Hari berganti, seminggu berlalu. Tegar menerima uang terakhir dari Mikaila yang menuntaskan janjinya memberi uang 20rb perhari dan menemaninya beradaptasi tanpa beban.
“Selesai tugasku. Aku bebas, wuahh...!” Mikaila berseru dengan suara fatal yang membuat Tegar mengira cewek itu hanya terpaksa mengurusinya.
Tegar mendengus seraya mengeluarkan dompet dari celana olahraga. Tegar mengeluarkan uang Mikaila yang kini berjumlah seratus dua puluh ribu.
“Aku gak butuh!” Tegar melipat keseluruhan uang itu seraya menjejalkan ke saku tas Mikaila. “Makasih udah nemenin!”
Tegar berbalik, ia melebarkan langkah dengan terburu-buru menebus rintik hujan ke arah parkiran sekolah untuk mengambil motor.
Gue kira dia seneng jalan sama gue, ternyata gue beban dia. Mirip bokap, bangsat!
Tegar mencolok lubang kunci motor dengan emosi, ia menggeber motornya sekuat tenaga sampai memancing atensi siswa-siswi yang menunggu hujan reda di penghujung sore.
Mikaila meraih uang itu dengan muka masam. “Dia kenapa sih. Kalo gak mau ngapain nggak bilang dari kemarin sampai aku bawa bekal dua rantang! Nyebelin.”
Disulut rasa kesal, Mikaila berlari dari bawah peneduh saat Tegar menggeber motornya keluar parkiran. Dia mencegat Tegar yang perlu menarik remnya kuat-kuat agar tidak menabraknya.
“Mau sakit kamu?” teriak Tegar jengkel. “Otakmu di pake!”
“Nebeng!” Tanpa persetujuan, Mikaila naik ke atas motor, “antar pulang.”
Tegar memindahkan tasnya ke depan badan seraya menggeber motornya keluar sekolah tanpa minat. Terulang kembali dia harus menguras emosi untuk meladeni gadis sesuka hati sampai ke rumahnya dengan keadaan basah kuyup.
“Aku gak terima kamu balikin duitku sekarang, enak bener kamu. Aku lho sampai bawa dua rantang ke sekolah biar tetap kenyang tanpa jajan. Di ejek Dela lagi. Pokoknya aku gak mau tau, kamu kudu beliin aku apapun pakai duit tadi!” Mikaila menyerahkan uangnya setelah turun dari motor.
Tegar beruntung mereka sanggup melewati jalan tikus demi menghindari tilang online. Tapi ia tidak beruntung saat Sera menyuruhnya mampir sambil melambaikan tangan dari teras rumah.
“Besok aja, Tante. Basah semua!” seru Tegar. Gue lagi males bertamu sekarang, anakmu bikin dongkol.
Mikaila mengusap wajahnya yang basah kuyup dengan ekspresi semringah. “Cie janji datang lagi, kita tunggu deh.”
Tegar menjejalkan uang 120rb ke saku jaket seraya pulang ke rumah.
Shinta yang menyambut anaknya geleng-geleng kepala, kembali ia menyaksikan putranya basah dan cemberut.
“Bisa gak kak, pulang sekolah seneng gitu? Mama lihat seminggu sekolah kamu bete mulu. Ada masalah? Kamu di bully?”
“Gak, Ma. Biasa aja.”
“Terus? Oh, kamu berantem?”
“Enggak, Ma. Tegar cuma banyak tugas. Papa masih gak bisa dihubungi?” Tegar mengalihkan pembicaraan. Mikaila pantang diceritakan sebelum jadian.
“Mama udah coba chat dan telepon, cuma gak terhubung. Mungkin papa sibuk jadi gak sempet lihat hpnya!”
“Ya kalo inget punya hp simpanan, Ma. Udah tua kan? Takutnya pikun.”
“Gar...” Shinta membalas dengan nada masam. “Ayahmu lagi usaha, kita maklumi aja!”
“Terserah mama!” Tegar masuk ke rumah yang sangat berbeda kondisinya dengan di Jakarta. Kesunyian kerap merajalela di seluruh sudut-sudut ruangan. Hanya sekali dua kali rengekan Dinda terdengar menanyakan kedatangan ayahnya. Selebihnya bocah itu cemberut. Barangkali gadis yang akan menginjak usia 11 tahun itu sudah mengerti sedikit banyak ayahnya antara ada dan tiada.
Keesokan paginya, kegiatan sekolah kembali dilaksanakan. Tegar berangkat sekolah lebih awal untuk menaruh hadiah di laci Mikaila.
“Tumben udah masuk, Bray.” Daffa mengajak Tegar bertos-tos. “Ke kantin yuk? Drew mau kenalan sama kamu tuh? Motormu katanya keren banget. Biasa buat balapan?”
Cerocosan Daffa hanya Tegar tanggapi dengan anggukan kepala. Bersama Wicak yang baru datang, mereka pergi ke kantin.
Drew membuang rokoknya ke saluran air di pojokan kantin yang tak terlihat dari pusat persekolahan dan guru-guru. Pentolan geng The Evolve Wild itu nampaknya memang anak yang rajin mampir ke kantin pagi-pagi untuk sarapan.
Tegar mengulurkan tangan saat Drew mengajaknya bersalaman. “Tegar.” ucapnya dingin.
Drew meringis sambil menyuruhnya duduk-duduk. “Pindahan dari Jakarta udah bisa ngapain aja di sini?”
“Nurutin Mika ngerjain PR dan tugas kelas!” timpal Daffa.
Drew tertawa sembari memasukkan baju seragamnya ke celana setelah lagu pertanda dimulainya jam sekolah terdengar.
“Mikaila bagi kita musuh, banyak yang gak suka sama dia karena otoriter! Dua kali aku masuk BK gara-gara ketahuan ngerokok sama dia!” keluh Drew sambil menawarkan bungkusan rokok ke Tegar.
“Santai. The Evolve Wild bisa terima anak baru asal gak bocor ke Mika. Tuh anak embernya setengah modar sama guru-guru! Makanya jadi ketua OSIS.”
Tegar mendengus dengan hati dongkol. Ternyata kedekatannya dengan Mikaila sudah menyebar bagai virus.
Gue bakal pindah kursi, Mikaila cs bikin gue terlihat lemah dan amatir.
Di kelas, Mikaila menatap Tegar yang membereskan buku-buku paket dari laci.
“Mau ke mana?” tanyanya heran sambil mencekal pergelangan tangannya.
“Urusan kita udah selesai!” Tegar menghela napas, dengan tetap mencondongkan badan di berbisik. “Cek lacimu.”
Mikaila merogoh lacinya dan mendapatkan bungkusan plastik hitam berisi jaket rajut retro v-neck dan bandana merah.
“Makasih, tapi gak perlu sama notanya kali!” serunya sambil melempar kertas nota yang ia remas-remas ke arahnya.
“Biar lo ngerti gue gak ambil uangmu sepersen pun.”
Tegar menahan senyum sambil menyeret kursi ke bangku kosong di belakang Daffa dan Wicak.
...***...
^^^Bersambung ^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
CebReT SeMeDi
masa SMA ku ga indah ngene Yo mbk Vi🫣🫣
2023-07-30
1
CebReT SeMeDi
masa SMA ku ga indah ngene Yo mbk Vi🫣🫣
2023-07-30
1
choowie
cieee 🥰🥰🥰
2023-07-29
0