tikar yang ada di pinggir pantai.

Pengunjung pun juga semakin sepi karna hari mulai gelap. Tapi justru pemandangan malam di pantai ini adalah moment favorit Jinan dan Alana.

Jinan yang menyukai pemandangan bulan, di tambah suara deru ombak yang sangat di sukai Alana.

"Jinan.." panggil Alana.

"Hmm."

"Kenapa kamu sangat menyukai Bulan?" tanya Alana.

"Tidak ada alasan. Aku hanya menyukainya. Sama seperti aku menyukaimu." ucap Jinan menoleh ke arah Alana.

Alana tersenyum manis ke arah Jinan.

"Jika kamu di suruh memilih, diantara kita siapa yang akan mati duluan." tanya Alana kembali.

"Serem amat pertanyaannya." ucap Jinan tidak setuju dengan pertanyaan Alana.

"Jawab aja Jinan."

"Eemmm... Aku duluan aja yang pergi." ungkap Jinan.

"Alasannya?" tanya Alana.

"Karna aku gak bisa ngebayangin hidup aku kalau gak ada kamu. Jika aku pergi lebih dahulu, aku yakin bakal ada ratusan hingga ribuan lelaki yang antri untuk menjagamu menggantikanku." Jinan menjelaskan.

"Bagaimana jika aku hanya mau kamu?" tanya Alana kembali.

"Hidup terus berjalan Alana, jika aku pergi kamu harus terus melanjutkan hidupmu." ungkap Jinan.

"Bagaimana jika sebaliknya? Bagaimana jika aku yang pergi terlebih dahulu?" tanya Alana.

"Maka aku akan ikut denganmu." jawab Jinan tegas.

"Mana bisa begitu? Kamu nyuruh aku melanjutkan hidup, sedangkan kamu sendiri malah memilih mati." ungkap Alana tidak terima.

"Bukankah sudah ku katakan, aku gak bisa bayangin hidupmu tanpa kamu Alana. Sekeras apapun aku mencoba, aku gak bakal bisa." ucap Jinan.

"Begitupun dengan aku Jinan. Ingatlah satu hal. Apapun yang terjadi, apapun yang aku katakan atau lakukan di kemudian hari, percayalah kalau cintaku ke kamu tidak pernah berubah sedikitpun." ungkap Alana menggenggam tangan Jinan.

"Kamu nyembunyiin sesuatu dari aku ya?" tanya Jinan karena merasa aneh dengan tingkah kekasihnya ini.

"Ee..eenggak ada lah Jinan. Sejak kapan aku gak terbuka sama kamu." ucap Alana.

"Udah jangan bahas yang aneh-aneh, nanti ada malaikat lewat bisa gawat." ucap Jinan terkekeh.

Alana hanya tersenyum.

"Bagaimana caranya aku cerita semuanya ke Jinan? Aku gak bisa." ucap Alana dalam hati.

Terpopuler

Comments

Tsumugi Kotobuki

Tsumugi Kotobuki

Aku rela begadang buat baca cerita ini, wajib banget dicoba!

2023-07-23

1

Kruzery

Kruzery

Gak terasa waktu lewat begitu cepat saat baca cerita ini, terima kasih author!

2023-07-23

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!