"Apa kau tidak ingin sarapan dulu Bri ?"
"Kennedy adikmu, dia membantu Ibu memasak dari pagi !" Ibu Joanna nampak menyapa Brian yang muncul dengan menenteng tas kerjanya.
"Maaf Bu, aku sedang tidak nafsu makan !" Brian menjawab pertanyaan ibu mertuanya dengan wajah datar.
"Aku berangkat sekarang !" pria itu kembali berpamitan dengan sikap dinginnya dan berlalu meninggalkan Kennedy serta Ayah, Ibu Joanna.
"Ada apa sebenarnya dengan Brian Nak ?"
"Apa hubungan kakakmu dengan Joanna baik-baik saja ?" Ayah Joanna mencoba untuk menggali informasi dari pria muda dihadapan nya.
"Maaf Ayah, saya juga tidak terlalu paham," Kennedy menanggapi pertanyaan Ayah Joanna dengan tersenyum, ia tak ingin jika sampai salah bicara.
"Kakak dan juga Nona biasanya selalu terlihat begitu harmonis," Kennedy turut menutupi pertikaian yang sebenarnya telah terjadi diantara Brian dan juga Joanna.
"Dimana Joanna, kenapa ia tak turun juga ?" Ibu Joanna nampak risau dan akhirnya melangkah untuk menyambangi kamar putri nya.
"Jo ?"
"Kau baik-baik saja ?" sang Ibu nampak membuka pintu dan dengan segera mendekati tubuh Joanna.
Wanita itu nampak meringkuk seraya memegangi perutnya dengan memejamkan mata.
Keringat dingin nampak terlihat pada seluruh wajah serta badan Joanna.
"Jawab Ibu Nak !" sang Ibu akhirnya panik dan berteriak memanggil Kennedy serta suaminya.
"Panggil dokter Nak !" ibu Joanna nampak meminta Kennedy untuk bertindak cepat.
"Tidak Ibu, kita langsung ke rumah sakit saja !" Kennedy seketika mengangkat tubuh Joanna dengan raut wajah paniknya.
Kedua orang tua Joanna hanya mengikuti pria bertubuh tinggi kekar itu untuk membawa putri mereka ke rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Nona Joanna dok ?" Kennedy nampak tak sabar untuk mengetahui kondisi kakak iparnya.
"Kram perut saat menstruasi umum nya merupakan hal yang wajar terjadi Tuan !"
"Hal ini terjadi karena rahim menghasilkan terlalu banyak prostaglandin ketika wanita sedang menstruasi."
"Zat inilah yang menyebabkan otot-otot rahim berkontraksi sehingga menyebabkan nyeri,"
"Selain itu faktor stress juga bisa mempengaruhi, jadi tolong dijaga benar-benar suasana hati pasien.
"Nona Joanna bisa kembali pulang sore ini," sang dokter tersenyum dan menjabarkan semuanya terhadap kondisi Joanna pada Kennedy.
Kennedy mengangguk pertanda ia memahami informasi serta saran dari sang dokter.
"Nona, kenapa dirimu selemah ini ?"
"Apa Brian kembali membuat mu terluka ?" Kennedy, pria itu paham betul dengan kondisi Joanna, kakak iparnya merupakan sosok wanita yang sensitif dan pemikir.
"Ken, bagaimana kondisi Joanna ?"
"Apa kata dokter Nak ?" ibu Joanna menghampiri dan menggandeng lengan Kennedy.
"Nona, hanya sedang lelah Bu !"
"Kram karena datang bulan selalu membuatnya seperti ini !" Kennedy memandang Joanna yang kembali tergolek lemah di ranjang rumah sakit.
"Dari dulu Joanna memang seperti itu Ken !"
"Kondisi tubuhnya dari kecil memang sering tidak stabil," ibu Joanna nampak lesu menceritakan kondisi putrinya.
