“Kak... Kakak, kita main ke rumah kak Mika nanti sore yuk.” ucap Dinda sambil mengikat tali sepatunya di suatu pagi yang sejuk di teras rumah.
Tegar yang melakukan hal sama untuk kembali ke sekolah mendengus. Masih teringat kemarin ia diinterogasi bapak dan ibu Mikaila kenapa slalu putrinya pulang habis magrib. Ngapain saja di sekolah? Ngapain juga mereka bersama? Jelas dong Tegar langsung gelagapan. Panik. Kesusahan dia menjawab dan alih-alih berbohong, Dinda mengambil alih kebingungan kakaknya dengan menjawabnya. Lugu.
“Kak Mika main ke rumah Dinda, Om, jadi guru les mulok adat Solo sama guru les kakak!”
Maka berakhirlah akting Mikaila dan Tegar seketika. Mata mereka berhenti bereaksi. Mereka berdua langsung pucat pasi saat mendapat serentetan nasihat. Maklumlah, mesti bukan keturunan aristokrat sejati, orang tua Mikaila memang gak jauh berbeda dengan anaknya. Lumayan kolot dan galak.
“Kemarin udah, Dind. Besok lah, habis ujian PTS. Kakak janji, tapi gak usah ke rumahnya.”
“Kenapa?” Dengan polos Dinda bertanya. “Kakak takut kena ceramah lagi?”
Tegar memakai helm dan menatap Shinta yang baru saja bergabung sambil mengulurkan bekal makan siang Tegar.
“Bukan salahku, Ma. Itu semua rencana Mikaila sendiri!”
“Mama tahu.” Shinta mengangguk lalu menarik Tegar sedikit menjauh dari Dinda.
“Papa masih lost contacts, Gar. Kemungkinan harus ngirit dulu kita. Kamu jangan lupa makan bekal dari mama, ya.”
“Kapan-kapan aku ke sana, Ma. Tapi mama gak usah nungguin papa datang. Gak usah berharap banyak.”
“Ntar pulang sekolah kamu antar mama cari toko emas di sini ya, mama mau jual perhiasan dari papa. Mama juga pingin kerja, Gar. Tapi kasian adikmu.” Shinta menghela napas dengan wajah muram.
“Beres, Ma. Mama yang sabar.” Tegar bersalaman dengan ibunya seraya mengantar Dinda ke sekolah dasar yang tak jauh dari rumah.
Tegar menepuk kepala adiknya. ”Belajar yang rajin, kalo ada yang nakal sama kamu. Bilang kakak.”
“Yee, gak ada yang berani sama Dinda tau kak. Dinda jadi primadona kelas lagi, banyak temannya. Keren kan?”
Tegar meringis. Dia menyaksikan sebentar adiknya masuk ke sekolah yang jauh lebih biasa dari sekolah lama.
Pantes cocok sama Mika, dua-duanya terlalu PD! Tegar menggeber motornya ke sekolahnya.
Kedatangannya sudah di tunggu gengnya di taman parkir bersama Mikaila yang gila-gilaan menceritakan bagaimana Tegar mengkerut saat di sidang bapak ibunya.
“Habis ketemu calon mertua, Gar?” seloroh Daffa sambil membaginya oleh-oleh dari Singapura, sebuah coklat batangan.
Tegar menyentuh kepalan tangan teman-temannya dengan kepalan tangannya.
“Apes gue kemarin, di kira pacaran sama tuh cewek sarap! Di paksa ngaku lagi. Mana mungkin.”
Mikaila tergelak seraya menyuapkan potongan coklat ke mulutnya. “Perkiraan bapak ibuku tuh ada maksudnya, Gar. Kamu cuma kurang bersyukur aja ada cewek sarap kayak aku yang mau menguras tenaga dan emosi buat kamu!”
“Salah sendiri, gue gak minta!” Tegar bersikap dingin, tetapi ekspresinya sontak menjadi kesal pada diri sendiri.
Kakak udah janji mau ajak Dinda jalan-jalan sama kak Mika habis PTS, masa gak jadi, kakak bohong, kakak nggak sayang sama Dinda! Sama kayak papa!
Tegar menggeleng samar, pikirannya menjadi penjahat yang mempengaruhinya tiba-tiba. Dia menyayangi Dinda dan enggan di samakan dengan ayahnya.
Tapi gimana caranya ngajak ini cewek jalan kalo gue songong gini?
Wicak meraih tangan Mikaila dan Tegar seraya memborgol keduanya dengan borgol plastik. Jaga-jaga, kalo ada musuh menyerang borgol bertindak. Serangan balik paling low effort.
“Bersatu kalian teguh, bercerai belum bisa. Jadi pdkt dulu aja sesuai harfiah.”
Semua anggota The Evolve Wild tergelak melihat betapa kecutnya muka Tegar dan cerianya Mikaila.
“Serasi banget geng. Yuk masuk yuk. Kita perlu mengiringi siswa teladan dan jagoan sekolah biar guru percaya kita tobat di bawah kekuasaan Mika!” ajak Drew.
“Ya elah, eh-eh, terus gimana tuh ceritanya kemarin Reno sama Plotak ambil motor tapi dikerubungi siswa sekolah? Dendam lagi pasti mereka?” ucap Daffa penasaran.
“Dendam sih pasti, orang gila-gilaan nih Mika ngajak semua siswa bikin malu mereka. Tapi setelah hukuman dari sekolah rasanya masih adem ayem. Nongkrong yuk, nyobain basecamp baru!”
“Widih, basecamp baru. Kayak gimana nih bentuknya? Gak warung burjo lagi kan, Drew? Bosen aku makan warmindo terus.” seru Daffa antusias sambil menahan lengan Tegar agar berjalan lebih pelan
Drew nyengir, terlihat aneh sih, tapi memang itulah dia. “Pokoknya ntar pulang sekolah kita party! Kamu wajib ikutan, Mik! Ada spot buat belajar bareng.”
Spontan semua anak buah Drew yang mendengarnya menoleh ke arahnya bersamaan.
“Spot belajar bareng? Gak salah?” cibir Daffa.
“Gak salah dong, sialan, itu sih itung-itung bisa di pake alasan lagi belajar kelompok.” Drew memainkan alisnya.
Mikaila memejamkan matanya sambil mengangguk. Ternyata cuma alasan doang, sarap semua nih satu geng. Tapi gak papa, gak papa. Minimal tinggal sewa guru les privat dan bisa di transfer ke sana. Hahaha, tapi siapa yang bayarin? Anjir, mampus, ide mentah suka seenaknya sendiri ya.
“Bagus tuh Drew, tapi nanti aku gak bisa ikut sekarang. Lagi jadi anak manis lagi aku biar gak kena sangsi dari ortu!”
“Ya elah, dimarahi gitu doang takut. Gayamu mau jadi pacar geng motor segala! Pengecut.”
Mikaila mengepalkan kesepuluh jarinya. Bukan itu masalah besarnya. Dia mah bisa alasan lagi untuk nongkrong bareng. Cuma triknya emang gini.
“Gak pengecut Drew, cuma aku takut makin jatuh cinta sama Tegar karena kita bareng-bareng terus. Gimana dong?”
“Tembak aja Tegar, Mik. Jagoan harus punya pacar jagoan soalnya!”
“Yakin gitu filosofinya, Wic?”
“Seratus persen!” Wicak mengangguk tegas.
“Oke deh.” Mikaila tiba-tiba pindah ke depan Tegar dengan senyum bahagianya. Di kelilingi semua anggota geng, wajah Tegar tampak menegang.
Apa jangan-jangan nih cewek bakal nembak gue? Jantung gue kok tiba-tiba mau meledak.
Mikaila tersenyum malu. “Gar, ayo kita sederhanakan pertemanan kita menjadi lebih berarti.”
“Maksud lo apa?” Tegar kesusahan mengambil napas. Alhasil dadanya mengembang pun cuping hidungnya. “Lo gak usah aneh-aneh!”
“Gak aneh-aneh kok, aku cuma mau tanya, kalo kita jadi lebih berarti dengan menyayangi satu sama lain kamu keberatan enggak?”
Mau gak mau semua jadi tergelak dengan pernyataan Mikaila. Semua pada nggak tahu itu cewek maunya apa, tapi selama masih menjadi hiburan tersendiri, tampaknya Tegar yang belum mempunyai kuasa lebih di antara mereka tidak akan pernah aman. Setiap hari mungkin akan menjadi bahan candaan, makanya dengan anggukan dia pun mengiyakan.
“Oke, gue terima ajakanmu! Lo harus sayang sama gue dengan tulus.”
Buset. Spontan, tak cuma Drew cs yang terperangah, Mikaila pun sama dengan mata yang membelalak lebih dari biasanya.
...***...
^^^Bersambung^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Umine LulubagirAwi
ho ho hoo, mika sampai nembakbtegar dluan.
untung di terima tegar. 🤭
2023-09-01
0
Umine LulubagirAwi
ampun daahh, smpai d borgol sgla. 🤣🤣🤭
2023-09-01
0
CebReT SeMeDi
wastaga mik🤣🤣🤣 nembak dluan donk 🫣🫣
2023-08-22
1