"Jelaskan tentang semua ini Brian !" sang Ibu nampak berteriak dihadapan wajah putranya.
"Apa yang telah kau lakukan pada Joanna Nak ?"
"Kurang tulus apa Joanna selama ini kepada mu Brian !" Ibu Brian serta Kennedy tak kalah terpukul saat harus menerima kenyataan tentang perlakuan putra pertamanya.
"Kau sungguh benar-benar membuat malu Ayah Brian !" sang Ayah tak kalah emosi dan kembali melayangkan sebuah tamparan keras di pipi Brian.
Joanna yang melihat hal itu justru menatap iba pada sang suami,
"Ayah, Ibu ...," suara Joanna membuat kedua orang mertuanya terdiam.
"Dia sudah dewasa Ayah, tidak seharusnya kita memperlakukan Brian seperti ini !" Joanna tertunduk matanya nampak berkaca-kaca.
"Saya menyerahkan sepenuhnya keputusan ditangan Brian,"
"Jika dia memang menginginkan kebebasan ...," kalimat Joanna nampak tersendat karena sesak di dalam dadanya.
"Saya tidak akan menahan nya," Joanna mencoba mempercepat langkahnya untuk berlalu dari hadapan keluarga Brian serta Linda yang masih terduduk tanpa suara di samping boss nya.
Hati Brian mendadak turut teriris mendengar kalimat yang keluar dari bibir Joanna.
"Dan kau wanita ******, pergi dari sini sekarang juga !" Ibu Kennedy kembali emosi dan menarik kasar Linda untuk pergi dari rumah menantunya.
Kennedy serta Ibunya akhirnya menghampiri Joanna di kamar, Joanna yang nampak terdiam menatap ke luar jendela membuat Kennedy juga ibunya semakin merasa iba terhadap nya.
"Apa kami boleh masuk Nak ?" suara lembut sang Ibu mertua membuat wanita itu akhirnya menoleh pada sumber suara.
"Tentu Ibu," Joanna mencoba untuk memaksakan senyum di wajahnya dihadapan Kennedy juga ibu mertuanya.
"Jangan tersenyum seperti itu Nona,"
"Senyuman mu justru membuat ku semakin terluka !" Kennedy memalingkan wajahnya, pria itu nampak menyembunyikan matanya yang telah berkaca-kaca.
"Maafkan Ibu Nak," wanita paruh baya itu nampak menggenggam erat tangan Joanna dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan kelakuan anak Ibu Joanna !" tangisnya pun pecah tatkala Joanna memeluknya.
"Tak apa Bu,"
"Tak ada yang pernah menyangka ini akan terjadi," Joanna justru mencoba untuk menenangkan ibu mertuanya.
Kennedy hanya berdiri terdiam menyaksikan tangisan pilu dari Ibunya karena meratapi kesedihan Joanna menantunya.
Malam itu Kennedy sengaja kembali pulang bersama kedua orangtuanya.
Ayah dan Ibu mertua Joanna yang mengkhawatirkan kondisi menantunya meminta Kennedy untuk mampir dan membawa mereka mengunjungi Joanna.
"Maaf karena Ayah dan Ibu harus langsung pamit sekarang Ken,"
"Ibu mu tak ingin mengganggu Joanna yang nampak nya ingin sendiri dan menenangkan hatinya."
Ayah dan Ibu Kennedy akhirnya berpamitan pada Kennedy dan tetap mengacuhkan Brian yang masih duduk terdiam dengan wajah babak belur karena emosi Kennedy.
"Untuk sekarang ini, jagalah Joanna Ken !" ibunya kembali menghela nafas menumpahkan rasa kesal di dada karena ulah putra pertamanya.
Kennedy hanya tersenyum serta mengangguk menanggapi kalimat dari orang tuanya.
"Bagaimana keadaan Joanna sekarang ?" Brian berucap datar saat Kennedy berjalan melewatinya.
"Jangan pikirkan lagi tentang Nona, urus saja wanita ****** simpanan mu itu !" Kennedy berucap dan berlalu begitu saja.
"Aaaaaghh, sialan !"
"Kenapa bisa ada Ayah juga Ibu disini ?" pria itu nampak emosi dan mengacak rambutnya sendiri.
Kennedy kembali memasuki kamar Joanna, pria itu menutup serta mengunci pintunya.
"Nona," Kennedy nampak memeluk hangat tubuh Joanna yang meringkuk dan membelakanginya.
"Menangis lah Nona,"
"Diriku disini untukmu !" pria itu mengeratkan pelukan dengan menyatukan tangannya serta menggenggam jemari Joanna.
Joanna hanya diam tak menanggapi kalimat Kennedy yang memeluknya, luka hati Joanna membuat wanita itu ingin segera lari ke alam mimpinya.
Setelah kejadian malam itu Brian terlihat sering di rumah, pria itu nampaknya sedikit menyesal atas perbuatannya.
Meskipun demikian Linda tetap saja sering berkunjung dan kembali menggodanya.
Joanna, wanita itu kini lebih sering menghabiskan waktu di butik miliknya.
Ia tak ingin lagi menjadi wanita lemah yang hanya berdiam diri di rumah.
Joanna mencoba meredam luka hatinya dengan cara menyibukkan diri untuk melayani para pelanggan.
"Kau sudah kembali ?" Brian nampak menanti Joanna yang baru saja kembali dengan menaiki taksi.
Joanna hanya mengangguk menanggapi pertanyaan sang suami.
"Aku ...,"
"Aku lelah Bri, aku istirahat dulu !" Joanna berlalu dan tampak tak ingin mendengar kalimat dari mulut sang suami.
"Tunggu Joanna !" Brian akhirnya mengejar langkah kaki Joanna hingga ke kamarnya.
"Dengar kan aku !" Brian membuat tubuh Joanna berbalik hingga menghadap dirinya.
"Apa yang kau inginkan Bri ?" wanita itu kembali berucap lesu dan tak ingin menatap sang suami.
"Mmmmmphh," Brian akhirnya mencium paksa bibir Joanna.
"Walau bagaimanapun diriku ini masih suamimu Joanna !" pria itu mendorong kasar tubuh Joanna ke atas tempat tidurnya.
"Jadi aku berhak melakukan ini padamu !" tatapan Brian tampak penuh dengan amarah karena Joanna mengacuhkannya.
"Tolong lepas Bri," Joanna berucap dengan suara lemah dengan air mata yang telah membasahi pipinya.
"Apa belum puas juga dirimu melukai ku ?" Joanna hanya diam tak melawan atau menanggapi setiap sentuhan Brian pada tubuhnya.
"Melukai mu ?" Brian akhirnya menghentikan aktivitasnya, pria itu kembali duduk dengan menatap istri yang selama ini telah tak dipedulikannya.
"Justru dirimu yang telah melukai ku Joanna !" Brian berteriak frustasi dan meninggikan suara terhadap Joanna istrinya.
"Linda, datang lah kemari sekarang !" pria itu justru dengan sengaja menghubungi Linda untuk berkunjung ke rumahnya malam itu.
Hasrat yang tak mampu ia tuntaskan pada Joanna akhirnya membuat Brian kembali meminta kepuasan batin dari sekretarisnya.
"Nona," Kennedy nampak menyambangi Joanna hari itu.
"Kau sudah kembali Ken ?" Joanna tersenyum melihat adik ipar yang telah lama ia rindukan.
Kennedy tersenyum mengangguk seraya melepas sneaker abu-abu yang ia kenakan.
"Bagaimana dengan keadaan Ayah ?" Joanna wanita itu turut mencemaskan kondisi mertuanya yang kembali sakit-sakitan karena memikirkan Brian sang putra.
"Ayah sudah lebih baik dari sebelumnya Nona,"
"Justru Ayah yang meminta ku untuk segera kembali menemani Nona," Kennedy memperhatikan ransel besar yang berada pada ruang pribadi di butik Joanna.
"Apa Nona tidak pulang ke rumah ?" pria itu menatap iba pada keadaan hidup kakak iparnya.
Joanna hanya tersenyum menanggapi kalimat Kennedy, wanita itu nampak menghela nafas sebelum akhirnya kembali membuka suara.
"Diriku tak ingin mengganggu aktivitas mereka Ken !"
"Jadi aku lebih memilih untuk berada disini," Joanna nampak kembali memaksakan senyuman dihadapan Kennedy.
"Kita harus kembali ke rumah Nona, jangan biarkan perempuan itu menguasai rumah Nona !"" Kennedy menggenggam erat tangan Joanna untuk meyakinkan nya.
"Tenanglah, ada diriku bersamamu kali ini !" Kennedy kembali menatap hangat manik mata Joanna dan mencoba untuk kembali meyakinkan nya.
"Tapi Ken ...," kalimat Joanna terhenti karena Kennedy telah mencium lembut bibir tipisnya.
"Kita sudah lama tidak melakukannya Nona," Kennedy kembali menyusuri tengkuk leher kakak iparnya serta meniup perlahan area sensitif pada telinga Joanna.
"Diriku sungguh merindukan ini," pria itu bahkan telah menyentuh gemas kedua aset pribadi pada dada Joanna.
"Ken ...," Joanna akhirnya mendesah karena menikmati sentuhan Kennedy.
Bukan kembali mencumbui nya, Kennedy justru menghentikan aktivitasnya.
"Aku tak akan melanjutkan nya Nona," pria itu menampilkan senyum licik yang tak dimengerti oleh kakak iparnya.
"Tapi kenapa ?" raut wajah Joanna tampak berubah penuh tanya, wanita itu nampak kecewa karena ulah Kennedy.
"Apa Nona yakin ingin melakukan nya disini ?" Kennedy kembali berbisik dan menggoda Joanna.
"Ayolah Ken !" Joanna nampak merengek dan meminta sesuatu pada Kennedy.
"Tidak sekarang Nona," Kennedy terkekeh serta memalingkan wajahnya untuk menghindari kejaran bibir kakak iparnya.
"Kita pulang sekarang, diriku akan memuaskan Nona di ranjang yang lebih nyaman !" Kennedy, pria itu sungguh lihai dalam memancing dan membuat Joanna luluh hingga menuruti kemauannya.
Seperti seorang anak kecil, Joanna mengikuti langkah Kennedy menuju mobil.
"Apa Tuan ingin kita mampir ke hotel ?" Linda melirik Brian yang terdiam, pria itu juga kecewa atas hasil meeting hari itu.
Semua nampak berantakan bagi Brian.
"Entahlah," Brian menghela nafas serta mengalihkan pandangannya keluar jendela kaca mobilnya.
"Tenanglah Tuan, kita pasti bisa meyakinkan klien ini lain kali !"
"Kita hanya harus terus mencoba bukan ?" Linda berucap dengan entengnya.
"Tapi tidak segampang itu Linda !" Brian berucap dan nampak memijit keningnya.
"Apa yang tidak mungkin Tuan ?" Linda tersenyum nakal seraya membelai kejantanan Kennedy dengan satu tangannya.
Meskipun tengah dalam kondisi menyetir, wanita itu tak kehabisan akal untuk tetap menggoda boss nya.
Tak kalah panas dari Brian juga Linda, Kennedy justru kembali memancing hasrat Joanna begitu mereka sampai halaman rumah Joanna.
"Ken ...," wanita itu telah berada dalam gendongan Kennedy semenjak turun dari mobilnya.
Tangan yang melingkar erat serta bibir Joanna yang tak ingin lepas dari lisan Kennedy membuat setiap langkah pria itu nampak melambat meskipun deru nafasnya kian memburu.
"Aaaaaghhh, sial !"
"Aku tak bisa menahan nya lagi Nona !" Kennedy akhirnya membaringkan tubuh Joanna pada sofa ruang tamunya.
"Ken, aku merindukanmu !" Joanna tak kalah bertingkah manja dengan menggigit bibirnya karena sentuhan tangan Kennedy.
"Haruskah kita mencoba permainan baru Nona ?" Kennedy membelai perut rata Joanna dengan begitu sensual.
Joanna hanya tersenyum, tanda mengiyakan perkataan Kennedy.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments