"Sayang, bolehkah aku ikut Kennedy untuk menghadiri event fotografi besok siang ?" Joanna nampak meminta izin pada Brian suaminya.
"Terserah kau saja, aku mungkin juga tidak akan bisa pulang sampai besok malam !" malam itu Brian nampak menampilkan wajah datarnya pada Joanna.
"Jadi kau mengizinkan ku ?" Joanna kembali bertanya karena kebingungan nya.
"Bukankah sudah ku bilang, itu terserah padamu ?"
"Kenapa masih saja bertanya ?" pria itu kini tampak telah meninggikan suara terhadap istrinya dan berlalu meninggalkan meja makan menuju ruang kerja di rumahnya.
Untuk pertama kali Brian membentak dengan begitu kasar terhadap Joanna istrinya.
"Apa yang terjadi padanya ?"
"Bukankah dia sebelumnya baik-baik saja ?" Joanna mencoba untuk menenangkan dirinya.
Wanita itu kembali menghampiri Brian dan mencoba untuk berbicara dari hati ke hati dengan suaminya, ia tak ingin jika harus tidur dengan menyimpan emosi.
"Bolehkah aku masuk sayang ?" Joanna melangkah perlahan dan mendekati Brian yang terduduk di sofa ruang kerjanya.
"Aku minta maaf, jika aku membuat mu marah !" Joanna berucap lembut seraya menatap manik mata suaminya.
"Tak apa jika kau tak mengizinkan, aku akan tetap di rumah saja Bri."
"Aku sama sekali tidak melarang mu, pergilah besok !" Brian berucap tanpa mempedulikan Joanna yang sedari tadi menatap wajahnya.
"Dan keluar sekarang karena aku banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan," ucapan Brian terdengar begitu ketus ditelinga Joanna.
Joanna masih terduduk menatap perubahan sikap suaminya.
Tak berselang lama ponsel Brian berdering, nama Linda sang sekretaris terpampang begitu jelas pada layar ponsel Brian.
"Ada apa Linda ?" Brian nampak menjawab panggilan dari sekretaris nya.
"Baiklah aku akan segera ke kantor sekarang !" Brian mengacuhkan Joanna yang masih terduduk diam di sofa dan meninggalkan nya begitu saja.
Wanita itu hanya bisa tertunduk lesu dan kembali menatap Brian yang telah tampak jauh dari pandangan nya.
Kennedy yang sedari tadi berada di kamarnya akhirnya keluar dan menuju meja makan untuk mengisi perut kosong nya.
Pria itu begitu sibuk karena harus menyiapkan beberapa perlengkapan untuk event fotografi nya,
Selain itu Kennedy juga lebih memilih untuk makan telat ketika Brian berada di rumah.
Kennedy tak lagi ingin menjadi penghalang kemesraan bagi Brian dengan Joanna.
Ia memang menginginkan Joanna tapi Kennedy juga masih menyadari bahwa Brian tetaplah suami dari kakak iparnya.
"Apa mereka belum makan ?" mendapati meja makan yang nampak masih rapi membuat Kennedy bertanya-tanya akan keberadaan kedua kakaknya.
Kennedy akhirnya kembali beranjak dan memeriksa sekitar ruangan, sebelum akhirnya mendengar suara isak tangis Joanna di ruang kerja kakaknya.
"Nona ?" Kennedy melangkah perlahan memasuki ruang kerja kakaknya.
"Apa yang terjadi Nona ?"
"Dimana kakak ?" raut wajah cemas nampak begitu jelas pada raut wajah Kennedy.
"Entahlah Ken, Brian ...," suara Joanna nampak tersendat karena isak tangisnya.
"Kenapa dengannya Nona ?" Kennedy kembali bertanya dengan lembut dan duduk di samping kakak iparnya.
"Dia tak pernah begitu kasar padaku sebelumnya,"
"Jika dia tak bersedia memberikan izin untuk ku, seharusnya dia tak perlu se_kasar itu bukan ?"
"Aku bahkan telah meminta maaf padanya dan mengurungkan niatku Ken," Joanna menjelaskan dengan sesenggukan.
"Dimana dia sekarang Nona ?" Kennedy, pria itu telah nampak geram saat ini.
"Sekretaris nya menelfon dan dia kembali ke kantor nya."
Joanna kembali tertunduk dan menyeka air matanya.
"Tenanglah Nona semua pasti akan baik-baik saja," Kennedy kembali membawa Joanna yang masih terisak ke dalam dekapannya.
"Apa Nona sudah makan ?" Kennedy bertanya seraya menatap dan mengusap lembut buliran air mata yang masih mengalir pada pipi kakak iparnya.
Joanna hanya menggeleng perlahan.
"Nona harus makan sekarang !" Kennedy mencoba menarik tangan Joanna untuk menuju meja makan.
"Aku tidak memiliki nafsu untuk makan saat ini Ken," Joanna kembali berucap lemah dan enggan meninggalkan ruang kerja suaminya.
Kennedy berjongkok serta menatap iba wanita dihadapan nya, rasa hatinya turut tersayat melihat setiap buliran air mata yang jatuh di pipi Joanna.
"Mmmmmphh" Kennedy kembali membekap mulut Joanna dengan bibirnya, ia tak tahan jika harus melihat wanita yang begitu ia cintai nampak terluka oleh ulah Brian kakaknya.
"Jangan memikirkan apapun sekarang !"
"Kau tetap harus makan dan menjaga kesehatan tubuhmu Nona," Kennedy kembali menatap dalam manik mata Joanna dan menghentikan aktivitasnya.
Joanna hanya terdiam, matanya tak beralih dan masih saja memandangi bibir Kennedy.
Menyadari hal itu Kennedy justru kembali memberikan kecupan nakalnya dan menyusuri setiap inci tengkuk leher kakak iparnya.
"Nona, katakan lah jika kau menginginkan nya !"
"Diriku akan dengan senang hati melayani mu Nona," pria itu kembali menghembuskan lembut nafasnya pada belahan kedua aset berharga pribadi milik Joanna.
"Ken, aku menginginkan mu !" suara berat Joanna akhirnya terucap begitu saja, wanita itu nampak menahan kepala Kennedy yang tengah asik bermain pada area dadanya.
Mendengar kalimat itu hasrat Kennedy kian bergejolak, pria itu dengan cekatan melucuti busana kakak iparnya.
"Sebut namaku Nona, aku ingin mendengarnya !" Kennedy kembali berucap pada Joanna yang nampak menahan kenikmatan dibawah kungkungan tubuh kekarnya.
"Ken ...," suara Joanna kembali tertahan saat Kennedy nampak begitu gemas dan kembali ******* bibir kakak iparnya.
Kennedy yang begitu lihai dalam memperlakukan tubuh Joanna membuat wanita itu dengan mudah menuruti semua ucapan Kennedy.
Joanna yang semula terisak karena perlakuan kasar dari Brian malam itu berakhir mendesah dan selalu menyebut nikmat nama Kennedy.
"Tersenyum lah selalu seperti ini Nona," Kennedy tampak merapikan surai rambut Joanna yang telah kusut karena aktivitas keduanya, pria itu juga kembali memberikan kecupan pada seluruh bagian wajah Joanna dengan begitu mesra.
Wanita itu hanya tersenyum dan bahkan telah mengeratkan pelukannya terhadap tubuh Kennedy.
"Terimakasih karena telah hadir dalam hidupku Ken," Joanna membisikkan kalimat itu pada telinga Kennedy dengan mata yang masih tetap terpejam.
"Diriku jauh lebih beruntung karena bisa menikmati tubuhmu Nona," Kennedy berucap dengan nakal dan berhasil membuat Joanna kembali membuka mata dan terlihat kesal hingga mencubit dada bidangnya.
"Maaf, aku hanya bercanda,"
"Dirimu terlalu imut jika bertingkah seperti ini," Kennedy nampak mencolek dan menempelkan hidungnya sendiri pada hidung Joanna.
"Jika saja kita bertemu lebih dulu ...," pria itu nampak menyesal karena mendapati kenyataan bahwa wanita yang selalu dipeluknya selama ini adalah milik Brian sang Kakak.
Kehangatan dari Kennedy membuat Joanna dengan mudah melepas rasa sakit hati.
Brian yang tiba dikantornya malam itu seketika langsung disambut hangat oleh Linda.
"Tuan benar-benar datang untuk ku ?" wanita itu tersenyum puas dan bergelayut manja pada Brian.
"Aku jenuh dengan segala permasalahan ku di rumah !" pria itu terduduk pada kursi meja kerjanya dengan memijat dahinya.
"Apa yang telah terjadi Tuan ?" wanita itu mencoba untuk menggali informasi tentang kehidupan pribadi Brian.
Pijatan lembut dari Linda serta rasa cemburu yang membakar hati Brian membuat ia menikmati semua sentuhan dari sekretaris nya.
Linda yang tampak begitu bergelora harus menelan pil pahit saat mendapati Brian yang tak mampu memberikan kepuasan pada hasratnya.
Ya, Bujuk rayu Linda tak mampu membangkitkan kejantanan milik Brian karena disfungsi ereksi akibat kecelakaan yang pernah Brian alami.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments