Kedekatan Tegar dengan The Evolve Wild membawanya pada perubahan yang signifikan. Ia yang menjadi bagian dari sekelompok geng sekolah yang terdiri dari Drew, Daffa, Wicak, Dito, Gani, Rendi, Abidzar dan Lila sebagai satu-satunya perempuan salah arah mulai terang-terangan kembali ke Tegar versi Jakarta.
Setiap pulang sekolah ia menyempatkan diri untuk nongkrong bersama gengnya di ruko warung burjo sekaligus basecamp The Evolve Wild.
Tegar menerima rokok dari seniornya yang membelikan sepiring intel goreng dan es jeruk ke semua anggota geng. Drew memang royal, tapi otaknya gesrek bin sengklek sampai guru-guru pada heran, mau di luluskan tapi minim prestasi banyak sensasi mau di tahan-tahan tapi sudah bosan mengajarnya. Heran.
“Emang dasarnya Tegar irit ngomong, Bray. Makan doang yang banyak!” tukas Drew sambil mengangkat saku kakinya ke kursi. Jian..., gayanya sudah mirip preman kampung nunggu jatah harian.
“Di cuekin Mika tuh beberapa hari habis masuk BK kemarin. Paling-paling lagi tobat dia, jadi bikin Tegar gak semangat.” sahut Daffa.
“Naksir Mika toh ceritanya! Wahaha. Mika tuh jelek, Bray. Cantikan juga Dela. Seksi.” sahut Wicak. Playboy tanpa pacar, ceweknya gonta-ganti, tergantung siapa yang mau jalan sama dia.
Lila yang menjadi kekasih sejati Drew mendengus saat Drew mengiyakan dengan jujur. Dela seksi.
“Sama Dela aja, Gar. Aku aman, gak ada tuh yang gangguin dia!”
“Dih, kalo Tegar maunya sama Mika jangan maksa dong. Betul, Gar?” sambar Daffa.
“Ngomongin apa sih kalian!” Tegar berdiri dengan muka datar. “Gue mau balik.”
“Eh... Eh... Tunggu dulu bray.” ucap Drew sambil meraih tangannya. Tegar ditawari mencoba hal baru. Balapan liar.
“Kalo menang dapat duit, Bray. Lumayan buat jajan.” Drew menyeringai. Sedikit banyak tahu kondisi Tegar. Dari style memang oke dia, dari isi dompet. Drew juaranya. “Motormu bisa tuh, tinggal servis cek kendaraan.”
Tegar dan Daffa saling pandang. Bingung. Dengan tawaran sedemikian mudahnya ia bisa mendapatkan uang tanpa susah-susah memasukkan lamaran kerja.
Tegar mengiyakan. Di luar dugaan Drew. Secepat itu Tegar setuju. Drew berdiri, mempunyai motor sport modifikasi tak membuatnya mencibir motor Tegar. Dia ngerti tidak murah memodifikasi motor biasa menjadi motor serupa itu. Dari spek, semua nyaris unggul.
“Tak antar ke bengkel langganan!”
Kedua cowok itu segera menaiki motor masing-masing dan menuju tempat yang di tuju. Untung duit jajan Tegar yang berkurang dari biasanya masih mampu membiayai servis motor karena hanya mengganti oli dan kampas rem+kopling.
Malamnya, Tegar pamit keluyuran malam untuk kali pertama. Shinta mendadak was-was dan senang putranya sudah nyaman tinggal di Solo dan mempunyai banyak teman baru.
Di tempat balapan, Tegar menghampiri The Evolve Wild yang parkir di bahu jalan di tengah suasana malam yang dingin dan temaram.
“Kita tunggu lawanmu, Gar.” kata Drew yang nangkring di atas motor.
“Anak The Horizon Blast, SMA sebelah.” jelas Daffa.
Tegar mengangguk lalu menikmati suasana balapan liar yang sedang berlangsung di jalan yang biasanya nampak ramai dengan aktivitas.
Beberapa saat kemudian, Tegar yang mengetuk-ngetuk spedometer memandang pecahnya penonton ke bahu jalan saat The Horizon Blast dengan motor yang super berisik datang.
“Siapa yang nantang, Matt?” teriak Ben, humas The Horizon Blast.
Drew tertawa pelan sambil melompat dari motor. “Aku dong!” Ia merangkul Tegar dan bersama-sama gengnya mendekati The Horizon Blast yang turun dari motor juga.
Drew menatap Matthew yang menjadi ketua geng. “Aku bawa anggota baruku buat nantang kamu, Mat!” ucapnya berapi-api.
Anjir, di lempar ke sarang musuh gue. Sinting juga Drew! Mana gue belum hafal jalan ini lagi!
Tegar memberikan senyum sinisnya pada geng motor The Horizon Blast yang semuanya memakai rompi jins sobek-sobek dengan emblem logo geng mereka yang dijahit sana-sini demi menunjukkan eksistensi.
“Berani gak?” tanyanya angkuh.
Matthew tersenyum remeh, “Mental kanebo basah lu! Gak terima kalah terus bawa-bawa anak baru kamu!”
Mattew menatap Tegar yang nyaris sempurna sebagai pembalap nyantai. Jaket hitam, celana joger, dan sneaker hangout jelas mempermudah fleksibilitas dalam menggeber motor tetapi tampilan santai Tegar memang menunjukkan bahwa ia anak geng motor baru.
“Buat anak baru kayak gini, sih, enaknya Ben aja yang duel. Sama gue besok kalo udah menang!”
“Oke.” Tegar menyanggupi tanpa beban. Keduanya peserta balapan liar langsung ke garis start.
Di atas motor yang sedang di geber-geber untuk pemanasan mesin, Tegar menghela napas.
Gue ngikutin dia ajalah daripada kesasar. Mampus ntar gue gak bisa balik rumah. Mama nangis.
Tegar menatap Ben yang menatapnya penuh permusuhan.
“Pulang aja sono, tidur, daripada balapan, ntar dimarahi mama!” ledek Ben.
Tegar menyeringai. “Iya kak!”
Warga setempat yang selesai mengambil uang taruhan berdiri di depan garis start. “SIAP!” Wushh... Dua suara knalpot yang berbeda mengudara. Tegar dan Ben menggeber motornya kuat-kuat melewatinya.
Di arena balap, Ben yang menggebu-gebu menyalip Tegar lalu tersenyum jumawa.
Lu duluan, ntar kalo udah kelihatan rame-rame lagi, gue ngebut. Batin Tegar. Tubuhnya panas dingin, balapan liar itu memacu adrenalinnya yang sudah lama istirahat. Dan begitu motor melewati tikungan tajam, rame-rame penonton terlihat. Tegar menggeber motornya sekuat tenaga dengan mental dan emosi yang meningkat.
Gue perlu duit jajan!
Wushhh... Tegar melewati Ben yang nyaris merasakan euforia kemenangan.
The Evolve Wild bersorak gembira. “Anak baru bisa diandalkan!” seru Drew lalu menahan motor Tegar yang nyaris mencium kakinya.
“Hebat, Bray. Hebat-hebat. Keren kamu. Tos-tos.”
Di sisi lain, Matthew menggeram jengkel sambil mengeplak helm Ben.
“Lawan anak baru gak bisa! Malu-maluin geng!”
“Sorry, lah habis dia nyante banget tadi balapannya. Aku jadi gegabah di garis akhir.” Ben menyeringai.
The Horizon Blast pun menatap kemenangan musuh mereka dengan ekspresi dongkol abis, bengis, dan tidak percaya diri.
“Aku tantang kamu di trek yang lebih panjang dan panas di Jogja! Seminggu lagi” teriak Matthew.
Drew mengacungkan jempolnya lalu memutarnya ke bawah. “Loser!”
Matthew dan gengnya naik ke atas motor, meninggalkan area balap dan meluncur ke markas mereka untuk menyusun strategi.
Di bahu jalan Tegar menerima separuh dari uang taruhan dengan jumlah 500rb. Lumayan mengisi kantongnya, tetapi ia perlu mentraktir gengnya dengan membeli anggur merah di warung mbok jamu dan membawanya ke markas.
Hari-hari berikutnya. Tegar kembali keluyuran malam, nongkrong terus dan keliling kota dengan gengnya. Ia pun sampai menggunakan uang sakunya untuk reparasi motornya hingga membuat Shinta khawatir.
Shinta menghubungi Harris untuk mempedulikan anaknya yang mulai bertingkah. Uang 500 juta pun kian menipis setelah digunakan memberi rumah baru setelah Shinta dan kakak laki-laki yang memiliki tiga anak dewasa berkonflik. Tegar pun mulai putar otak, ia harus menghasilkan uang sendiri. Dengan cara paling mudah dan ekstrim, ia mulai rutin ikut balapan setiap kali ada kesempatan. Tegar bertekad dan bersenang-senang untuk meluapkan emosi terdalamnya perihal sang ayah yang tidak bisa dihubungi.
“Gar, jangan lupa besok malam Minggu!” teriak Drew dan Mikaila yang mendengarnya, menahan Daffa untuk mengintrogasi perihal Tegar!
...***...
...Happy Reading ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Bambang
ngakak banget kak. 🤣🤣🤣
2023-08-23
0
Cut SNY@"GranyCUT"
Lha uangnya buat foya2 beli anggur merah, mabuk.
2023-08-09
0
Cut SNY@"GranyCUT"
Jatah dari Bokap berkurang buat biaya kampanye😁
2023-08-09
0