Jinan menekan tombol yang ada di samping ranjang untuk memanggil dokter. Saat dokter memasuki kamar Jinan memutuskan untuk keluar ruangan.
Jinan terduduk lemas bersandar di dinding depan ruangan Alana. Dia berkali-kali mengusap wajahnya dengan kasar.
Bobby yang baru tiba di rumah sakit bersama Sintya pun terheran dengan yang terjadi kepada Jinan.
"Nan.. kenapa bro?" tanya Bobby saat melihat Jinan tengah menangis.
Karna tak mendapat jawaban apapun dari Jinan, Bobby dan Sintya memutuskan untuk masuk ruangan Alana.
Bobby sangat kaget saat mengetahui beberapa suster sedang melepaskan beberapa selang yang ada di tubuh Alana.
"Apa yang terjadi dok." tanya Bobby kepada dokter yang masih ada di sana.
"Maaf mas, mbak Alana sudah meninggal." ucap dokter lelaki tersebut.
Bobby pun mengusap wajahnya dengan kasar. Sintya yang berada di sampingnya pun membawa Bobby ke dalam pelukannya.
Tanpa pikir panjang Bobby segera menghubungi keluarganya dan juga keluarga Alana.
1 jam kemudian keluarga Bobby datang, gak lama setelah itu keluarga Alana pun datang.
Alexa menatap Jinan yang sedang duduk menekuk lutut sambil menenggelamkan wajahnya. Dia berniat ingin menghampirinya tapi papanya segera menariknya masuk ke ruangan Alana.
"Kenapa Alana sakit tapi gak ada yang menghubungi kami?" ucap Yuda, papa Alana yang marah karena di dia di hubungi di kondisi Alana sudah meninggal.
"Alana yang melarangnya om, bahkan orangtuaku juga tidak tau. Hanya aku, Sintya, dan Jinan, pacar Alana lah yang tau." ucap Bobby memberi penjelasan.
"Apa hak mu menyembunyikan penyakit Alana?" ucap papa Alana berteriak kepada Bobby.
"Sudah-sudah, ini rumah sakit. Jangan teriak-teriak. Lagian ini salah kamu juga Yud, kamu gak pernah ada buat Alana. Sekarang apa kamu menyesal setelah dia sudah meninggal?" ucap Rossa, mama Bobby.
"Apa lelaki di depan tadi adalan Jinan?" tanya Alexa kepada Bobby.
"Iya, apa dia melihatmu? Dia pasti kaget saat melihatmu. Kamu dan Alana sangat mirip." ucap Bobby kepada Alexa.
Alexa menggeleng.
"Tidak, sepertinya dia sangat terpukul." ucap Alexa.
Bobby memutuskan keluar ruangan namun Jinan sudah tak terlihat lagi.
"Kemana dia pergi?" gumam Bobby yang mengkhawatirkan Jinan.
***
Keesokan harinya Alana di makamkan. Tapi tak ada tanda-tanda Jinan datang ke pemakaman Alana. Bobby yang khawatir menghubungi Jinan tapi tak pernah ada respon.
Tanpa Bobby tau, Jinan menyaksikan pemakaman Alana dari jauh. Dengan kacamata hitamnya Jinan menyaksikan pemakaman Alana tanpa ekspresi.
Kehilangan Alana sangat berat untuknya, hingga Jinan sudah tak mampu lagi mengeluarkan air matanya.
Bobby celingukan barangkali Jinan akan datang ke pemakaman Alana. Bobby melihat Jinan berdiri jauh dari tempat Alana di makamkan.
"Jinan.." ucap Bobby.
Semua orang berbalik menghadap ke arah yang di liat Bobby. Baru saja Bobby ingin menghampiri Jinan, Jinan sudah berbalik arah meninggalkan proses pemakaman.
Terlalu sesak dada Jinan menyaksikan semua ini. Jinan tidak menyangka ia akan kehilangan orang yang sangat ia cintai itu untuk selamanya.
***
Beberapa hari setelah pemakaman Alana, Bobby masih saja tak bisa menghubungi Jinan. Bobby pun memutuskan pergi ke cafe Jinan.
"Mbak, Jinan ada?" tanya Bobby ke salah seorang karyawan Jinan.
"Mas Jinan udah beberapa hari ini gak ke cafe mas. Bahkan mas Jinan udah nyuruh mas Rio, sahabat mas Jinan untuk mengurusnya." ucap salah satu karyawan menjelaskan.
"Ada apa ini? Mas cari Jinan?" tanya Rio yang baru saja datang dari arah dapur.
"Iya, saya Bobby sepupunya Alana. Saya khawatir dengan Jinan karna dia gak bisa di hubungi." ucap Bobby.
"Mas tenang saja, Jinan baik-baik saja. Dia hanya butuh waktu untuk sendiri." ucap Rio menerangkan bagaimana keadaan Jinan.
"Kalau gitu saya titip ini mas, ini sepertinya surat yang di tulis Alana untuk Jinan sebelum di meninggal. Saya nemuin surat ini di bawah bantal tempat Alana dirawat." ujar Bobby memberikan surat yang beberapa hari lalu ia temukan.
"Baik mas, saya sampaikan ke Jinan nanti." ucap Rio menerima surat di tangan Bobby.
"Saya permisi mas, sampaikan salam saya untuk Jinan. Jika Jinan sedikit tenang, tolong suruh dia datang ke makam Alana." ucap Bobby sebelum berlalu pergi dari cafe Jinan.
***
"Yo gue mau buka cafe baru di Surabaya, tolong urus cafe yang disini ya." ucap Jinan saat Rio datang ke rumahnya.
"Kalau itu bisa bikin lo melupakan Alana, gue setuju. Asal lo gak terlalu lama sedih bro." ucap Rio menyetujui keinginan Jinan.
Mungkin ini cara Jinan agar tidak terlalu terpuruk dalam kesedihan. Jinan mencoba mencari kesibukan dengan mengelola cafe barunya di kota lain.
"Oh iya, kemarin Bobby ke cafe nyariin lo. Dia ngasih ini buat lo. Ini surat dari Alana buat lo." ucap Rio memberikan sebuah amplop yang berisi surat dari Alana.
Jinan menerima surat itu tapi ia tak langsung membukanya. Jinan merasa belum siap membaca isi surat itu.
***
1 tahun kemudian.
Jinan benar-benar menyibukkan diri dengan urusan cafenya. Cafenya ia beri nama Alana's cafe. Cafe itu ia dedikasikan untuk mengingat Alana.
"Bos hari ini akan ada supplier kopi yang mau datang. Katanya ia mau menawarkan produk barunya." ucap Malik, salah satu karyawan cafe sekaligus orang kepercayaan Jinan.
Jinan hanya mengangguk sambil melihat layar hp'nya.
"Kamu urus aja ya. Besok aku mau balik Jakarta. Aku percayakan cafe ini sama kamu. Aku bakal tetep monitor kalian dari Jakarta." ucap Jinan setelah melihat tanda di kalender.
"Apa kau mau menemui kekasihmu?" ucap Malik yang sedikit tau tentang Alana karna Jinan bercerita padanya, tapi Malik tak pernah tau bahwa kekasih Jinan ini sudah meninggal.
Jinan tersenyum dan mengangguk.
"Dia pasti sudah menungguku. Aku terlalu lama meninggalkan dia." ucap Jinan memandang wallpaper hp nya yang terdapat foto Alana dan dirinya.
Lusa adalah tepat satu tahun meninggalnya Alana. Jinan ingin berziarah ke makam Alana untuk pertama kalinya.
"Aku akan menemuimu Al." Ujar Jinan dalam hati.
Setelah satu tahun lamanya akhirnya Jinan memberanikan dirinya untuk datang ke makam Alana.
Sudah seharusnya dia bangkit dan menerima jika memang Alana sudah tiada.
Sesampainya di Jakarta, Jinan segera membuka laci kamarnya dan mengambil sebuah amplop berisi surat Alana.
Jinan pergi ke pantai tempat favorit mereka. Jinan berjalan-jalan sebentar di bibir pantai sambil mengingat kebersamaan Alana di pantai ini.
Pantai ini menyimpan banyak sekali kenangan antara dia dan Alana.
Jinan memutuskan duduk di bawah payung beralaskan tikar tempat sebelumnya dia dan Alana berbincang.
Jinan perlahan membuka amplop berwarna biru yang sedari tadi ia bawa. Jinan mengatur nafasnya sebelum ia membaca surat dari Alana tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Aishi OwO
Asik banget ceritanya!
2023-07-26
0
Yusuo Yusup
Senang sekali membaca ceritamu, semangat selalu thor!
2023-07-26
0