"Dia bukan membuangmu. Dia hanya tak ingin membuat khawatir. Alana sakit, kanker otak. Dan ini adalah yang kedua kalinya." lanjut Bobby.
"Lo becanda kan?" ucap Jinan tak percaya dengan apa yang di katakan Bobby.
"Gue gak pernah becanda kalau soal Alana. Sekitar 5 tahun lalu Alana pernah menjalani pengobatan hingga operasi kanker otak, dan sudah di nyatakan sehat. Entah mengapa penyakit itu datang lagi." ucap Bobby.
"Alana memutuskan mengakhiri hubungan agar lo gak khawatir. Dia takut akan jadi beban buat lo." lanjut Bobby.
Jinan terdiam mencerna perkataan Bobby.
"Berkali-kali aku ingin ngasih tau lo yang sebenarnya, tapi Alana selalu melarang. Sekarang dia kritis, sangat butuh lo di sampingnya. Jika memang dia gak bisa bertahan, seeanggaknya rasa rindunya sudah terobati." lanjut Bobby.
"Trus lo?" ucap Jinan menanyakan siapa sebenarnya Bobby.
"Aku sepupunya. Kamu salah paham. Alana gak pernah selingkuh. Temuilah Alana, gue tau kalian sama-sama sedang menahan rindu. Buanglah rasa kecewa lo sama Alana. Dia gak seburuk yang lo pikirin selama ini." ucap Bobby.
"Anter gue kesana." ucap Jinan lalu mendapat anggukan dari Bobby.
***
Jinan berjalan lemas saat melihat wanitanya terbaring lemah dengan beberapa selang di tubuhnya. Bahkan Alana sudah kehilangan semua rambutnya.
Jinan menggenggam tangan Alana lalu mencium kening kekasihnya itu dengan lembut.
"Aku disini, aku sudah datang sayang. Buka matamu." ucap Jinan yang miris melihat kondisi Alana.
"Bagaimana bisa kamu menyimpan rasa sakit ini sendirian? Bagaimana bisa kamu membiarkanku meninggalkanmu? Maafkan aku sayang, aku sudah menilai kamu salah. Seharusnya aku tau, kamu gak akan pernah berhianat kepadaku." ucap Jinan kepada Alana yang masih enggan membuka matanya.
Jinan sangat merasa bersalah melihat kondisi Alana yang sekarang terbaring tak berdaya. Tanpa Alana membuktikan, seharusnya Jinan tau bahwa Alana tak mungkin menghianatinya.
Perlahan Alana menggerakkan jemari tangannya. Jinan yang sadar berbalik ingin memanggil dokter, tapi tangan Alana menahannya.
"Kenapa? Apa yang sakit? Aku panggil dokter dulu ya." ucap Jinan setengah menunduk.
Alana hanya menggeleng perlahan. Tangan Alana ingin meraih pipi Jinan. Jinan yang sadar pun mendekatkan pipinya agar bisa di raih oleh Alana.
Alana mengusap wajah lelaki yang sangat ia rindukan itu. Kerinduannya yang mendalam membuat air mata mengalir alami dari pelupuk matanya.
Jinan pun menyentuh pipi Alana. Mengusap air mata yang mengalir pinggir mata wanitanya tersebut.
"Iya, aku udah disini. Jangan sedih lagi. Ayo berjuang sama-sama buat kesembuhan kamu. Kamu kuat sayang." ucap Jinan yang berusaha tegar di depan Alana.
Alana mencoba membuka mulutnya. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi mulutnya enggan mengeluarkan suara.
"Jangan di paksa ya. Gak usah ngomong dulu. Fokus sembuh dulu ya. Aku gak akan kemana-mana lagi. Aku akan disini terus sampe kamu sembuh." ucap Jinan meyakinkan kekasihnya.
"Maafin aku yang sempet ninggalin kamu dan percaya kalau kamu berhianat. Maafkan aku meragukan cinta kamu." ucap Jinan yang tak kuasa menahan air matanya.
Air mata Jinan pun luruh dari tempat persembunyiaannya. Alana menggeleng pelan. Ini bukan salah Jinan, ini salahnya sendiri yang melepaskan Jinan pergi.
***
Jika cinta bisa membuatmu bersemangat itu nyata adanya. Beberapa hari setelah kedatangan Jinn, kondisi Alana sudah mulai sedikit membaik. Alana sudah bisa mengobrol dengan Jinan, walaupun gak banyak.
Jinan juga merawat Alana dengan telaten. Dari menyuapinya hingga menemaninya menjalani beberapa pengobatan.
"Jinan.." panggil Alana yang masih sibuk mengunyah makanannya.
"Hmm." Jinan berdehem lembut.
"Abis makan ajak aku keluar ya." ucap Alana memohon.
"Mana boleh, ini udah malem." ucap Jinan.
"Pleaseeee." Alana menyatukan kedua tangannya.
Sudahlah kalau kena yang kayak gini Jinan mau gak mau pasti nurut kemauan Alana.
"Iya, tapi habisin dulu makannya." ucap Jinan menyuapi Alana kembali.
"Sudah Jinan, aku sudah kenyang." ucap Alana menggeleng.
Jinan pun meletakkan piring ke meja lalu mengambil kursi roda dan meletakannya di samping kasur tempat Alana tidur. Dengan pelan-pelas Jinan menggendong Alana dan mendudukannya ke kursi roda.
Jinan mengambil topi untuk menutup kepala Alana dan juga syal untuk menutupi leher Alana agar tak terlalu terkena angin.
Jinan mendorong kursi Alana dengan perlahan menuju taman rumah sakit. Sesampainya di taman, Alana memejamkan matanya dan menghirup udara malam yang beberapa bulan tak ia rasakan.
"Jinan.." panggil Alana.
Jinan yang sedari tadi di belakang Alana pun beralih jongkok di hadapan Alana.
Alana tersenyum sembari mengusap pipi pria yang ia rindukan itu. Jinan pun memiringkan kepalanya, merasakan sentuhan pipi Alana.
"Kenapa matamu sangat sendu Jinan, senyumlah. Tolong tersenyum buat ku." ucap Alana.
Jinan tersenyum, senyum manis yang selalu Alana lihat dulu sekarang ia melihatnya lagi. Senyum seseorang yang tulus mencintainya.
"Setelah melihat senyummu aku rasa gak ada penyesalan lagi jika aku pergi." ucap Alana kepada Jinan.
"Kamu ngomong apa? Kamu harus sembuh, kita sama-sama berjuang. Setelah kamu sembuh ayo kita menikah yang.. Kamu mau kan?" ucap Jinan menahan air matanya.
Lagi-lagi Alana hanya tersenyum.
"Aku sudah lelah Jinan. Ini sangat sakit." ucap Alana.
"Bukankah kamu sangat menyukai Bulan? Jika aku pergi, aku akan menjadi bintang paling terang disana. Menyapamu dengan senyum ku." ucap Alana memandangi langit yang di hiasi bulan yang di sukai Jinan dan beberapa bintang di sampingnya.
Jinan menunduk, tak bisa lagi menahan air matanya. Merasakan tangannya basah, Alana memegang pipi Jinan dan menuntut wajah itu untuk melihat ke arah Alana.
"Jangan menangis." ucap Alana singkat.
"Masuk yuk, angin malam gak baik untuk kamu." Jinan berdiri dan mendorong kursi roda Alana kembali menuju ke ruangannya.
Setibanya di kamar, Jinan menggendong Alana dan menidurkannya di ranjang kembali.
"Jinan, aku mau tidur. Bisa minta tolong bacakan aku buku itu." ucap Alana menunjuk buku di meja samping ranjang.
Jinan mengambil buku yang di maksud oleh Alana.
Buku berjudul "IKHLAS PALING SERIUS" karya FAJAR SULAIMAN.
Jinan menghela nafasnya, mulai membuka dan membaca lembar demi lembar isi buku tersebut sambil menggenggam tangan Alana.
Seakan tak mau lepas, Alana menggenggam kuat tangan Jinan. Alana merasakan sakit yang hebat di kepalanya tapi ia menyembunyikan ekspresinya dari Jinan.
Mata Jinan mulai berkaca-kaca membaca isi buku tersebut. Di balik buku, Jinan ingin sekali menangis tapi ia tahan. Ia gak mau lagi terlihat menangis di depan Alana.
Lalu perlahan Jinan merasakan genggaman tangan Alana yang melonggar.
"Apa dia sudah tidur?" batin Jinan tanpa menghentikan aktifitasnya membaca buku.
Jinan memegang tangan Alana dan merasakan denyut nadi Alana. Namun ia tak merasakannya. Jinan bangkit dari duduknya lalu meletakkan telunjuknya di depan hidung Alana. Dan hasilnya nihil, Alana sudah tak bernafas lagi.
"Ternyata kamu sangat lelah. Tidurlah sayang, tidurlah dengan damai." ucap Jinan mencium puncak kepala wanitanya untuk terakhir kali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Shyfa Andira Rahmi
😭😭😭
2024-08-31
0
PetrolBomb – Họ sẽ tiễn bạn dưới ngọn lửa.
Terima kasih thor, cerita ini membuatku semakin mencintai dunia literasi. ❤️
2023-07-25
1