...Dear reader, novel ini ganti judul ya. Biar makin sesuai dengan isinya. 💚...
...***...
Suasana sore di SMA Garuda Pradipta Jaya sementara memang aman dan damai karena Mikaila dan The Evolve Wild sedang sungguh-sungguh membersihkan sudut-sudut terkotor di sekolah itu dengan senang hati. Terlebih ketika Tegar datang dan menemani Mikaila, keduanya jadi bulan-bulanan Daffa dan Wicak yang terus mengompori keduanya biar pacaran.
Di lain sisi, kedatangan Dela dan Mira ke markas The Horizon Blast di sambut tawa ringan Matthew.
“Ngapain kalian ke sini? Mau jadi mata-mata kami?” Matthew melempar kaleng minuman bersoda ke tong sampah.
Dela menjatuhkan diri ke samping Matthew seraya menghidupkan ponselnya. “Lihat nih Mika sama musuhmu lagi di hukum kepsek, seru banget Matt, hukumannya gak cuma sehari tapi seminggu!”
Matthew mengambil ponsel Dela seraya menonton beberapa video yang gadis itu ambil ketika sekolah.
“Tegar mana?” tanya Matthew dengan kening terlipat karena heran. “Dia gak sekolah?”
“Dia di skorsing, anjir. Seminggu!” Dela berseru. “Terus sekarang mereka di hukuman buat cat tembok bekas vandalisme jijay, kalian pelakunya? Pelaku penyerangan sekolah kita?”
Buru-buru Matthew melompat dari satu-satunya sofa di markas. Dengan muka terperangah, dia kaget banget pertanyaan itu terlontar dari Dela. Memangnya kabar apa yang beredar di sekolahnya sampai Dela menuduhku jadi dalangnya?
Wajah piasnya yang sempat jelas terlihat di ekspresinya perlahan menghilang. Matthew berdehem. “Ada bukti apa kamu nuduh kita, Del? Kita babak belur di hajar Evolve cuma minta ganti rugi doang, gak sampai melakukan balas dendam! Ngaco banget sih.”
“Kere banget sih sampe minta ganti rugi, malu-maluin kamu, Matt. Tapi lagian yah, bagus juga tuh, Tegar kena cap jelek di sekolah dan aku dengar-dengar dari Daffa sama Wicak kalo basecamp mereka juga di serang. Terus siapa deh pelakunya kalo bukan kalian?” tukas Dela tanpa rasa takut.
Ben yang duduk sambil bergelayut manja dengan Mira bercelatuk. “Bisa jadi musuh sekolah kalian yang lain!”
“Gak sih, aku gak percaya.” Dela menggeleng keras kepala. “Kalian habis balapan liar kan terus tawuran, aku jamin kalian pelakunya! Runut kejadiannya tuh jelas banget gak sih, mudah banget di tebak!”
The Horizon Blast kontan saling pandang sambil memainkan alis. Buru-buru Matt memberikan isyarat kedipan mata pada Eddy untuk mengunci pintu.
“Eh-eh, ada apa nih?” Dela langsung kelihatan cemas saat Matthew cs mengerubunginya dengan muka berang. “Gak usah gitu deh, aku ada di pihak kalian! Enak aja mau nyerang aku juga. Mikir dong, gak mungkin aku ke sini tanpa misi!” Dela memeluk tasnya sebagai bentuk perlindungan diri saat Matthew mencengkeram dagunya.
“Mantannya Rio juga kan? Enaknya diapain nih geng? Ada penghianat dan mata-mata musuh sekolah kita!”
“Dela serius, Matt. Kita ada di pihak kalian!” sahut Mira, kasian dengan muka Dela yang mendadak pucat.
Matthew tertawa tapi buru-buru diam saat Dela menatapnya dengan serius tapi hampir menangis.
“Oke deh aku percaya. Kalian bisa jadi mata-mata kita sekalian.”
“Oh jadi bener kalian pelakunya?” sahut Dela tiba-tiba.
Matthew meraih jaket kulitnya di sofa seraya memakainya. ”Kalo iya kenapa?”tanyanya dingin
“Gawat kalian semua!” Dela langsung menceritakan semua info-info penting yang terjadi di sekolahnya. Tentu saja ia bersungguh-sungguh dalam menjadi pengkhianat sekolah. Sakit jiwa memang otak gadis itu, segitunya benci pada Mikaila hingga menghalalkan segala cara untuk menindasnya sekalipun urusan itu bukan urusannya.
“Kita bikin rusuh lagi aja biar sekalian hukumannya!”
Lagi-lagi Matthew dan The Horizon Blast menunjukkan siapa dirinya. Bersama-sama mereka menggeber motor sport-nya ke SMA Garuda Pradipta tepat saat Mikaila dan The Evolve Wild sedang bersiap-siap untuk mengecat tembok.
Tegar memberikan air mineral untuk Mikaila yang duduk di wadah cat kemasan 15kg saat gadis itu mengeluhkan panasnya kota Solo meski sudah nyaris di penghujung sore yang melelahkan.
“Sory harus ikut-ikutan kena hukuman!” Tubuhnya yang melindunginya dari sorot matahari membuat Mikaila mendongak.
“Gak masalah, tapi aku juga punya permintaan sih buat kalian semua. Besok deh atau habis selesai ini kita ngumpul. Bilang tuh ke Drew, ini penting banget baginya.”
“Apaan?” Tegar meraih kepala Mikaila dan mendekapnya saat deru mesin motor sport yang mereka kenali melintas sembari melempari batu dan keleng soda ke arah mereka.
Drew menyambar satu batu paling besar di trotoar jalan seraya melemparnya balik ke arah motor paling belakang. Punggung Reno terkena, dia mengerang sakit. Fokusnya berubah. Motornya oleng, Reno terjatuh.
The Horizon Blast menoleh sekilas sebelum berbelok.
“Serang dia, Bray!” seru Drew. Berbondong-bondong The Evolve Wild berlari secepat mungkin ke arah Reno tak terkecuali Mikaila.
“Pecundang mana ini yang ditinggal geng sendirian.” seloroh Drew seraya menyeretnya ke trotoar jalan.
“Bangsat!” Reno yang mengalami luka lecet di sikunya dan nyeri tubuh yang terpental ke aspal berusaha melepas diri dari cengkeraman Drew di jaketnya. “Lepas!”
“Kenapa? Sayang banget lho kalo cukup lewat, mampir dulu ngopi-ngopi sama kita juga boleh.” Drew berjongkok sambil menyeringai. Dia mencengkeram rahang Reno.
“Belum puas tawuran kemarin, Bray? Nyali gede juga.”
“Dapat motor lagi kita, Bray.” Daffa mengayunkan kunci motor Reno di depan mukanya persis seraya menjejalkan ke kantong celana kolornya. “Ambil sendiri deh kalo mau. Wic, ayo bawa motornya ke dalam sekolah!”
“Asyiap.” Wicak dan Daffa mendorong motor ke dalam sekolah.
“Mau kita apain nih?” tanya Drew, seneng banget dia mendapatkan musuh.
“Panggil pak satpam ajalah! Biar dia yang laporan ke guru-guru.” sahut Mikaila.
“Eits, gak semudah ini kali. Gak usah sok baik deh!” Drew mengangkat tubuh Reno yang langsung mendapat setumpuk celaan darinya.
“Aku cuma ikut-ikutan!” gumam Reno. Sendiri, untuk apa melawan! Mungkin begitu pikirnya.
“Panggil temen-temenmu ke sini kalo mereka setia kawan, Bray. Kita tunggu.”
“Gak akan!” Reno membuang wajah.
Drew tertawa seraya menarik dagu Reno agar menatapnya lagi. “Kenapa? Aturan geng? Satu ketangkap musuh, yang lain minggat?”
Tatapan Reno langsung berubah cemas saat Drew memanyunkan bibirnya.
“Ingat Lila, Drew!” ucap Mikaila. “Kamu mau cium dia kan? Mau bikin trauma seumur hidup?”
Drew tergelak lalu meninju perut Reno sekali jadi sampai pemuda itu mual-mual. “Ngawur banget kamu, Mik! Najis banget cium-cium dia. Ini tuh cuma trik.”
“Udah, Drew. Kita lagi di hukum!” Tegar mencegah tangan Drew terayun kembali.
Drew menghempaskan tubuh Reno ke tembok untuk melampiaskan rasa kesalnya.
“Dapat tukang cat gratis kita, Bray. Lumayan neh, dia menghapus sendiri pen*s yang gengnya gambar sendiri, bagus deh. Tangan kita gak kotor.” Drew menyambar lengan Reno seraya menyeretnya ke tembok yang masih diingatnya sebagai tempatnya melakukan vandalisme seronok.
Sialan, gak setia kawan banget temen-temenku! Maki Reno dalam hati ketika mengusapkan kuas cat ke tembok yang lebarnya enam meter dengan tinggi dua meter seorang diri sementara Mikaila dan The Evolve Wild membeli bakso gerobak yang baru saja lewat. Nikmat mana yang mereka dustakan di senja yang merona itu?
...***...
...Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
husna
teman mu cari aman ga setia kawan
2023-09-06
0
Umine LulubagirAwi
Reno, reno... bru thukaan, klo tmnmu ga setia kwan? 🤣🤣🤭
2023-09-01
0
CebReT SeMeDi
koncomu ga setia kewan eh kawan ren 🤣🤣
2023-08-15
1