“Gar... Tebak deh, mana yang betina dan jantan?” seru Mikaila sembari mengangkat wadah ikan kecil ke depan muka pemuda yang baru sampai kelas.
Tegar membuang napas kasar lalu menyingkirkan wadah yang dipenuhi wajah keluarga kodok dari kecil sampai segede kepalan tangan.
“Aku bisa lihat sendiri!” ucapnya dingin.
“Ya udah ayo lihat bareng-bareng!” Mikaila menyeretnya ke kursi dengan santai seolah Tegar sudah lama menjadi teman baiknya.
Senyum Melody dan Sarina melebar, Tegar merapatkan giginya sambil menarik napas dan menghelanya.
Kenapa gue jadi ikutan geng cewek, gak bisa dibiarkan lama-lama ini. Gak bisa!
Mikaila menaruh wadah itu di tengah meja, untung Bu Weni cukup waras dengan meringankan beban murid -muridnya agar memperbesar kelompok praktikum setelah beratus-ratus protes dilayangkan kepadanya.
“Buruan tebak, Gar. Soalnya kata Bu Wen harus kodok jantan yang di bedah!” Mikaila bersikeras menemukan jawaban. “Gak boleh kodok betina karena takutnya nanti lagi hamil dan kita merusak penerus bangsa kodok di bumi ini!”
Tegar menarik alisnya ke atas dan memandang wadah ikan dengan kepala dimiringkan cukup lama.
Mikaila cs ikut memandangi wadah itu sampai mengernyitkan dahi.
“Ada gak?” tanya Mikaila seraya menoleh, Tegar mengamatinya dari dekat sampai Mikaila mengulum senyum. Kembali ia memandang wadah ikan seperti salah tingkah. “Jangan-jangan pak tani lupa pesanku?”
“Ada!” seru Tegar tiba-tiba sambil membuka wadah dari plastik itu dan mengambil salah satu kodok seraya menyerahkannya ke Mikaila. “Tuh kodok jantan!”
Lalu dengan kepanikan dan keterkejutan yang melanda. Empuknya kodok di genggamannya membuat Mikaila terlambat menjerit-jerit seraya melemparnya ke sembarang arah. Kodok itu mendarat di meja Dela yang sedang bedakan. Dela menjerit histeris lalu dengan tasnya ia menyingkirkan kodok itu hingga kembali terlempar ke muka Daffa yang baru saja menoleh. Daffa meraup kodok itu dari mukanya seraya berlari kecil, menakuti-nakuti gadis-gadis yang mulai menjerit-jerit histeris sampai lari ke sana kemari tak beraturan di antara meja-kursi.
Mikaila tertawa sambil bersembunyi di balik Tegar sambil mencengkeram pinggangnya, diikuti sahabatnya. Mereka minta perlindungan tetapi kegaduhan di kelas terhenti saat Bu Weni datang dan berseru sambil menggebrak papan tulis.
“Kodok siapa tuh! Amankan, bawa ke lab!”
Daffa mengembalikan kodok itu ke Tegar, Daffa tersenyum lebar. “Seru juga, Bray. Aku Daffa, gabung ke mejaku gih, gak usah sama Mika. Rese nih cewek!”
“Eits...” Mikaila langsung pasang badan. “Lagi ospek! Gak boleh terkontaminasi oleh kamu dan kamu...” Mikaila menunjuk Wicak, anggota geng The Evolve Wild yang berisikan kumpulan cowok-cowok berandalan sekolah yang menjadi teman sekelasnya.
“Gak sekarang, Daff. Minggir sana, Tegar masih tanggung jawab aku!” seru Mikaila penuh semangat.
Tegar ingin sekali mencengkeram ikat rambut yang dipakai Mikaila dan menghadap wajah gadis yang berani-beraninya mengambil alih tanggung jawab bokap dan nyokapnya untuk menjaganya.
Daffa menyeringai pada Tegar. “Jangan lupa minta duit jajan sama pengampumu, Gar. Mayan nih, ketua OSIS bisa jadi mamak dadakan!”
“Mulutmu asal jeplak!” Mikaila mendorong bahu Daffa yang terbahak.
Tegar memasukan kodoknya ke wadah dengan bermuka datar saat Mikaila meraih buku dan pulpennya. Berbondong-bondong sekelas menuju ruang lab di lantai dua.
“Terus di antara kita siapa dong yang kebagian jadi tukang bedahnya?” tanya Sarina di belakang Tegar dan Mikaila yang berjalan berdampingan. “Jangan aku deh, ngeri banget.”
“Terus kamu cuma mau nasihati kita-kita gitu, Sar?” protes Mikaila gemes. “Protes hanya berlaku untuk masalah kesiswaan dan OSIS!”
“Aku traktir makan pizza sepulang sekolah terus aku jadi sekertarisnya deh. Bagian catat mencatat.” Sarina nyengir lebar.
Melody mencibirnya dengan memasang muka jelek di belakang Sarina. “Gak bisa, semua harus kerja! Tapi untuk bedah-membedah, Tegar sih oke.” pungkas Melody.
Wajah Tegar memucat, ia berjalan gelisah sampai telapak tangannya berkeringat. Alih-alih seneng mempunyai teman baru, Daffa dan Wicak yang berada di depan mereka dengan membanggakan gengnya, ia justru dilanda musibah lokal. Deg-degan parah.
“Setuju gak nih?” tanya Mikaila.
“Namanya kerja kelompok, kerja bareng-bareng! Lagian gue anak baru di sini, belum tahu tata tertib laboratorium!”
“Itu sih gampang, ntar aku yang persiapkan alat-alatnya, kamu eksekusi.” sahut Mikaila.
Tegar menatap sinis Mikaila yang kemarin sepanjang mencari bengkel terus berceloteh tentang tanya jawab seputar ia dan kehidupan di Jakarta.
“Gue takut!” Jantungnya berdebar keras.
Mikaila menyunggingkan senyum sebelum masuk ke ruang laboratorium.
“Pokoknya praktikum anatomi tubuh kodok dan metamorfosisnya harus bernilai bagus. Serahin ke aku kalo kalian bertiga takut. Cemen!”
Sialan! desis Tegar dalam hati. Nih cewek emang belagu, sinting, tapi anehnya gue memperhatikannya! Sial... sial, gue gak cemen. Gue takut darah dan geli, mual.
Lima belas menit kemudian, setelah menyiapkan peralatan khusus pembedahan anatomi tubuh hewan di meja panjang dan mikroskop.
Tegar dan Mikaila berlomba-lomba menunjukkan yang terbaik di antara kelompok yang lain dengan kerja sama yang solid. Melody dan Sarina saling menatap diam-diam sambil cengar-cengir. Keduanya merasa diuntungkan dengan tabiat sahabat mereka dan keangkuhan Tegar di balik topeng anak baru penurut.
“Kayaknya ada yang bakal cinlok, Mel.” bisik Sarina di belakang tubuh Mikaila dan Tegar yang membungkuk serius.
Melody balas berbisik. “Biarin aja, Sar. Kita terima bersih.”
Dela yang menguping pembicaraan keduanya mendengus. “Cinlok... cinlok, Tegar milik umum kali. Bukan milik ketua sosis doang. Lihat aja, aku bakal jadi saingan Mikaila!” batinnya sebal.
Dengan muka culas dia mencolek pinggang Tegar melewati tubuh Sarina dan Melody.
“Apaan!” Tegar menoleh dengan raut wajah dingin.
Dela tersenyum manis, penting baginya menunjukkan pesonanya yang ciamik dan lugu yang dibuat-buat.
“Bisa bantuin kita gak? Gak ada yang berani bedah kodok ini. Kita-kita kasian, gak tega.” Dela menunjuk kodoknya yang masih di dalam toples bekas.
Tegar mengerutkan kening, menimbang-nimbang permintaan Dela dan kelompoknya yang sedaritadi meributkan siapa yang mau mengambil kodok itu.
Mikaila mendengus dingin dan kembali fokus memfoto anatomi tubuh kodok itu dengan hpnya sebelum nanti ia harus menggambarnya di buku dan menulis rinciannya.
“Kalo mau bantuin, bantuin aja, pahala buat kamu... Gar. Tapi cuma bedahnya doang, lainnya gak usah. Manja tuh cewek!”
Senyum Tegar mengembang oleh rasa puas setelah membuat Mikaila cemberut luar biasa, ia berdiri dan pindah ke tengah-tengah para cewek anggota pemandu sorak yang berseru kegirangan dengan kehadirannya.
Tegar menoleh sekilas. Punggung Mikaila terlihat tegang.
Gue yakin, Dela sama Mika musuh bebuyutan. Tapi seru juga bikin cewek rese itu diam. Senyum Tegar mengembang.
...***...
...Happy Reading ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Cut SNY@"GranyCUT"
Coba lihat, si kodok tertariknya sama siapa? kalo tertarik sana Mikaila berarti kodok jantan, kalo sama Tegar berarti betin😜
2023-08-09
1
Cut SNY@"GranyCUT"
👍👍👍
2023-08-09
0
CebReT SeMeDi
jiahhh tegar lagi ngetes Mikail rupanya, jgn smpe malah u sendiri yg naksir dluan gar🤣🤣 abiyasa edan
2023-07-30
1