Dengan sigap Jinan langsung menarik tangan Bobby.
"Sabar, jangan gegabah. Kita ikutin aja dulu mereka kemana. Ayo." ucap Jinan mengajak Bobby mengikuti Sintya lagi.
Kali ini Sintya memasuki mobil, sepertinya itu mobil si cowok. Dengan cekatan Jinan segera berlari ke arah motornya dan menjalankan motornya ke arah Bobby yang masih diam mematung melihat Sintya jalan dengan cowok lain.
"Cepetan naik, atau lo mau kehilangan jejak mereka."
Bobby pun segera naik di jok belakang di bonceng Jinan dan Jinan pun segera melajukan motornya. Karena Bobby tak terbiasa di bonceng motor, diapun berpegangan pada pinggang Jinan.
"Lepasin deh, cewek gue aja gak pernah pegangan sama gue." ucap Jinan tak terima tangan Bobby melingkar di pinggangnya.
"Udah ikutin aja itu mobilnya." seru Bobby yang takut kehilangan jejak sang pacar. Dengan perasaan tak tenang Bobby terus mengarahkan pandangan matanya ke arah mobil di depannya seakan tak ingin lagi kehilangan jejak untuk kesekian kalinya. Beruntungnya dia karna bisa mengandalkan Jinan, Jinan dengan keahlian bermotornya membuat dia bisa terus mengikuti mobil tersebut.
Mobil berhenti ke sebuah gedung yang lumayan besar. Jinan dan Bobby membaca tulisan yang tertera di depan gedung.
"Hotel??" ucap Jinan dan Bobby barengan.
Jinan pun segera memarkirkan motornya di depan gedung hotel tersebut saat melihat Sintya masuk ke dalam hotel bersama lelaki yang sedari tadi bersamanya.
"Coba lo hubungi Sintya deh, tanya dia ada di mana." Jinan memerintahkan Bobby menghubungi pacarnya untuk menanyakan keberadaannya dan untuk membuktikan apakah Sintya akan jujur atau berbohong.
Bobby segera merogoh saku celananya dan mengambil telepon genggam miliknya. Sambil sesekali melihat Sintya yang sedang berbincang dengan resepsionis, tangan Bobby sibuk mencari nama Sintya di layar teleponnya.
Terlihat dari arah pandang Jinan dan Bobby, Sintya mengangkat telepon dari Bobby.
"Iya Bob?" suara Sintya dari seberang telepon milik Bobby. Terlihat Sintya perlahan menjauh dari lelaki yang sedari tadi bersamanya.
"Lagi di mana sayang?" Bobby berusaha berbicara selembut mungkin agar Sintya tidak menaruh curiga padanya.
"Eee.. Lagi di rumah temen Bob, lagi ngerjain tugas kelompok dari dosen." ucap Sintya sedikit gelagapan.
"Sejak kapan rumah temen pindah ke hotel?" batin Bobby seakan mengeluarkan unek-uneknya.
"Sudah mau malem, aku jemput aja gimana?" Bobby berakting seolah mempercayai semua perkataan Sintya.
"Ehh e..eenggak usah Bob. Aku bawa mobil kok. Udah dulu ya, gak enak sama temen-temen." Sintya menutup telepon tanpa persetujuan dari Bobby. Bobby terlihat menahan amarahnya, ingin segera menghampiri Sintya yang kini mulai berjalan menuju ke suatu tempat.
Saat Sintya ingin memasuki sebuah ruangan, tiba-tiba dengan cepat Bobby menghampirinya dan melayangkan pukulannya tepat di pipi lelaki yang bersama Sintya. Jinan ingin menahannya tapi langkah Bobby terlalu cepat hingga membuat Jinan menepuk dahinya sendiri.
"Bobby." Sintya kaget karena Bobby berada di hadapannya terlebih lagi lelaki yang bersamanya kini tengah tersungkur ke lantai akibat pukulan dari Bobby. Sintya dengan langkah cepat menghampiri lelaki tersebut hingga membuat Bobby lebih marah lagi.
"Ayo pulang." Bobby berusaha menarik tangan Sintya tapi Sintya malah menepisnya.
"Kamu salah paham Bob." ucap Sintya membela diri.
"Salah paham? Setelah kalian kepergok memasuki hotel dan menyewa kamar kamu bilang salah paham?" teriak Bobby yang sedari tadi berusaha tidak bersuara keras di depan Sintya akhirnya tak bisa menahannya lagi.
"Sejak kapan kalian berhubungan? Apa kalian udah sering tidur bareng juga?"
"Bobby, jaga mulut kamu. Ini salah paham, ini gak seperti yang kamu pikirin."
"Mas, ini beneran salah paham. Ini gak seperti yang mas pikirkan." ucap lelaki yang sedari tadi berusaha diam pun akhirnya buka suara.
"Diam kamu." Jinan yang sedari tadi berdiri tak jauh dari pertengkaran itu pun akhirnya menghampiri ketiganya.
"Ini urusan mereka berdua, gak usah ikut campur." ujar Jinan membuat lelaki ini bungkam.
"Ikut aku." Sintya menarik tangan Bobby memasuki ruangan yang tadi Sintya akan masuki. Bobby melongo melihat kamar yang sudah di dekorasi dengan sangat cantik bertuliskan 'Happy Birthday Bobby' itu. Jinan yang ikut melihat pun akhirnya paham apa yang terjadi.
"Dia sepupu aku, anak pemilik hotel ini. Aku yang menghubunginya supaya dia bisa membantuku memberimu kejutan ini. Maaf, mungkin memang aku yang salah karena beberapa hari ini gak jujur sampe bikin kamu curiga kayak gini." ucap Sintya berusaha menjelaskan apa yang terjadi.
Bobby yang merasa menyesal pun memeluk wanitanya tersebut.
"Maafin aku. Harusnya aku percaya kamu gak akan pernah lakuin itu." ucap Bobby seraya memeluk Sintya.
Perkataan Bobby membuat Jinan mengenang masa lalunya bersama Alana. Saat Alana minta putus darinya dan Jinan mengira Alana sudah berselingkuh darinya. Entah mengapa nama Alana sangat sulit hilang dari ingatannya walaupun ia telah memiliki Alexa.
Jinan menepuk pundak Bobby mengisyaratkan agar Bobby menyelesaikan permasalahannya berdua. Jinan meninggalkan ruangan tersebut. Dia menepuk dahinya saat tiba-tiba ia ingat bahwa ia memiliki janji dengan Alexa. Jinan merogoh saku celananya berniat menghubungi Alexa.
"Sudah pulang?" tanya Jinan saat Alexa mengangkat teleponnya.
"Ini lagi di butik, lagi cari baju." ucap Alexa di seberang telepon.
"Sama siapa? Sendiri?"
"Sama Rio. Katanya kamu yang nyuruh tadi."
"Oh iya bener. Maaf ya aku lupa."
"Gak apa-apa. Gimana Bobby? Udah beres?"
"Cuma salah paham. Besok deh aku cerita, aku jemput di kampus ya besok."
"Naik motor ya, aku pengen rasain naik motor."
"Oke siap sayang. Bye, hati-hati pulangnya."
"Kamu juga."
Begitulah isi percakapan keduanya. Setelah mematikan telepon, Jinan pun memutuskan pulang ke rumahnya.
...***...
"Cantik banget." gumam Rio saat Alexa tengah bercermin mencoba dress merah panjang tanpa lengan.
"Sadar Rio, dia punya temen lo sendiri." Rio mengedip-ngedipkan matanya, membuyarkan lamunannya sendiri.
"Bagus gak?" tanya Alexa kepada Rio.
"Bagus, cantik banget." puji Rio membuat Alexa tersenyum.
Senyuman Alexa mampu menghipnotis Rio kembali. Dia telah beberapa kali bertemu wanita cantik, tapi Alexa sepertinya telah memikat hatinya. Bahkan dia telah bertemu dengan Alana. Namun Alexa sangat berbeda walaupun memiliki wajah yang sama. Alexa terlihat lebih anggun dan lebih memperhatikan penampilan.
"Yo..Rio. Aku udah selesai. Ayo pulang." tangan Alexa yang melambai di depan wajahnya membuat Rio tersadar dari lamunannya.
"Kamu capek ya? Gak apa-apa, aku bisa pulang sendiri kalau kamu capek. Kamu langsung pulang aja." ucap Alexa yang merasa Rio sepertinya banyak melamun dari tadi.
"Ahh enggak. Aku bisa di bogem sama Jinan kalau ngebiarin kamu pulang sendiri." ujar Rio.
Alexa tersenyum kembali mendengar ucapan Rio.
"Bisa gak jangan senyum gitu." gumam Rio yang samar-samar terdengar oleh Alexa.
"Hah???" tanya Alexa memastikan ucapan Rio.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments