Minggu dini hari. Mikaila mengamati Melody yang mati-matian celingukan di dalam rumahnya untuk memasukkannya ke dalam rumah tanpa ketahuan orang tuanya.
“Buruan, Mik.” seru Melody dengan suara berapi-api tapi pelan sekali sambil membungkukkan badan lagi.
Mikaila melambaikan tangan pada Tegar cs yang mengantarnya sampai ke depan gerbang. Daffa melambaikan tangannya sementara Wicak dan Tegar melengos kemudian.
“Cuek terus, padahal aku udah bilang kangen tadi.” keluhnya lesu.
Melody terpaksa menarik tangan Mikaila yang tak jemu-jemu memandang Tegar yang menghidupkan rokoknya sambil berjalan menjauhinya di suasana pagi yang terasa mencekam.
Mikaila duduk di tepi ranjang lalu memeluk guling. “Kacau banget tadi, Mel. Tawuran, parah, kayaknya aku gak bisa tidur ini.”
”Halah, udah. Pikirin besok aja.” Melody melemparkan sweater miliknya dan celana tidur. “Ganti, bau kamu!”
Mikaila memejamkan mata, “Tapi Tegar gak kangen sama aku, Mel. Malu banget aku!”
Melody yang ngantuk berat dan dongkolnya setengah modar melemparkan tubuhnya ke ranjang. “Terserah... terserah, lagian cewek ngomong kangen duluan itu kek mana gitu rasanya. Berasa ngarep aja di sayang-sayang gitu.”
“Emang.”
Melody melirik Mikaila yang mencerca ulah The Evolve Wild sendirian, diam-diam ia merekamnya lalu mengirimnya pada Daffa.
“Masih ngomel-ngomel Mika, Gar... Wic.”
Tegar dan Wicak ikut nimbrung mengamati hp Daffa yang terus menerima foto dan rekaman tingkah Mikaila.
“Suka beneran Mika, Gar.” tukas Daffa sambil menatap Tegar yang meringis geli.
“Biarin aja dulu. Aku lagi nggak percaya cinta!”
“Buset.” sambar Wicak terheran-heran. “Cinta kok di percaya, Gar. Gak usah, cinta cuma perlu di dapatkan, di bina, dinikmati rasanya.”
Daffa yang mendengar playboy kampret di sebelahnya terbahak. “Gak usah di dengar, Gar. Cinta emang bikin sarap kok, gak usah cinta-cintaan dulu. Bagus buat konsentrasi balapan. Bentar...” Daffa mengeluarkan uang hasil taruhan.
“Moga bermanfaat, Gar.”
Tegar menatap uang di tangannya lalu menghela napas. “Dulu gampang banget minta ginian ke bokap, sekarang...”
“Hidup gak akan terus seenak jidat, Bray. Cabut yuk, nginep di rumahku aja. Aman, bapak mamakku santai banget kok, saking santainya anaknya pulang bonyok begini paling-paling cuma ditanyain, kenapa? Berantem? Lalu minggat dari rumah. Ah elah... pingin di sayang-sayang juga aku.”
Tegar dan Wicak merangkulnya bersama-sama seolah paham isi hati si paling ceria itu sedang gundah gulana.
“Sini-sini mas Wicak sayang-sayang, dik Daffa.”
Daffa melepas tangan mereka berdua tepat di ujung jalan komplek, tempat mereka menaruh motor jauh dari rumah warga sambil terkekeh.
“Bangke kalian berdua, tapi serius aku kangen banget di sayang bapak ibu di usia ini. Kek ada jarak gitu sama mereka?”
“Bukan jarak yang bikin lo mikir mereka gak perhatian, tapi lo-nya sendiri yang bikin jarak dengan bapak ibumu.” ucap Tegar sambil memakai helm. “Aku gak bisa nginep, mama nungguin aku di rumah.”
“Dih tu orang, makin ke sini makin sok bijak.” keluh Wicak yang kontan goyah untuk segera pulang, eh tapi setan yang masih gencar-gencarnya berkeliling mencari maksa menarik kembali minatnya menginap di rumah Daffa.
***
Siang harinya, babak belurnya Matthew yang nampak mengenaskan di bagian wajah dan lengannya membuat orang tuanya cemas sekaligus marah.
“Siapa pelakunya?” tanya papa bule Matthew Edrick dengan judes.
Mama pribuminya yang glamor mengelus perban di muka putranya dengan wajah prihatin. “Berantem lagi? Sama siapa!”
“Tegar, Ma. Anak SMA Garuda Pradipta.” Matthew memasang wajah alibi yang transparan.
“Ya ampun, Pa. Ini sudah kebangetan, jujur, mama udah gak bisa lagi diam-diam saja. Masalah Matt udah bahaya, mama kudu laporan sama sekolahnya!”
Edrick mengangguk, “Kau urus, kau juga Matt, ini pasti ada hubungannya dengan geng kau itu! Apa papa juga perlu turun tangan kalo kau juga terbukti melakukan pelanggaran?”
Matthew geleng-geleng kepala seraya mengernyit sakit. “Aku perlu istirahat, Pa. Marah-marahnya di pending dulu ya.”
Dengan keberadaan sang ibu, Matthew berada di level aman kemarahan ayahnya. Dan selagi beristirahat di kamar, dia menghubungi Ben.
“Aku gak mau tau, kalian harus balas dendam atas kekalahan kita semalam!”
Ben yang sedang di kompres dingin oleh Mira, kekasihnya dari SMA Garuda Pradipta, berdecak sebel. “Gak bisa sekarang, Matt. Anak-anak pada kena marah Mak bapak mereka.”
“Ntar malam!” tegas Matthew seraya mematikan ponselnya.
Di ranjang berselimut kain hitam, Matthew merebahkan dirinya dengan ekspresi mikir. Semalaman ia menangkap sosok Mikaila, mantan Rio, seniornya yang juga seorang ketua OSIS. Keduanya sempat berpacaran, misi dan visi sekolah yang mereka musyawarahkan bersama dalam cinta yang sedang berkembang pesat malah membuat kedua sekolah mereka melakukan strategi yang sama hingga memunculkan persaingan yang ketat. Mikaila dan Rio sama-sama menunjukkan kehebatannya sebagai ketua OSIS hingga menjadikan kedua remaja penuh ambisi itu bertengkar, putus, bermusuhan. Permusuhan keduanya menimbulkan konflik panjang. Maka tak heran jika Mikaila susah payah menjadi orang paling sok tegas di sekolah demi mengenyahkan prasangka buruk jelek dari para guru yang pernah menyidangnya setelah lomba cerdas cermat dan tonti.
“Apa jangan-jangan mereka pacaran. Wow...” Matthew tersenyum kecil, gelagatnya terlihat mencurigakan sekarang terlebih waktu ia menelepon Rio untuk bertanya-tanya Mikaila.
“Cantik juga dia, Kak. Bibirnya seksi.”
Di rumah modern klasik, Rio tertawa pelan sambil memutar kunci kontak lalu menginjak gas pelan-pelan mengeluarkan mobilnya dari garasi.
“Mikaila memang seksi. Tapi dia sarap, cuma cowok-cowok yang punya kesabaran ekstra dan kuping tebal yang betah berlama-lama sama dia!”
“Oke kak, makasih infonya.” seru Matthew, yang benar-benar penasaran sekaligus dendam. “Mika... Mika. Bisa digunain buat mengecoh Tegar!”
Malam harinya, sesuai janji, geng The Horizon Blast satu persatu mendatangi basecamp yang di penuhi coret-coretan grafiti dan tong-tong bekas yang disulap menjadi tempat duduk. Dengan semangat Matthew mengkoordinir aksi balas dendamnya. Tanpa membuat jeda waktu mereka mengambil pilox dari kotak persediaan dan memasukan batu-batuan dari halaman basecamp ke kantong plastik.
Masing-masing dari mereka menggunakan masker dan helm full face seraya naik ke motor. Matthew yang mengunakan mobil, memacu kendaraannya terlebih dulu untuk memeriksa kondisi sekolah. Setelah sekolah terlihat hanya bagian depannya saja yang di jaga satpam. Mathew mengeluarkan tangan dari jendela mobil, memberi isyarat.
Berbondong-bondong The Horizon Blast yang terdiri dari Matthew, Reno, Ben, Eddy, Plotak, Anjas dan Bagas turun dari motor. Mereka berlomba-lomba melempari jendela SMA Garuda Pradipta Jaya dengan batu dan melakukan vandalisme seronok dengan terburu-buru.
Pecahan-pecahan kaca yang terdengar berjatuhan membuat pak satpam berlari keluar pos jaga. “Woi, ngapain kalian?” serunya sambil mengangkat tingkat gebuk.
“Cabut!” teriak Matthew. The Horizon Blast menoleh seraya buru-buru naik ke atas motor. Mereka menggeber motornya kuat-kuat di malam buta yang sepi. Tetapi belum cukup balas dendamnya, mereka mengobrak-abrik basecamp The Evolve Wild yang ramai dikunjungi pengunjung hingga membuat penikmatnya terbirit-birit menyelamatkan diri.
“SIAPA KALIAN?” teriak penjaga burjo sambil berlari membawa sajam ke arah mereka.
Matthew membanting kursi seraya lari tunggang langgang keluar ruko. “Cari aman, berpencar!” Teriak Matthew dengan berang. Kocar-kacir pula teman-temannya minggat dari sana sampai ada yang lari terbirit-birit saking gugupnya.
“Minimal misi selesai! Sekarang aku hanya perlu cari aman.” gumam Matthew sembari menekan gas cepat-cepat.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Cut SNY@"GranyCUT"
Sekolah: "Kenapa aku jadi sasaran?, salahku apa?"
2023-08-10
0
Cut SNY@"GranyCUT"
Matthew licik.
2023-08-10
0
Tini Wartini
Oalah, gelut wae gawean...balas dendam gawe rusuh iku...
2023-07-31
0