Senin pagi di kota Solo yang mendung. Motor Tiger herex yang mempunyai suara bak helikopter mini meluncur dari rumah sederhana dari perkampungan pinggir kota menuju SMA Garuda Pradipta Jaya sebagai tempat Tegar melanjutkan pendidikannya setelah melewati beberapa hari di kota itu tanpa semangat.
Di perjalanan, tampilan motor drag bike pretelan itu menjadi pusat perhatian. Modifikasi warna merah dan hitam metalik, penggunaan ukuran ban yang kecil dan stang acerbis-nya termodifikasi dengan mesin dan komponen unggulan dengan sempurna. Meski tak seperti motor-motor drag bike herex lainnya yang cenderung di luar nalar, motor Harris enak di pandang.
Tegar tersenyum kecil. Banyak pelajar berseragam putih abu-abu yang menatapnya sekilas dan tergesa menyusuri jalanan menuju gerbang sekolah. Ia berhasil melewati pintu gerbang tepat ketika gerbang hendak ditutup oleh pak satpam.
Tegar menapakkan kaki kirinya di atas genangan air sisa hujan semalam di lantai parkiran seraya melepas helm full face-nya. Ia menerawang sekolah barunya sambil bersedekap di saat Mikaila Dennise ketua OSIS 18 tahun yang semalam mengikuti acara lamaran kakaknya terlambat datang.
Mikaila memanjat pagar sekolah sesaat setelah rayuannya pada pak satpam gagal total. Dibarengi intrupsi pak satpam, ia berlari tunggang langgang ke arah Tegar dan syurrr... Mikaila menjerit, kedua tangannya terayun ke atas dengan satu kakinya yang terangkat.
Tegar reflek meraih gadis berambut panjang nyaris yang terjungkal karena terpeleset.
Mikaila memegangi dadanya yang rasanya si jantung berdetak cepat hingga napasnya memburu dalam dekapan Tegar yang tercenung.
Hari pertamanya sekolah akan menjadi hari paling diingatnya sebagai hari paling menghibur di kota kecil yang lebih nyaman untuk motoran ketimbang Jakarta yang hampir sebagai jalannya ditemukan kemacetan. Kesialan Mikaila membuat senyumnya mengembang sekilas.
Mikaila mengerjap, menatap takjub laki-laki penolongnya yang berparas tampan tanpa ekspresi itu sambil tersenyum lepas.
“My Hero.” ucapnya lalu mendusel ke dada Tegar yang wangi.
Tegar melepas tangannya dengan tak acuh.
Mikaila terjatuh di genangan air sambil menjerit. Ia bangkit tanpa jeda sambil mendengus jengkel.
“Kamu batal jadi pahlawanku, kamu penipu!”
Mikaila menarik rok belakangnya yang basah lalu mengumpulkan tepian rok dan memeras airnya yang merembes sampai ke celana ketatnya.
“Terserah katamu!” sahut Tegar pendek, tak berniat mengeluarkan sepatah kata lain selagi gadis kecentilan yang mengurusi roknya sampai terlihat kusut itu mengomelinya.
“Semoga kamu dapat karma! Kapok.”
Tegar geleng-geleng kepala lalu pergi meninggalkannya.
Mikaila melangkah cepat-cepat, mendahului Tegar seraya menatapnya sambil berjalan mundur di tengah parkiran motor. Ia menyipitkan mata dan terlihat menyadari sesuatu.
“Siapa kamu?”
Pemuda berwajah muram itu menjawab sambil melepas tas ranselnya dan menaruhnya di stang motor orang, “Aku manusia bumi!”
Mikaila mendesis tak sabar, sementara dari arah lapangan upacara sudah terdengar intrupsi dari guru agar berbaris dengan rapi.
“Aku tau kamu manusia bumi, bukan gorila. Tapi kamu sama kayak gorila sih, sama-sama bernafas dan mahluk hidup!” Mikaila cepat-cepat melengos, ia berhenti di samping tembok kelas sepuluh sambil mengintip ke arah lapangan sekolah.
“Nggak mungkin ke ruang guru sekarang, aku pasti jadi artis dadakan. Ih...” Mikaila menghentakkan punggungnya ke tembok, menguncupkan bibirnya lalu memandang Tegar yang mengulurkan jaket baseball-nya.
“Pakai!”
“Gak ah, ntar kamu bohong kayak tadi.” Mikaila menggeleng. “Lagian kita nggak kenal.”
“Sangat mudah mencari keberadaanmu di sekolah ini!” Tegar menyampirkan jaketnya di kepala Mikaila yang memakai bando berkain batik.
Mikaila berhasil meraih lengan Tegar sebelum pemuda berseragam resik dan baru itu meninggalkannya seorang diri dalam keadaan ngenes.
Mikaila nyengir, meraup kesempatan untuk kepentingan pribadinya yang sedang gawat darurat adalah wajib hukumnya. Tetapi antusiasme yang tak wajar itu membuat Tegar agak ngeri melihat Mikaila dekat-dekat.
Tegar berusaha menepis tangan Mikaila. Tetapi gadis yang memiliki kekuatan ekstra ditengah situasi itu melarangnya dengan memegangi tas Tegar dengan tangan satunya.
Ini cewek nggak paham istilah jauhi orang asing kayaknya. Nggak takut sama gue dia.
“Mau apa?” tanya Tegar dengan malas.
Mikaila melongok sekilas ke arah lapangan, siswa petugas upacara dan para guru bingung mencarinya. Beberapa mengira Mikaila malah tidak masuk sekolah hingga menyarankan untuk mengganti komandan upacara.
“Bolos aja yuk? Aduh, tapi nggak mungkinlah. Tapi malu banget, basah gini, nanti di kira ngompol lagi.”
Mikaila mengekspose Tegar dari atas ke bawah, perawakan Tegar yang tinggi seperti anggota pleton inti paskibraka sekolahnya mencetuskan ide brilian dan edan dalam sekali jadi. Sementara Tegar mengamati wajah gadis asli Solo berwajah manis khas gadis kembang desa dengan seksama. Hatinya berkata cantik, logikanya membantah.
“Sekalian aja kamu jadi pahlawanku sepenuhnya mau gak?”
“Buruan ngomong, lelet!”
“Kamu gantiin aku jadi komandan upacara ya? Ya-ya, mau ya? Aku bayar dua puluh ribu!” bujuknya dengan ekspresi yang di gemas-gemaskan.
Tegar antusias menyingkir tangan Mikaila dari tas dan lengannya. “Uang sakuku sehari seratus ribu, duitmu nggak ada gunanya!”
“Wah sombong, anak baru kamu? Perlu aku ospek secara pribadi? Iya.” benak Mikaila.
“Hei—hei, kalian ngapain di sana, bukan di lapangan! Mika, buruan pimpin upacara!” seru Bu Weni—wali kelas Mikaila—mendatangi mereka dari area parkir khusus guru.
Terburu-buru Mikaila mengikat lengan jaket Tegar di pinggangnya seraya mengaduk-aduk isi tasnya untuk mencari topi upacara dan menaruhnya di kepala Tegar sambil berjinjit.
“Pokoknya bantuin. Ntar aku masih uang bensin seminggu!” desak Mikaila lalu menoleh, tersenyum aneh pada Bu Weni yang mengingat pemuda tampan yang mendatangi sekolah Jumat kemarin bersama ibunya.
“Tegar Abiyasa?” Bu Weni mengulurkan tangan. Dengan perangai berbeda, Tegar tersenyum dan mengangguk. Mereka bersalaman, bercakap-cakap seputar kelas dan sosok Mikaila yang bisa menjadi tempat mencari bantuan.
Baik Tegar ataupun Mikaila mencatat baik-baik keterangan yang diam-diam teramat penting bagi keduanya. Sebuah nama yang langsung terpatri dalam ingatan.
“Terus ngapain kalian berdua masih di sini bukannya upacara!” Bu Weni menjureng curiga. “Mau bolos kalian? Atau mau pacaran? Hayo...” seloroh Bu Weni yang menjadi guru favorit.
Dengan murah hati Mikaila mendesis tajam.
“Aku habis kepeleset, Bu. Nih-nih...” Mikaila mengangkat jaketnya dan menunjukkan roknya dengan sedikit menyunggingkan sebelah pantatnya. “Tegar bisa gantiin aku jadi komandan. Ya kan?”
Tegar menerima kerlingan sebelah mata Mikaila. Dengan berat hati ia mengangguk lalu membetulkan topinya yang terasa sempit di kepala. “Bisa, Bu. Sekalian bisa memperkenalkan diri sebagai siswa baru secara besar-besaran.”
Bu Weni hendak menolak rencana ngawur siswanya, tetapi Mikaila sudah menarik Tegar ke bagian khusus petugas upacara dengan berlari cepat di koridor sekolah yang sepi.
...***...
...Happy Reading....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
suminar
😀😀😀😀😀
2023-08-14
0
Cut SNY@"GranyCUT"
astaghfirullah, tega kau aama cewek Gar
2023-08-08
0
Cut SNY@"GranyCUT"
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2023-08-08
0