Chapter 12 : Aksi Matt

Minggu dini hari. Mikaila mengamati Melody yang mati-matian celingukan di dalam rumahnya untuk memasukkannya ke dalam rumah tanpa ketahuan orang tuanya.

“Buruan, Mik.” seru Melody dengan suara berapi-api tapi pelan sekali sambil membungkukkan badan lagi.

Mikaila melambaikan tangan pada Tegar cs yang mengantarnya sampai ke depan gerbang. Daffa melambaikan tangannya sementara Wicak dan Tegar melengos kemudian.

“Cuek terus, padahal aku udah bilang kangen tadi.” keluhnya lesu.

Melody terpaksa menarik tangan Mikaila yang tak jemu-jemu memandang Tegar yang menghidupkan rokoknya sambil berjalan menjauhinya di suasana pagi yang terasa mencekam.

Mikaila duduk di tepi ranjang lalu memeluk guling. “Kacau banget tadi, Mel. Tawuran, parah, kayaknya aku gak bisa tidur ini.”

”Halah, udah. Pikirin besok aja.” Melody melemparkan sweater miliknya dan celana tidur. “Ganti, bau kamu!”

Mikaila memejamkan mata, “Tapi Tegar gak kangen sama aku, Mel. Malu banget aku!”

Melody yang ngantuk berat dan dongkolnya setengah modar melemparkan tubuhnya ke ranjang. “Terserah... terserah, lagian cewek ngomong kangen duluan itu kek mana gitu rasanya. Berasa ngarep aja di sayang-sayang gitu.”

“Emang.”

Melody melirik Mikaila yang mencerca ulah The Evolve Wild sendirian, diam-diam ia merekamnya lalu mengirimnya pada Daffa.

“Masih ngomel-ngomel Mika, Gar... Wic.”

Tegar dan Wicak ikut nimbrung mengamati hp Daffa yang terus menerima foto dan rekaman tingkah Mikaila.

“Suka beneran Mika, Gar.” tukas Daffa sambil menatap Tegar yang meringis geli.

“Biarin aja dulu. Aku lagi nggak percaya cinta!”

“Buset.” sambar Wicak terheran-heran. “Cinta kok di percaya, Gar. Gak usah, cinta cuma perlu di dapatkan, di bina, dinikmati rasanya.”

Daffa yang mendengar playboy kampret di sebelahnya terbahak. “Gak usah di dengar, Gar. Cinta emang bikin sarap kok, gak usah cinta-cintaan dulu. Bagus buat konsentrasi balapan. Bentar...” Daffa mengeluarkan uang hasil taruhan.

“Moga bermanfaat, Gar.”

Tegar menatap uang di tangannya lalu menghela napas. “Dulu gampang banget minta ginian ke bokap, sekarang...”

“Hidup gak akan terus seenak jidat, Bray. Cabut yuk, nginep di rumahku aja. Aman, bapak mamakku santai banget kok, saking santainya anaknya pulang bonyok begini paling-paling cuma ditanyain, kenapa? Berantem? Lalu minggat dari rumah. Ah elah... pingin di sayang-sayang juga aku.”

Tegar dan Wicak merangkulnya bersama-sama seolah paham isi hati si paling ceria itu sedang gundah gulana.

“Sini-sini mas Wicak sayang-sayang, dik Daffa.”

Daffa melepas tangan mereka berdua tepat di ujung jalan komplek, tempat mereka menaruh motor jauh dari rumah warga sambil terkekeh.

“Bangke kalian berdua, tapi serius aku kangen banget di sayang bapak ibu di usia ini. Kek ada jarak gitu sama mereka?”

“Bukan jarak yang bikin lo mikir mereka gak perhatian, tapi lo-nya sendiri yang bikin jarak dengan bapak ibumu.” ucap Tegar sambil memakai helm. “Aku gak bisa nginep, mama nungguin aku di rumah.”

“Dih tu orang, makin ke sini makin sok bijak.” keluh Wicak yang kontan goyah untuk segera pulang, eh tapi setan yang masih gencar-gencarnya berkeliling mencari maksa menarik kembali minatnya menginap di rumah Daffa.

***

Siang harinya, babak belurnya Matthew yang nampak mengenaskan di bagian wajah dan lengannya membuat orang tuanya cemas sekaligus marah.

“Siapa pelakunya?” tanya papa bule Matthew Edrick dengan judes.

Mama pribuminya yang glamor mengelus perban di muka putranya dengan wajah prihatin. “Berantem lagi? Sama siapa!”

“Tegar, Ma. Anak SMA Garuda Pradipta.” Matthew memasang wajah alibi yang transparan.

“Ya ampun, Pa. Ini sudah kebangetan, jujur, mama udah gak bisa lagi diam-diam saja. Masalah Matt udah bahaya, mama kudu laporan sama sekolahnya!”

Edrick mengangguk, “Kau urus, kau juga Matt, ini pasti ada hubungannya dengan geng kau itu! Apa papa juga perlu turun tangan kalo kau juga terbukti melakukan pelanggaran?”

Matthew geleng-geleng kepala seraya mengernyit sakit. “Aku perlu istirahat, Pa. Marah-marahnya di pending dulu ya.”

Dengan keberadaan sang ibu, Matthew berada di level aman kemarahan ayahnya. Dan selagi beristirahat di kamar, dia menghubungi Ben.

“Aku gak mau tau, kalian harus balas dendam atas kekalahan kita semalam!”

Ben yang sedang di kompres dingin oleh Mira, kekasihnya dari SMA Garuda Pradipta, berdecak sebel. “Gak bisa sekarang, Matt. Anak-anak pada kena marah Mak bapak mereka.”

“Ntar malam!” tegas Matthew seraya mematikan ponselnya.

Di ranjang berselimut kain hitam, Matthew merebahkan dirinya dengan ekspresi mikir. Semalaman ia menangkap sosok Mikaila, mantan Rio, seniornya yang juga seorang ketua OSIS. Keduanya sempat berpacaran, misi dan visi sekolah yang mereka musyawarahkan bersama dalam cinta yang sedang berkembang pesat malah membuat kedua sekolah mereka melakukan strategi yang sama hingga memunculkan persaingan yang ketat. Mikaila dan Rio sama-sama menunjukkan kehebatannya sebagai ketua OSIS hingga menjadikan kedua remaja penuh ambisi itu bertengkar, putus, bermusuhan. Permusuhan keduanya menimbulkan konflik panjang. Maka tak heran jika Mikaila susah payah menjadi orang paling sok tegas di sekolah demi mengenyahkan prasangka buruk jelek dari para guru yang pernah menyidangnya setelah lomba cerdas cermat dan tonti.

“Apa jangan-jangan mereka pacaran. Wow...” Matthew tersenyum kecil, gelagatnya terlihat mencurigakan sekarang terlebih waktu ia menelepon Rio untuk bertanya-tanya Mikaila.

“Cantik juga dia, Kak. Bibirnya seksi.”

Di rumah modern klasik, Rio tertawa pelan sambil memutar kunci kontak lalu menginjak gas pelan-pelan mengeluarkan mobilnya dari garasi.

“Mikaila memang seksi. Tapi dia sarap, cuma cowok-cowok yang punya kesabaran ekstra dan kuping tebal yang betah berlama-lama sama dia!”

“Oke kak, makasih infonya.” seru Matthew, yang benar-benar penasaran sekaligus dendam. “Mika... Mika. Bisa digunain buat mengecoh Tegar!”

Malam harinya, sesuai janji, geng The Horizon Blast satu persatu mendatangi basecamp yang di penuhi coret-coretan grafiti dan tong-tong bekas yang disulap menjadi tempat duduk. Dengan semangat Matthew mengkoordinir aksi balas dendamnya. Tanpa membuat jeda waktu mereka mengambil pilox dari kotak persediaan dan memasukan batu-batuan dari halaman basecamp ke kantong plastik.

Masing-masing dari mereka menggunakan masker dan helm full face seraya naik ke motor. Matthew yang mengunakan mobil, memacu kendaraannya terlebih dulu untuk memeriksa kondisi sekolah. Setelah sekolah terlihat hanya bagian depannya saja yang di jaga satpam. Mathew mengeluarkan tangan dari jendela mobil, memberi isyarat.

Berbondong-bondong The Horizon Blast yang terdiri dari Matthew, Reno, Ben, Eddy, Plotak, Anjas dan Bagas turun dari motor. Mereka berlomba-lomba melempari jendela SMA Garuda Pradipta Jaya dengan batu dan melakukan vandalisme seronok dengan terburu-buru.

Pecahan-pecahan kaca yang terdengar berjatuhan membuat pak satpam berlari keluar pos jaga. “Woi, ngapain kalian?” serunya sambil mengangkat tingkat gebuk.

“Cabut!” teriak Matthew. The Horizon Blast menoleh seraya buru-buru naik ke atas motor. Mereka menggeber motornya kuat-kuat di malam buta yang sepi. Tetapi belum cukup balas dendamnya, mereka mengobrak-abrik basecamp The Evolve Wild yang ramai dikunjungi pengunjung hingga membuat penikmatnya terbirit-birit menyelamatkan diri.

