Chapter 2 : Manusia Bumi

Senin pagi di kota Solo yang mendung. Motor Tiger herex yang mempunyai suara bak helikopter mini meluncur dari rumah sederhana dari perkampungan pinggir kota menuju SMA Garuda Pradipta Jaya sebagai tempat Tegar melanjutkan pendidikannya setelah melewati beberapa hari di kota itu tanpa semangat.

Di perjalanan, tampilan motor drag bike pretelan itu menjadi pusat perhatian. Modifikasi warna merah dan hitam metalik, penggunaan ukuran ban yang kecil dan stang acerbis-nya termodifikasi dengan mesin dan komponen unggulan dengan sempurna. Meski tak seperti motor-motor drag bike herex lainnya yang cenderung di luar nalar, motor Harris enak di pandang.

Tegar tersenyum kecil. Banyak pelajar berseragam putih abu-abu yang menatapnya sekilas dan tergesa menyusuri jalanan menuju gerbang sekolah. Ia berhasil melewati pintu gerbang tepat ketika gerbang hendak ditutup oleh pak satpam.

Tegar menapakkan kaki kirinya di atas genangan air sisa hujan semalam di lantai parkiran seraya melepas helm full face-nya. Ia menerawang sekolah barunya sambil bersedekap di saat Mikaila Dennise ketua OSIS 18 tahun yang semalam mengikuti acara lamaran kakaknya terlambat datang.

Mikaila memanjat pagar sekolah sesaat setelah rayuannya pada pak satpam gagal total. Dibarengi intrupsi pak satpam, ia berlari tunggang langgang ke arah Tegar dan syurrr... Mikaila menjerit, kedua tangannya terayun ke atas dengan satu kakinya yang terangkat.

Tegar reflek meraih gadis berambut panjang nyaris yang terjungkal karena terpeleset.

Mikaila memegangi dadanya yang rasanya si jantung berdetak cepat hingga napasnya memburu dalam dekapan Tegar yang tercenung.

Hari pertamanya sekolah akan menjadi hari paling diingatnya sebagai hari paling menghibur di kota kecil yang lebih nyaman untuk motoran ketimbang Jakarta yang hampir sebagai jalannya ditemukan kemacetan. Kesialan Mikaila membuat senyumnya mengembang sekilas.

Mikaila mengerjap, menatap takjub laki-laki penolongnya yang berparas tampan tanpa ekspresi itu sambil tersenyum lepas.

“My Hero.” ucapnya lalu mendusel ke dada Tegar yang wangi.

Tegar melepas tangannya dengan tak acuh.

Mikaila terjatuh di genangan air sambil menjerit. Ia bangkit tanpa jeda sambil mendengus jengkel.

“Kamu batal jadi pahlawanku, kamu penipu!”

Mikaila menarik rok belakangnya yang basah lalu mengumpulkan tepian rok dan memeras airnya yang merembes sampai ke celana ketatnya.

“Terserah katamu!” sahut Tegar pendek, tak berniat mengeluarkan sepatah kata lain selagi gadis kecentilan yang mengurusi roknya sampai terlihat kusut itu mengomelinya.

“Semoga kamu dapat karma! Kapok.”

Tegar geleng-geleng kepala lalu pergi meninggalkannya.

Mikaila melangkah cepat-cepat, mendahului Tegar seraya menatapnya sambil berjalan mundur di tengah parkiran motor. Ia menyipitkan mata dan terlihat menyadari sesuatu.

“Siapa kamu?”

Pemuda berwajah muram itu menjawab sambil melepas tas ranselnya dan menaruhnya di stang motor orang, “Aku manusia bumi!”

Mikaila mendesis tak sabar, sementara dari arah lapangan upacara sudah terdengar intrupsi dari guru agar berbaris dengan rapi.

“Aku tau kamu manusia bumi, bukan gorila. Tapi kamu sama kayak gorila sih, sama-sama bernafas dan mahluk hidup!” Mikaila cepat-cepat melengos, ia berhenti di samping tembok kelas sepuluh sambil mengintip ke arah lapangan sekolah.

“Nggak mungkin ke ruang guru sekarang, aku pasti jadi artis dadakan. Ih...” Mikaila menghentakkan punggungnya ke tembok, menguncupkan bibirnya lalu memandang Tegar yang mengulurkan jaket baseball-nya.

“Pakai!”

“Gak ah, ntar kamu bohong kayak tadi.” Mikaila menggeleng. “Lagian kita nggak kenal.”

“Sangat mudah mencari keberadaanmu di sekolah ini!” Tegar menyampirkan jaketnya di kepala Mikaila yang memakai bando berkain batik.

Mikaila berhasil meraih lengan Tegar sebelum pemuda berseragam resik dan baru itu meninggalkannya seorang diri dalam keadaan ngenes.

Mikaila nyengir, meraup kesempatan untuk kepentingan pribadinya yang sedang gawat darurat adalah wajib hukumnya. Tetapi antusiasme yang tak wajar itu membuat Tegar agak ngeri melihat Mikaila dekat-dekat.

Tegar berusaha menepis tangan Mikaila. Tetapi gadis yang memiliki kekuatan ekstra ditengah situasi itu melarangnya dengan memegangi tas Tegar dengan tangan satunya.

Ini cewek nggak paham istilah jauhi orang asing kayaknya. Nggak takut sama gue dia.

“Mau apa?” tanya Tegar dengan malas.

Mikaila melongok sekilas ke arah lapangan, siswa petugas upacara dan para guru bingung mencarinya. Beberapa mengira Mikaila malah tidak masuk sekolah hingga menyarankan untuk mengganti komandan upacara.

“Bolos aja yuk? Aduh, tapi nggak mungkinlah. Tapi malu banget, basah gini, nanti di kira ngompol lagi.”

Mikaila mengekspose Tegar dari atas ke bawah, perawakan Tegar yang tinggi seperti anggota pleton inti paskibraka sekolahnya mencetuskan ide brilian dan edan dalam sekali jadi. Sementara Tegar mengamati wajah gadis asli Solo berwajah manis khas gadis kembang desa dengan seksama. Hatinya berkata cantik, logikanya membantah.

“Sekalian aja kamu jadi pahlawanku sepenuhnya mau gak?”

“Buruan ngomong, lelet!”

“Kamu gantiin aku jadi komandan upacara ya? Ya-ya, mau ya? Aku bayar dua puluh ribu!” bujuknya dengan ekspresi yang di gemas-gemaskan.

Tegar antusias menyingkir tangan Mikaila dari tas dan lengannya. “Uang sakuku sehari seratus ribu, duitmu nggak ada gunanya!”

“Wah sombong, anak baru kamu? Perlu aku ospek secara pribadi? Iya.” benak Mikaila.

“Hei—hei, kalian ngapain di sana, bukan di lapangan! Mika, buruan pimpin upacara!” seru Bu Weni—wali kelas Mikaila—mendatangi mereka dari area parkir khusus guru.

Terburu-buru Mikaila mengikat lengan jaket Tegar di pinggangnya seraya mengaduk-aduk isi tasnya untuk mencari topi upacara dan menaruhnya di kepala Tegar sambil berjinjit.

“Pokoknya bantuin. Ntar aku masih uang bensin seminggu!” desak Mikaila lalu menoleh, tersenyum aneh pada Bu Weni yang mengingat pemuda tampan yang mendatangi sekolah Jumat kemarin bersama ibunya.

“Tegar Abiyasa?” Bu Weni mengulurkan tangan. Dengan perangai berbeda, Tegar tersenyum dan mengangguk. Mereka bersalaman, bercakap-cakap seputar kelas dan sosok Mikaila yang bisa menjadi tempat mencari bantuan.

Baik Tegar ataupun Mikaila mencatat baik-baik keterangan yang diam-diam teramat penting bagi keduanya. Sebuah nama yang langsung terpatri dalam ingatan.

“Terus ngapain kalian berdua masih di sini bukannya upacara!” Bu Weni menjureng curiga. “Mau bolos kalian? Atau mau pacaran? Hayo...” seloroh Bu Weni yang menjadi guru favorit.

Dengan murah hati Mikaila mendesis tajam.

“Aku habis kepeleset, Bu. Nih-nih...” Mikaila mengangkat jaketnya dan menunjukkan roknya dengan sedikit menyunggingkan sebelah pantatnya. “Tegar bisa gantiin aku jadi komandan. Ya kan?”

Tegar menerima kerlingan sebelah mata Mikaila. Dengan berat hati ia mengangguk lalu membetulkan topinya yang terasa sempit di kepala. “Bisa, Bu. Sekalian bisa memperkenalkan diri sebagai siswa baru secara besar-besaran.”

Bu Weni hendak menolak rencana ngawur siswanya, tetapi Mikaila sudah menarik Tegar ke bagian khusus petugas upacara dengan berlari cepat di koridor sekolah yang sepi.

...***...

...Happy Reading....

Terpopuler

Comments

suminar

suminar

😀😀😀😀😀

2023-08-14

0

Cut SNY@"GranyCUT"

Cut SNY@"GranyCUT"

astaghfirullah, tega kau aama cewek Gar

2023-08-08

0

Cut SNY@"GranyCUT"

Cut SNY@"GranyCUT"

🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2023-08-08

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 : Dibuang Ayah.
2 Chapter 2 : Manusia Bumi
3 Chapter 3 - Tagihan Perdebatan
4 Chapter 4 - Telen Beban
5 Chapter 5 - Emosi Tragedi
6 Chapter 6 : Tanggung Jawab Aku!
7 Chapter 7 : Persoalan Genting
8 Chapter 8 : Persoalan Genting 2
9 Chapter 9 : Balapan Lucu
10 Chapter 10 : Tawuran
11 Chapter 11 : Takut Jatuh Cinta
12 Chapter 12 : Aksi Matt
13 Chapter 13 : Ngegas
14 Chapter 14 : Drew cs & Mika.
15 Chapter 15 : Musuh Dalam Sekolah
16 Chapter 16 : Masuk Sarang Musuh
17 Chapter 17 : Panji Perang
18 Chapter 18 : Lawan Jadi Kawan
19 Chapter 19 : Kepergok
20 Chapter 20 : Meledak
21 Chapter 21 : Salting
22 Chapter 22 : Iya, Sayang.
23 Chapter 23 : Ring Road Love
24 Chapter 24 : Bersenang-senang
25 Chapter 25 : OMG
26 Chapter 26 : Kekacauan
27 Chapter 27 : Kalah
28 Chapter 28 : Kerja Sama Terselubung
29 Chapter 29 : Toleransi nol
30 Chapter 30 : Wuu...
31 Chapter 31 : Melambungkan Fantasi
32 Chapter 32 : Bolos Bersama
33 Chapter 33 : Saingan, Iya...
34 Chapter 34 : Hukuman
35 Chapter 35 : Gulma
36 Chapter 36 : Back Street
37 Chapter 37 : Emang Enak
38 Chapter 38 : Loyal
39 Chapter 39 : Pahit & Pedas
40 Chapter 40 : Kabut
41 Chapter 41 : Manisnya Hukuman
42 Chapter 42 : Sidang Keluarga
43 Chapter 43 : Sinarnya Redup
44 Chapter 43 : Sedikit Balasan
45 Chapter 45 : Markijayyy
46 Chapter 46 : Membingungkan
47 Chapter 47 : B-e-r-a-n-i
48 Chapter 48 : Sensasi Mematikan
49 Chapter 49 : Kok Bisa Ya?
50 Chapter 50 : Ribut
51 Chapter 51 : Sangar
52 Chapter 52 : Menggila
53 Chapter 53 : Erat
54 Chapter 54 : Meeting Points
55 Chapter 55 : SERI
56 Chapter 56 : Gak Mudah
57 Chapter 56 : Maju Ke Depan
58 Chapter 58 : Heuheu
59 Chapter 59 : Bujuk Rayu
60 Chapter 60 : Tersedak
61 Chapter 61 : Ngeri
62 Chapter 62 : Parau
63 Chapter 63 : Gila sih
64 Chapter 64 : Baper
65 Chapter 65 : Good Goodbye
66 Chapter 66 : Evoleventador
67 Chapter 67 : Iya berdua
68 Chapter 68 : Lulus
69 Chapter 69 : Hadiah
70 Chapter 70 : Menolak Kembali
71 Chapter 71 : Drama Sekolah
72 Chapter 72 : Back Off
73 Chapter 73 : Prediksi Tepat
74 Chapter 74 : Engagement Day
75 Chapter 75 : Bertemu Kamu
76 Chapter 76 : Takut
77 Chapter 77 : Merana
78 Chapter 78 : Reuni
79 Chapter 79 : Malu & Takut
80 Chapter 80 : Balapan Terakhir
81 Chapter 81 : Before Wedding
82 Chapter 82 : Wedding Agreement
83 Chapter 83 : Usaha
84 Chapter 84 : Quiz
85 Chapter 85 : Goals
86 Chapter 86 : A love
87 Chapter 87 : Kacau
88 Chapter 88 : Mabuk Aturan
89 Chapter 89 : Bos kecil
90 Bab 90 : Epilog
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Chapter 1 : Dibuang Ayah.
2
Chapter 2 : Manusia Bumi
3
Chapter 3 - Tagihan Perdebatan
4
Chapter 4 - Telen Beban
5
Chapter 5 - Emosi Tragedi
6
Chapter 6 : Tanggung Jawab Aku!
7
Chapter 7 : Persoalan Genting
8
Chapter 8 : Persoalan Genting 2
9
Chapter 9 : Balapan Lucu
10
Chapter 10 : Tawuran
11
Chapter 11 : Takut Jatuh Cinta
12
Chapter 12 : Aksi Matt
13
Chapter 13 : Ngegas
14
Chapter 14 : Drew cs & Mika.
15
Chapter 15 : Musuh Dalam Sekolah
16
Chapter 16 : Masuk Sarang Musuh
17
Chapter 17 : Panji Perang
18
Chapter 18 : Lawan Jadi Kawan
19
Chapter 19 : Kepergok
20
Chapter 20 : Meledak
21
Chapter 21 : Salting
22
Chapter 22 : Iya, Sayang.
23
Chapter 23 : Ring Road Love
24
Chapter 24 : Bersenang-senang
25
Chapter 25 : OMG
26
Chapter 26 : Kekacauan
27
Chapter 27 : Kalah
28
Chapter 28 : Kerja Sama Terselubung
29
Chapter 29 : Toleransi nol
30
Chapter 30 : Wuu...
31
Chapter 31 : Melambungkan Fantasi
32
Chapter 32 : Bolos Bersama
33
Chapter 33 : Saingan, Iya...
34
Chapter 34 : Hukuman
35
Chapter 35 : Gulma
36
Chapter 36 : Back Street
37
Chapter 37 : Emang Enak
38
Chapter 38 : Loyal
39
Chapter 39 : Pahit & Pedas
40
Chapter 40 : Kabut
41
Chapter 41 : Manisnya Hukuman
42
Chapter 42 : Sidang Keluarga
43
Chapter 43 : Sinarnya Redup
44
Chapter 43 : Sedikit Balasan
45
Chapter 45 : Markijayyy
46
Chapter 46 : Membingungkan
47
Chapter 47 : B-e-r-a-n-i
48
Chapter 48 : Sensasi Mematikan
49
Chapter 49 : Kok Bisa Ya?
50
Chapter 50 : Ribut
51
Chapter 51 : Sangar
52
Chapter 52 : Menggila
53
Chapter 53 : Erat
54
Chapter 54 : Meeting Points
55
Chapter 55 : SERI
56
Chapter 56 : Gak Mudah
57
Chapter 56 : Maju Ke Depan
58
Chapter 58 : Heuheu
59
Chapter 59 : Bujuk Rayu
60
Chapter 60 : Tersedak
61
Chapter 61 : Ngeri
62
Chapter 62 : Parau
63
Chapter 63 : Gila sih
64
Chapter 64 : Baper
65
Chapter 65 : Good Goodbye
66
Chapter 66 : Evoleventador
67
Chapter 67 : Iya berdua
68
Chapter 68 : Lulus
69
Chapter 69 : Hadiah
70
Chapter 70 : Menolak Kembali
71
Chapter 71 : Drama Sekolah
72
Chapter 72 : Back Off
73
Chapter 73 : Prediksi Tepat
74
Chapter 74 : Engagement Day
75
Chapter 75 : Bertemu Kamu
76
Chapter 76 : Takut
77
Chapter 77 : Merana
78
Chapter 78 : Reuni
79
Chapter 79 : Malu & Takut
80
Chapter 80 : Balapan Terakhir
81
Chapter 81 : Before Wedding
82
Chapter 82 : Wedding Agreement
83
Chapter 83 : Usaha
84
Chapter 84 : Quiz
85
Chapter 85 : Goals
86
Chapter 86 : A love
87
Chapter 87 : Kacau
88
Chapter 88 : Mabuk Aturan
89
Chapter 89 : Bos kecil
90
Bab 90 : Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!