"Jinan gimana sama mobilmu?" ucap Alana saat perjalanan pulang setelah dari pantai.
"Ohh iya aku sampe lupa. Aku telpon Rio dulu deh." Jinan pun menelepon Rio, sahabatnya.
Sementara Jinan sedang menelepon, Alana memandangi lekat wajah Jinan sambil memikirkan tentang penyakitnya.
— Flashback on —
"Jadi gimana dok?" tanya Alana saat dia di panggil ke ruangan dokter.
2 bulan sebelum pertengkaran terjadi, Alana memutuskan diri ke dokter karena dia mengeluh sering pusing, muntah, kadang hingga pingsan.
Dokter menyarankan, Alana untuk segera melakukan beberapa tes secara menyeluruh. Dan hari ini lah Alana dapat mengetahui hasilnya.
"Di riwayat ini, mbak Alana pernah melakukan operasi kanker otak, apa betul?" tanya dokter.
"Iya benar dok, itu sudah sekitar 5 tahun yang lalu dan saya sudah di nyatakan sehat." Alana menjelaskan.
"Baik mbak. Di sini mbak bisa lihat terdapat benjolan , ini kanker mbak tumbuh kembali. Ya, dengan sangat menyesal saya menjelaskan bahwa mbak Alana terkena kanker otak kembali." dokter menjelaskan sambil menunjukkan sebuah gambar.
DEG.
"Bagaimana bisa dok?" tanya Alana sedikit gemetar.
"Itu bisa terjadi karna mbak Alana mungkin terlalu kecapean, atau mungkin saat operasi masih ada kanker yang tertinggal walaupun sangat kecil." jelas dokter.
"Lalu bagaimana dok?" tanya Alana.
"Mbak Alana harus melakukan beberapa pengobatan, termasuk kemoterapi." jelas dokter.
Sakitnya kemoterapi beberapa tahun silam saja masih terngiang jelas di ingatan Alana. Bagaimana dia bisa mengalami ini lagi.
"Akan saya pikirkan dok. Saya permisi." Alana keluar ruangan dengan lemas.
Siapa tempat dia cerita?
Jinan? Itu tidak mungkin. Dia tidak mau membuat Jinan khawatir apalagi membebankannya.
"Apa aku harus cerita ke Alexa?" gumam Alana.
Alana pun memutuskan untuk pergi ke rumah orang tuanya.
***
"Alexa..." panggil Alana saat dia memasuki rumah yang pernah ia tinggali.
"Mau apa kamu kesini lagi?" ucap seorang wanita paruh baya, Ratna. Dia adalah mama tiri Alana.
"Aku gak mau ketemu sama kamu, aku mau ketemu sama Alexa." ucap Alana santai.
"Saya gak ijinkan." ucap Ratna sedikit berteriak.
"Apa hak kamu? Dia adikku, dia saudara kembarku. Gak ada hak kamu melarang kami bertemu seolah-olah kamu punya hubungan darah dengan kami." Ucap Alana mulai kesal.
"Alana..." ucap Alexa yang baru turun dari tangga.
"Alexa.. Aku kangen sama kamu." ucap Alana berhambur memeluk Alexa, saudara kembarnya.
"Biarkan kami ngobrol berdua ma." ucap Alexa meminta izin kepada mama tirinya.
Tanpa sepatah kata lagi, Ratna berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Bagaimana kabarmu? Apa dia jahat sama kamu?" Ucap Alana kepada adik kembarnya ini.
Alexa menggeleng.
"Aku baik di sini Al, dia juga baik kepadaku. Hanya kadang-kadang dia terlalu mengekangku saja." ucap Alexa.
"Ahh ya benar. Dia hanya menyayangimu, dia bahkan mengusirku karna menurutnya aku penyebab mereka kehilangan banyak uang karna penyakitku." ucap Alana.
"Bagaimana denganmu Al?" tanya Alexa.
"Aku baik-baik saja, aku sangat baik. Bahkan jika aku tak mendapat kasih sayang disini, aku mendapat kasih sayang yang lebih dari Jinan." Alana tersenyum.
"Kamu selalu tersenyum jika menyangkut tentang Jinan. Aku bahkan gak tau Jinan itu seperti apa? Apa dia sekeren itu." tanya Alexa yang sama sekali belum pernah ketemu Jinan.
"Sangat, dia sangat luar biasa. Dia menjagaku dan mencintaiku seperti mama menyayangiku." ucap Alana.
"Pasti mama bisa tenang di atas sana kalau tau kamu bahagia Al." ujar Alexa.
Alana tersenyum.
"Papa?" tanya Alana kembali kepada Alexa.
"Seperti biasa, papa sibuk dengan dunia kerjanya. Bahkan papa sekarang jarang di rumah karna harus bolak balik ke luar negri." Alexa murung.
"Apa kamu masih gak mau ikut aku aja Lex?" tanya Alana ke adiknya.
"Enggak Al, aku bahagia kok disini. Kamu gak perlu khawatir." ucap Alexa.
"Apa kamu yakin lex? Pintuku terbuka untuk kamu lex. Kalau dia jahat sama kamu, kamu tau kan harus pergi kemana?" ujar Alana.
"Iya Al, kamu tenang aja ya. Kamu juga harus jaga diri kamu, jangan sampai kamu sakit lagi." ucap Alexa.
Alana mengangguk.
"Aku pamit ya." ucap Alana lalu beranjak pergi.
Niat Alana ingin menceritakan tentang penyakitnya pun ia urungkan. Dia gak mau membuat siapapun khawatir.
— Flashback off —
"Al..alana.. Kenapa ngelamun sambil liatin aku?" ucap Jinan setelah selesai menelepon Rio.
"Ahh gak apa-apa." ucap Alana.
"Aku ganteng banget apa ya sampe ngeliatin kayak gitu." ledek Jinan.
"Iya kamu ganteng banget. Pacar aku paling keren sedunia." ucap Alana memegang pipi Jinan.
Jinan melirik supir taksi yang sedari tadi senyum-senyum melihat tingkah dua sejoli ini.
"Pak jangan liat ya, liat ke depan aja." ucap Jinan kepada sopir.
Tiba-tiba Jinan mencium bibir Alana sekilas.
"Jinan ih, malu tau." ucap Alana memukul pundak Jinan.
"Kamu aja gombalin aku tanpa rasa malu, padahal ada sopir di sini, kan aku jadi gemes." ucap Jinan tersenyum riang.
"Maaf ya pak." ucap Alana kepada sopir taksi.
"Gak apa-apa mbak, santai saja. Saya juga pernah muda kok hehe. Tapi cukup ya, jangan di lanjutin lagi, kalau mau lanjut nanti aja di rumah." ucap sang sopir menggoda.
Gak tau aja pipi Alana sudah kayak kepiting rebus saking malunya.
"Kamu sih." ucap Alana lirih menyalahkan Jinan.
Jinan hanya terkekeh melihat tingkah kekasihnya ini.
Setelah sampai di rumah Alana, mereka pun turun.
"Tunggu ya pak." ucap Jinan kepada pak sopir.
"Kamu yakin gak nginep disini?" tanya Alana.
"Enggak, aku udah terlalu gemes sama kamu, takut kebablasan kalau harus nginep." ucap Jinan menggoda Alana.
"Jinan isshh." ucap Alana.
"Udah itu tolong di kondisikan pipinya, udah kayak kepiting mateng." ucap Jinan menoel dagu Alana.
Alana spontan menutup mukanya dengan kedua tangan.
"Kenapa sih pake malu segala, sama pacar sendiri ini." ucap Jinan membuka tangan Alana.
"Mas, ini jadi pergi gak?" ucap pak sopir membuka kaca mobilnya.
Jinan menoleh ke sumber suara.
"Sebentar pak, 5 menit." balas Jinan cengengesan.
"Besok aku gak kesini ya. Soalnya besok ada acara di cafe aku. Ada yang booking tempat untuk ulang tahun." jelas Jinan.
"Iya gak apa-apa. Udah sana buruan pergi. Kasian pak sopirnya." ucap Alana.
Jinan terkekeh. Tak lupa Jinan mencium kening Alana sebelum pergi.
"Bye, kunci pintunya jangan lupa." ucap Jinan saat sudah di dalam mobil.
"Iya-iya bawel, udah sana pergi." ucap Alana gemas.
Taksi pun melaju.
"Cinta banget kayaknya ya mas." ucap pak sopir kepada Jinan.
"Banget pak, kami udah bersama 4 tahun tapi gak pernah saya ngerasa bosan sama dia." ucap Jinan.
"Beruntungnya mbak tadi dapet lelaki seperti mas ini." ucap pak sopir lagi.
"Saya yang lebih beruntung mendapatkan dia pak." ucap Jinan membanggakan kekasih hatinya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Xyn Anala
Seru banget, thor harus cepat update lagi dong!
2023-07-24
0
Towa_sama
love your story, thor! Keep it up ❤️
2023-07-24
0
Amai Kizoku
Characternya bikin terikat! 😊
2023-07-24
0