Keberadaan dua barang bukti di tengah lapangan kembali membuat Mikaila dan The Evolve Wild harus merasakan nikmatnya sinar matahari pagi-pagi sambil beristirahat di tempat.
Pak Rama, di depan tiang bendera, dengan sikap istirahat di tempat mengamati semua siswa yang kemarin sore sampai malam menyelesaikan tugas mereka mengecat tembok meski dengan bantuan tangan lawan.
“Siapa dari kalian yang akan menjadi saksi di Polsek dan sekolah Sanjaya?”
Mikaila spontan angkat tangan dari sikap istirahat di tempatnya. “Bapak mau membuat laporan lagi?”
“Bapak akan membuat perhitungan secara hukum dengan SMA Sanjaya! Kasus kalian sudah tidak bisa dibiarkan secara konvensional, ini sudah termasuk tindak kriminal. Bapak sangat-sangat yakin, semua guru harus turun tangan bersama pihak berwajib dan orang tua! Mika, nanti kamu print surat edaran pemanggilan seluruh orang tua ke sekolah, jadwalkan pertemuan besok pagi!”
Hasilnya, jauh dari prediksi Mikaila dan Drew. Mereka pikir mereka akan kena hukuman lagi setelah kemarin merundung Reno dan tidak menuntaskan hukuman dengan tangan sendiri. Pak Rama justru melancarkan langkah pertama dan fatal yang menentukan langkah selanjutnya.
“Baik, Pak. Saya laksanakan.” Mikaila mengangguk khidmat. “Sekalian saya juga mau jadi saksinya!”
“Saya juga, Pak!” Drew mengacungkan jari telunjuknya, diikuti teman-temannya. Tapi karena itu full otoritas Pak Rama, para saksi adalah saksi pilihan yang sangat penting banget demi kelancaran proses laporan nanti. Maka hanya Mikaila, Drew, dan Wicak— sebagai murid dan geng paling netral— ikut ke Polsek dan SMA Sanjaya.
Mikaila mengikat rambutnya dengan cepat. “Wic, kasih saran buat aku dong ntar kalo ketemu mantan harus gimana?” tanyanya setelah murid yang lain bubar dari lapangan dan Pak Rama menyiapkan mobil dinas.
Wicak berdehem dengan bijak. “Bahagia, Mika. Biar Rio paham putus darinya adalah kebahagiaan yang tertunda.”
“Buset dah,” Mikaila tergelak, “terus kalo gak naik kelas itu apaan? Sukses yang tertunda?”
Drew yang tersinggung, menarik ekor rambut Mikaila sampai gadis itu tertawa-tawa.
“Gak usah ungkit-ungkit masa laluku! Aku gini karena menerima estafet kepemimpinan geng sekolah! Harusnya kalian bangga dong punya ketua geng kayak gini!” celetuk Drew yang makin membuat Mikaila terpingkal-pingkal.
“Tapi Drew, mau tau kenapa Pak Rama ngasih rekaman cctv ke kita dan beliau gak marah lagi? Seenggaknya gak kayak kemarin?”
“Pa'an?”
“Aku janji buat mendisposisikan geng sekolah biar kamu lulus tahun ini!”
“Bujug budeng.” seru Drew terkejut-kejut seraya berhenti di bawah pohon penuh. “Emang udah cocok jadi emak-emak kamu. Kerjaanmu ngatur mulu!”
“Itu sih kalo Tegar mau jadi bapaknya. Aku pasti siap jadi emak-emak.” sahut Mikaila enteng.
“Buset dah, Tegar bawa apa sih sampe dia gila begitu?” keluhnya pada Wicak. Wicak sendiri yang saban harinya jadi tim hore mengendikkan bahu.
“Paling-paling bawa pesona anak gaul Jakarta, udah biarin aja Mika yang gila, kamu gak usah repot, Drew. Mikir masa depan aja, malu sama musuh, masa iya ntar kejar paket C, kasian bapak ibuku, orang penting!”
Drew yang tak mendukung kata-kata itu keluar dari anggotanya menginjak sepatu Wicak. “Tolong kata-katanya gak usah sok bijak! Playboy bau kencur aja sok jadi motivator terkenal!”
Mikaila berhenti tertawa karena perutnya sakit. “Serius, Drew. Tahun ini kelas 12 harus lulus semua. Aku yakin kok kamu mampu, kurang-kurangin deh bandelmu. Banyak-banyak les privat.”
“Tolong, Pak. Tegar gak usah di skorsing, males banget aku di gangguin Mika terus!” seru Drew sambil berlari kecil ke mobil Pak Rama. Mereka masuk ke kursi penumpang bergantian. Wicak berada di tengah sebagai penengah antara Mikaila dan Drew yang masih melayangkan protes dan gugatan bersama demi harga diri.
Pak Rama menghela napas. “Kalian berdua sebenarnya kompak, hanya perlu mencocokkan visi dan misi sekolah.”
“Namanya juga jiwa muda, Pak. Ego veni, vidi, dan vici masih setinggi langit.” sahut Wicak. ”Kalah ditindas, menang di sanjung.”
“Betul, tapi kalian harus ingat... Menjadi anggota geng motor sah-sah saja, bapak tidak melarang. Orang tua kalian pasti juga mendukung positifnya.. Kalo seperti kemarin siapa yang rugi? Motor di beli pakai uang ya anak-anak. Coba kalian tanya, motor-motor yang kalian pakai itu masih kredit apa sudah lunas? Berpikir tentang risiko lebih kritis lagi!”
“Iya bapak kepala sekolah. Tapi motorku sudah lunas.” sahut Drew jumawa.
Pak Rama mengangguk. “Untuk skorsing Tegar dan Daffa bapak pertimbangan lagi, sekarang kalian fokus jadi saksi! Yang jujur, gak usah takut, bapak bawa semua rekaman cctv sekolah dan lokasi kalian tawuran kemarin!”
Mikaila yang sudah merelakan sebagai kewarasannya dan waktunya The Evolve Wild sontak merosot.
“Terus gimana soal disposisi Drew dan gengnya, Pak? Jalan gak?” tanyanya lemah.
“Jadi dong, Mika. Bapak senang banget kamu jadi mata-mata bapak.”
Kesepuluh jari Mikaila mengepal di atas paha. Dia melirik ke arah Drew dengan bombastis eyes. “Tak akan kubiarkan kalian bikin malu masa jabatanku sebagai ketua OSIS! Aku akan mengibarkan panji-panji perdamaian. Tapi beasiswa masih jalan kan, Pak?”
Seringai di bibir Drew terlihat karena setahunya beasiswa prestasi yang mengalir ke rekening Mikaila sebagian dari donatur, termasuk orang tuanya.
“Selesai masalah Horizon, urusan Drew cs baru di mulai. OMG! Ada yang mau nolongin aku enggak?” seru Mikaila dalam hati. “Tapi pertama-tama aku harus ketemu Tegar dulu, urusan hati nomer satu! Ya.”
...***...
^^^Bersambung. ^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Umine LulubagirAwi
ampun dah, mika.
msih mkirin urusan hti ke tegar. always lg.🤣🤭
2023-09-01
0
suminar
😆😆😆😆😆😆
2023-08-19
0
CebReT SeMeDi
kedanan tegar tenan mean mik
2023-08-15
1