Chapter 6 : Tanggung Jawab Aku!

“Gar... Tebak deh, mana yang betina dan jantan?” seru Mikaila sembari mengangkat wadah ikan kecil ke depan muka pemuda yang baru sampai kelas.

Tegar membuang napas kasar lalu menyingkirkan wadah yang dipenuhi wajah keluarga kodok dari kecil sampai segede kepalan tangan.

“Aku bisa lihat sendiri!” ucapnya dingin.

“Ya udah ayo lihat bareng-bareng!” Mikaila menyeretnya ke kursi dengan santai seolah Tegar sudah lama menjadi teman baiknya.

Senyum Melody dan Sarina melebar, Tegar merapatkan giginya sambil menarik napas dan menghelanya.

Kenapa gue jadi ikutan geng cewek, gak bisa dibiarkan lama-lama ini. Gak bisa!

Mikaila menaruh wadah itu di tengah meja, untung Bu Weni cukup waras dengan meringankan beban murid -muridnya agar memperbesar kelompok praktikum setelah beratus-ratus protes dilayangkan kepadanya.

“Buruan tebak, Gar. Soalnya kata Bu Wen harus kodok jantan yang di bedah!” Mikaila bersikeras menemukan jawaban. “Gak boleh kodok betina karena takutnya nanti lagi hamil dan kita merusak penerus bangsa kodok di bumi ini!”

Tegar menarik alisnya ke atas dan memandang wadah ikan dengan kepala dimiringkan cukup lama.

Mikaila cs ikut memandangi wadah itu sampai mengernyitkan dahi.

“Ada gak?” tanya Mikaila seraya menoleh, Tegar mengamatinya dari dekat sampai Mikaila mengulum senyum. Kembali ia memandang wadah ikan seperti salah tingkah. “Jangan-jangan pak tani lupa pesanku?”

“Ada!” seru Tegar tiba-tiba sambil membuka wadah dari plastik itu dan mengambil salah satu kodok seraya menyerahkannya ke Mikaila. “Tuh kodok jantan!”

Lalu dengan kepanikan dan keterkejutan yang melanda. Empuknya kodok di genggamannya membuat Mikaila terlambat menjerit-jerit seraya melemparnya ke sembarang arah. Kodok itu mendarat di meja Dela yang sedang bedakan. Dela menjerit histeris lalu dengan tasnya ia menyingkirkan kodok itu hingga kembali terlempar ke muka Daffa yang baru saja menoleh. Daffa meraup kodok itu dari mukanya seraya berlari kecil, menakuti-nakuti gadis-gadis yang mulai menjerit-jerit histeris sampai lari ke sana kemari tak beraturan di antara meja-kursi.

Mikaila tertawa sambil bersembunyi di balik Tegar sambil mencengkeram pinggangnya, diikuti sahabatnya. Mereka minta perlindungan tetapi kegaduhan di kelas terhenti saat Bu Weni datang dan berseru sambil menggebrak papan tulis.

“Kodok siapa tuh! Amankan, bawa ke lab!”

Daffa mengembalikan kodok itu ke Tegar, Daffa tersenyum lebar. “Seru juga, Bray. Aku Daffa, gabung ke mejaku gih, gak usah sama Mika. Rese nih cewek!”

“Eits...” Mikaila langsung pasang badan. “Lagi ospek! Gak boleh terkontaminasi oleh kamu dan kamu...” Mikaila menunjuk Wicak, anggota geng The Evolve Wild yang berisikan kumpulan cowok-cowok berandalan sekolah yang menjadi teman sekelasnya.

“Gak sekarang, Daff. Minggir sana, Tegar masih tanggung jawab aku!” seru Mikaila penuh semangat.

Tegar ingin sekali mencengkeram ikat rambut yang dipakai Mikaila dan menghadap wajah gadis yang berani-beraninya mengambil alih tanggung jawab bokap dan nyokapnya untuk menjaganya.

Daffa menyeringai pada Tegar. “Jangan lupa minta duit jajan sama pengampumu, Gar. Mayan nih, ketua OSIS bisa jadi mamak dadakan!”

“Mulutmu asal jeplak!” Mikaila mendorong bahu Daffa yang terbahak.

Tegar memasukan kodoknya ke wadah dengan bermuka datar saat Mikaila meraih buku dan pulpennya. Berbondong-bondong sekelas menuju ruang lab di lantai dua.

“Terus di antara kita siapa dong yang kebagian jadi tukang bedahnya?” tanya Sarina di belakang Tegar dan Mikaila yang berjalan berdampingan. “Jangan aku deh, ngeri banget.”

“Terus kamu cuma mau nasihati kita-kita gitu, Sar?” protes Mikaila gemes. “Protes hanya berlaku untuk masalah kesiswaan dan OSIS!”

“Aku traktir makan pizza sepulang sekolah terus aku jadi sekertarisnya deh. Bagian catat mencatat.” Sarina nyengir lebar.

Melody mencibirnya dengan memasang muka jelek di belakang Sarina. “Gak bisa, semua harus kerja! Tapi untuk bedah-membedah, Tegar sih oke.” pungkas Melody.

Wajah Tegar memucat, ia berjalan gelisah sampai telapak tangannya berkeringat. Alih-alih seneng mempunyai teman baru, Daffa dan Wicak yang berada di depan mereka dengan membanggakan gengnya, ia justru dilanda musibah lokal. Deg-degan parah.

“Setuju gak nih?” tanya Mikaila.

“Namanya kerja kelompok, kerja bareng-bareng! Lagian gue anak baru di sini, belum tahu tata tertib laboratorium!”

“Itu sih gampang, ntar aku yang persiapkan alat-alatnya, kamu eksekusi.” sahut Mikaila.

Tegar menatap sinis Mikaila yang kemarin sepanjang mencari bengkel terus berceloteh tentang tanya jawab seputar ia dan kehidupan di Jakarta.

“Gue takut!” Jantungnya berdebar keras.

Mikaila menyunggingkan senyum sebelum masuk ke ruang laboratorium.

“Pokoknya praktikum anatomi tubuh kodok dan metamorfosisnya harus bernilai bagus. Serahin ke aku kalo kalian bertiga takut. Cemen!”

Sialan! desis Tegar dalam hati. Nih cewek emang belagu, sinting, tapi anehnya gue memperhatikannya! Sial... sial, gue gak cemen. Gue takut darah dan geli, mual.

Lima belas menit kemudian, setelah menyiapkan peralatan khusus pembedahan anatomi tubuh hewan di meja panjang dan mikroskop.

Tegar dan Mikaila berlomba-lomba menunjukkan yang terbaik di antara kelompok yang lain dengan kerja sama yang solid. Melody dan Sarina saling menatap diam-diam sambil cengar-cengir. Keduanya merasa diuntungkan dengan tabiat sahabat mereka dan keangkuhan Tegar di balik topeng anak baru penurut.

“Kayaknya ada yang bakal cinlok, Mel.” bisik Sarina di belakang tubuh Mikaila dan Tegar yang membungkuk serius.

Melody balas berbisik. “Biarin aja, Sar. Kita terima bersih.”

Dela yang menguping pembicaraan keduanya mendengus. “Cinlok... cinlok, Tegar milik umum kali. Bukan milik ketua sosis doang. Lihat aja, aku bakal jadi saingan Mikaila!” batinnya sebal.

Dengan muka culas dia mencolek pinggang Tegar melewati tubuh Sarina dan Melody.

“Apaan!” Tegar menoleh dengan raut wajah dingin.

Dela tersenyum manis, penting baginya menunjukkan pesonanya yang ciamik dan lugu yang dibuat-buat.

“Bisa bantuin kita gak? Gak ada yang berani bedah kodok ini. Kita-kita kasian, gak tega.” Dela menunjuk kodoknya yang masih di dalam toples bekas.

Tegar mengerutkan kening, menimbang-nimbang permintaan Dela dan kelompoknya yang sedaritadi meributkan siapa yang mau mengambil kodok itu.

Mikaila mendengus dingin dan kembali fokus memfoto anatomi tubuh kodok itu dengan hpnya sebelum nanti ia harus menggambarnya di buku dan menulis rinciannya.

“Kalo mau bantuin, bantuin aja, pahala buat kamu... Gar. Tapi cuma bedahnya doang, lainnya gak usah. Manja tuh cewek!”

Senyum Tegar mengembang oleh rasa puas setelah membuat Mikaila cemberut luar biasa, ia berdiri dan pindah ke tengah-tengah para cewek anggota pemandu sorak yang berseru kegirangan dengan kehadirannya.

Tegar menoleh sekilas. Punggung Mikaila terlihat tegang.

Gue yakin, Dela sama Mika musuh bebuyutan. Tapi seru juga bikin cewek rese itu diam. Senyum Tegar mengembang.

...***...

...Happy Reading ...

Terpopuler

Comments

Cut SNY@"GranyCUT"

Cut SNY@"GranyCUT"

Coba lihat, si kodok tertariknya sama siapa? kalo tertarik sana Mikaila berarti kodok jantan, kalo sama Tegar berarti betin😜

2023-08-09

1

Cut SNY@"GranyCUT"

Cut SNY@"GranyCUT"

👍👍👍

2023-08-09

0

CebReT SeMeDi

CebReT SeMeDi

jiahhh tegar lagi ngetes Mikail rupanya, jgn smpe malah u sendiri yg naksir dluan gar🤣🤣 abiyasa edan

2023-07-30

1

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 : Dibuang Ayah.
2 Chapter 2 : Manusia Bumi
3 Chapter 3 - Tagihan Perdebatan
4 Chapter 4 - Telen Beban
5 Chapter 5 - Emosi Tragedi
6 Chapter 6 : Tanggung Jawab Aku!
7 Chapter 7 : Persoalan Genting
8 Chapter 8 : Persoalan Genting 2
9 Chapter 9 : Balapan Lucu
10 Chapter 10 : Tawuran
11 Chapter 11 : Takut Jatuh Cinta
12 Chapter 12 : Aksi Matt
13 Chapter 13 : Ngegas
14 Chapter 14 : Drew cs & Mika.
15 Chapter 15 : Musuh Dalam Sekolah
16 Chapter 16 : Masuk Sarang Musuh
17 Chapter 17 : Panji Perang
18 Chapter 18 : Lawan Jadi Kawan
19 Chapter 19 : Kepergok
20 Chapter 20 : Meledak
21 Chapter 21 : Salting
22 Chapter 22 : Iya, Sayang.
23 Chapter 23 : Ring Road Love
24 Chapter 24 : Bersenang-senang
25 Chapter 25 : OMG
26 Chapter 26 : Kekacauan
27 Chapter 27 : Kalah
28 Chapter 28 : Kerja Sama Terselubung
29 Chapter 29 : Toleransi nol
30 Chapter 30 : Wuu...
31 Chapter 31 : Melambungkan Fantasi
32 Chapter 32 : Bolos Bersama
33 Chapter 33 : Saingan, Iya...
34 Chapter 34 : Hukuman
35 Chapter 35 : Gulma
36 Chapter 36 : Back Street
37 Chapter 37 : Emang Enak
38 Chapter 38 : Loyal
39 Chapter 39 : Pahit & Pedas
40 Chapter 40 : Kabut
41 Chapter 41 : Manisnya Hukuman
42 Chapter 42 : Sidang Keluarga
43 Chapter 43 : Sinarnya Redup
44 Chapter 43 : Sedikit Balasan
45 Chapter 45 : Markijayyy
46 Chapter 46 : Membingungkan
47 Chapter 47 : B-e-r-a-n-i
48 Chapter 48 : Sensasi Mematikan
49 Chapter 49 : Kok Bisa Ya?
50 Chapter 50 : Ribut
51 Chapter 51 : Sangar
52 Chapter 52 : Menggila
53 Chapter 53 : Erat
54 Chapter 54 : Meeting Points
55 Chapter 55 : SERI
56 Chapter 56 : Gak Mudah
57 Chapter 56 : Maju Ke Depan
58 Chapter 58 : Heuheu
59 Chapter 59 : Bujuk Rayu
60 Chapter 60 : Tersedak
61 Chapter 61 : Ngeri
62 Chapter 62 : Parau
63 Chapter 63 : Gila sih
64 Chapter 64 : Baper
65 Chapter 65 : Good Goodbye
66 Chapter 66 : Evoleventador
67 Chapter 67 : Iya berdua
68 Chapter 68 : Lulus
69 Chapter 69 : Hadiah
70 Chapter 70 : Menolak Kembali
71 Chapter 71 : Drama Sekolah
72 Chapter 72 : Back Off
73 Chapter 73 : Prediksi Tepat
74 Chapter 74 : Engagement Day
75 Chapter 75 : Bertemu Kamu
76 Chapter 76 : Takut
77 Chapter 77 : Merana
78 Chapter 78 : Reuni
79 Chapter 79 : Malu & Takut
80 Chapter 80 : Balapan Terakhir
81 Chapter 81 : Before Wedding
82 Chapter 82 : Wedding Agreement
83 Chapter 83 : Usaha
84 Chapter 84 : Quiz
85 Chapter 85 : Goals
86 Chapter 86 : A love
87 Chapter 87 : Kacau
88 Chapter 88 : Mabuk Aturan
89 Chapter 89 : Bos kecil
90 Bab 90 : Epilog
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Chapter 1 : Dibuang Ayah.
2
Chapter 2 : Manusia Bumi
3
Chapter 3 - Tagihan Perdebatan
4
Chapter 4 - Telen Beban
5
Chapter 5 - Emosi Tragedi
6
Chapter 6 : Tanggung Jawab Aku!
7
Chapter 7 : Persoalan Genting
8
Chapter 8 : Persoalan Genting 2
9
Chapter 9 : Balapan Lucu
10
Chapter 10 : Tawuran
11
Chapter 11 : Takut Jatuh Cinta
12
Chapter 12 : Aksi Matt
13
Chapter 13 : Ngegas
14
Chapter 14 : Drew cs & Mika.
15
Chapter 15 : Musuh Dalam Sekolah
16
Chapter 16 : Masuk Sarang Musuh
17
Chapter 17 : Panji Perang
18
Chapter 18 : Lawan Jadi Kawan
19
Chapter 19 : Kepergok
20
Chapter 20 : Meledak
21
Chapter 21 : Salting
22
Chapter 22 : Iya, Sayang.
23
Chapter 23 : Ring Road Love
24
Chapter 24 : Bersenang-senang
25
Chapter 25 : OMG
26
Chapter 26 : Kekacauan
27
Chapter 27 : Kalah
28
Chapter 28 : Kerja Sama Terselubung
29
Chapter 29 : Toleransi nol
30
Chapter 30 : Wuu...
31
Chapter 31 : Melambungkan Fantasi
32
Chapter 32 : Bolos Bersama
33
Chapter 33 : Saingan, Iya...
34
Chapter 34 : Hukuman
35
Chapter 35 : Gulma
36
Chapter 36 : Back Street
37
Chapter 37 : Emang Enak
38
Chapter 38 : Loyal
39
Chapter 39 : Pahit & Pedas
40
Chapter 40 : Kabut
41
Chapter 41 : Manisnya Hukuman
42
Chapter 42 : Sidang Keluarga
43
Chapter 43 : Sinarnya Redup
44
Chapter 43 : Sedikit Balasan
45
Chapter 45 : Markijayyy
46
Chapter 46 : Membingungkan
47
Chapter 47 : B-e-r-a-n-i
48
Chapter 48 : Sensasi Mematikan
49
Chapter 49 : Kok Bisa Ya?
50
Chapter 50 : Ribut
51
Chapter 51 : Sangar
52
Chapter 52 : Menggila
53
Chapter 53 : Erat
54
Chapter 54 : Meeting Points
55
Chapter 55 : SERI
56
Chapter 56 : Gak Mudah
57
Chapter 56 : Maju Ke Depan
58
Chapter 58 : Heuheu
59
Chapter 59 : Bujuk Rayu
60
Chapter 60 : Tersedak
61
Chapter 61 : Ngeri
62
Chapter 62 : Parau
63
Chapter 63 : Gila sih
64
Chapter 64 : Baper
65
Chapter 65 : Good Goodbye
66
Chapter 66 : Evoleventador
67
Chapter 67 : Iya berdua
68
Chapter 68 : Lulus
69
Chapter 69 : Hadiah
70
Chapter 70 : Menolak Kembali
71
Chapter 71 : Drama Sekolah
72
Chapter 72 : Back Off
73
Chapter 73 : Prediksi Tepat
74
Chapter 74 : Engagement Day
75
Chapter 75 : Bertemu Kamu
76
Chapter 76 : Takut
77
Chapter 77 : Merana
78
Chapter 78 : Reuni
79
Chapter 79 : Malu & Takut
80
Chapter 80 : Balapan Terakhir
81
Chapter 81 : Before Wedding
82
Chapter 82 : Wedding Agreement
83
Chapter 83 : Usaha
84
Chapter 84 : Quiz
85
Chapter 85 : Goals
86
Chapter 86 : A love
87
Chapter 87 : Kacau
88
Chapter 88 : Mabuk Aturan
89
Chapter 89 : Bos kecil
90
Bab 90 : Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!