“SIAPA KALIAN?” teriak penjaga burjo sambil berlari membawa sajam ke arah mereka.

Matthew membanting kursi seraya lari tunggang langgang keluar ruko. “Cari aman, berpencar!” Teriak Matthew dengan berang. Kocar-kacir pula teman-temannya minggat dari sana sampai ada yang lari terbirit-birit saking gugupnya.

“Minimal misi selesai! Sekarang aku hanya perlu cari aman.” gumam Matthew sembari menekan gas cepat-cepat.

...***...

Terpopuler

Comments

Cut SNY@"GranyCUT"

Cut SNY@"GranyCUT"

Sekolah: "Kenapa aku jadi sasaran?, salahku apa?"

2023-08-10

0

Cut SNY@"GranyCUT"

Cut SNY@"GranyCUT"

Matthew licik.

2023-08-10

0

Tini Wartini

Tini Wartini

Oalah, gelut wae gawean...balas dendam gawe rusuh iku...

2023-07-31

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 : Dibuang Ayah.
2 Chapter 2 : Manusia Bumi
3 Chapter 3 - Tagihan Perdebatan
4 Chapter 4 - Telen Beban
5 Chapter 5 - Emosi Tragedi
6 Chapter 6 : Tanggung Jawab Aku!
7 Chapter 7 : Persoalan Genting
8 Chapter 8 : Persoalan Genting 2
9 Chapter 9 : Balapan Lucu
10 Chapter 10 : Tawuran
11 Chapter 11 : Takut Jatuh Cinta
12 Chapter 12 : Aksi Matt
13 Chapter 13 : Ngegas
14 Chapter 14 : Drew cs & Mika.
15 Chapter 15 : Musuh Dalam Sekolah
16 Chapter 16 : Masuk Sarang Musuh
17 Chapter 17 : Panji Perang
18 Chapter 18 : Lawan Jadi Kawan
19 Chapter 19 : Kepergok
20 Chapter 20 : Meledak
21 Chapter 21 : Salting
22 Chapter 22 : Iya, Sayang.
23 Chapter 23 : Ring Road Love
24 Chapter 24 : Bersenang-senang
25 Chapter 25 : OMG
26 Chapter 26 : Kekacauan
27 Chapter 27 : Kalah
28 Chapter 28 : Kerja Sama Terselubung
29 Chapter 29 : Toleransi nol
30 Chapter 30 : Wuu...
31 Chapter 31 : Melambungkan Fantasi
32 Chapter 32 : Bolos Bersama
33 Chapter 33 : Saingan, Iya...
34 Chapter 34 : Hukuman
35 Chapter 35 : Gulma
36 Chapter 36 : Back Street
37 Chapter 37 : Emang Enak
38 Chapter 38 : Loyal
39 Chapter 39 : Pahit & Pedas
40 Chapter 40 : Kabut
41 Chapter 41 : Manisnya Hukuman
42 Chapter 42 : Sidang Keluarga
43 Chapter 43 : Sinarnya Redup
44 Chapter 43 : Sedikit Balasan
45 Chapter 45 : Markijayyy
46 Chapter 46 : Membingungkan
47 Chapter 47 : B-e-r-a-n-i
48 Chapter 48 : Sensasi Mematikan
49 Chapter 49 : Kok Bisa Ya?
50 Chapter 50 : Ribut
51 Chapter 51 : Sangar
52 Chapter 52 : Menggila
53 Chapter 53 : Erat
54 Chapter 54 : Meeting Points
55 Chapter 55 : SERI
56 Chapter 56 : Gak Mudah
57 Chapter 56 : Maju Ke Depan
58 Chapter 58 : Heuheu
59 Chapter 59 : Bujuk Rayu
60 Chapter 60 : Tersedak
61 Chapter 61 : Ngeri
62 Chapter 62 : Parau
63 Chapter 63 : Gila sih
64 Chapter 64 : Baper
65 Chapter 65 : Good Goodbye
66 Chapter 66 : Evoleventador
67 Chapter 67 : Iya berdua
68 Chapter 68 : Lulus
69 Chapter 69 : Hadiah
70 Chapter 70 : Menolak Kembali
71 Chapter 71 : Drama Sekolah
72 Chapter 72 : Back Off
73 Chapter 73 : Prediksi Tepat
74 Chapter 74 : Engagement Day
75 Chapter 75 : Bertemu Kamu
76 Chapter 76 : Takut
77 Chapter 77 : Merana
78 Chapter 78 : Reuni
79 Chapter 79 : Malu & Takut
80 Chapter 80 : Balapan Terakhir
81 Chapter 81 : Before Wedding
82 Chapter 82 : Wedding Agreement
83 Chapter 83 : Usaha
84 Chapter 84 : Quiz
85 Chapter 85 : Goals
86 Chapter 86 : A love
87 Chapter 87 : Kacau
88 Chapter 88 : Mabuk Aturan
89 Chapter 89 : Bos kecil
90 Bab 90 : Epilog
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Chapter 1 : Dibuang Ayah.
2
Chapter 2 : Manusia Bumi
3
Chapter 3 - Tagihan Perdebatan
4
Chapter 4 - Telen Beban
5
Chapter 5 - Emosi Tragedi
6
Chapter 6 : Tanggung Jawab Aku!
7
Chapter 7 : Persoalan Genting
8
Chapter 8 : Persoalan Genting 2
9
Chapter 9 : Balapan Lucu
10
Chapter 10 : Tawuran
11
Chapter 11 : Takut Jatuh Cinta
12
Chapter 12 : Aksi Matt
13
Chapter 13 : Ngegas
14
Chapter 14 : Drew cs & Mika.
15
Chapter 15 : Musuh Dalam Sekolah
16
Chapter 16 : Masuk Sarang Musuh
17
Chapter 17 : Panji Perang
18
Chapter 18 : Lawan Jadi Kawan
19
Chapter 19 : Kepergok
20
Chapter 20 : Meledak
21
Chapter 21 : Salting
22
Chapter 22 : Iya, Sayang.
23
Chapter 23 : Ring Road Love
24
Chapter 24 : Bersenang-senang
25
Chapter 25 : OMG
26
Chapter 26 : Kekacauan
27
Chapter 27 : Kalah
28
Chapter 28 : Kerja Sama Terselubung
29
Chapter 29 : Toleransi nol
30
Chapter 30 : Wuu...
31
Chapter 31 : Melambungkan Fantasi
32
Chapter 32 : Bolos Bersama
33
Chapter 33 : Saingan, Iya...
34
Chapter 34 : Hukuman
35
Chapter 35 : Gulma
36
Chapter 36 : Back Street
37
Chapter 37 : Emang Enak
38
Chapter 38 : Loyal
39
Chapter 39 : Pahit & Pedas
40
Chapter 40 : Kabut
41
Chapter 41 : Manisnya Hukuman
42
Chapter 42 : Sidang Keluarga
43
Chapter 43 : Sinarnya Redup
44
Chapter 43 : Sedikit Balasan
45
Chapter 45 : Markijayyy
46
Chapter 46 : Membingungkan
47
Chapter 47 : B-e-r-a-n-i
48
Chapter 48 : Sensasi Mematikan
49
Chapter 49 : Kok Bisa Ya?
50
Chapter 50 : Ribut
51
Chapter 51 : Sangar
52
Chapter 52 : Menggila
53
Chapter 53 : Erat
54
Chapter 54 : Meeting Points
55
Chapter 55 : SERI
56
Chapter 56 : Gak Mudah
57
Chapter 56 : Maju Ke Depan
58
Chapter 58 : Heuheu
59
Chapter 59 : Bujuk Rayu
60
Chapter 60 : Tersedak
61
Chapter 61 : Ngeri
62
Chapter 62 : Parau
63
Chapter 63 : Gila sih
64
Chapter 64 : Baper
65
Chapter 65 : Good Goodbye
66
Chapter 66 : Evoleventador
67
Chapter 67 : Iya berdua
68
Chapter 68 : Lulus
69
Chapter 69 : Hadiah
70
Chapter 70 : Menolak Kembali
71
Chapter 71 : Drama Sekolah
72
Chapter 72 : Back Off
73
Chapter 73 : Prediksi Tepat
74
Chapter 74 : Engagement Day
75
Chapter 75 : Bertemu Kamu
76
Chapter 76 : Takut
77
Chapter 77 : Merana
78
Chapter 78 : Reuni
79
Chapter 79 : Malu & Takut
80
Chapter 80 : Balapan Terakhir
81
Chapter 81 : Before Wedding
82
Chapter 82 : Wedding Agreement
83
Chapter 83 : Usaha
84
Chapter 84 : Quiz
85
Chapter 85 : Goals
86
Chapter 86 : A love
87
Chapter 87 : Kacau
88
Chapter 88 : Mabuk Aturan
89
Chapter 89 : Bos kecil
90
Bab 90 : Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!