10

"Kamu bahkan tak mengejarku untuk meyakinkanku bahwa kamu ingin mengenalku lebih jauh." batin Alexa sembari berjalan menjauh dari Jinan.

"Perasaan apa ini? Mengapa aku begitu marah? Apa karna aku menyukainya atau hanya karena aku gak mau di permainkan?" batin Alexa seolah bergejolak memikirkan bagaimana sebenarnya niat hati Jinan.

Jinan memutuskan menghubungi Bobby untuk menanyakan sesuatu.

"Bob sibuk gak? Temui gue di cafe kalau gak sibuk. Ada yang mau gue tanyain." isi pesan teks Jinan untuk sahabat barunya itu.

"Oke, otw." isi balasan chat dari Bobby.

Jinan pun juga bergegas menuju ke cafenya.

...***...

"Bro.." sapa Bobby saat dia tiba di cafe milik Jinan.

"Duduk Bob." ujar Jinan.

"Dari raut muka lo kayaknya serius amat, ada apa nih?" ucap Bobby tanpa basa-basi.

"Gue mau tanya tentang Alexa. Dia orang yang seperti apa?" ucap Jinan langsung menanyakan akar masalahnya.

Bobby di buat sedikit bingung. Wajah seserius ini hanya ingin menanyakan soal Alexa.

"Emmm.. Gue gak terlalu deket sama dia kayak gue deket sama Alana. Yang gue tau dia lebih pendiem di banding Alana. Ada apa nih sebenernya?" ungkap Bobby.

"Gue ngajakin Alexa nonton, dan dia setuju. Tapi gue nungguin dia dua jam tapi gak ada tuh batang hidungnya keliatan. Hari ini gue samperin dia ke kampus, tapi dia marah-marah." ucap Jinan berusaha menceritakan apa yang terjadi.

"Marah?" tanya Bobby.

"Dia bilang, gue suruh menjauh dari dia kalau gue hanya liat dia dari wajahnya." lanjut Jinan lagi.

Bobby malah tertawa yang membuat Jinan mengerutkan keningnya.

"Yang kayak gini lo tanyain sama gue? Kocak lo. Masalah ini yang tau ya lo sendiri. Dia hanya mempertanyakan gimana lo menganggap Alexa begitulah intinya. Mana ada cewek yang mau jadi bayang-bayang wanita lain, sekalipun itu saudaranya sendiri. Pikirin lagi deh, tanyain hati lo gimana lo nganggep Alexa. Lo mau kenal sama dia atau hanya karna lo belum merelakan Alana. Walapun Alana dan Alexa memiliki wajah yang sama persis, ingatlah mereka dua orang yang berbeda." ucap Bobby memberi pandangan.

Jinan berusaha mencerna kata-kata Bobby. Ia kembali bergulat dengan pikiran dan hatinya. Apa benar ia belum melupakan Alana setelah setahun ini dia berusaha menghindari semuanya?

...***...

Beberapa hari Jinan berusaha mencerna semua kata-kata Alana dan Bobby. Dia juga berusaha memantapkan hatinya tentang seperti apa sebenarnya ia menganggap Alexa. Bahkan Jinan datang ke makam Alana hanya sekedar bercerita apa yang terjadi dengannya dan Alexa.

Saat ini ia sedang berada di taman depan kampus Alexa. Ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

"Aku menunggumu di taman depan kampus. Datanglah jika kamu masih ingin mengenalku dan mendengar penjelasanku."

Satu pesan masuk saat Alexa tengah fokus mendengar penjelasan dari sang dosen. Dia hanya membacanya lalu kembali dengan aktifitasnya.

"Aku akan menunggumu sampai kamu datang, bahkan jika kamu tak datang, aku akan tetap disini."

Satu pesan lagi masuk di notifikasi hp Alexa. Alexa mengetik sesuatu dan mengirimkannya kepada Jinan.

"Pergilah." isi pesan balasan dari Alexa tak mematahkan niat Jinan untuk menunggu Alexa.

Saat mata kuliah telah usai. Alexa memutuskan untuk pulang. Ia melewati taman dan benar saja ada Jinan sedang duduk disana seorang diri. Alexa ingin melangkahkan kakinya menuju ke arah Jinan, namun ia berbalik arah dan memutuskan untuk pulang ke rumahnya.

...***...

Sampai malam pun Alexa tak tenang memikirkan apa yang ingin Jinan katakan kepadanya. Alexa segera meraih kunci mobilnya dan melaju ke taman kampus. Entahlah apa Jinan masih menunggunya atau tidak.

Sesampainya di sana, ia segera berlari menuju ke tempat di mana Jinan tadi duduk. Namun ia tak menemukan seorang pun di sana.

Alexa tersenyum kecut.

"Dan benar, dia mendekatiku karena Alana." gumam Alexa saat tak mendapati Jinan di tempatnya tadi.

"Siapa bilang." ucap Jinan dari belakang Alexa.

Alexa sontak berbalik arah. Bibirnya spontan tersenyum setelah melihat Jinan yang tersenyum ke arahnya.

Mereka pun duduk berdampingan di taman yang dihiasi banyak lampu tersebut.

"Kamu mempertanyakan niatku mengenalmu. Setelah aku berfikir cukup keras, aku mengerti kenapa kamu mempertanyakan hal semacam itu. Kamu hanya khawatir jika aku menjadikanmu pelarianku saja. Dan sekeras apapun aku berfikir, aku murni ingin mengenalmu. Aku tau, kamu dan Alana adalah dua sosok yang berbeda. Udah cukup aku mengenal Alana. Sekarang saatnya aku mengenalmu." ucap Jinan menunjukkan isi hatinya.

"Sehari sebelum kita ketemu pertama kali di makam, Alana datang di mimpiku. Alana bilang tak ingin melihatku bersedih lagi. Dia ingin aku melanjutkan hidupku tanpa harus meratapi kepergiannya. Dan yang terakhir, dia ingin aku melanjutkan hidupku dengan wanita yang kutemui di makamnya, dan orang itu ternyata kamu." ucap Jinan menatap mata Alexa.

"Ini niat ku, niat hatiku. Aku hanya ingin menjelaskannya, setelah ini terserah kamu mau bagaimana. Apa kamu menerima niatku, atau masih meragukannya." ucap Jinan menggenggam tangan Alexa.

Alexa berusaha mengatur degup jantungnya yang berdetak begitu kencang.

"Ternyata kamu benar Al. Dia lelaki paling keren yang pernah kamu temui dan juga ku temui." ucap Alexa di dalam hati mengakui betapa jantan nya seorang Jinan.

Alexa menghela nafas cukup dalam. Mengatur nafas dan juga kata-kata yang ingin ia keluarkan.

"Sekarang aku mengerti kenapa Alana begitu mencintaimu. Alana dengan bangga selalu menceritakan bagaimana kamu selalu memperlakukannya. Dengan senyum cerianya, Alana selalu membanggakanmu di depanku. Bahkan tanpa sadar, aku mencintai sosok Jinan tanpa bertemu dengan Jinan yang asli." ucap Alexa menatap lekat mata Jinan.

"Tapi setelah bertemu denganmu dan mengenalmu. Aku meyakinkan hatiku sendiri. Apa benar langkahku mendekati kekasih saudaraku sendiri? Aku berusaha menjauhimu, tapi sosok Jinan yang ada di cerita Alana begitu melekat hingga sulit di hilangkan." lanjut Alexa.

"Aku minta maaf. Maaf karena meragukan niatmu." ucap Alexa lagi.

Jinan tersenyum.

"Aku juga minta maaf. Maaf karna membuatmu ragu. Tapi, apa kamu barusan mengakui kalau kamu mencintaiku?" ucap Jinan sedikit menggoda Alexa.

Alexa mengangguk.

"Aku bahkan mencintaimu hanya dari cerita Alana selama ini. Sekarang aku melihat sendiri, kamu memang Jinan yang pantas di cintai semua wanita." ucap Alexa begitu yakin.

Tanpa mengucapkan sepatah kata, Jinan membawa Alexa ke dalam pelukannya. Memeluknya erat seolah tak ingin Alexa lepas darinya. Dengan senang hati Alexa pun mengarahkan tangannya untuk membalas pelukan Jinan.

Terpopuler

Comments

#Dian#

#Dian#

Seru banget, aku sampai lupa waktu baca cerita ini

2023-07-29

0

Febrianto Ajun

Febrianto Ajun

Bagus banget ceritanya, aku udah nggak sabar nunggu bab selanjutnya!

2023-07-29

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!