"Bagaimana hubungan lo sama si Alana kw ha..ha.." tanya Rio seraya meledek Jinan, sahabat sekaligus bos nya itu. Sebab dari awal Rio sebenarnya tidak begitu suka Jinan terlalu dekat dengan Alexa, karna dia tau bagaimana cintanya Jinan kepada Alana. Rio takut jika Jinan hanya mempermainkan Alexa karna mempunyai wajah yang mirip.
"Kita sih fine fine aja. Daripada lo ngurusin hidup gue terus, mending lo seriusin salah satu cewek yang nempel sama lo itu. Kasian gue liat elo jomblo mulu hahaha." Jinan tak mau kalah, ia pun meledek Rio yang notabene mempunyai gelar jomblo sejak lahir.
"Meskipun gue jomblo, gue gak kesepian. Gue punya cewek-cewek yang mau gue ajak kemanapun tanpa penolakan ha ha ha." ucap Rio merasa yakin. Rio memang memiliki paras yang tampan dan postur tubuh tinggi tegap. Ke jombloannya bukan karna ia tak bisa mendapatkan pacar, sebab ia tak mau ribet dengan urusan cinta-cintaan. Menurutnya cinta membuatnya pusing. Dia cukup happy dengan wanita-wanita di sekelilingnya tanpa harus ada status berpacaran.
"Kayaknya lo udah waktunya fokus sama satu cewek deh bro, bukan hanya main-main doang. Lo aja sok nasehatin gue tapi lo sendiri yang rusak." ujar Jinan menasehati. Sebab Rio tak pernah mau serius hanya dengan satu wanita. Dia hanya menggoda cewek-cewek yang ia temui di club tempat ia bekerja dulu.
Saat Jinan dan Rio tengah asik saling sindir, Alexa datang dari arah pintu. Jinan pun menghampirinya, memeluk pinggang lalu mencium pipi wanitanya itu. Wanita mana yang tak jatuh cinta jika di hadapkan sama cowok yang super romantis ini. Bahkan Alexa pun tak akan menyesal harus mencintai Jinan walau baru beberapa hari mereka melakukan pendekatan.
Hubungan Jinan dan Alexa pun semakin dekat. Tak jarang Alexa pergi ke cafe Jinan sepulang dari kuliahnya. Seperti saat ini, Alexa tengah berkutat dengan laptopnya di dalam cafe milik Jinan. Sedang mencari informasi terkait lomba piano yang ingin ia ikuti.
"Jadi kapan audisinya?" tanya Jinan menghampiri Alexa sembari membawakan segelas jus alpukat kesukaan Alexa dan juga beberapa camilan.
"2 hari lagi, ini lagi nyoba daftar online." ucap Alexa sembari memainkan jemarinya yang lentik di atas keyboard miliknya.
"Nanti temenin aku nyari baju buat audisi mau gak?" tanya Alexa sambil melahap kentang goreng yang di suapkan Jinan padanya.
Jinan menopang dagu dengan tangannya, sejenak berfikir apakah ia ada pekerjaan nanti.
"Boleh deh, kamu tadi bawa mobil emangnya?" tanya Jinan yang tangannya sibuk menyuapi Alexa dengan camilan yang ada di depannya.
"Enggak, aku tadi di anter supir. Sengaja sih, mau minta anter kamu, sekalian jalan-jalan." ucap Alexa.
Mata Jinan tiba-tiba tertuju ke arah depan cafe yang hanya berdinding kaca. Terlihat Bobby sedang berjalan ke arah cafenya.
"Bobby tuh." ucap Jinan menunjuk ke arah Bobby dengan dagunya. Alexa pun menoleh ke belakang melihat orang yang di maksud oleh Jinan.
"Lhoh, disini juga." ucap Bobby setelah memasuki cafe Jinan dan melihat Alexa juga disana.
"Mau makan, minum, atau mau apa?" tanya Jinan tanpa basa basi. Karena jarang sekali Bobby datang ke cafenya, kecuali jika memang Jinan memanggilnya untuk meminta bantuan ataupun saran.
"Lo ada kenalan mata-mata gak?" tanya bobby menyeruput jus alpukat milik Alexa tanpa permisi.
"Ehh punya Alexa lo minum anjir." ucap Jinan merebut jus yang di pegang Bobby.
"Bodo amat gue haus. Jadi punya gak?" ucap Bobby mengambil kembali gelas yang tadi di rebut Jinan.
"Emangnya gue ada tampang-tampang preman apa sampe punya temen mata-mata. Lagian lo mau mata-matain siapa dah." ucap Jinan penasaran mengapa Bobby sampe menanyakan perihal mata-mata.
"Sintya." jawab Bobby.
"Cewek lo? Gila ya lo, cewek lo sendiri lo curigain." seru Jinan tak mengerti jalan pikiran Bobby yang mau mengintai pacarnya sendiri itu.
"Ada apa sama Sintya Bob?" kini giliran Alexa yang bertanya karena ikut penasaran. Sebab selama ini Bobby dan Sintya tak pernah bertengkar hebat, walaupun memang Sintya cewek yang cemburuan, Bobby selalu punya cara untuk meredamkan rasa cemburu ceweknya itu.
"Gue rasa ada yang aneh sama Sintya. Dia jarang ada waktu sama gue. Siang dia memang selalu kuliah, kadang bisa sampe sore. Tapi akhir-akhir dia bilang ada kelas sampe malam. Siapa yang gak curiga coba." ucap Bobby menggebu-gebu menceritakan yang terjadi.
"Kali aja emang ada kelas Bob. Kenapa lo jadi sensitif gini udah kayak pantat bayi." ucap Jinan meledek Bobby yang ternyata bisa galau juga.
"Dengerin dulu njirr. Dia pernah bilang ada kelas, trus gue sengaja ikutin dia kan tuh. Tapi mobilnya gak mengarah ke arah kampus, gue coba ikutin terus tapi gue kalah sama lampu merah. Jadinya gue kehilangan dia." ucap Bobby dan Jinan tertawa keras saat mendengarnya.
"Lo kayaknya harus berguru sama gue kalau soal setir menyetir hahaha. Lagian kalau lo mau ngikutin seseorang yang naik mobil, jangan lo naik mobil juga." ucap Jinan memberi saran.
"Trus pake apa." tanya Bobby tiba-tiba jadi lemot.
"Pake delman. Ya pake motor dong anjir. Cinta lo bikin lo jadi lemot gini ya hahaha." Jinan tak henti-hentinya meledek Bobby.
"Sekarang dia ada di mana?" tanya Jinan lagi.
"Seperti biasa, dia lagi di kampus." jawab Bobby.
"Yaudah yuk kita ikutin dia." ucap Jinan berdiri mengajak Bobby dan seketika lupa dengan janjinya sama Alexa.
"Aku pergi sama Bobby ya, kamu bisa pulang sendiri kan? Atau aku suruh Rio buat anter kamu?" ucap Jinan kepada Alexa.
"Gak usah gak apa-apa. Kamu pergi aja, aku disini dulu nyelesaiin ini. Habis itu aku balik." ucap Alexa.
Jinan mengangguk lalu menghampiri Rio.
"Kalau senggang, tolong anterin Alexa ya." ucap Jinan minta tolong kepada Rio. Dan Rio hanya mengangguk menyetujui.
"Gue pinjem Jinan ya, tenang gak bakal gue apa-apain kok." ucap Bobby meminta izin kepada Alexa.
Bobby dan Jinan pun akhirnya pergi dari cafe tersebut menggunakan motor milik Jinan yang selalu terparkir di depan cafe.
Sesampainya di kampus, Bobby dan Jinan melihat Sintya lagi sama temen-temen ceweknya.
"Tuh liat, aman kan." ucap Jinan yang bersembunyi di balik pohon bersama Bobby.
Tapi tak berselang lama, ada seorang lelaki menghampiri Sintya lalu mencium pipi kanan pipi kiri wanita yang berstatus kekasih Bobby tersebut.
"Tenang bro, masih wajar. Kali aja cuma temen." ucap Jinan masih berusaha membuat Bobby tenang.
Tapi setelah itu, Sintya dan lelaki tersebut pergi meninggalkan teman-teman cewek Sintya yang sedari tadi bersamanya sambil bergandengan tangan.
"Brengsek." ucap Bobby pergi ingin menghampiri Sintya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments