"Akhirnya terwujud juga kan kita jalan berdua." ucap Jinan yang kini tengah menggandeng tangan Alexa.
Saat ini keduanya sedang berada di salah satu mall guna mewujudkan rencana nonton mereka yang tertunda beberapa hari lalu.
Jinan dan Alexa berjalan beriringan sambil bergandengan tangan seolah-olah tak boleh ada yang memisahkan mereka. Sesekali Jinan merangkul pinggang Alexa saat mereka tiba di sebuah pusat perbelanjaan sambil menunggu jam tayang film yang akan mereka tonton.
"Ini bagus gak?" tanya Alexa menunjukkan sebuah dress selutut tanpa lengan berwarna hitam.
"Kamu selalu pake dress ya?" tanya Jinan.
"Iya sih, lebih sering pake dress. Mungkin karna udah biasa." jawab Alexa.
"Coba ini deh." Jinan menunjukkan kaos putih polos dan celana jeans berwarna hitam.
Sejenak Alexa berfikir. Ini adalah style berpakaian Alana. Kenapa Jinan ingin mencobanya untuk Alexa.
"Tapi Jinan.." ucap Alana.
"Gak suka ya, yaudah ambil dress yang kamu pegang itu aja." ucap Jinan.
"Gak apa-apa kok, sini aku coba." ucap Alexa sembari mengambil satu set pakaian di tangan Jinan.
Alexa akhirnya mengganti bajunya di ruang ganti. Setelah selesai, dia lama bercermin karna ini memang style Alana. Dengan ragu akhirnya ia keluar dari ruang ganti di sambut Jinan yang sudah menunggunya.
Jinan nampak terpesona dengan Alexa. Menurutnya ini adalah Alana. Memang beginilah Alana.
"Jinan.." ucap Alexa membuyarkan lamunan Jinan.
"Kamu cantik Al.." ucap Jinan memuji Alexa.
Al? Apakah yang dimaksud Alana? Atau Alexa? Sebab alih-alih memanggilnya dengan "Al.", orang lain akan memanggil Alexa dengan sebutan "Lex."
Tapi mungkin ini hanya perasaan Alexa saja. Toh nama Al juga masih nyambung dengan nama Alexa. Alexa mencoba berfikir positif, tak mau mengulangi apa yang ia ragukan seperti tempo hari.
"Tapi boleh gak aku pakai dress aja, aku kurang nyaman pake ini." ucap Alexa sedikit ragu.
"Silahkan, pakai apa yang bikin kamu nyaman aja." balas Jinan.
Setelah Alexa berganti pakaian dengan dress kembali. Akhirnya mereka berdua berjalan menuju ke ruang pemutaran film. Jinan memilih tempat duduk paling atas di bangku tengah.
Tak ada obrolan ketika film di putar, keduanya fokus pada film. Sesekali Alexa melihat ke arah Jinan yang fokus melihat ke layar besar itu. Merasa seperti di amati, Jinan pun menoleh ke arah Alexa.
Alexa yang kikuk pun mengalihkan pandangannya ke layar di depannya. Jinan tersenyum melihat tingkah cewek di sampingnya ini.
"Jadi, kamu mau nonton film atau mau liatin aku?" bisik Jinan di telinga Alexa yang sontak membuat Alexa merasa sangat malu.
Jinan kemudian menggenggam tangan wanitanya tersebut dan kembali fokus ke film yang ia tonton. Setelah mereka selesai menonton film, mereka pun memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran yang ada di salah satu mall tersebut.
"Jinan, apa hal yang paling kamu suka?" tanya Alexa kepada Jinan saat mereka makan malam berdua.
"Aku sangat menyukai bulan. Seseorang pernah bertanya kepadaku kenapa aku sangat menyukai bulan, dan aku belum menemukan jawabannya. Tapi sekarang aku sudah mempunyai alasan mengapa aku sangat menyukainya. Itu karena bintang-bintang yang di sekelilingnya." jawab Jinan.
"Jadi kamu lebih menyukai bulan atau bintang?" tanya Alexa lagi.
"Bintang. Karena seseorang telah menganggap aku adalah bulannya." jawab Jinan sembari tersenyum.
"Apa seseorang itu adalah Alana?" tanya Alexa.
"Iya." jawab Jinan tanpa sadar.
"Dan apakah bintang itu juga Alana?"
"Iya." ucap Jinan masih tanpa sadar.
Alexa menghela nafas dalam.
"Ternyata aku memang tak sepenting itu di mata kamu." batin Alexa sambil mengaduk-aduk makanannya.
Merasa salah dengan apa yang telah ia ucapkan, Jinan pun tersadar.
"Ehhh maaf, bukan maksud ku." ucap Jinan merasa menyesal dengan apa yang barusan ia ucapkan.
Alexa tersenyum.
"Gak apa-apa. Memang tidak mudah melupakan sosok yang sangat kita cintai. Aku mengerti. Pelan-pelan saja." ucap Alexa berusaha mengerti walau perasaannya berbeda dengan apa yang ia ucapkan.
"Lalu apa yang kamu sukai?" tanya balik Jinan kepada Alexa.
"Aku paling menyukai seseorang yang mengutamakan ku." jawab Alexa tanpa melihat Jinan.
"Apa kamu sedang menyindir seseorang?" tanya Jinan merasa Alexa tengah membicarakannya.
"Mungkin." jawab Alexa tanpa ragu.
"Aku pergi." ucap Jinan berdiri dari duduknya dan meninggalkan Alexa.
"Apa kamu marah?" tanya Alexa sembari berlari kecil mengikuti Jinan.
Tapi Jinan terus saja melangkahkan kakinya tanpa memperdulikan Alexa. Merasa di abaikan, Alexa pun berhenti untuk mengejar Jinan.
Dengan langkah lemas, Alexa pun keluar dari mall tersebut. Saat ia sedang menunggu taxi lewat, tiba-tiba mobil Jinan berhenti di depannya, lalu kaca mobil pun terbuka.
"Kenapa diam saja, ayo masuk." ucap Jinan tersenyum seolah tak terjadi apa-apa.
Karena Alexa masih setia dengan lamunannya, Jinan pun turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Alexa.
"Silahkan masuk tuan putri." ucap Jinan sembari mendorong tubuh Alexa perlahan untuk masuk ke dalam mobil.
Jinan melajukan mobilnya setelah ia memasuki mobil. Alexa memandang Jinan seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu mengabaikanku tadi, dan sekarang?" tanya Alexa sebab tak mengerti apa yang ada di pikiran Jinan.
Namun Jinan tak menanggapi apa yang Alexa katakan. Dia hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Sesampainya di tempat tujuan, Jinan menggandeng tangan Alexa memasuki sebuah gedung. Betapa kagetnya Alexa saat memasuki sebuah ruangan dan di suguhi pemandangan gedung yang terlihat dari dinding kaca ruangan tersebut. Ternyata Jinan telah menyiapkan candle light dinner untuknya.
Alexa melangkah menuju pinggir kaca melihat indahnya lampu dari rumah dan gedung yang terlihat dari ruangan tempat Jinan dan Alexa berada. Jinan memeluk Alexa dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak Alexa.
"Suka?" tanya Jinan lembut.
Alexa mengangguk sembari memegang pipi Jinan yang berada di pundaknya.
"Tapi kenapa tadi kamu mengabaikanku?" tanya Alexa berbalik menghadap ke arah Jinan.
"Bagaimana aku bisa reservasi tempat ini kalau kamu di sampingku terus, makanya tadi aku pura-pura ngambek. Maaf ya." ucap Jinan mencubit hidung Alexa.
"Jahat banget." ujar Alexa manja lalu memeluk Jinan.
"Bilang jahat kok sambil meluk." goda Jinan.
Alexa semakin menenggelamkan wajahnya di dada Jinan yang cukup bidang itu. Alexa merasa lega karena keraguannya terhadap Jinan ternyata salah. Jinan adalah yang sempurna, dia mampu meratukan Alexa.
"Makan dulu yuk, nanti lagi mesra-mesraannya." ujar Jinan semakin menggoda Alexa.
"Kamu bisa gak, gak usah godain aku mulu." ucap Alexa merasa malu.
"Padahal aku cuma ngajakin makan, kok udah salting."
"Jinan ishhh."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments