To the is the day. Akhirnya hari yang sudah di sepakati bersama kedua belah pihak siswa kesayangan guru dan siswa pembuat gaduh akan terlaksana. Mikaila dan Drew mendatangi ruang kepsek bersama setelah melakukan perdebatan sengit di kantin. Drew enggan mengakui kehebatan Mikaila sebagai anak emas, sementara dia hanya pecundang setengah koplak yang susah dilepas sekolah karena duit orang tuanya, akunya tadi dan keberadaan mereka membuat Pak Rama mengernyit, pasalnya dua siswa yang tak pernah akur itu tampak berteman baik secara kompak. Aneh lah, pasti ada apa-apa.
“Mau apa kalian?” Kedua mata hitam Pak Rama terlihat lebih dingin dari biasanya.
“Saya jamin penyerangan sekolah ada hubungannya sama kamu, Drew! Mau ganti rugi?”
“Bapak bisa ketemu mama, papa. Drew sudah bilang karena...” Tanpa basa-basi lagi, semua muntahan fakta yang tidak pernah Pak Rama duga sebelumnya mengacaukan bap yang sudah ia buat.
“Kenapa tidak dari kemarin kamu bilang sama saya!” Pak Rama membentak, “kamu juga Mikaila, bersekongkol juga kamu sama dia!”
Kok aku kena sih, parah nih, parah.. Udah ngotot gak usah ngomongin balapan kemarin pake jujur segala. Sekarang lihat nih, lihat, hukuman dari Pak Rama bakal nambah lagi.
“Kamu panggil semua anak-anak The Evolve Wild ke lapangan!”
Cuaks...
Drew meliriknya dengan tatapan tajam. Giliranmu!
Mikaila mengangguk samar, ia menahan Pak Rama yang akan berdiri.
“Jadi pak, berhubung kami memiliki bukti sangat akurat, saya ingin minta salinan cctv kemarin. Boleh, pak?” tanya Mikaila takut-takut.
“Buat apa?” Pak Rama bersedekap.
“Buat cari bukti-bukti kalo Matthew dalang dari sekolah ini, Pak!”
“Apa tidak cukup masalah yang kamu perbuat dengan sekolah mereka? Sekolah kita masih di bawah kredibilitas SMA Sanjaya Bakti setelah kekalahan kita kemarin, itu gara-gara kamu Mikaila.”
“Saya tau, Pak!” Mikaila berjingkat mangkel. “Saya jamin kalo masalah penyerangan murni bukan kesalahan geng sekolah kita, tapi karena kekalahan Matt waktu balapan. Dia iri dengan Tegar, Pak. Dia nyerang sekolah dan basecamp untuk balas dendam!”
“Cukup Mikaila! Kamu keluar.” Pak Rama menunjuk pintu dengan tegas.
Mikaila menguncupkan bibirnya lalu bermuram durja di kursi pesakitan yang hanya di duduki murid baru dan penuh problem. Tegar sudah kemarin, Drew sering, sekarang dia!
“Ayolah, Pak. Bikin ini jadi gong masa akhir jabatanku sebagai ketua OSIS. Saya bakal urus geng sekolah dengan sebaik-baiknya.”
Pak Rama tersenyum kecil dalam hati. Dia sangat mengerti betapa keras kepala Mikaila dan kegigihan gadis itu menjalankan tugas berat di sekolah itu.
“Baik, bapak akan memberi kesempatan ini pada kamu untuk membuktikan bahwa semua anggota geng The Evolve Wild kelas 12 lulus tahun ini dan memberikan bukti konkret pelaku penyerangan sekolah.”
ASTAGHFIRULLAH! Mikaila memikirkan sejenak uluran jabat tangan Pak Rama sebelum menyepakatinya dengan hati kecut.
“Sialan! Ngurus Drew aja susah banget, mana goblik banget dia. Apalagi ngurus rombongannya! Belum apa-apa udah capek aku.” keluh Mikaila dengan bahu merosot ke arah lapangan.
Di sana sudah lengkap anggota geng The Evolve Wild yang berdiri dengan sikap istirahat di tempat di depan guru BK, wali kelas dan Pak Rama yang menyusul kemudian.
“Kalian mau di hukum apa?” tanya Bu Weni.
Daffa dan Wicak lalu sikut-sikutan, Bu Weni yang suka bercanda-canda nampak terlihat serius, ngeri banget, gak biasanya begitu, pikir Daffa. “Di hukum seperti Tegar saja, Bu!” celetuknya tiba-tiba.
Spontan semua anggota geng tak terkecuali Mikaila menoleh ke arahnya.
Bu Weni dan Pak Rama saling tatap, mengangguk samar.
“Skorsing? Pemanggilan orang tua? Bersih-bersih sekolah seminggu? Ganti rugi kaca depan dan pembinaan?”
Mampus. Debar jantung mereka berdetak seirama. Mereka saling bertatapan, saling mempertimbangkan. Pemanggilan orang tua dan skorsing tidak ada di list mereka kecuali Daffa, soalnya dia pingin banget di perhatikan orang tuanya dan skorsing satu Minggu itu lumayan buat di rumah, buat sarapan bersama, jalan-jalan bareng dan walaupun harus di marahi dulu, Daffa sih oke-oke aja, yang lain protes.
“Jadi yang di skorsing hanya Daffa saja? Yang lain minta hukuman lain?” seru Bu Weni.
“Betul, Bu!” seru Mikaila sebelum di protes yang lain.
“Kalian keliling lapangan tiga kali, push up, sit up 10x dan cat ulang vandalisme di tembok sekolah sepulang sekolah!”
“Siap, Bu!” teriak Mikaila.
“Bangsat.” Maki Drew setelah guru-guru pergi dan mereka sedang berlari keliling lapangan. “Bayar tukang boleh nggak sih, Bray?”
“Mentang-mentang banyak duit terus apa-apa kamu ukur pake uang, Drew.” sahut Mikaila yang berlari di belakangnya.
“Loh, junior sok taat! Justru ideku ini ide cerdik, aku bisa ngasih rezeki ke tukangnya daripada gak ada duit apalagi kerjaan! Mikir panjang, otak kok adanya cuma negatif thinking!” sembur Drew berapi-api.
Mikaila mencebikkan bibir. “Di pikir-pikir lagi gak ada yang larang nyewa orang. Tumben otakmu ada benerannya, Drew. Setuju-setuju aku!”
Drew memelankan langkahnya, lelah sudah mendera mereka yang telah menyelesaikan hukuman fisik hingga sore harinya hukuman fisik kembali terlaksana.
“Semangat Mikaila. Cie... jadi geng The Evolve Wild.” seru Melody dan Sarina dengan dramatis ketika ketua osisnya sedang mengepel lantai kelas bersama Daffa dan Wicak.
Mikaila mendengus. “Bukannya bantuin cuma cerewet kalian berdua!”
“Gak setia kawan emang sahabatmu, Mik. Udah gabung aja sama kita-kita, pasti setia kok apalagi Tegar.” potong Daffa.
Melody dan Sarina menjulurkan lidah seraya melengos. “Kita bantu doa aja, Mik, kamu jadian sama Tegar.” seru keduanya saat melewati Dela dan Mira yang ikut menyaksikan hukuman yang Mikaila jalani.
Dela mendengus. “Gak mungkin sekelas Tegar mau sama Mika, dia cuma anak beasiswa!”
“Pembuat masalah lagi, Tegar juga pilih-pilih kali.” sahut Mira.
Melody dan Sarina kompak berhenti melangkah lalu menghampiri musuh mereka.
“Terus kenapa kalo cuma anak beasiswa dan pembuat onar? Punya masalah sampai segitunya kamu sama Mika?” Melody menaruh tasnya di lantai. Pemegang sabuk hitam taekwondo kelas tiga itu menaikkan alisnya.
“Nggak ingat kamu terakhir nyentuh Mikaila?Soal ngunci kamar mandi kemarin juga untung Mikaila gak dendam sama kamu karena ada Tegar, coba kalo sampai dia kekurung seharian? Aku jamin menyesal kamu pasti!”
Dela lalu meraih tangan Mira seraya meninggalkan Melody dan Sarina yang pernah menyerangnya dengan satu jurus taekwondo kala ia menempelkan permen karet di rambut Mikaila.
“Selama ada Melody, kita gak bisa nyerang Mika secara terbuka, Mir. Mending kita pulang aja!” ucap Dela lalu menoleh sekilas. Mikaila, Daffa, dan Wicak menghampiri Melody dan Sarina sambil bertepuk tangan. Hebat, Melody memang cantik dan ceria, tapi dia juga jago bela diri.
“Lagian apa cakepnya Tegar sih, Del. Cakepan juga Ben, The Horizon Blast harus tahu kalo the Evolve Wild sama Mikaila di hukum!”
“Bener-bener.” Dela bersorak girang. “Kita ke markas mereka aja sekarang, biar makin panas itu dada Drew dan Mika. Dengar kan, Mika bakal ngurus the Evolve Wild? Kita rusak rencananya!” Dela dan Mira bertos-tos ria seraya pergi ke parkiran sekolah.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
CebReT SeMeDi
malah hancurin sekolah sendiri, dasar Cewek² g punya masa depan jadi tukang ngadu domba
2023-08-13
1
Cut SNY@"GranyCUT"
Eh ada mata2 penghianat sekolah nih.. Dela dan Mira
2023-08-10
0
Uphe Fenty Agesty💞
liat aja ntar loe...
belum tau aja klu the horizon blast pd pengecut semua....
2023-08-04
0