Chapter 3 - Tagihan Perdebatan

Tegar mencegat Mikaila di depan kamar mandi siswa setelah membuat kehebohan di lapangan atas kedatangannya sebagai anak baru yang tiba-tiba menjadi komandan upacara. Namanya pun menyusup di antara semilir angin yang begitu mudah membaur di antara tanya dan beragam pendapat lainnya tentang kehadirannya pagi itu.

“Mana uang yang kamu janjikan?” Tegar menengadahkan tangan.

Belum juga sejam udah di tagih. Sambil mendengus Mikaila merogoh kantong baju seragamnya. Mikaila pantang berbohong, sebagai ketua OSIS yang ingin membuat masa akhir jabatannya tetap bagus, mau di mana ia menaruh wajahnya jika berkata jujur bahwa uang sakunya hanya uang 20rb yang berpindah tangan?

Tegar menjejalkan uang lecek ke saku celananya. “Gantian aku yang minta tolong!”

Mikaila tercenung sebentar, benaknya mengira-ngira pemuda yang tampannya berkali-kali menyita perhatian siswi-siswi yang melewatinya menginginkan apa?

Mikaila mendadak was-was, dia sampai melambaikan tangan pada Melody dan Sarina yang mengintipnya dari balik pilar. Keduanya sahabat Mikaila, wakil OSIS dan si penasihat.

“Bentar-bentar, nunggu timku!” Mikaila melambai dengan antusias. “Buruan guys.”

Dua gadis berkacamata fashion berlari kecil ke arahnya. “Kenapa, Mik? Anak baru ganggu kamu?” tukas Sarina, gadis berbadan berisi yang konon katanya ia ingin kuliah hukum setelah lulus SMA.

“Ini Tegar mau minta tolong aku. Gar, kamu mau minta tolong apa? Biar Sarina nih yang atur.” Mikaila menarik lengan Sarina agar lebih dekat dengan Tegar.

Tenggorokan Tegar terasa kering, lagi-lagi mendapati pemandangan serupa, takjub akan pesonanya yang akan membuat kontroversi hati di kemudian hari.

“Mau minta tolong apa, Tegar?” tanya Sarina lembut sambil menatapnya lekat.

Sarina terabaikan. Tegar mendekati Mikaila seraya membetulkan bandonya yang tidak simetris, “Ingat janjimu aja ketua sosis.”

Mikaila terbelalak dengan mulut ternganga. “Dia bilang aku ketua sosis. Woy, gorila!” serunya tidak terima.

Tegar menyeringai di pertengahan anak tangga. “Cewek belagu banget, baru jadi ketua osis aja pakai punya tim penasihat, udah kayak bokap ku aja! Sinting.”

Mikaila menyusul Tegar menaiki anak tangga lalu meraih lengannya. “Maksudmu apa bilang aku ketua sosis? Kamu cari masalah sama aku?” tantangnya berani.

Tegar hanya mampu menyunggingkan senyum ketika Bu Weni mengintruksikan mereka untuk segera masuk ke kelas di temani Melody dan Sarina dari bawah anak tangga.

“Kamu juga Tegar masuk ke kelas ibu!”

“Apa!” Mikaila berseru kelabakan sambil menuruni anak tangga cepat. “Kenapa satu kelas, Bu? Gak ada kelas lain apa?” tanyanya seakan tidak terima.

“Memangnya kenapa, Mik? Kamu punya masalah pribadi sama Tegar sampai nggak mau menerima Tegar di kelas ibu?” Bu Weni memandang keduanya bergantian. “Baru ketemu kok sudah punya masalah pribadi, jangan-jangan... jodoh...” Bu Weni, Melody dan Sarina tertawa melihat Mikaila bergidik ngeri seraya menapaki anak tangga dengan stamina prima sambil mengomeli sahabatnya yang tidak setia kawan.

Untuk Tegar, tuduhan Bu Weni ia tanggapi dengan satu-dua doa yang timbul tenggelam ketika menyamakan langkahnya dengan Bu Weni, Mika cs menuju kelas.

Kedatangan Tegar membuat riuh suasana.

Perkenalan singkat siswa baru di depan kelas berlangsung, Tegar disambut dengan antusiasme berlebih oleh gadis-gadis yang berlomba-lomba memberikan bangku sebelah mereka dengan saling mendorong teman sebangku.

“Tegar, sini aja sama Dela!” seru ketua pemandu sorak.

Tegar mengendikkan bahu di samping Bu Weni yang menepuk-nepuk papan tulis dengan alat penghapus. Diam!

“Kamu duduk sama Mikaila, Gar. Dia punya tugas membantumu beradaptasi dengan kurikulum sekolah ini. Mika... Kamu berbagi buku paket biologi, sekalian nanti temani Tegar ke perpustakaan waktu istirahat!”

Ya... Mikaila tampak kesal, tapi mau bagaimana lagi, dia membagi meja dan kursi sebelahnya untuk Tegar yang berimbas pada seruan tidak terima teman-temannya yang iri.

Mikaila menjulurkan lidah. Meledak Dela dan Mira yang paling keras menyerukan ketidaksetujuan Bu Weni menaruh Tegar dengan si ketua osis yang menjadi musuh besar anggota pemandu sorak itu.

“Iri tanda tak mampu, wek-wek-wek, Tegar punyaku... Eh.” Mikaila terperanjat sendiri dengan ucapannya lalu menutup wajahnya dengan buku.

“Aku salah bicara, Gar. Maafin ya, jangan diamini!” gumamnya pelan.

Melody dan Sarina serempak mengamini dengan semangat di belakang mereka. Tegar mengulum senyum sambil menggeser buku paket biologi yang di buka Mikaila sesuai halaman akhir pelajaran yang kelas pelajari Minggu kemarin. Mikaila yang keberatan menjadi ‘teman belajar’ Tegar hanya mengamati bukunya tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata.

“Aku pinjam semua bukumu nanti.” Tegar mengeluarkan laptopnya, “Atau kamu mau balas budi setelah upacara tadi?”

“Maksudmu apa?” Mikaila berbisik

“Salin semua materi pelajaran di laptopku.”

“Ogah!”

Bu Weni berdehem. “Mika, Tegar!”

Konsentrasi kelas langsung tertuju pada Bu Weni yang menjelaskan metamorfosis hewan yang akan menjadi bahan praktikum dua hari lagi. Kodok.

“Maksud Bu Weni kita perlu cari kodok gitu di alam bebas?” ucap Dela setelah mengangkat tangan.

“Betul anak-anakku, kalian sebangku satu kelompok! Cari macam-macam metamorfosis kodok. Satu lagi, kodok dewasa untuk kita bedah.”

Beberapa siswi langsung bereaksi geli dan jijik, lalu melempar tugas pada teman kelompok untuk mencarinya sendiri atau beli di market place sebagai ide paling mudah di era sekarang.

Mikaila menoleh ke belakang, tempat Melody dan Sarina duduk. “Masa iya harus cari telur kodok sampe satu keluarganya. Ngeri banget tugas Bu Weni. Gimana ini guys.”

“Kita cari saja sepulang sekolah nanti.” Tegar menyarankan dengan santai.

Mikaila merinding seraya menggelengkan kepala.

“Aku geli, mending kita beli aja atau bayar orang buat nyariin katak betina sama jantan? Aku gak bisa bedain cuy...” keluhnya jujur.

“Sama!” sahut Melody dan Sarina bersamaan.

Tegar yang mendengar keluhan gadis-gadis di sekelilingnya menghembuskan napas. “Aku bisa.”

“Kita nitip boleh, Gar? Kita bayar deh.”

Tegar menengadahkan tangannya. Melody melirik Sarina hingga uang sebesar seratus ribu Tegar dapatkan.

“Tapi aku belum tau Solo sepenuhnya, jadi kita cari sama-sama, Mik!”

Perhatian Mikaila teralihkan, matanya mulai mengintimidasi rekan barunya yang tampaknya akan menyusahkan. “Kamu darimana emang? Luar Jawa sampai nggak tau Solo?”

“Bukan, aku dari Jakarta.”

“Anak gaul dong? Kenalan dulu deh?” Mikaila mengulurkan tangannya. Curi start dari para saingannya yang menatap iri kedekatan mereka.

Tegar memandang sekilas tangan Mikaila sebelum menggenggamnya.

“Tegar, ibuku yang orang Solo tapi lama di Jakarta.”

Mikaila tersenyum puas sambil menempelkan telapak tangannya di pipi. Matanya memandang Dela yang memandangnya tak suka.

Kapok kamu, Del. Panas itu hati. Hihi.

Bel istirahat berbunyi setelah sekian jam mendalami ilmu pengetahuan, berlomba-lomba para siswa-siswi keluar kelas tanpa membereskan buku-buku mereka terlebih dahulu.

“Mik, ayo kantin. Laper banget ini.” ajak Melody dan Sarina.

Mikaila menyunggingkan senyum aneh. Perutnya lapar, tapi uangnya ludes. Ingin minta traktiran tapi Tegar masih ada, menyalin materi-materi penting pelajaran yang terlewat dari semua buku pelajaran Mikaila.

“Duluan aja, Sar. Aku nyusul, masih ada tugas nih!” Mikaila menunjuk Tegar dengan ekor matanya.

“Kalo mau ke kantin, ke sana aja. Nggak usah nunggu sele—”Tegar mengalihkan perhatiannya dari laptop pada perut Mikaila yang berbunyi.

Mikaila merona sambil memegangi perutnya.

“Aku laper.”

“Pergi sana!” Tegar menegaskan.

Mikaila bertingkah aneh sampai memancing kecurigaan sahabatnya dan Tegar.

“Kenapa, Mik?” tanya Melody.

Mikaila mendesah, “Uangku abis, boleh balikin 10rb dulu nggak, Gar?”

Sarina tepok jidat, sementara Melody tergelak. Mereka bertiga adalah gadis-gadis periang yang menyenangkan.

“Mika... mika, malu-maluin kamu minta uangmu balik. Udah-udah buruan cabut, aku bayar!” seru Sarina sambil menarik tangan Mikaila. Tegar pun menahan tangan Mikaila satunya yang memakai gelang mutiara.

Sarina menarik tangan Mikaila lebih kuat tetapi tenaga Tegar tak perlu diragukan lagi kekuatannya karena sejak di Jakarta ia sudah rajin berolahraga membuat

tubuh Mikaila condong ke kanan-kiri berulangkali sampai rasanya mau copot.

“Udah dong, kalian ngapain sih!”

“Tegar tuh yang ngapain pegang-pegang kamu!” protes Sarina.

Spontan Tegar melepas tangannya hingga Mikaila tersuruk ke arah Sarina dengan Melody yang sigap menahan keduanya.

“Titip makan dan minum, sisanya buat kamu!” Tegar menyerahkan kembali uang Mikaila.

“Ya elah, bukannya traktir anak baru, malah di traktir anak baru! Turun pangkat aku!” protes Mikaila lalu menjejalkan uangnya ke saku seragamnya.

“Tunggu sini, jangan ke mana-mana!” Mikaila cs meninggalkannya seorang diri di kelas.

Tegar menghempaskan punggungnya di sandaran kursi seraya mengurut pelipisnya.

“Pusing gue, gimana caranya cari satu keluarga kodok! Mampus, anjir. Mana pernah ngurus gituan lagi!”

...****...

...Happy Reading....

Terpopuler

Comments

suminar

suminar

😄😄😄😄😄

2023-08-14

1

suminar

suminar

😃😃😃😃😃

2023-08-14

1

Cut SNY@"GranyCUT"

Cut SNY@"GranyCUT"

Nasib Tegar yang sekelimpok isinya para cewek, hanya dia cowok seorang, jadi andelan deh.

2023-08-08

3

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 : Dibuang Ayah.
2 Chapter 2 : Manusia Bumi
3 Chapter 3 - Tagihan Perdebatan
4 Chapter 4 - Telen Beban
5 Chapter 5 - Emosi Tragedi
6 Chapter 6 : Tanggung Jawab Aku!
7 Chapter 7 : Persoalan Genting
8 Chapter 8 : Persoalan Genting 2
9 Chapter 9 : Balapan Lucu
10 Chapter 10 : Tawuran
11 Chapter 11 : Takut Jatuh Cinta
12 Chapter 12 : Aksi Matt
13 Chapter 13 : Ngegas
14 Chapter 14 : Drew cs & Mika.
15 Chapter 15 : Musuh Dalam Sekolah
16 Chapter 16 : Masuk Sarang Musuh
17 Chapter 17 : Panji Perang
18 Chapter 18 : Lawan Jadi Kawan
19 Chapter 19 : Kepergok
20 Chapter 20 : Meledak
21 Chapter 21 : Salting
22 Chapter 22 : Iya, Sayang.
23 Chapter 23 : Ring Road Love
24 Chapter 24 : Bersenang-senang
25 Chapter 25 : OMG
26 Chapter 26 : Kekacauan
27 Chapter 27 : Kalah
28 Chapter 28 : Kerja Sama Terselubung
29 Chapter 29 : Toleransi nol
30 Chapter 30 : Wuu...
31 Chapter 31 : Melambungkan Fantasi
32 Chapter 32 : Bolos Bersama
33 Chapter 33 : Saingan, Iya...
34 Chapter 34 : Hukuman
35 Chapter 35 : Gulma
36 Chapter 36 : Back Street
37 Chapter 37 : Emang Enak
38 Chapter 38 : Loyal
39 Chapter 39 : Pahit & Pedas
40 Chapter 40 : Kabut
41 Chapter 41 : Manisnya Hukuman
42 Chapter 42 : Sidang Keluarga
43 Chapter 43 : Sinarnya Redup
44 Chapter 43 : Sedikit Balasan
45 Chapter 45 : Markijayyy
46 Chapter 46 : Membingungkan
47 Chapter 47 : B-e-r-a-n-i
48 Chapter 48 : Sensasi Mematikan
49 Chapter 49 : Kok Bisa Ya?
50 Chapter 50 : Ribut
51 Chapter 51 : Sangar
52 Chapter 52 : Menggila
53 Chapter 53 : Erat
54 Chapter 54 : Meeting Points
55 Chapter 55 : SERI
56 Chapter 56 : Gak Mudah
57 Chapter 56 : Maju Ke Depan
58 Chapter 58 : Heuheu
59 Chapter 59 : Bujuk Rayu
60 Chapter 60 : Tersedak
61 Chapter 61 : Ngeri
62 Chapter 62 : Parau
63 Chapter 63 : Gila sih
64 Chapter 64 : Baper
65 Chapter 65 : Good Goodbye
66 Chapter 66 : Evoleventador
67 Chapter 67 : Iya berdua
68 Chapter 68 : Lulus
69 Chapter 69 : Hadiah
70 Chapter 70 : Menolak Kembali
71 Chapter 71 : Drama Sekolah
72 Chapter 72 : Back Off
73 Chapter 73 : Prediksi Tepat
74 Chapter 74 : Engagement Day
75 Chapter 75 : Bertemu Kamu
76 Chapter 76 : Takut
77 Chapter 77 : Merana
78 Chapter 78 : Reuni
79 Chapter 79 : Malu & Takut
80 Chapter 80 : Balapan Terakhir
81 Chapter 81 : Before Wedding
82 Chapter 82 : Wedding Agreement
83 Chapter 83 : Usaha
84 Chapter 84 : Quiz
85 Chapter 85 : Goals
86 Chapter 86 : A love
87 Chapter 87 : Kacau
88 Chapter 88 : Mabuk Aturan
89 Chapter 89 : Bos kecil
90 Bab 90 : Epilog
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Chapter 1 : Dibuang Ayah.
2
Chapter 2 : Manusia Bumi
3
Chapter 3 - Tagihan Perdebatan
4
Chapter 4 - Telen Beban
5
Chapter 5 - Emosi Tragedi
6
Chapter 6 : Tanggung Jawab Aku!
7
Chapter 7 : Persoalan Genting
8
Chapter 8 : Persoalan Genting 2
9
Chapter 9 : Balapan Lucu
10
Chapter 10 : Tawuran
11
Chapter 11 : Takut Jatuh Cinta
12
Chapter 12 : Aksi Matt
13
Chapter 13 : Ngegas
14
Chapter 14 : Drew cs & Mika.
15
Chapter 15 : Musuh Dalam Sekolah
16
Chapter 16 : Masuk Sarang Musuh
17
Chapter 17 : Panji Perang
18
Chapter 18 : Lawan Jadi Kawan
19
Chapter 19 : Kepergok
20
Chapter 20 : Meledak
21
Chapter 21 : Salting
22
Chapter 22 : Iya, Sayang.
23
Chapter 23 : Ring Road Love
24
Chapter 24 : Bersenang-senang
25
Chapter 25 : OMG
26
Chapter 26 : Kekacauan
27
Chapter 27 : Kalah
28
Chapter 28 : Kerja Sama Terselubung
29
Chapter 29 : Toleransi nol
30
Chapter 30 : Wuu...
31
Chapter 31 : Melambungkan Fantasi
32
Chapter 32 : Bolos Bersama
33
Chapter 33 : Saingan, Iya...
34
Chapter 34 : Hukuman
35
Chapter 35 : Gulma
36
Chapter 36 : Back Street
37
Chapter 37 : Emang Enak
38
Chapter 38 : Loyal
39
Chapter 39 : Pahit & Pedas
40
Chapter 40 : Kabut
41
Chapter 41 : Manisnya Hukuman
42
Chapter 42 : Sidang Keluarga
43
Chapter 43 : Sinarnya Redup
44
Chapter 43 : Sedikit Balasan
45
Chapter 45 : Markijayyy
46
Chapter 46 : Membingungkan
47
Chapter 47 : B-e-r-a-n-i
48
Chapter 48 : Sensasi Mematikan
49
Chapter 49 : Kok Bisa Ya?
50
Chapter 50 : Ribut
51
Chapter 51 : Sangar
52
Chapter 52 : Menggila
53
Chapter 53 : Erat
54
Chapter 54 : Meeting Points
55
Chapter 55 : SERI
56
Chapter 56 : Gak Mudah
57
Chapter 56 : Maju Ke Depan
58
Chapter 58 : Heuheu
59
Chapter 59 : Bujuk Rayu
60
Chapter 60 : Tersedak
61
Chapter 61 : Ngeri
62
Chapter 62 : Parau
63
Chapter 63 : Gila sih
64
Chapter 64 : Baper
65
Chapter 65 : Good Goodbye
66
Chapter 66 : Evoleventador
67
Chapter 67 : Iya berdua
68
Chapter 68 : Lulus
69
Chapter 69 : Hadiah
70
Chapter 70 : Menolak Kembali
71
Chapter 71 : Drama Sekolah
72
Chapter 72 : Back Off
73
Chapter 73 : Prediksi Tepat
74
Chapter 74 : Engagement Day
75
Chapter 75 : Bertemu Kamu
76
Chapter 76 : Takut
77
Chapter 77 : Merana
78
Chapter 78 : Reuni
79
Chapter 79 : Malu & Takut
80
Chapter 80 : Balapan Terakhir
81
Chapter 81 : Before Wedding
82
Chapter 82 : Wedding Agreement
83
Chapter 83 : Usaha
84
Chapter 84 : Quiz
85
Chapter 85 : Goals
86
Chapter 86 : A love
87
Chapter 87 : Kacau
88
Chapter 88 : Mabuk Aturan
89
Chapter 89 : Bos kecil
90
Bab 90 : Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!