"Tubuhnya begitu sensitif, ia juga memiliki riwayat beberapa trauma yang hampir merenggut nyawanya !" mata ibu Joanna nampak berkaca-kaca.
"Itulah mengapa dia belum ingin memiliki seorang bayi dalam kehidupannya !"
Kennedy nampak diam seribu bahasa mendengar semua perkataan Ibu Joanna.
"Beruntung Brian mau memahami kondisinya !"
"Tapi melihat sikap Brian saat ini ...," ibu Joanna kembali tak melanjutkan kalimatnya.
"Ibu jangan khawatir, saya akan turut menjaga Nona Joanna untuk Ibu !" Kennedy mencoba untuk menenangkan pikiran wanita paruh baya yang berada disampingnya.
"Lagipula, Nona juga boleh langsung pulang hari ini Bu !"
"Jadi ibu tak perlu mencemaskan nya," Kennedy tersenyum lembut menatap Ibu Joanna.
"Kau memang ipar terbaik Nak Kennedy !"
"Joanna beruntung memiliki adik ipar seperti mu !" Ibu Joanna nampak bahagia serta memuji Kennedy.
Percakapan hangat antara Ibu Joanna bersama Kennedy membuat Joanna tersenyum.
Joanna yang telah sadar dan membuka matanya hanya terdiam menebar pandangan pada wajah ibunya.
"Ingat Nona harus makan banyak malam ini,"
"Jangan hanya mengkonsumsi buah Nona, tubuh mu juga butuh energi," sepanjang perjalanan pulang Kennedy begitu cerewet dalam menceramahi pola makan Joanna.
Ayah dan Ibu Joanna yang juga memahami betapa sulitnya wanita itu untuk mengkonsumsi karbohidrat membuat keduanya hanya terdiam bahkan mendukung segala omelan-omelan Kennedy pada putrinya.
"Apa Ayah dan Ibu tak ingin membelaku dari pria asing ini ?" Joanna menghela nafas dengan wajah lesu nya.
"Nak, kau itu memang sulit diatur !" Ayahnya justru menimpali.
Mendengar hal itu Kennedy serta ibu Joanna justru menertawakan Joanna yang tak mampu membela diri.
"Kennedy, andai dirimu yang menjadi takdir hidupku !" Joanna tampak tersenyum dan berucap dalam hati.
Wanita itu nampaknya benar-benar putus asa akan perlakuan Brian terhadap dirinya akhir-akhir ini.
"Ayah dan Ibu beristirahat lah, saya yang akan menyiapkan makan malam !"
"Apa kau tidak lelah Ken ?" Joanna nampak mencemaskan Kennedy.
"Kenapa kita tidak memesan makanan saja ?" wanita itu berucap sembari berjalan perlahan menghampiri Ibunya.
"Lihatlah putri mu itu Ibu !"
"Dia lebih memilih jajan dan makan makanan dari luar !" Kennedy kembali menatap tajam Joanna untuk menggodanya.
"Ken, aku hanya tidak ingin kau kelelahan dan turut tumbang !"
"Kau juga harus mengantar Ayah dan Ibu besok bukan ?" Joanna mencoba untuk menjelaskan maksud dari kalimat memesan makanan.
"Aaah, apa Ayah dan Ibu akan kembali pulang besok pagi ?"
"Kenapa terburu-buru Ibu ?" pria itu nampak terkejut karena ibu Joanna sama sekali tak memberitahu dirinya.
"Maaf Nak, ada kegiatan diarea sekitar rumah kami tinggal !"
"Rasanya tidak enak kalau kita justru tak berada dirumah."
Malam itu akhirnya Kennedy benar-benar memesan makanan untuk makan malam.
"Jaga dirimu baik-baik Jo !" sang Ayah dan Ibu nampak berpamitan siang itu.
Joanna tersenyum mengangguk seraya memeluk ayah ibunya.
"Nona yakin tidak ingin ikut bersama kami ?" Kennedy nampak cemas karena harus kembali meninggalkan Joanna seorang diri.
