“Makasih, Pak.” Mikaila mengulurkan ongkos ojek daring sebelum melangkah dengan riang ke halaman rumah Tegar.
“Tegar... Dinda...” serunya akrab seakan sudah dekat dengan penghuni rumah.
“Kak Mika.” Dinda terbelalak dan langsung mencelat dari karpet depan telivisi ke teras rumah. “Uuuu... Akhirnya kakak datang. Aku udah nungguin kakak daritadi!”
Mikaila terkekeh saat bocah cilik itu memeluknya. “Dinda nunggunya lama...” keluhnya setengah manja dan merajuk.
“Ya udah ayo masuk.” ajak Mikaila sambil mengusap rambut bocah yang nyaris seminggu ini menjadi kawannya dalam mengganggu Tegar. “Tapi kak Tegar ada kan?”
“Di kamar, bobok-bobokan.” Dinda menyeret ‘teman mainnya’ ke dalam rumah. “Kak... Kakak, guru les Mika udah datang nih.”
Tegar melirik ke ambang pintu seraya menutup mukanya dengan bantal. “Tuh cewek kenapa seneng banget datang ke sini!”
“Kakak! Dicariin kak Mika, mau belajar bareng.” seru Dinda sembari berusaha menyingkirkan bantal dari muka Tegar sekuat tenaga. “Kakak jangan males, nanti aku marah kayak mama lho. Nanti Dinda nangis-nangis sambil mukul pantat kakak!”
Halah, bocah... Brisik banget!
Tegar mati-matian menahan bantalnya agar menutupi kupingnya dengan baik. Skorsing yang akan selesai hari ini membuat Mikaila jadi sering mendatanginya sepulang sekolah untuk memberikan materi-materi pelajaran yang tertinggal. Sungguh di luar nurul! Di antara gengnya cuma Mikaila yang datang tanpa pamrih dengan misi terselubung yang sangat ia mengerti maksudnya.
Gadis keras kepala itu menyukainya dengan berkedok mulut ceplas-ceplos dan tanggung jawab ketua osis. Ngeri deh, baru kali ini Tegar disukai dengan blak-blakan.
“Kakak, bangun!” Dinda menggigit lengannya. Spontan Tegar menggeram lalu melototi adiknya yang terkekeh. “Gitu dong kak, bangun, orang di cari tamu!”
“Kamu main sama kak Mika aja, kakak udah pinter!” ucap Tegar jengkel. Pantang mundur pula adiknya mengganggu kakaknya. Dia menarik tangan Tegar sambil menyuruh Mikaila membantunya.
Sambil nyengir kuda, Mikaila menarik tangan Tegar satunya. “Ayo, Gar. Minggu depan kita udah mau PTS lho! Kamu harus membuktikan ke Bu Weni dan Pak Rama kalo kamu suangat berprestasi bukan cuma balapan doang yang pinter!”
Tegar melotot sambil menghempaskan tangannya dan adik sekali jadi.
“Gak usah kasih nasihat ke gue! Gue tau.”
“Buktiin!” tantang Mikaila.
Tegar bangkit dari kasurnya seraya menutup mata adiknya dan mendekati Mikaila sampai gadis itu terperangkap di sudut kamarnya.
“Kakak mau apa?” tanya Dinda sambil menyentuh telapak tangan Tegar yang menutup matanya. “Kakak mau main hide and seek? Dinda bisa nutup mata sendiri.”
“Kalo gitu kamu keluar, sembunyi, nanti kakak cari.” Tegar melepas tangannya, terbirit-birit sang adik keluar kamar hingga membuat Mikaila mendengus pelan.
Dih, malah pergi. Kan aman ada Dinda, nih gorila gak berani macam-macam!
Tegar menyeringai sembari berkacak pinggang mendapati gadis yang menggembungkan pipinya itu tak berani menatapnya. “Seneng lo ketemu gue lagi dan lagi di rumah ini sampe nyokap dan adik gue suka sama lo?”
“Seneng lah, masa enggak. Gak normal aku berarti.” jawab Mikaila geli tapi takut. “Mundur deh, Gar. Aku sulit bernapas ini! Lagian kenapa sih kamu dekat-dekat aku? Kangen juga?”
Tegar terkesiap. Meskipun ia sudah banyak pengalaman berpacaran yang tidak perlu banyak pertimbangan. Sekarang kasusnya beda. Jelas yang satu ini membingungkan. Kecantikannya dan rasa pedulinya pada semua orang sulit membuatnya menyimpulkannya beneran suka gak Mikaila sama dia? Apa jangan-jangan cuma basa-basi doang?
Meskipun begitu, jelas Tegar girang banget dalam hati bisa mengerjai balik gadis kolot dan cantik di depannya. Parasnya sih masih cuek banget.
“Sori banget gue gak kangen sama lo, gue lebih kangen Daffa dan sekolah.”
“Oh iya-iya-iya, gak masalah kok gak kangen. Tapi ntar antar pulang ya. Gak punya ongkos aku!”
Tegar meraih dompet di meja belajarnya yang berantakan seraya mengeluarkan uang 50rb.
“Cukup buat bayar ojek dan beli cilok!” Tegar menyelipkan uang itu di tangan Mikaila.
“Makasih deh, tapi kemarin aku udah janji loh sama Dinda buat main ke rumah aku karena jadwal les kamu selesai hari ini. Jadi nanti tetap di antar pulang. Bertiga sama Dinda, mau kan kakak Tegar?” ucap Mikaila manja sambil mencondongkan tubuh ke arahnya.
Sedetik mereka hanya berdiri diam dalam keterperangahan saat Shinta bersiul-siul di ambang pintu.
“Kasian tuh adiknya ngumpet lama, Gar. Di cari dong, ntar dulu pacarannya. Kasian dia keburu ngompol.”
“Kita gak pacaran, Ma!” Tegar langsung berbalik, memungut laptop dan bukunya di meja belajar sementara wajah Mikaila semakin merona.
“Kita gak ngapa-ngapain kok, Tant. Sumpah.” ucap Mikaila seraya ngacir keluar kamar melewati Shinta yang beraroma deterjen cair.
Shinta menyunggingkan senyum dengan sikap salah tingkah kedua remaja itu.
“Mama sih gak heran dia naksir kamu, Gar. Cocok kalian, kamu sangar, dia imut-imut. Lucu, gemas. Coba deh kamu cubit pipinya. Bisa pingsan dia.”
“Apa sih, Ma. Jangan bikin dia tambah GR!” Tegar melengos dari kamar. Meninggalkan Shinta yang geleng-geleng kepala.
“Giliran insyaf jadi playboy, susah banget anak mama jatuh cinta.”
Di ruang tamu tanpa banyak perabotan, Tegar berseru. “Dind... Dinda, keluar deh, kakak udah selesai mainnya.”
Dinda keluar dari samping mesin cuci sambil cemberut parah, kakinya menghentak lantai dengan kesal.
“Kakak belum nyari aku kan, masa udah selesai mainnya! Kakak mah gak seru.” keluh Dinda sambil merengek.
“Ntar gantinya kakak antar ke rumah kak Mika, sekarang kamu belajar juga sama guru les privat mulok kamu ini.”
Mikaila nyengir sambil mengeluarkan bukunya dari tas saat Dinda langsung mengiyakan dengan senang.
“Buktiin besok PTS nilaimu lebih bagus dari aku. Nanti aku traktir bakso kalo menang, kalo kamu kalah. Aku ngomel-ngomel setiap hari dan jadi guru les kamu, termasuk mulok khusus adat Solo!”
Tegar menyorot tajam wajah Mikaila. “Gue terima tantanganmu!”
Mikaila tersenyum senang. Gini caranya bikin nih cowok punya ambisi lagi ke sekolah. Haha.
Di antara rasa prihatinnya, Mikaila pun tetap mengomeli Tegar seperti ibu-ibu yang resah punya anak ngeyel. Mikaila yang awalnya tidak begitu mengerti kondisi asli keluarga Tegar mulai trenyuh setelah Shinta bercerita diam-diam siapa mereka sesungguhnya selama pertemuan keduanya di rumah itu. Secara langsung, misi terselubung Mikaila melampaui banyak disposisi dan perubahan rencana. Termasuk perasaan trenyuh yang menjadi perhatian. Jadi satu-satunya yang akan maju ke kancah pertempuran adalah keras kepala dan hatinya. Yang lain cuma bumbu! Meski keduanya tidak sadar, yang tercampur dan terasa adalah bumbu asmara.
...***...
^^^Bersambung ^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Umine LulubagirAwi
mika2, sdh pintr, bnyk akal juga buat djetin tegar dan nymngtin tegar buat smngt skolh.
💖💖💖
2023-09-01
0
suminar
😄😄😄😄😄
2023-08-19
0
CebReT SeMeDi
waaaawaaaawwww bumbu ne opo mik, jahe kunir opo Lombok setan 🤣🤣
2023-08-19
1