Rio berlari menuju ke ruangan Alexa. Ia mengetuk pintu karena terlihat dari luar ada orang tua Alexa sedang bersama Alexa.
"Kamu siapa?" tanya papa Alexa saat Rio masuk ke ruangan.
"Saya Rio om."
"Gak apa-apa pa, dia temen Alexa juga." ucap Alexa seolah memberi isyarat agar memberinya ruang untuknya dan Rio.
Orang tua Alexa pun pergi meninggalkan Rio dan Alexa. Rio mendekat ke arah Alexa dan melihat kondisi tangan Alexa yang memakai gips. Itu artinya ia tak akan bisa mengikuti lomba piano besok.
"Apa yang terjadi?" tanya Rio.
Alexa hanya menggelengkan kepalanya. Sebenarnya ia tak ingin membicarakan apapun. Tapi hatinya tiba-tiba merasa sakit mengingat apa yang Jinan katakan sewaktu di pantai. Alexa menundukkan kepalanya dan menangis.
"Kenapa? Apa sakit?" ucap Rio yang merasa bingung.
Tiba-tiba pintu ruangan Alexa terbuka. Jinan yang berjalan tertatih bersama Bobby masuk ke ruangan Alexa. Alexa membuang mukanya tak mau menatap Jinan yang semakin mendekat padanya.
"Lex, maafin aku." kata pertama kali yang keluar dari mulut Jinan.
"Mending sekarang kamu pergi." Alexa tetap tak mau menatap Jinan.
"Lex, ini kan cuma musibah. Bukan mau jinan juga bikin kamu kayak gini." ucap Bobby berusaha menetralkan keadaan.
"Bukan mau Jinan? bagian mana yang kamu maksud Bob? Bagian dia mainin hati aku, atau bagian dia nyelakain aku?" ucap Alexa tak kuasa menahan rasa kesalnya.
"Seharusnya aku mendengarkan apa kata mama. Mama benar, aku hanya bahan mainan kamu, yang tak akan pernah bisa jadi pemilik hatimu." ucap Alexa seraya mengusap air matanya yang mengalir di pipinya.
"Apa maksud kamu?" tanya Bobby yang memang tak mengerti permasalahannya. Rio yang masih berada di situ pum ikut merasa heran.
"Tanya sama temen kamu itu. Tanya sama dia apa yang dia lakuin sama aku. Tanya sama dia kenapa aku hanya di jadikan bayang-bayang mantan pacarnya." ucap Alexa sembari menangis tersedu-sedu.
Kini Rio dan Bobby sedikit mengerti akal permasalahan dua sejoli ini. Yang di takutkan Bobby dan Rio ternyata benar, Jinan hanya menjadikan Alexa bayang-bayang Alana.
"Brengsek." murka Rio meninju pipi Jinan.
"Gue udah pernah peringatin lo ya, jangan pernah main-main sama yang namanya perasaan. Lo temen gue, tapi sikap lo yang kayak gini, ini bukan temen gue. Jinan yang gue kenal, dia sangat menghargai cewek. Kenapa lo gak stay di Surabaya aja jika lo masih belum bisa merelakan Alana." Rio jongkok di depan Jinan yang terduduk di lantai.
"Jadi ini alasan lo dengan cepat membuka hati untuk Alexa? Karna menganggap dia adalah Alana? Sadar bro, lo harus bisa terima kenyataan kalau Alana sudah pergi. Bagaimana Alana bisa tenang di sana kalau sikap lo aja kayak gini. Gue juga sayang sama Alana, tapi bukan berarti gue setuju sama sikap lo yang kayak gini." Bobby menambahkan.
"Aku sudah pernah bilang, mundur jika lo gak yakin dengan perasaan lo sendiri. Awalnya gue senang akhirnya lo bisa membuka hati lo secepat ini. Tapi ternyata lo lebih brengsek daripada orang yang berselingkuh." ujar Rio yang kesal dengan sikap sahabatnya ini.
Alexa yang menyaksikan kejadian ini pun berusaha turun dari ranjangnya. Dia mendekat ke arah Jinan dan ikut duduk di depan Jinan.
"Lex.." ucap Jinan sendu berusaha memegang tangan Alexa.
"Seharusnya aku sadar, gak akan mungkin kamu bisa membuka hatimu secepat ini. Bukan hanya kamu yang kehilangan Alana, kami juga, aku juga. Aku saudaranya, saudara kembarnya. Aku yang paling sakit atas kepergian Alana." ujar Alexa memegang tangan Jinan.
"Tapi kamu juga harus tau, sikap kamu ini salah. Aku dan Alana adalah orang yang berbeda. Aku akui cintamu terhadap Alana sangat luar biasa. Aku pun mengaguminya. Bahkan aku pun kalah. Aku kalah dalam segala hal. Bahkan dia sudah pergi pun, dia tetap jadi pemenang hatimu." tangis Alexa pecah saat mengatakan semua itu.
"Pergilah, jangan temui aku lagi. Aku akan anggap ini semua hanya bunga tidurku." Alexa melepas tangan Jinan yang tadi di genggamnya dan berdiri.
"Lex.. biarin aku temenin kamu sampe kamu sembuh." ucap Jinan berlutut menggenggam tangan Alexa.
"Gak perlu Jinan. Orang tua ku masih sanggup mengurusku. Tolong jangan buat aku semakin membenci Alana karena perbuatanmu. Pergilah." ucap Alexa berbalik dan kembali ke ranjangnya.
"Ayo kita pergi." ujar Rio membantu Jinan berdiri dan mengajaknya keluar di ikuti pula oleh Bobby.
Alexa menunduk, menangis sejadi-jadinya setelah kepergian Jinan. Ia tak menyangka kisahnya berakhir sebelum ia memulai. Perasaan tulusnya ternyata hanya di manfaatkan oleh Jinan.
...***...
Keesokan harinya Jinan tetap datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Alexa, walaupun keadaan dia sendiri sebenarnya juga belum terlalu pulih. Jinan datang dengan membawa buket bunga, tapi ia tak berani masuk karena ingat perkataan Alexa yang tak ingin menemuinya.
Jinan memanggil suster yang akan memeriksa keadaan Alexa. Dia menitipkan bunga yang ia bawa untuk di berikan kepada Alexa. Suster itu menyanggupinya dengan senang hati.
"Sore mbak.. Ini ada titipan bunga buat mbak." suster tersebut memberikan bunga dari Jinan kepada Alexa. Alexa pun menerima bunga tersebut.
"Dari siapa sus? Kenapa orangnya gak masuk?" tanya Alexa penasaran.
"Saya juga gak tau mbak, mas nya gak bilang apa-apa. Sekarang saya periksa mbak dulu ya." suster tersebut mengeluarkan sejumlah alat untuk memeriksa Jinan.
Jinan yang melihat Alexa dari luar pun tersenyum melihat Alexa menerima bunga darinya.
"Mau apa kamu kesini?" sentak mama tiri Alexa yang baru saja tiba membuat Jinan kaget.
"Tante..saya.."
"Pergi kamu." mama tiri mengusir Jinan.
Alexa kaget mendengar teriakan dari arah luar pun minta bantuan suster untuk mengantarnya ke luar.
"Mama.."
"Kamu masih berhubungan sama dia? Udah berapa kali mama bilang, jangan pernah temuin dia lagi. Lihat apa yang terjadi sama kamu sekarang, ini semua gara-gara dia." teriak mama Alana kepada Alexa.
"Ma.. Udahlah. Ini semua hanya kecelakaan. Bahkan Jinan juga terluka. Alexa masih bisa sembuh ma. Alexa masih bisa main piano lagi nanti." ucap Alexa membela Jinan.
Jinan tak menyangka Alexa bahkan masih membelanya di depan mamanya setelah apa yang ia lakukan.
"Mending sekarang kamu pergi nan." ucap Alexa lalu masuk kembali ke ruangannya.
"Denger kan, pergi kamu sekarang." usir mama Alexa lagi. Jinan pun terpaksa pergi dari ruangan Alexa tersebut.
Saat tiba di parkiran, ia melihat Rio masuk ke rumah sakit tersebut. Jinan mengurungkan niatnya untuk pulang. Ia pun mengikuti Rio hingga akhirnya Rio masuk ke ruangan Alexa.
Jinan mengintip kembali ruangan Alexa yang terlihat dari kaca pintu. Jinan mengernyitkan keningnya saat melihat Rio di terima dengan baik oleh Alexa dan mamanya. Mereka bahkan terlihat asik berbincang hingga tertawa bersama.
"Apa Rio suka sama Alexa?" gumam Jinan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments