5

Alana menutup wajah dengan kedua tangannya saat Jinan sudah meninggalkan rumahnya. Dia menangis dengan pilihannya sendiri.

"Lo gila ya? Jadi ini yang lo maksud bakal lo selesaiin malam ini?" ucap Bobby.

Alana tak memperdulikan Bobby, dia terus saja menangis. Sepertinya dia menyesal dengan apa yang ia katakan tadi kepada Jinan.

"Kejar dia Al, ayo kita kejar cowok lo." ucap Bobby menarik tangan Alana.

"Enggak Bob, mungkin ini lebih baik. Dengan ini Jinan gak akan tau penyakit gue." ucap Alana.

"Tapi dengan lo kayak gini lo malah menyakiti dia, dan lihat, lo juga menderita kan." ucap Bobby.

"Tapi dia salah paham Al, dia ngira lo selingkuh." ucap Bobby.

Alana kembali menangis mengingat dia harus melepaskan lelaki yang selalu ada untuknya selama 4 tahun ini.

***

"Rio, 3 botol." ucap Jinan saat sampai di meja club.

"Ngapain lagi lo. Ada masalah lagi sama Alana?" tanya Rio.

"Dia minta putus. Gila gak lo. Padahal kemarin kita baik-baik aja. Ternyata selama ini dia selingkuh di belakang gue." ucap Jinan.

"Lo tau dari mana?" tanya Rio.

"Gue mergokin cowoknya ada di rumah Alana." ucap Jinan lalu meneguk segelas kecil minumannya.

"Apa kurangnya gue yo, apa salah gue sampe dia nyelingkuhin gue." ucap Jinan.

"Kenapa lo nyalahin diri lo sendiri? Dalam kasus perselingkuhan, ya jelas yang salah adalah pihak yang selingkuh. Udah lo jangan terlalu mabuk." ucap Rio.

"Ck, gak ada yang marahin gue lagi kalau gue mabuk yo hahaha." ucap Jinan tertawa miris.

"Serah lo deh." ucap Rio meninggalkan Jinan. Dia hanya ingin membiarkan Jinan sendirian untuk saat ini.

Jinan memandang lekat cincin di hadapannya. Dia tak menyangka cinta yang dia bangun selama 4 tahun kandas begitu saja karna orang ketiga.

Dia terus berpikir betapa jahatnya Alana yang tega membohonginya selama ini. Dia selalu memberikan apapun yang Alana mau, selalu memberikan yang terbaik untuk Alana, mulai dari waktu atau perhatian sekecil apapun.

Tapi balasannya, Alana mengkhianati kepercayaannya. Setidaknya itulah yang Jinan ketahui.

Tanpa Jinan tau, Alana pun sedikit menyesali perkataannya. Ternyata kehilangan Jinan sesakit ini. Dia terus menangisi kepergian Jinan, padahal itu juga kemauan dia sendiri.

Alana hanya berfikir, jika Jinan tau tentang penyakitnya, Alana hanya akan menjadi beban untuk Jinan. Seperti halnya dia menjadi beban untuk keluarganya dulu.

Mungkin dia bisa menjelaskan semuanya nanti jika Alana benar-benar sudah sembuh dari penyakitnya.

Alana tiba-tiba mengeluhkan pusing. Mungkin karnadia terlalu banyak memikirkan perpisahannya dengan Jinan. Alana pun terbaring tak sadarkan diri.

"Al, aku pulang ya. Kamu gak apa-apa kan di rumah sendiri?" ucap Bobby sambil memakai jam tangannya.

"Al.. Udah tidur? Al..alana." Bobby mengguncang-guncangkan tubuh Alana tapi tak ada respon dari wanita itu.

Bobby pun inisiatif langsung menggendong Alana lalu membawanya ke rumah sakit.

***

"Kita harus kasih tau keluarga lo Al, terutama Alexa." ujar Bobby memberi saran. Sejahat apapun mama tiri Alana, menurutnya mereka berhak tau.

"Enggak Bob, kamu di sampingku saja sudah cukup buat aku. Janji sama aku Bob, jangan kasih tau siapapun. Baik papa, Alexa, ataupun Jinan." ucap Alana meminta dengan sungguh-sungguh kepada Bobby.

"Sudah cukup mereka merawatku Bob. Jika memang takdirku sampai disini, yang penting aku tidak membebani mereka. Cukup aku membebanimu saja." lanjut Alana.

"Bobby..." teriak Sintya memasuki ruangan Alana.

"Husstt jangan teriak-teriak, ini rumah sakit." ucap Bobby kepada kekasihnya yang baru saja datang.

Bobby sengaja memberitahu pacarnya agar tidak terjadi salah paham. Karna kedepannya pasti Bobby bakal lebih sering menemani Alana.

"Bikin kaget aja lagian, kirain kamu yang kenapa-napa." ucap Sintya manja.

"Padahal aku udah jelasin semuanya di telepon loh, tolong dong lola nya itu di kurangin dikit." ucap Bobby karna gemas liat tingkah Sintya.

"Tolong dong kalau mau mesra-mesra an diluar aja, jangan disini." ucap Alana yang sepertinya iri dengan kemesraan sepupunya ini.

"Siapa suruh jomblo. Siapa suruh mutusin cowoknya. Sekarang kangen kan? Sekarang nyesel kan gak bisa mesra-mesraan hahaha." Bobby meledek Alana.

Alana kemudian melempar Bobby dengan bantal karna kesal.

"Keluar lo berdua." ucap Alana mengusir Bobby dan Sintya.

Benar saja, baru beberapa hari kehilangan Jinan sudah membuat dia merindukan sosok lelaki bawel itu.

Tapi semarah apapun Jinan, biasanya dia pasti spam chat ke Alana untuk meminta maaf ataupun penjelasan jika Alana yang salah. Tapi hp Alana sangat sepi tak ada notif sama sekali dari Jinan.

"Apa dia semarah itu sama aku? Apa dia mengira aku beneran selingkuh? Ahhh biarin saja, mungkin ini lebih baik daripada membuatnya khawatir." ucap Alana dalam hati yang khawatir dengan Jinan.

***

Di sisi lain, penghianatan Alana membuat Jinan benar-benar merasa sangat marah. Ia melampiaskannya dengan sering pergi ke club malam dan menggoda para gadis di sana.

Rio yang melihat tingkah sahabatnya itu hanya geleng-geleng kepala. Mau memberi nasehat juga percuma. Jinan sama keras kepalanya dengan Alana.

Rio membiarkan Jinan bertingkah layaknya seorang lelaki yang nakal. Mungkin dia ingin mengekspresikan rasa kecewa nya dengan cara main-main dengan wanita.

Tak hanya itu, hampir tiap hari Jinan juga mabuk-mabukan. Emang siapa yang bakal marah. Alana yang biasa memarahinya sudah menghianatinya.

"Haii ganteng.. Sendirian aja kan. Yuk dansa sama gue disana." ucap salah seorang gadis menggoda Jinan.

"Apa sih yang enggak buat lo." Jinan tertawa dan membawa gadis itu untuk berdansa dengannya.

***

Setelah dua bulan Alana menjalani pengobatan tak membuatnya menjadi lebih baik. Sebab, ia tak bisa menahan rindunya dengan Jinan.

Perpisahannya dengan Jinan sungguh menyiksa batin Alana. Sekeras apapun Alana mencoba fokus ke pengobatan, tapi bayangan Jinan yang marah dengannya pun tak bisa hilang dari ingatannya.

Kondisinya semakin menurut, dia semakin susah untuk berbicara bahkan kadang sulit mengenali orang.

Bobby tau, sepertinya hanya Jinan lah obat untuk Alana. Bobby memutuskan untuk menemui Jinan dan memberitahukan semuanya dengan Jinan.

Bobby berharap dengan datangnya Jinan, bisa membuat keadaan Alana semakin baik.

"Mau apa lo kesini?" ucap Jinan saat melihat Bobby memasuki cafenya.

"Gue mau ngomong sesuatu sama lo." ucap Bobby.

"Kayaknya kita gak seakrab itu sampe gue harus mau ngomong sama lo." ucap Jinan yang merasa masih sakit hati atas penghianatan Alana.

"Ini tentang Alana, dia membutuhkanmu." ucap Bobby berusaha meyakinkan Jinan.

"Butuh aku setelah membuangku? Hebat banget ya, hahaha." ucap Jinan.

"Kamu salah. Alana tak pernah membuangmu. Dia sedang sakit, sekarang kondisinya kritis." ucap Bobby.

Terpopuler

Comments

Sena Kobayakawa

Sena Kobayakawa

Bikin deg-degan nih!

2023-07-25

0

Kuririn

Kuririn

Mantap banget thor, tetap semangat ya!

2023-07-25

0

Luke fon Fabre

Luke fon Fabre

Kalo bisa kasih bintang lebih dari 5, pasti langsung aku kasih tuh. Bagus bangettt!!!

2023-07-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!