"Tak apa, aku akan beristirahat di rumah saja Ken !"
"Berhati-hatilah dalam berkendara !" Joanna melambaikan tangannya untuk mengiringi kepergian ibu dan ayahnya.
Wanita itu kembali menuju pembaringan dalam kamarnya dan merebahkan diri serta memejamkan mata.
Untuk sesaat Joanna terbuai dalam tidurnya, hingga suara dari ponsel kembali membuat ia terjaga.
Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor tak dikenal membuat Joanna kembali menghela nafasnya dengan begitu berat.
Linda, wanita itu mengirim video adegan panas bukti perselingkuhan antara Brian dengan dirinya.
Buliran air mata Joanna kembali tak tertahan dan akhirnya mengalir begitu saja.
"Ken, segeralah kembali !" Joanna bergumam perlahan suaranya nampak bergetar.
"Aku takut Ken !" wanita itu kembali terisak seorang diri.
Joanna sama sekali tak keluar dari kamarnya, ia lebih memilih untuk mencoba kembali tertidur dan melupakan rasa sesak dihatinya.
Kondisi tubuhnya membuat Joanna tak bersemangat untuk melakukan apapun.
Hingga akhirnya suara gerbang yang terbuka membuat ia kembali tersadar dan perlahan membuka mata indahnya.
"Apa Kennedy sudah kembali ?" Joanna tersenyum ia selalu merasa tenang jika Kennedy berada di dekatnya.
Lama Joanna menunggu tapi Kennedy tak muncul juga, biasanya pria itu akan selalu mengetuk pintu dan masuk begitu saja.
"Apa Kennedy memasak lebih dulu ?" ia teringat bahwa ia sama sekali tak menyiapkan makanan untuk makan malam.
Joanna akhirnya memutuskan untuk keluar dan mencari keberadaan adik iparnya.
"Ken, apa kau sudah kembali ?" kondisi Joanna yang masih lemah membuat suaranya begitu lembut hampir tak terdengar.
Sepi.
Tak ada siapapun, di meja makan.
Samar-samar Joanna mendengar suara wanita dengan segala ungkapan-ungkapan manjanya.
Tubuh Joanna kembali gemetar, ia mencoba untuk mendekati ruang kerja Brian suaminya.
Dan ...,
Ya.
Apa yang dipikirkan Joanna benar-benar terjadi dihadapan nya.
Wanita itu terpaku menatap segala adegan liar antara Brian bersama Linda sekretarisnya.
Joanna hanya mampu berkali-kali menghela nafasnya, ia ingin berbalik dan berlari namun tubuhnya terasa begitu berat.
Kemelut rasa kecewa membuat Joanna tak mampu lagi membendung air matanya.
Bersamaan dengan hal itu, Kennedy akhirnya muncul dan menatap bingung Joanna yang terduduk didepan ruang kerja Brian dengan memeluk erat kedua kakinya.
"Nona, !" Kennedy berjongkok menyentuh dagu Joanna untuk menatap matanya.
"Kau menangis Nona ?"
Belum sempat Joanna menjawab keriuhan nampak terdengar dari ruang kerja Brian.
Kennedy akhirnya beranjak dan menyadari alasan Joanna kembali menangis seorang diri.
Brian juga Linda nampak terkejut atas kehadiran Kennedy.
"Kau benar-benar keterlaluan Bri !" pria itu berjalan menuju Brian serta memukuli wajah Brian dengan brutal saat itu juga.
"Apa kau tak tahu kalau Nona sedang sakit, haaaa ?" Kennedy nampak benar-benar emosi saat ini
"Dengar Bri, dengan kelakuan mu yang seperti ini !"
"Aku tak akan segan untuk benar-benar merebut Nona Joanna darimu !" Kennedy kembali memukul wajah serta tubuh Brian yang tampak lemah dan sama sekali tidak melakukan perlawanan terhadap aksinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments