Alana memasuki rumahnya setelah perpisahannya dengan Jinan.
Dia merebahkan badannya di sofa. Tiba-tiba hp nya berdering.
"Jinan pasti nih." gumam Alana sambil tersenyum.
Setelah liat nama yang tertera di layar dia spontan menegakkan duduknya dan memencet tombol hijau di layar hp nya.
"Bobby..." teriak Alana.
"Santai dong say.." ucap Bobby dari seberang telepon.
"Kangeeennn. Lagian sih gak pernah telpon." ucap Alana.
"Ya kan bisa telpon duluan, ngapain nunggu gue." ucap Bobby.
"Ogah, males banget sama cewek lo. Galak." ucap Alana kala mengingat bagaimana Sintya pernah memarahinya hanya karna Alana terlalu dekat dengan Bobby. Padahal Bobby dan Alana sepupuan. Tapi tetep aja Sintya over protektif.
"Ya itulah yang gue suka dari Sintya." ucap Bobby tertawa.
"Dasar gila." celoteh Alana.
"Gimana kabar lo?" tanya Bobby.
"Buruk Bob."
"Ada apa nih? Lo putus sama cowok lo?" tanya Bobby.
"Penyakit gue datang lagi Bob." ucap Alana.
Entah mengapa, Alana merasa tenang jika bisa menceritakan semuanya ke Bobby. Dari dulu keluarga Bobby lah yang paling menyayanginya, bahkan setelah mama Alana meninggal.
"Serius lo? Lo dimana sekarang? Lo masih di tempat sama kan?" tanya Bobby.
"Iyalah bob."
"Gue kesana sekarang."
"Ehh jangan Bob, besok aja. Udah malem, gak enak sama tetangga." ucap Alana.
"Oke besok gue kesana. Gue tutup telponnya ya, Sintya udah dateng." ucap Bobby.
"Oke."
***
— Keesokan harinya.
"Alanaaaa." teriak Bobby memasuki rumah Alana yang tak terkunci.
"Ehh main nyelonong aja." ucap Alana yang tiba-tiba dapat pelukan dari Bobby.
"Gimana bisa lo sakit lagi sih?" tanya Bobby tiba-tiba.
"Ya mungkin ini emang bakal jadi akhir buat gue Bob." ucap Alana
"Gue tabok mulut lo ya." ucap Bobby.
"Udah sini duduk dulu, santai aja Bobby." ucap Alana.
"Lo udah pengobatan apa aja?" tanya Bobby.
Alana hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Gila ya lo, mau mati beneran apa gimana? Ayo gue anter ke rumah sakit." Bobby beranjak menarik tangan Alana.
"Tunggu Bob, gue harus ngurus sesuatu dulu. Habis itu gue janji bakal jalanin pengobatan." ucap Alana.
"Gak pake lama." ucap Bobby.
"Malam ini juga gue selesaiin." ucap Alana.
"Kerjaan lo gimana?" tanya Bobby.
"Mungkin karna penyakit gue juga, gue ngerjain apapun jadi sering salah. Dan akhirnya gue sering lembur." Alana menjelaskan.
"Kirim surat pengunduran diri lo besok. Gue sama mama masih bisa biayain lo walaupun papa lo udah lepas tangan sama lo." ucap Bobby.
"Bobby memang selalu bisa di andalkan." ucap Alana terkekeh.
"Bagaimana kabar budhe sama pakdhe?" tanya Alana.
"Mereka baik-baik aja. Oh iya dia nitip ini buat kamu." Bobby memberikan beberapa lauk di dalam kotak makan.
"Wahhh enak banget. Bilangin makasih ya. Yaudah ayo makan sama-sama." ucap Alana.
Bobby pun mengangguk.
"Cewek lo tau gak lo kesini?" tanya Alana.
"Yang bener aja lo, bisa-bisa gue di makan sama dia." ucap Bobby yang sukses bikin Alana terkekeh.
"Lagian kenapa lo betah banget sih sama dia." tanya Alana.
"Ya gimana ya, namanya juga cinta. Dia gak suka kalau aku deket sama cewek lain, tapi dia sayang banget sama mama." ucap Bobby membanggakan kekasihnya.
"Ya itu bisa jadi nilai plus sih." ucap Alana.
"Cowok lo gimana?" tanya Bobby.
"Apanya yang gimana?" ucap Alana.
"Masih gak lo sama dia." tanya Bobby.
"Entahlah." jawab Alana.
