Rasa canggung yang menerpa hati Kennedy membuat kediaman Joanna begitu sunyi selama beberapa hari ini.
"Apa aku membuat kesalahan ?" Joanna tampak bingung karena Kennedy selalu menghindar darinya.
Kesepakatan bisnis Brian yang terlihat begitu alot bersama kliennya membuat pria itu sibuk dan tak sempat memberikan kabar pada Joanna.
"Sayang maaf, aku masih harus meeting sekarang !"
"Akan ku hubungi lagi nanti," Brian memutus panggilan Joanna secara sepihak.
"Rasanya begitu sepi," Joanna terduduk dan mengalihkan pandangan pada taman sederhana di teras rumahnya.
"Ada apa sebenarnya dengan Kennedy ?"
"Apa aku salah bicara terhadap nya ?"
"Padahal aku ingin keluar, haruskah aku naik taksi ?" Joanna asik berdialog dengan dirinya sendiri.
Tanpa ia sadari Kennedy tersenyum menatap tingkah laku kakak iparnya.
Pria itu telah sedari tadi memperhatikan Joanna dari balik kaca.
"Apa ini keterlaluan ?"
"Apa aku terlalu mendiami nya akhir-akhir ini ?" Kennedy menggeleng perlahan, ia menatap iba pada Joanna yang terlihat begitu kesepian.
"Apa yang Nona lakukan ?" Kennedy akhirnya menghampiri Joanna yang tengah sibuk berkutat dengan gunting tanaman.
"Hanya sedikit merapikan tanaman !" Joanna menoleh dan mendapati Kennedy terduduk pada kursi dibelakang nya.
"Apa Kau tak memiliki kekasih Ken ?" Joanna akhirnya kembali duduk pada kursi teras di sebelah Kennedy.
"Ibu dan Ayah bilang mereka mengkhawatirkan mu !"
"Maksud Nona ?" Kennedy kembali bergetar saat menatap manik mata Joanna.
"Kau sama sekali tak pernah membawa kekasih mu ke rumah ?" Joanna menatap Kennedy dengan menyeka keringat di dahinya.
"Apa mereka pikir aku ini gay ?" Kennedy berucap tanpa basa-basi dihadapan Joanna.
"Jangan dengarkan Ayah ataupun Ibu Nona !"
"Lagipula ..." Kennedy menghentikan kalimatnya, pria itu tertunduk dan dengan sekilas melirik kakak iparnya.
"Kenapa Ken ?" Joanna terheran seketika dengan semua hal yang baru saja Kennedy ungkapkan.
"Wanita yang kucintai sepertinya akan sulit untuk ku dapatkan !"
"Dia sudah menjadi milik orang lain Nona," Kennedy menghela nafas kasar namun matanya tak teralihkan dari paras Joanna.
"Jika memang mencintai nya, seharusnya kau tidak menyerah Ken !"
"Wanita itu akan sangat merasa berharga jika pria nya mau memperjuangkan dirinya !" Joanna menepuk perlahan bahu Kennedy sebelum akhirnya beranjak untuk membersihkan diri.
"Masalahnya, wanita itu adalah dirimu Nona !"
"Bagaimana mungkin aku memperjuangkan mu dari kakak ku sendiri ?" Kennedy tersenyum getir menatap kepergian Joanna.
"Maaf jika membuat mu lelah !" Joanna memberikan handuk serta minuman hangat pada Kennedy yang nampak basah karena hujan.
"Kenapa kau tak membiarkan nya saja Ken ?" Joanna tampak mencemaskan Kennedy yang semakin menggigil karena dingin nya air hujan.
"Tak apa Nona,"
"Aku sempat melihat Nona mencoba mendorong pot besar itu sendirian sebelumnya,"
"Jadi ku putuskan untuk memindahkan nya," pria itu tersenyum sembari menikmati teh hangat buatan kakak iparnya.
"Sempat ada ular disekitar pot itu Ken, itu membuat ku sedikit takut saat musim hujan seperti ini," Joanna berucap seraya mengambil alih handuk di pundak Kennedy.
"Brian tidak pernah ada waktu untuk melakukan hal semacam ini !" Joanna kini telah berdiri sembari mengusap perlahan dan mencoba mengeringkan rambut Kennedy, wajah Joanna kembali muram mengingat kerinduan nya pada sang Suami.
"Keringkan rambut mu dengan benar, atau kau akan demam !" pribadi Joanna yang memang tulus membantu adik iparnya membuat Kennedy semakin menggila setiap menatap Joanna.
"Nona,"
"Apa Nona akan memberikan dukungan untuk ku ?" Kennedy kembali membuka suara seraya menikmati usapan lembut tangan Joanna di kepalanya.
"Mendukung ?" gerakan tangan Joanna melambat mendengar pertanyaan Kennedy.
"Jika aku memperjuangkan wanita yang kucintai,"
"Apa Nona akan mendukung ku ?" Kennedy kembali melontarkan pertanyaannya pada Joanna.
"Tentu !"
"Aku orang pertama yang akan mendukung mu Ken !" Joanna yang turut mencemaskan ke normal'an Kennedy akibat pengaruh ibu serta Ayah mertuanya berucap dengan antusias menjawab pertanyaan Kennedy.
"Kau harus mendapatkan wanita itu, apapun yang terjadi !" Joanna yang berbisik tepat ditelinga Kennedy membuat kejantanan pria itu turn on seketika.
Gerimis yang masih turun malam itu membuat suasana kian dingin nan hening.
Joanna menatap lesu keluar jendela, wanita itu masih menanti kabar dari Brian yang tak kunjung menghubungi nya.
Hingga akhirnya semua gelap di matanya.
"Ken !" wanita itu berucap lesu, tubuhnya bergetar hingga akhirnya terduduk lemah tak berdaya.
"Nona !"
"Nona dimana ?" Kennedy melangkah perlahan, mencari keberadaan kakak iparnya.
Pria itu mencoba menembus gelap menuju kamar Joanna.
"Nona," Kennedy mempercepat langkahnya menghampiri Joanna yang duduk tertelungkup memeluk kedua kakinya.
"Ken !" wanita itu nampak terisak dalam pelukan Kennedy adik iparnya.
"Nona baik-baik saja ?" Kennedy kembali dibuat bingung akan kondisi Joanna.
Joanna hanya bisa menanggapi Kennedy dengan menangis.
"Nona tenanglah, Aku disini !" Kennedy membawa Joanna kedalam pelukannya.
"Lihat aku Nona !" pria itu mendongakkan wajah Joanna untuk menatapnya.
Namun terlihat sia-sia tubuh Joanna kian gemetar diiringi oleh isak tangis nya yang tak kunjung reda.
"Klaustrophobia ?" Kennedy menanyakan hal itu dalam hatinya.
"Apa Nona mengalami hal itu ?" ia mencoba untuk tetap tenang ditengah rasa paniknya.
"Nona lihat aku !"
"Kau akan baik-baik saja."
"Lihatlah aku disini, lampunya pasti akan segera menyala."
"Percayalah padaku !" Kennedy kembali mencoba meyakinkan kakak iparnya.
Kennedy semakin dilanda kepanikan saat mendapati Joanna yang mulai terlihat kesulitan untuk bernafas.
Hingga akhirnya,
"Mmmmmphh" isak tangis Joanna tertahan, karena Kennedy mencium lembut bibirnya.
"Hentikan," Joanna mencoba menghindari bibir Kennedy tapi tubuh lemah nya tak mampu menghentikan tindakan adik iparnya.
"Ken,"
Tak menghiraukan segala ucapan Joanna, Kennedy justru membimbing kakak iparnya untuk mengikuti permainan lidahnya dan tak memberi kesempatan Joanna untuk berbicara.
Ia tak ingin kakak iparnya kembali sadar dan mengingat traumanya.
Kecupan yang semula lembut itu kian berkembang.
Kedua insan manusia yang sama-sama merindukan kasih sayang itu akhirnya terhanyut dalam permainan lidah mereka yang saling menuntut balas.
"Nona," nafas Kennedy semakin memburu, permainan lidah yang semakin panas itu tanpa sadar berhasil melucuti busana masing-masing.
"Tidak Ken," Joanna mendorong perlahan tubuh Kennedy yang telah berada di atas ranjangnya, wanita itu mencoba untuk menyadarkan dirinya.
Untuk sesaat Kennedy terdiam menatap sang Kakak ipar yang telah berada dalam kungkungan nya, namun hasratnya kembali bergejolak hingga akhirnya pria itu kembali menghujani Joanna dengan kecupan hangat di setiap lekuk tubuh kakak iparnya.
Brian yang telah lama tak menyentuh nya membuat Joanna akhirnya pasrah dan kembali melingkarkan tangannya di leher Kennedy serta menikmati setiap kehangatan yang diberikan oleh adik iparnya.
"Ada apa dengan ku ?"
"Aku ingin menolak, tapi tidak dengan tubuhku," Joanna menitikkan air matanya sesaat setelah merengkuh nikmat bersama adik iparnya.
"Maafkan aku Nona," suara berat Kennedy semakin membuat bulu kuduk Joanna berdiri.
Pelukan hangat dari Kennedy kembali menenangkan nya dan membuat wanita itu terbuai hingga memejamkan mata.
"Lekuk tubuhmu benar-benar membuat ku candu !" Kennedy berucap dalam hati serta membelai surai rambut Joanna yang terlelap dalam pelukannya.
"Apa yang telah ku lakukan ?" Joanna memukul kepalanya sendiri saat ia mendapatkan kembali kesadarannya pagi itu.
"Nona hentikan !" isak tangis Joanna membuat mata Kennedy terbuka, pria itu dengan sigap menahan tangan Joanna.
"Maaf ini semua salahku," Kennedy memaksa Joanna untuk diam dalam dekapannya.
Kennedy yang awalnya hanya ingin membuat rileks Joanna akhirnya kalah dengan hawa nafsunya dan berujung melakukan hubungan terlarang tersebut bersama Joanna sang kakak ipar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments