Tegar mencegat Mikaila di depan kamar mandi siswa setelah membuat kehebohan di lapangan atas kedatangannya sebagai anak baru yang tiba-tiba menjadi komandan upacara. Namanya pun menyusup di antara semilir angin yang begitu mudah membaur di antara tanya dan beragam pendapat lainnya tentang kehadirannya pagi itu.
“Mana uang yang kamu janjikan?” Tegar menengadahkan tangan.
Belum juga sejam udah di tagih. Sambil mendengus Mikaila merogoh kantong baju seragamnya. Mikaila pantang berbohong, sebagai ketua OSIS yang ingin membuat masa akhir jabatannya tetap bagus, mau di mana ia menaruh wajahnya jika berkata jujur bahwa uang sakunya hanya uang 20rb yang berpindah tangan?
Tegar menjejalkan uang lecek ke saku celananya. “Gantian aku yang minta tolong!”
Mikaila tercenung sebentar, benaknya mengira-ngira pemuda yang tampannya berkali-kali menyita perhatian siswi-siswi yang melewatinya menginginkan apa?
Mikaila mendadak was-was, dia sampai melambaikan tangan pada Melody dan Sarina yang mengintipnya dari balik pilar. Keduanya sahabat Mikaila, wakil OSIS dan si penasihat.
“Bentar-bentar, nunggu timku!” Mikaila melambai dengan antusias. “Buruan guys.”
Dua gadis berkacamata fashion berlari kecil ke arahnya. “Kenapa, Mik? Anak baru ganggu kamu?” tukas Sarina, gadis berbadan berisi yang konon katanya ia ingin kuliah hukum setelah lulus SMA.
“Ini Tegar mau minta tolong aku. Gar, kamu mau minta tolong apa? Biar Sarina nih yang atur.” Mikaila menarik lengan Sarina agar lebih dekat dengan Tegar.
Tenggorokan Tegar terasa kering, lagi-lagi mendapati pemandangan serupa, takjub akan pesonanya yang akan membuat kontroversi hati di kemudian hari.
“Mau minta tolong apa, Tegar?” tanya Sarina lembut sambil menatapnya lekat.
Sarina terabaikan. Tegar mendekati Mikaila seraya membetulkan bandonya yang tidak simetris, “Ingat janjimu aja ketua sosis.”
Mikaila terbelalak dengan mulut ternganga. “Dia bilang aku ketua sosis. Woy, gorila!” serunya tidak terima.
Tegar menyeringai di pertengahan anak tangga. “Cewek belagu banget, baru jadi ketua osis aja pakai punya tim penasihat, udah kayak bokap ku aja! Sinting.”
Mikaila menyusul Tegar menaiki anak tangga lalu meraih lengannya. “Maksudmu apa bilang aku ketua sosis? Kamu cari masalah sama aku?” tantangnya berani.
Tegar hanya mampu menyunggingkan senyum ketika Bu Weni mengintruksikan mereka untuk segera masuk ke kelas di temani Melody dan Sarina dari bawah anak tangga.
“Kamu juga Tegar masuk ke kelas ibu!”
“Apa!” Mikaila berseru kelabakan sambil menuruni anak tangga cepat. “Kenapa satu kelas, Bu? Gak ada kelas lain apa?” tanyanya seakan tidak terima.
“Memangnya kenapa, Mik? Kamu punya masalah pribadi sama Tegar sampai nggak mau menerima Tegar di kelas ibu?” Bu Weni memandang keduanya bergantian. “Baru ketemu kok sudah punya masalah pribadi, jangan-jangan... jodoh...” Bu Weni, Melody dan Sarina tertawa melihat Mikaila bergidik ngeri seraya menapaki anak tangga dengan stamina prima sambil mengomeli sahabatnya yang tidak setia kawan.
Untuk Tegar, tuduhan Bu Weni ia tanggapi dengan satu-dua doa yang timbul tenggelam ketika menyamakan langkahnya dengan Bu Weni, Mika cs menuju kelas.
Kedatangan Tegar membuat riuh suasana.
Perkenalan singkat siswa baru di depan kelas berlangsung, Tegar disambut dengan antusiasme berlebih oleh gadis-gadis yang berlomba-lomba memberikan bangku sebelah mereka dengan saling mendorong teman sebangku.
“Tegar, sini aja sama Dela!” seru ketua pemandu sorak.
Tegar mengendikkan bahu di samping Bu Weni yang menepuk-nepuk papan tulis dengan alat penghapus. Diam!
“Kamu duduk sama Mikaila, Gar. Dia punya tugas membantumu beradaptasi dengan kurikulum sekolah ini. Mika... Kamu berbagi buku paket biologi, sekalian nanti temani Tegar ke perpustakaan waktu istirahat!”
Ya... Mikaila tampak kesal, tapi mau bagaimana lagi, dia membagi meja dan kursi sebelahnya untuk Tegar yang berimbas pada seruan tidak terima teman-temannya yang iri.
Mikaila menjulurkan lidah. Meledak Dela dan Mira yang paling keras menyerukan ketidaksetujuan Bu Weni menaruh Tegar dengan si ketua osis yang menjadi musuh besar anggota pemandu sorak itu.
“Iri tanda tak mampu, wek-wek-wek, Tegar punyaku... Eh.” Mikaila terperanjat sendiri dengan ucapannya lalu menutup wajahnya dengan buku.
“Aku salah bicara, Gar. Maafin ya, jangan diamini!” gumamnya pelan.
Melody dan Sarina serempak mengamini dengan semangat di belakang mereka. Tegar mengulum senyum sambil menggeser buku paket biologi yang di buka Mikaila sesuai halaman akhir pelajaran yang kelas pelajari Minggu kemarin. Mikaila yang keberatan menjadi ‘teman belajar’ Tegar hanya mengamati bukunya tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata.
“Aku pinjam semua bukumu nanti.” Tegar mengeluarkan laptopnya, “Atau kamu mau balas budi setelah upacara tadi?”
“Maksudmu apa?” Mikaila berbisik
“Salin semua materi pelajaran di laptopku.”
“Ogah!”
Bu Weni berdehem. “Mika, Tegar!”
Konsentrasi kelas langsung tertuju pada Bu Weni yang menjelaskan metamorfosis hewan yang akan menjadi bahan praktikum dua hari lagi. Kodok.
“Maksud Bu Weni kita perlu cari kodok gitu di alam bebas?” ucap Dela setelah mengangkat tangan.
“Betul anak-anakku, kalian sebangku satu kelompok! Cari macam-macam metamorfosis kodok. Satu lagi, kodok dewasa untuk kita bedah.”
Beberapa siswi langsung bereaksi geli dan jijik, lalu melempar tugas pada teman kelompok untuk mencarinya sendiri atau beli di market place sebagai ide paling mudah di era sekarang.
Mikaila menoleh ke belakang, tempat Melody dan Sarina duduk. “Masa iya harus cari telur kodok sampe satu keluarganya. Ngeri banget tugas Bu Weni. Gimana ini guys.”
“Kita cari saja sepulang sekolah nanti.” Tegar menyarankan dengan santai.
Mikaila merinding seraya menggelengkan kepala.
“Aku geli, mending kita beli aja atau bayar orang buat nyariin katak betina sama jantan? Aku gak bisa bedain cuy...” keluhnya jujur.
“Sama!” sahut Melody dan Sarina bersamaan.
Tegar yang mendengar keluhan gadis-gadis di sekelilingnya menghembuskan napas. “Aku bisa.”
“Kita nitip boleh, Gar? Kita bayar deh.”
Tegar menengadahkan tangannya. Melody melirik Sarina hingga uang sebesar seratus ribu Tegar dapatkan.
“Tapi aku belum tau Solo sepenuhnya, jadi kita cari sama-sama, Mik!”
Perhatian Mikaila teralihkan, matanya mulai mengintimidasi rekan barunya yang tampaknya akan menyusahkan. “Kamu darimana emang? Luar Jawa sampai nggak tau Solo?”
“Bukan, aku dari Jakarta.”
“Anak gaul dong? Kenalan dulu deh?” Mikaila mengulurkan tangannya. Curi start dari para saingannya yang menatap iri kedekatan mereka.
Tegar memandang sekilas tangan Mikaila sebelum menggenggamnya.
“Tegar, ibuku yang orang Solo tapi lama di Jakarta.”
Mikaila tersenyum puas sambil menempelkan telapak tangannya di pipi. Matanya memandang Dela yang memandangnya tak suka.
Kapok kamu, Del. Panas itu hati. Hihi.
Bel istirahat berbunyi setelah sekian jam mendalami ilmu pengetahuan, berlomba-lomba para siswa-siswi keluar kelas tanpa membereskan buku-buku mereka terlebih dahulu.
“Mik, ayo kantin. Laper banget ini.” ajak Melody dan Sarina.
Mikaila menyunggingkan senyum aneh. Perutnya lapar, tapi uangnya ludes. Ingin minta traktiran tapi Tegar masih ada, menyalin materi-materi penting pelajaran yang terlewat dari semua buku pelajaran Mikaila.
“Duluan aja, Sar. Aku nyusul, masih ada tugas nih!” Mikaila menunjuk Tegar dengan ekor matanya.
“Kalo mau ke kantin, ke sana aja. Nggak usah nunggu sele—”Tegar mengalihkan perhatiannya dari laptop pada perut Mikaila yang berbunyi.
Mikaila merona sambil memegangi perutnya.
“Aku laper.”
“Pergi sana!” Tegar menegaskan.
Mikaila bertingkah aneh sampai memancing kecurigaan sahabatnya dan Tegar.
“Kenapa, Mik?” tanya Melody.
Mikaila mendesah, “Uangku abis, boleh balikin 10rb dulu nggak, Gar?”
Sarina tepok jidat, sementara Melody tergelak. Mereka bertiga adalah gadis-gadis periang yang menyenangkan.
“Mika... mika, malu-maluin kamu minta uangmu balik. Udah-udah buruan cabut, aku bayar!” seru Sarina sambil menarik tangan Mikaila. Tegar pun menahan tangan Mikaila satunya yang memakai gelang mutiara.
Sarina menarik tangan Mikaila lebih kuat tetapi tenaga Tegar tak perlu diragukan lagi kekuatannya karena sejak di Jakarta ia sudah rajin berolahraga membuat
tubuh Mikaila condong ke kanan-kiri berulangkali sampai rasanya mau copot.
“Udah dong, kalian ngapain sih!”
“Tegar tuh yang ngapain pegang-pegang kamu!” protes Sarina.
Spontan Tegar melepas tangannya hingga Mikaila tersuruk ke arah Sarina dengan Melody yang sigap menahan keduanya.
“Titip makan dan minum, sisanya buat kamu!” Tegar menyerahkan kembali uang Mikaila.
“Ya elah, bukannya traktir anak baru, malah di traktir anak baru! Turun pangkat aku!” protes Mikaila lalu menjejalkan uangnya ke saku seragamnya.
“Tunggu sini, jangan ke mana-mana!” Mikaila cs meninggalkannya seorang diri di kelas.
Tegar menghempaskan punggungnya di sandaran kursi seraya mengurut pelipisnya.
“Pusing gue, gimana caranya cari satu keluarga kodok! Mampus, anjir. Mana pernah ngurus gituan lagi!”
...****...
...Happy Reading....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
suminar
😄😄😄😄😄
2023-08-14
1
suminar
😃😃😃😃😃
2023-08-14
1
Cut SNY@"GranyCUT"
Nasib Tegar yang sekelimpok isinya para cewek, hanya dia cowok seorang, jadi andelan deh.
2023-08-08
3