"Lhah gak jelas lo. Tapi dia tau lo sakit?" ucap Bobby.
Alana menggeleng.
"Gak mau ngasih tau?" tanya Bobby.
"Jangan Bob. Aku gak mau bikin dia khawatir, apalagi jadi beban buat dia." ucap Alana.
"Tapi lo gak bisa terus-terusan nyembunyiin ini semua dari cowok lo kan. Cowok lo juga perlu tau. Gue kalau jadi cowok lo bakal marah sih Al, karna pasti dia ngerasa gak di butuhin." ucap Bobby.
Alana memikirkan perkataan Bobby sejenak.
***
Di sisi lain Jinan sedang berada di cafenya. Ia sedang sibuk karna ada acara besar.
Ternyata ini bukan sekedar acara ulang tahun, tapi si cowok ternyata sekalian melamar si cewek dengan membawa keluarganya.
"Mas tolong putar klip ini nanti setelah dia tiup lilin ya." ucap si cowok.
"Baik mas." ucap Jinan.
Acara berlangsung begitu meriah. Klip terputar ternyata adalah perjalanan cinta dari dua sejoli itu. Jinan yang melihatnya pun ikut merasa bahagia.
"Apa Alana mau ya jika aku melamarnya." ucap Jinan dalam hati.
***
Malam harinya Jinan memutuskan pergi ke rumah Alana tanpa adanya pemberitahuan. Dia sudah membawa sebuah cincin cantik untuk melamar pujaan hatinya ini.
Merasa pintu tak di kunci, Jinan pun masuk ke dalam rumah begitu saja. Jinan melihat Alana sedang duduk seorang diri sambil menonton drakor favoritnya.
"Alanaaa..." panggil Jinan.
"Jinan, kok kesini gak bilang-bilang." ucap Alana.
"Surprise dong, aku mau ngomong sesuatu sama kamu." ucap Jinan tersenyum lebar.
"Ada apa?" tanya Alana.
Jinan merogoh celananya. Dia mengeluarkan sebuah cincin yang terbungkus rapi di sebuah kotak merah.
"Kamu mau gak jadi istri aku?" ucap Jinan.
"Tiba-tiba?" ucap Alana.
"Gimana Al?" tanya Jinan.
"Maaf Jinan... Aku gak bisa." jawab Alana.
DEG
Jawaban Alana sungguh di luar ekspetasi dari Jinan.
"Kenapa? Apa 4 tahun ini masih belum bisa bikin kamu yakin?" tanya Jinan yang kecewa dengan jawaban Alana.
"Kita udahan aja ya nan. Kita putus aja." ucap Alana.
"Al... Kamu becanda kan?" ucap Jinan.
Alana menggeleng.
"Tapi kenapa? Kita baik-baik saja kan kemarin. Kenapa tiba-tiba kamu minta putus?" ucap Jinan.
Alana diam membisu.
"Aku bisa nerima kalau kamu nolak lamaran aku, tapi aku gak bisa terima kalau kamu mau putus padahal kita gak ada masalah apapun Al." ucap Jinan.
"Jangan diem aja, ayo ngomong Al." lanjut Jinan.
"Aku udah gak cinta sama kamu nan.." ucap Alana.
"Jawaban apa itu? Kamu sendiri yang bilang kemarin kalau kamu cinta sama aku." ucap Jinan tidak terima.
Tiba-tiba Bobby keluar dari kamar mandi yang sontak membuat Jinan menoleh.
"Dia siapa?" tanya Jinan.
"Ehh sorry, aku Bobby. Aku se..." Bobby berusaha memperkenalkan diri tapi Alana memotong pembicaraan.
"Kamu gak perlu tau nan, mending sekarang kamu pulang." ucap Alana.
"Jadi gara-gara cowok itu kamu minta putus?" ucap Jinan.
"Aku gak nyangka ya Al, ternyata selama ini kamu selingkuh di belakang aku. Atau selama ini lembur juga alasanmu saja biar bisa sama selingkuhanmu itu." ucap Jinan sudah mulai kecewa.
"Maaf Jinan." ucap Alana.
"Ck.. Oke kalau mau mu begini. Selamat berbahagia dengan pacar barumu ini." Jinan beranjak pergi meninggalkan Alana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Arabelle Arinne
Sumpah baper! 😭
2023-07-24
0
Aierriel Fitrisya
Thor, aku udah kecanduan cerita ini. Harap update secepatnya supaya bisa terus merasakan serunya. 😍
2023-07-24
0