Hai my moonlight, Jinan.
— Apa kabar Jinan? Kalau kamu terima surat ini berarti aku udah gak ada di samping kamu ya 😊.
Jangan khawatir, kamu gak akan sendirian, lihatlah ke atas. Aku sudah menjadi bintang paling terang untuk membantu bulan menerangimu.
Aku sudah gak sakit lagi Jinan. Aku sudah bisa tidur nyenyak. Maaf aku pernah bikin kamu lari dariku karena keegoisanku. Padahal yang aku butuhin saat itu hanya kamu.
Sekarang kamu gak perlu khawatir lagi ya. Saat kamu baca ini, aku pasti sudah berada di taman bunga yang indah.
Jangan terlalu bersedih, lanjutkan hidupmu seperti yang pernah kau katakan kepadaku. Carilah wanita yang mencintaimu lebih dariku. Lanjutkan hidupmu dengannya.
Jika kita tak di takdirkan bersama sekarang. Semoga kita dipersatukan di kehidupan selanjutnya.
Aku mencintaimu, selamanya.
...***...
Tak terasa bulir air mata mengalir di pipi Jinan. Tangis yang selalu ia sembunyikan selama setahun ini akhirnya luruh dari tempatnya.
Jinan menatap ke atas. Melihat bulan yang sedang di kelilingi ratusan bintang-bintang. Jinan menunjuk bintang paling terang di sebelah bulan.
"Aku merindukanmu, Alana."
"Istirahatlah sayang. Seperti katamu, aku akan melanjutkan hidupku." ujar Jinan lalu memilih berbaring di atas tikar tersebut.
— 30 menit Jinan berbaring, dia merasa ada yang ikut berbaring di sampingnya. Jinan perlahan membuka matanya, ia kaget karena melihat sosok Alana di sampingnya.
"Alana, aku merindukanmu." ujar Jinan lalu membawa Alana kedalam dekapannya.
"Ini beneran kamu kan?" ucap Jinan memegang kedua pipi Alana.
Alana tersenyum.
"Kenapa kamu gak pernah mengunjungiku? Aku menunggumu. Besok datanglah, akan ada wanita cantik mirip sepertiku, lanjutkan hidupmu dengannya." ujar Alana sembari mengusap pipi Jinan.
"Kenapa aku melanjutkan hidup dengannya jika kamu ada disini Al." ujar Jinan.
"Tidurlah." ucap Alana tersenyum sambil menutup mata Jinan.
Jinan bangun dengan tersentak. Dia mencari Alana di sampingnya tapi hasilnya nihil.
"Apa tadi cuma mimpi?" gumam Jinan yang meyakini bahwa Alana ada di sampingnya.
...***...
Pagi harinya Jinan memutuskan pergi ke makam Alana. Pakaian serba hitam lengkap dengan kaca mata hitamnya menambah daya tarik Jinan di mata wanita.
Sesampai di makam, Jinan melepas kacamatanya lalu meletakkan setangkai mawar di depan papan nama Alana.
"Maaf aku terlambat, kamu pasti lelah menungguku. Mulai hari ini aku akan sering-sering mengunjungimu, aku janji." ujar Alana sembari memegang papan nama Alana.
"Kamu siapa?" ucap seorang wanita sontak menghentikan aktifitas Jinan.
Jinan menoleh, mendongak ke sumber suara. Betapa terkejutnya dia melihat siapa yang ada di depannya saat ini.
Jinan perlahan berdiri dan membelai lembut pipi gadis tersebut, dia segera membawa gadis tersebut ke dalam pelukannya.
"Alana.. ini beneran kamu? Aku kangen kamu Al." ucap Jinan melepas pelukannya dan memegang pipi gadis tersebut.
"Apa kamu Jinan?" tanya gadis itu kepada Jinan.
"Kamu lupa sama aku? Aku pacar kamu?" ucap Jinan meyakinkan gadis tersebut.
"Maaf, tapi aku bukan Alana." ucap gadis itu berusaha melepaskan tangan Jinan dari pipinya.
"Mana mungkin, ini sudah jelas kamu Alana." ujar Jinan yang masih yakin kalau gadis di depannya adalah kekasihnya.
"Apa lo pikir Alana hidup lagi? Dia Alexa, saudara kembar Alana." ucap Bobby yang baru saja tiba dengan segerombolan orang yang sepertinya itu keluarga Alana.
Jinan melepaskan tangan yang sedari tadi memegang Alexa setelah mendengar perkataan Bobby.
"Kita bahas nanti saja, yang penting sekarang kita berdoa dulu buat Alana." ucap Bobby yang mengerti rasa penasaran Jinan.
"Kalian duluan aja, aku ada perlu sama Jinan dulu. Alexa lo ikut gue." Bobby berbicara kepada keluarganya setelah selesai berdoa untuk Alana.
"Ke cafe gue aja." ucap Jinan kepada Bobby lalu dia nyelonong pergi meninggalkan Bobby dan Alexa.
...***...
"Lo dateng dari Surabaya kok bisa nemu Alana lagi." ucap Rio menatap Alexa yang sedang duduk berdua bersama Bobby.
Saat ini Jinan tengah menunggu Rio bikin minuman untuk tamunya di samping meja kasir.
"Dia saudara kembar Alana, gue juga baru tau. Udah jangan berisik, cepetan itu minumannya." ucap Jinan menyuruh sahabatnya yang selama ini mengurus cafenya.
"Silahkan minumnya." ujar Jinan meletakkan 3 minuman di atas meja.
"Jadi selama ini lo kemana aja? Setelah Alana pergi, kok lo gak keliatan sama sekali." ucap Bobby penasaran dengan hilangnya Jinan.
Yang di ajak bicara malah sedang fokus menatap Alexa.
"Bob, lo yakin dia bukan Alana?" tanya Jinan masih terus memandangi Alana.
"Ya yakinlah anjir, bahkan lahirnya aja gue tau." ujar Bobby.
"Bedanya di mana? Bahkan pori-porinya aja sama ini." ucap Jinan mulai ngelantur.
"Jaga tuh mata, mau copot kayaknya." ucap Bobby menyenggol lengan Jinan.
"Sorry-sorry. Gue Jinan." ucap Jinan mengulurkan tangannya berniat kenalan dengan Alexa.
"Alexa." jawab Alexa menerima jabatan tangan dari Jinan.
"Apa ini jawaban mimpi gue semalem?" gumam Jinan.
"Hah apa? Kamu ngomong apa?" ucap Alexa yang tak begitu dengar perkataan Jinan.
"Ehhh enggak, bukan apa-apa." ucap Jinan gelagapan.
"Lo belum jawab pertanyaan gue btw. Lo kemana aja selama ini." ucap Bobby gemas dengan tingkah Jinan.
"Gue buka cafe baru di Surabaya. Karna gue gak bisa kalau di sini terus. Banyak kenangan gue sama Alana. 4 tahun bukan waktu yang sebentar. Gue gak bisa terima kenyataan bahwa Alana sudah pergi selamanya." ucap Jinan yang sudah bisa menjelaskan keadaannya.
"Gue sadar. Ini bukan maunya Alana. Gue harus ngelanjutin hidup, itu yang Alana mau. Dan Alana benar. Dia sudah pergi, sudah saatnya gue nerusin hidup gue tanpa ngelupain dia." lanjut Jinan.
"Bagus bro, lo udah tepat. Lanjutin hidup lo, senang-senang, lakuin apa yang lo suka. Cari cewek yang lo suka. Itu juga pasti yang Alana inginkan. Alana pasti juga gak mau liat lo sedih." ucap Bobby menepuk pundak Jinan.
"Bob gue kayaknya harus pergi deh, gue ada jadwal kuliah." ucap Alexa melihat jam tangannya.
"Gue anter mau?" ucap Jinan menawarkan. Bobby spontan melongo liat tingkah Jinan.
"Gercep amat lu bro hahaha." Bobby tertawa keras meledek Jinan.
"Yaudah gue pergi deh, kali aja kalian mau PDKT." ucap Bobby berlalu pergi meninggalkan Jinan dan Alexa.
"Mau berangkat sekarang?" tanya Jinan kepada Alexa.
Alexa menganggukkan kepalanya.
Di dalam mobil suasana tampak hening, tak ada percakapan di antara keduanya. Sampai di tempat tujuan pun tak ada percakapan apapun. Sepertinya Alexa ini tipe cewek pendiam, beda dengan Alana yang mau ngajak ngobrol duluan.
"Boleh aku minta nomor kamu?" tanya Jinan saat mereka baru tiba di kampus.
Tanpa berbicara, Alexa menyerahkan hp nya kepada Jinan. Jinan segera memencet nomor hp nya sendiri lalu melakukan panggilan.
"Sudah siap, ini." ujar Jinan menyerahkan hp Alexa kembali.
"Makasih ya udah mau nganter aku." ucap Alexa sebelum turun dari mobil Jinan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Marely García Villanueva
Gaya bahasa penulisnya enak banget, bisa ngebuat baper atau ketawa-ketawa.
2023-07-27
0
Yohana
Suka banget sama karakter yang kamu buat thor, semoga terus berkembang.
2023-07-27
0