Perkelahian semakin memanas, baik The Evolve Wild dan The Horizon Blast saling mengeluarkan sisa-sisa tenaga yang tersisa dari dalam tubuh yang sudah babak belur dan ngilu-ngilu.
Di antara mereka yang sedang mempertahankan gengsi diri dan nama geng dalam kemeriahan adu gengsi, Tegar menatap Mikaila dengan wajah membunuh di tengah jembatan yang mempunyai panorama ujung sungai opak yang bermuara ke laut selatan Jawa. Sungguh indah sebetulnya pemandangan di sana, lampu-lampu warna-warni yang silih berganti menyala menghiasi jembatan,tetapi mana mungkin mereka menghiraukannya.
“Ngapain lo ke sini?” teriak Tegar marah, wajahnya babak belur. Darah menetes dari bibir dan pelipisnya yang sobek.
“Kamu masih tanya aku ngapain ke sini? Gak jelas kedatanganku buat apa!” teriak Mikaila dengan muka nyolot. “Kamu tu cuma anak baru di sekolah, gak usah cari masalah! Apa kamu gak paham kalo aku juga dalam masalah setelah tawuran ini!”
Tegar mencengkeram rahang Mikaila, “Berani-beraninya lo marahin gue? Maksudmu apa?”
“Aku kangen sama kamu!” seru Mikaila dengan suara menggelegar.
Tubuh Tegar bergeming, terpana pada kata-kata di luar nalar. Kangen? Dia menatap wajah Mikaila yang berubah cemas bahkan tangannya terjulur, mengusap darah di wajahnya dengan jaket rajut pemberiannya.
“Aku sengaja datang ke sini setelah neror Daffa karena heran sama perubahanmu. Aku mau lihat kamu gak kenapa-kenapa, tapi ternyata aku telat!”
Tegar melepas rahang Mikaila seraya membuang muka. Dia menatap segara dalam diam yang mencurigakan. Sesungguhnya dia belum mempunyai perasaan apa pun padanya, apalagi rasa sayang. Ia hanya senang, beberapa kehadiran Mikaila seperti permen manis di hidupnya.
“Kita pulang, Gar.” gumam Mikaila sambil menyentuh lengannya hati-hati. “Aku udah janji sama Daffa gak bilang ke siapa-siapa kok, kalian tenang aja, cuma kalo dari sekolah mereka yang laporan, aku dalam masalah besar! Itu tandanya aku gak pecus jadi wakil siswa. Hukumannya sama.” imbuhnya dengan sendu.
Demi Tuhan. Tegar tak memikirkan risiko lain dari adu balap yang berujung tawuran. Dia hanya memikirkan menang, uang dan geng tanpa ada secuil Mikaila di benaknya.
Tegar menoleh ke keramaian. Tawuran sudah di bubarkan warga setempat yang melakukan patroli malam. Matthew dilarikan ke rumah sakit akibat banyaknya luka dan ide terselubung di baliknya. Tapi sebelum meninggalkan lokasi tawuran, The Horizon Blast mengancam akan melakukan balas dendam.
Tegar mengusap pelipisnya yang mengeluarkan darah segar. “Ke tempat mereka!”
Mikaila mengusap tangannya yang berkeringat dingin. “Gar, kamu gak papa?” tanyanya sambil mengikuti Tegar yang tetap berjalan angkuh di depannya.
“Menurutmu kangen doang bikin aku otomatis sehat?”
Mikaila memukul lengannya dan menyeringai malu. “Antar aku pulang ya, aku pake ojek tadi ke sininya.”
Tegar mengapit lengan Mikaila saat sepeda motor melintas dengan kecepatan tinggi.
“Jangan nambah masalah dengan celakanya lo di sini!”
Mikaila menyandarkan kepalanya di bahu Tegar sekilas. Sudahkah perasaan kangen itu terbayarkan? Belum tentunya, Mikaila masih frustasi karena perlu menghadapi The Evolve Wild yang terkapar di bahu jalan. Ngilu-ngilu berdarah.
“Pokoknya aku gak mau tau, kalian usahakan jangan sampai Mamat dkk laporan ke sekolah!” seru Mikaila marah di depan Drew yang tampak bonyok di bagian tulang pipinya.
Drew sendiri yang terbakar emosi langsung melempari Mikaila dengan sepatunya.
“Bisa gak diam dulu! Matamu emangnya gak lihat-lihat kita lagi apa.”
“Senior kampret. Ini juga gara-gara kamu juga kali!” Mikaila melempar balik sepatu bau yang mengenai perutnya.
“Bukan tobat mau ujian kalian semua malah bikin masalah. Kamu juga, Lil. Gak bisa apa bikin pacarmu nyadar diri?”
Lila yang sedang mengeluarkan kapas dan obat merah sebagai jaga-jaga mendengus. “Daripada cuma bawel mendingin kamu bantuin aku ngobatin mereka terus balik daripada polisi keburu datang. Ketua OSIS kok gak peka!”
“Sialan, kenapa aku juga kena!” Mikaila menyambar kapas dan obat merah dari tangan Lila. “Kamu, kamu, kamu ikut aku.”
Tegar, Daffa, dan Wicak mengikuti Mikaila ke tempat yang lebih terang cahayanya. Mereka berempat bersila di trotoar jalan.
Dengan perasaan dongkol, Mikaila mengembuskan napas seraya mengolesi wajah Tegar yang terluka dengan hati-hati. Pertunjukan itu membuat Daffa cengar-cengir.
“Cie..., kangen katanya sama kamu, Gar.”
Wajah Tegar mengeras saat Mikaila menempelkan kapas di lukanya dengan tekanan yang berlebih.
“Dah tau!” Tegar menyingkirkan tangan Mikaila.
“Terus-terus, kamu jawab aku juga kangen gitu gak?” celetuk Daffa.
Tegar melirik Mikaila yang nampaknya mengatupkan bibirnya rapat-rapat dengan wajah yang merona.
“Buat apa kangen, bikin susah hati!”
“Tegar!” bentak Mikaila. “Gak usah bilang gitu juga kali kalo gak kangen. Cukup aku aja.”
Tegar cs saling berpandangan. Daffa menyeringai lebar, “Sabar deh, Mik. Tegar gak semudah itu bilang kangen ke cewek, dia mikir-mikir juga kali kangen sama kamu. Kamu bukan siapa-siapanya.”
Mikaila cemberut sambil mengambil kapas dan menuangkannya obat merah. “Sini kamu.”
Daffa meraih kapas itu lalu angkat tangan. “Biar Wicak sama aku.”
Buru-buru Mikaila memindahkan bungkusan kapas dan obat merah ke Daffa yang tidak terluka berat. Dia berdiri, setelah cukup beristirahat dan memastikan tidak ada yang terluka serius ia menyuruh semuanya ngumpul.
“Kita pulang sekarang, sekalian aku gak mau tau ya. Jangan ada yang sebut-sebut tawuran antar geng kalo Mamat dkk juga diam aja. Kalian bisa alasan sakit diare kek, berantem sama sodara, latihan tinju atau apalah, jangan bareng-bareng izin sekolahnya!”
Drew meludah, “Kita kumpul di basecamp. Rapat di bawah kekuasaanku, bukan ketua OSIS sok-sokan ikut campur.”
Mikaila menendang ban motor Drew. “Antar Lila pulang, jangan mampir-mampir!” katanya galak.
Drew mendengus, ia mengomandoi beberapa anggota The Evolve Wild yang meninggalkan Tegar, Daffa, Wicak dan Mikaila.
“Kamu yakin mau balik tanpa helm, Mik? Jogja-Solo tiga jam dari sini!” ucap Daffa bersimpati. “Atau mau kita antar ke stasiun?”
“Bareng-bareng aja, KRL jam lima pagi baru mulai operasi.”
“Urus Mika, Gar!” Daffa menepuk pundaknya seraya naik ke atas motor. Ia menatap sepasang pemuda-pemudi yang berwajah sama. Muram. “Lewat jalan tadi, pake GPS.”
Tegar yang lelah menyentuh pipi Mikaila dengan tangannya yang berbau anyir.
“Makasih udah datang, tapi sebenarnya gak perlu. Aku bukan bocah!”
“Bawel, udah ayo pulang aja. Aku takut!”
Tegar memakai helm seraya membalikkan jaketnya, “Bisa masuk sini kalo kamu kedinginan!”
Tawaran empuk itu Mikaila senyumi. Tetapi dia juga tak secepat itu terkena rayuan basa-basinya.
Mikaila naik ke motor. Dengan semilir angin malam di bawah langit Yogyakarta yang menemani perjalanan panjang mereka ke Solo. Tegar menjelaskan alasannya ikut balapan, ekonomi keluarganya memburuk dan sepanjang Mikaila memaksakan diri membonceng Tegar di pagi buta tanpa helm. Mikaila yang kedinginan meminta izin memeluknya dengan basa-basi anak muda yang kentara malunya. Tegar sendiri kontan merasa situasi dalam hatinya ikut menghangat.
Gak bisa gini, gue takut jatuh cinta.
Tegar menyentuh tangan Mikaila yang bersembunyi di balik jaketnya. “Lo mau makan dulu biar gak makin kedinginan?”
“Ngantuk.” Mikaila menyandarkan kepalanya di punggungnya. “Aku takut di marahin mama, Gar.”
“Aku antar ke rumah Melody, kamu alasan nginap di sana!” Tegar mengeratkan genggamannya sebelum menggeber motornya menebus malam dalam hening yang menjelma jadi kebisuan panjang.
...***...
...Happy Reading....
...Yang penasaran sama arena balapnya bisa cek ig vivi ya. ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Cut SNY@"GranyCUT"
Mulai kali ini Mikaila harus menjadi hal yang dipertimbangkan oleh Tegar
2023-08-09
0
Cindy Ralisya
ciyeee akhirnya
2023-08-03
0
CebReT SeMeDi
buset Jogja Solo ga Helm an auto bredel 🫣🫣
2023-07-30
1