“Kalian bertiga apa-apa sih!” Daffa jengkel, ia menyingkirkan tangan Melody dan Sarina yang menyeretnya ke ruang kedisiplinan kesiswaan. Dengan pintu yang terkunci rapat dan jendela yang tertutup gorden coklat, ruang sidang siswa terasa lengkap dengan hakim Mikaila yang kini berkacak pinggang di depannya.
“Tegar mau ke mana malam Minggu?” tanyanya berapi-api.
“Yee... tanya sendiri sama orangnya lah, aku bukan mamanya kok.” celetuk Daffa riang. “Lagian kenapa sih, Tegar ngelupain kamu?”
Jelas Mikaila langsung emosi, Daffa ini selain humble dan tukang nyinyir andalan geng The Evolve Wild, dia juga hobi ngece.
Tegar nggak ngelupain aku, dia cuma kembali ke jati dirinya.
Mikaila mengambil buku laporan kesiswaan. Daftar-daftar murid yang didisiplinkan sudah berderet-deret. Kebanyakan adalah anggota geng The Evolve Wild dan Daffa sudah mencapai batas pemakluman. Satu lagi bintang merah, orang tua di panggil. Mikaila mengancamnya dengan data itu.
Daffa menatapnya lalu nyengir. “Kenapa sih, Mik? Ngomong deh, ntar aku laporin ke Tegar deh.” tawarnya cengengesan.
“Mau ke mana Tegar malam Minggu besok?” seru Mikaila tegas. “Gak ada waktu aku buat lama-lama ngurus kamu!”
“Jelaslah, kangennya sama Tegar. Ketemunya sama aku.” sahut Daffa jumawa.
Gemuruh tawa yang membahana dari Melody dan Sarina membuat Mikaila memukul white board dengan penggaris kayu.
Sepasang mata Mikaila berkilat. “Kalian bukannya bantu aku malah ikut-ikutan Daffa, rese!”
“Emang kenyataan kamu kangen kan sama Tegar.” celetuk Melody. “Mika kangen sama Tegar, Daff. Tapi gak berani ngomong. Gak masuk logika ya?”
“He'eh, tiap hari ketemu kok kangen, emang sahabatmu sok, Mel!”
Mikaila mendesis jengkel, dia sedang tidak welcome. Tegar yang mulai abai terhadap PR dan tidur di jam belajar membuat Mikaila heran. Secara terang-terangan dia memang ingin mencari tahu penyebabnya dan Daffa adalah humas The Evolve Wild yang bisa di ajak kompromi ketimbang yang lain. Tetapi perihal kangen-kangen itu dia memang kangen banget dengan Tegar, dia kangen main bareng pemuda itu. Kangen di antar pulang, kangen kata-kata ketusnya sampai setiap hari dia memakai hadiah darinya demi memancing perhatian Tegar. Tapi pemuda itu tetap cuek bebek sampai ingin sekali Mikaila getok kepalanya. Ya ampun, kumbang-kumbang asmara kayaknya sudah melakukan penyerbukan di putik hatinya.
“Buruan jawab, Daff! Atau mau sampe magrib kita di sini?” ancamnya serius. “Ngomong aja apa susahnya sih, Tegar beberapa hari kemarin sering sama kalian. Kamu pasti tahu malam Minggu besok dia mau ke mana!” imbuhnya setengah risau.
Daffa terbatuk-batuk dengan dramatis. “Untungnya apa buat aku, Mik? Ini rahasia geng soalnya, kamu ketua osis kampret gak usah tau lah. Ember bocor mulutmu tuh!”
“Paling nongkrong, Mik. Ke warung burjo ajalah besok.” potong Melody. “Tapi gak mungkin deh kayaknya, habis kamu nanti di makan Drew!”
Daffa menganggukkan kepala. “Gak usah ke tongkrongan, orang kita mau ke Jogja.”
“Ngapain?” seru Mikaila tak sabar.
Daffa menepuk mulutnya yang bocor seraya menendang kaki meja. “Goblok, malah ngasih tau!”
Mikaila terus memepet Daffa sampai pemuda itu menyeringai. “Deg-degan aku, Mik. Tegar juga pasti sama tuh kamu giniin.”
“Lama amat jawabnya, apa jangan-jangan kamu seneng di temenin tiga cewek di sini?”
“Najis!” Daffa buru-buru menyingkir, “kita mau taruhan balapan liar sama the horizon blast, Tegar jadi jokinya!”
Mikaila kontan meneriakkan nama Tegar yang memekik telinga. “Di mana lokasinya?”
“Hatinya Tegar, Mik. Udah deh ya, gak usah esmosi gini. Kalo kangen, deketin dong. Ya kan, Mel?”
“Yoi, Daff. Keburu di sambar Dela nanti nanges. Kita berdua juga yang repot!” Melody menyambar kunci dari tangan Mikaila. “Cari tau lokasinya juga gih, biar sekalian kalo mau caper gak setengah-setengah.”
“Rese nih kalian semua.” Mikaila mendengus. Dengan trik yang biasa dia lakukan, dia mengikuti Daffa terus-menerus sampai mengejarnya ke parkiran.
Mikaila menarik tas ranselnya, menahannya kuat-kuat dengan memasang kuda-kuda siaga 1. Sementara Melody dan Sarina yang perlu perdamaian pulang. Biarlah Daffa yang ganti mengurusnya.
“Bilang di mana, daripada aku teriak di ruang guru-guru kalian mau balapan liar? Mampus gak tuh?”
”Amit-amit, Mik! Jangan resek banget kamu, bisa ngamuk Drew ntar.”
“Ya udah bilang.”
Daffa memaki dirinya sendiri dengan jengkel. “Sore kita berangkatnya, di jembatan baru dekat pantai!”
Mikaila tersenyum puas seraya meninggalkan Daffa dengan langkah tanpa beban!
“Awas kalo ngadu ke sekolah, jangan mimpi bisa jadian sama Tegar!” seru Daffa saat melintasinya dengan motor bebek injeksi.
Mikaila menjulurkan lidah dengan mata yang terpejam. Dia duduk di samping pintu gerbang menunggu jemputan.
“Udah saatnya aku turun tangan lagi, gila aja pada mau balapan sebelum ujian pts! Mana sama the horizon blast lagi, si Mamat pasti ada! Atau jangan-jangan Tegar malah lawan dia lagi. Aduh mama...” Mikaila sontak dilanda cemas.
“Kalo tawuran lagi di mana aku taruh muka ini? Sialan! Drew... Ngapain ajak-ajak Tegar sih!”
Hingga pada malam Minggunya, kabar mengenai balapan liar yang bisa mendapatkan uang kolektif sebesar lima juta itu Mikaila datangi dengan menyewa ojek daring dari stasiun Lempuyangan.
Di jembatan baru di daerah pesisir selatan kota Jogja. Dengan panjang 556 meter dan melintasi Sungai Opak yang menghubungkan antara Parangtritis dan Tirtohargo menjadi tempat balap liar terkini.
Mikaila memandangi sekeliling dengan semilir angin dingin yang menerpa tubuhnya. Bak orang asing di perantauan, untuk pertama kalinya ia mencari-cari anggota The Evolve Wild di antara orang-orang yang tidak ia kenali yang memenuhi pinggir jalan di pukul sepuluh malam. Mikaila yakin ia merasa lebih baik bersama mereka daripada sendiri dan di goda!
“Itu dia.” Mikaila berlari ke arah Daffa yang membunyikan peluit dimulainya balapan.
Dua kendaraan di garis start melaju dengan kencang. Menimbulkan suara yang memancing perhatian para penonton.
“Mika!” gumam Tegar, sedikit konsentrasinya pecah, tetapi tangannya yang sudah menggeber motor dengan kecepatan tinggi membuatnya bereaksi gila-gilaan.
“Ngapain tu cewek di sini! Dalam bahaya gue! Anjir...”
Matthew menyeringai setelah melewati Tegar yang menoleh sekejap untuk melihat sekelebat Mikaila. “Anak baru itu perlu di kasih pelajaran!” Dengan sengaja Matthew meliukkan motornya, Tegar terkesiap lalu membanting stir ke samping dengan lihai. Iming-iming uang 3 juta demi kelancaran uang jajan dan uang jaga-jaga tetap membuatnya waras dalam kegilaan yang terjadi.
Tegar berusaha menjadi pemenang, mati-matian dia menyingkirkan rasa gugup dan adrenalinnya sekuat tenaga demi kepentingan pribadi dan geng. Tegar jelas sangat menyayangi ibunya, tapi sebagai anak broken home kadangkala ia butuh melampiaskan segala emosi buruknya tanpa menyakiti siapa pun.
Tak terima kalah, Matthew atau biasa di panggil Matt melampiaskan kekalahannya dengan menyeruduk Tegar yang menerima tepuk tangan meriah dari penonton hingga jatuh di aspal. Tegar yang tak terima menghajar balik Matt dengan menjotos pipinya. Emosi dan dihina, Tegar yang meluapkan seluruh amarahnya karena banyaknya stresor yang dia pendam sendiri selama bertahun-tahun membuat Matt babak belur dan tersungkur ke aspal.
Anggota The Horizon Blast merangsek maju, menyerang The Evolve Wild setelah tak terima mereka dikalahkan lagi oleh anak baru lagi dan lagi.
Perkelahian antar kelompok berlangsung, baik penonton dan warga setempat yang menonton menyoraki mereka untuk saling mengalahkan.
“Bikin mati, Dia!” seru Matthew.
Mikaila yang dilanda panik dan ketakutan berusaha melewati kegaduhan perkelahian sambil melindungi kepalanya dengan helm orang.
Mikaila menarik jaket Tegar yang sedang membungkuk sambil menjotos pipi Ben. “Ikut aku!”
Tegar menoleh, dia kaget dengan kehadiran Mikaila ditempat perkelahian. Tegar menendang lutut Ben sambil meluapkan kata-kata kasar seraya menarik tangan Mikaila keluar dari tempat perkelahian.
Mikaila menjerit keras. Minta tolong ke semua orang yang dilewatinya dengan Tegar yang mencengkeram pergelangan tangannya kuat-kuat.
Sementara perkelahian semakin memanas. Tegar melepas Mikaila di tempat yang lumayan sepi.
...***...
...Happy Reading...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Sri Wahyuni
keren bgt ini kalimat terakhir 👍👍👍👍
2023-12-11
0
suminar
😆😆😆😆😆
2023-08-18
0
suminar
😄😄😄😄😄
2023-08-18
0