"Cukup Linda, seperti nya akan percuma !" Brian yang sama sekali tak merasakan adanya gairah birahi dalam dirinya membuat pria itu mendorong kasar tubuh sekretaris nya.
Linda, sekretaris Brian hanya bisa berdecak kesal.
"Ikut aku ke rumah setelah ini,"
"Aku ingin kau membawa dan merapikan beberapa arsip yang ku butuhkan namun tertinggal di rumah."
Pria itu menghela nafas dan melangkah menuju kamar mandi.
"Baiklah Tuan," Linda berucap dengan raut wajah kesal.
"Tunggu,"
"Bukankah ini kesempatan emas bagiku ?" wanita itu kembali berbicara dalam hatinya.
"Aku bisa semakin membuat Nyonya Joanna kehilangan perhatian dari suaminya," senyum licik terpancar begitu nyata di wajah Linda.
Wanita itu nampak beranjak dan memunguti busana nya yang terlihat berceceran di penjuru lantai kamar hotel.
"Apa dia benar-benar tak akan pulang ?" Joanna termenung di teras rumah nya serta memikirkan hubungan nya dengan Brian yang tak berjalan dengan baik akhir-akhir ini.
Dingin nya hembusan angin malam akhirnya membuat wanita itu melangkah masuk dan mencoba untuk menikmati makan malamnya seorang diri.
"Ken," raut wajahnya berubah saat matanya memandangi meja makan yang semakin dekat dengan langkah nya.
"Kau benar-benar keterlaluan Ken," Joanna kembali tertunduk dan tersenyum saat mengingat aktivitas hangat nya bersama Kennedy pada tempat dimana saat ini ia berdiri.
Tak berselang lama dering ponsel di saku nya membuat ia tersenyum kembali.
"Nona,"
"Apa Nona sudah makan ?" suara berat Kennedy begitu terdengar indah di telinga Joanna.
"Aku baru saja memikirkan mu Ken !"
"Benarkah ?" pria itu menjawab dengan suara terkekeh.
"Kau tahu, kau itu benar-benar keterlaluan."
"Bagaimana aku bisa makan, jika aku merindukanmu sekarang ?" Joanna berucap dengan terbata-bata.
"Apa maksud Nona ?"
"Aku tak begitu bisa memahami perkataan Nona !"
"Bisakah Nona berucap lebih jelas ?" Kennedy sengaja memancing Joanna untuk lebih bisa terbuka padanya.
"Berhentilah Ken, kau membuat ku malu."
"Nona, aku bahkan telah melihat semua bagian dari tubuhmu,"
"Kenapa kau harus malu ?" Kennedy terdengar melembutkan suaranya.
"Ken, aku tutup dulu seperti nya Brian telah kembali," Joanna nampak terkejut saat mendengar suara pintu gerbang yang terbuka.
"Baiklah Nona, jaga diri Nona baik-baik !"
"Aku menyayangimu Nona," Kennedy nampak mengakhiri panggilan nya.
Joanna berlari menuju pintu depan rumahnya.
Ia mencoba menampilkan senyum manisnya untuk sang suami.
"Kau kembali ?" senyum Joanna terlihat memudar saat mendapati Brian yang menggandeng mesra tubuh langsing Linda sekretarisnya.
Brian juga nampak membiarkan Linda ******* paksa bibir nya sembari berjalan melewati Joanna.
"Bri ...," wanita itu berucap lemah saat memanggil nama sang suami.
Brian dan Linda pun menghentikan aktivitas bibir mereka.
"Apa yang kau lakukan Bri ?"
"Kenapa kau melakukan hal ini ?" mata Joanna berkaca-kaca mendapati perlakuan Brian yang dengan terang-terangan melukai hatinya.
"Apa maksudmu sayang ?" Brian melangkah perlahan dan menggeser tubuh Linda sekretaris nya.
"Sebagai seorang lelaki, ini merupakan hal yang wajar saat ia merasa jenuh dengan wanitanya."
"Dan aku tegaskan padamu Joanna, aku tidak bisa jika harus hidup dengan hanya satu wanita !" Brian kembali melangkah dan menggandeng serta kembali bergelut mesra menempelkan bibirnya pada bibir Linda dan berlalu menuju ruang kerjanya.
Bagaikan dihantam peluru senapan.
Hati Joanna terasa begitu nyeri menyaksikan kenyataan pahit dalam hidupnya malam itu.
Ia melangkah gontai menuju kamar dan mengunci pintunya.
Brian yang telah memasuki ruang kerjanya dengan seketika mendorong tubuh Linda untuk menjauh darinya.
"Lekas cari dan bereskan arsip yang sudah ku sebutkan tadi," pria itu kembali membanting tubuhnya pada kursi meja kerja di ruangan nya.
"Tuan, tidak bisakah kita mencoba untuk bersenang-senang terlebih dahulu ?" Linda, wanita itu kembali mencoba duduk di pangkuan Brian.
"Hentikan !" Brian meninggikan suaranya dan kembali mendorong tubuh sekretaris nya hingga tersungkur ke lantai.
Pria itu nampak memijit kepalanya.
Ia tak menyangka telah berani sejauh ini melukai hati wanita yang begitu dicintainya.
"Maafkan aku Joanna,"
"Maaf ...," kalimat itu tak berhenti terucap dalam relung hatinya.
Joanna mencoba untuk menenangkan dirinya.
Namun percuma, rasa sesak yang begitu mendera membuat wanita itu terus saja terisak.
"Kenapa Bri ?"
"Kenapa kau melakukan ini ?"
"Jika memang kau ingin bermain gila, setidaknya lakukan lah dibelakang ku ?"
"Kenapa harus menikam ku secara tiba-tiba seperti ini ?" buliran air mata Joanna tak kunjung berhenti.
Joanna tampak begitu menyedihkan dengan isak tangis nya malam itu, ia pun terlelap dengan meratapi kejadian yang begitu menguras air matanya.
Mentari pagi nampak menerpa paras manis Joanna, wanita itu akhirnya membuka mata sembab nya.
Ia hanya terdiam memandangi langit-langit kamarnya.
Kalimat-kalimat Brian yang kembali terdengar begitu jelas dalam telinga nya membuat mata Joanna berkaca-kaca.
"Tidak, aku harus berbicara dengannya !" Joanna menyeka air matanya dan beranjak untuk mencari keberadaan Brian di rumahnya.
Sepi.
Tak ada seorangpun dirumah itu kecuali dirinya.
"Apa mereka langsung pergi tadi malam ?" wajah lesu Joanna kembali nampak begitu nyata.
Perlahan kesadaran wanita itu menurun, kepalanya terasa begitu berat, pandangan Joanna juga nampak kabur.
"Ken ...," wanita itu akhirnya tak sadarkan diri setelah menyebut nama Kennedy.
Joanna akhirnya kembali dilarikan ke rumah sakit.
"Kau sudah sadar Nak ?" suara ibu mertua Joanna nampak begitu lembut di telinganya.
"Ibu,"
"Apa yang terjadi Bu ?" suara lemah Joanna membuat ibu mertuanya membelai lembut surai rambut menantunya yang masih nampak belum begitu mendapatkan kesadaran.
"Tenanglah Nak, yang penting kau sudah baik-baik saja sekarang."
Brian hanya bisa menatap istrinya dari kejauhan, rasa bersalah serta egonya membuat ia tak ingin menampakkan diri di hadapan Joanna.
Pria itu melanjutkan langkahnya untuk pergi dari depan pintu kamar rawat inap Joanna.
"Bagaimana keadaan Nona Bu ?" Kennedy akhirnya tiba di rumah sakit lebih awal dari perkiraan nya.
"Dia masih terlihat sangat lemah Ken !" sang ibu menanggapi dengan lesu pertanyaan dari putranya.
"Dimana Kakak ?" pria itu kembali melontarkan pertanyaan pada ibunya karena tak mendapati Brian saudara lelakinya.
"Kakak mu harus kembali ke luar kota karena padatnya jadwal pekerjaannya."
Kennedy akhirnya terdiam dan menatap iba wajah kakak iparnya.
"Ibu harus pulang Ken, Ayahmu tak akan bisa mengurus dirinya sendiri !"
"Dia bahkan tidak tahu obat mana yang harus ia konsumsi pada setiap jam makan."
Kennedy mengangguk ketika sang ibu nampak berpamitan.
Pria itu kembali mendekati Joanna dan menggenggam tangan kakak iparnya.
"Nona, kenapa tubuhmu selemah ini ?" rasa letih selama perjalanan membuat Kennedy terlelap di samping Joanna dengan menggenggam tangan kakak iparnya.
Kennedy bahkan tak sempat untuk sekedar membasuh wajah atau mengganti pakaiannya.
Rasa cemas yang melanda karena memikirkan kondisi Joanna seketika membuat pria itu berkendara langsung menuju rumah sakit untuk menemui Joanna.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments