Pagi itu Kennedy tampak membereskan semua pakaian nya.
Pria itu telah dengan mantap mengambil keputusan untuk pergi dari kediaman kakaknya.
"Ken," Joanna tampak terkejut melihat Kennedy yang telah menarik kopernya.
"Aku akan kembali ke rumah Ayah dan Ibu hari ini Nona !" Kennedy tersenyum menatap Joanna.
"Kenapa mendadak Ken ?"
"Seharusnya kau memberitahu kami terlebih dahulu !" Joanna tampak kecewa karena Kennedy yang hendak meninggalkan rumahnya secara tiba-tiba.
"Kakakmu bahkan belum bangun sekarang !"
"Tak apa Nona, biarkan saja !"
"Saya tidak ingin mengganggu Kakak," Kennedy kembali menarik kopernya menuju mobilnya di garasi.
"Berhati-hatilah dalam berkendara !" Joanna melambaikan tangan dengan senyum mengiringi mobil Kennedy mulai meninggalkan rumahnya.
Sepanjang perjalanan Kennedy menatap kosong jalanan di hadapannya.
"Maafkan aku Kak !"
"Aku benar-benar tak bisa membantumu kali ini !" pria itu bergumam seorang diri didalam mobilnya.
Sesampainya di rumah, Kennedy disambut hangat oleh Ibunya.
"Kau sudah pulang Nak ?" sang Ibu menghampiri Kennedy seraya memberikan air putih untuknya.
"Bagaimana keadaan kakak mu ?" ibunya tampak begitu penasaran serta terkejut dengan kepulangan Kennedy.
Kennedy terdiam bingung, ia tak mungkin mengungkapkan tentang isi hatinya pada sang Ibu.
"Entahlah Bu,"
"Bolehkah Aku istirahat terlebih dulu ?" Kennedy tersenyum menatap ibunya.
Ibunya akhirnya keluar dari kamar, wanita paruh baya itu turut cemas melihat Kennedy yang kembali dengan keadaan lesu.
"Joanna, apa semua baik-baik saja ?" tanpa berpikir panjang akhirnya Ibu Brian menghubungi Joanna.
"Semua baik Bu,"
"Apa Kennedy sudah sampai ?" Joanna menjawab lembut perkataan sang Ibu mertua.
"Itu yang ingin Ibu tanyakan Nak !"
"Apa ada pertengkaran diantara Kennedy dengan kakaknya ?" ibu mertua Joanna kembali mencoba mengulik informasi dari menantunya.
"Tidak Bu," Joanna menjawab dengan ragu sembari menatap Brian yang tengah menyantap makanan disampingnya.
"Apa Ibu ingin berbicara dengan anak Ibu ?"
"Dia ada di samping saya sekarang," dengan ramah Joanna menawarkan.
"Tidak Nak,"
"Terimakasih sebelumnya."
"Baiklah Bu," sambungan telepon terputus, Joanna kembali memperhatikan Brian suaminya.
"Sayang, apa terjadi sesuatu ?" Joanna meletakkan ponselnya dan menggenggam tangan Brian.
"Sesuatu ?" Brian menampilkan wajah bingung nya.
"Kennedy pergi dari rumah ini tadi pagi !"
"Apa Kau berselisih paham dengannya ?" Joanna tampak menanyakan hal itu dengan hati-hati.
Brian terdiam menatap dalam manik mata istrinya dan menghela nafas dalam sebelum akhirnya berbicara.
"Kami memang memiliki sedikit kesepakatan yang belum terselesaikan !" Brian kembali membelai surai istrinya.
"Kesepakatan ??" Joanna tampak menaikkan alisnya.
"That's not a big deal !"
"Kamu jangan khawatir,"
"Semua akan baik-baik saja."
Kennedy kembali disibukkan dengan kegiatan fotografi yang ia tekuni selama ini, untuk sesaat ia melupakan permasalahan kakaknya yang turut membebani pikirannya.
"Ibu,"
"Kami datang berkunjung !" Brian tersenyum lebar memberikan kejutan pada Ayah, Ibu serta Kennedy adiknya.
"Ayah dan Ibu baru saja ingin menghubungi kalian."
Kedua orang tua Brian nampak begitu bahagia melihat kondisi anaknya yang terlihat pulih total.
"Hai Ken !" Brian tersenyum menyapa serta mendekati Kennedy.
"Kak !" Kennedy tersenyum canggung melihat kakaknya.
"Aku harus keluar kota untuk beberapa Minggu ke depan !"
"Klien ku kali ini agak sedikit sulit untuk ditaklukkan jadi aku mengalah untuk menyambangi nya."
"Jadi tolong, temani Joanna !"
"Ayah dan Ibu juga bisa ikut kita ke rumah,"
"Aku tidak akan tenang jika meninggalkan istriku sendirian."
Brian berbicara turn the points pada seluruh anggota keluarganya.
"Apa sebaiknya kita mencari supir saja sayang ?"
"Tidak Nona, biar aku saja yang menemani dan menjadi supir pribadi untuk mu !" Kennedy berucap seketika saat kakak iparnya belum selesai dengan kalimat pernyataan nya.
"Kennedy benar sayang,"
"Aku juga tidak bisa begitu saja percaya pada orang luar !" Brian tersenyum menatap Kennedy yang dengan sukarela menawarkan diri untuk menemani Joanna.
"Terimakasih Ken !"
Melihat hal itu orang tua Kennedy kembali merasa tenang, karena hubungan kedua putra kesayangan mereka memang baik-baik saja.
"Aku dan Joanna akan menginap untuk semalam disini Ibu," Brian berucap sembari menggandeng Joanna untuk menuju kamarnya.
"Besok pagi Aku akan menuju bandara bersama Joanna juga Kennedy."
"Maaf karena Ibu tidak bisa ikut mengantarkan mu Nak,"
"Rasanya Ibu sudah tidak kuat jika harus bepergian terlalu jauh !" ibu Brian memberitahu alasannya serta mengiringi langkah Brian dan Joanna menuju kamar lama sang Putra.
"Sayang, aku ingin melihat segala macam jenis sayuran Ibu dihalaman samping !"
"Boleh kah ?" seperti anak kecil yang merengek pada sang Ayah Joanna tak ingin tidur siang, matanya tak bisa terpejam setiap kali berada ditempat asing.
"Baiklah ..."
"Tapi ingat jangan bermain tanah !" Brian dengan sengaja menggoda istrinya dengan tertawa.
Joanna hanya menampilkan wajah masam nya dan berlalu pergi dari kamar Brian.
Bruuugh.
Pintu samping yang memang sempit membuat Joanna dan Kennedy saling bertubrukan.
Joanna yang hampir terjatuh akhirnya terdiam dalam pelukan Kennedy, beruntung pria itu berhasil dengan sigap menopang tubuh mungilnya.
"Maaf," Kennedy akhirnya melepaskan tangannya dari tubuh kakak iparnya.
"Aku yang seharusnya minta maaf Ken !"
"Aku terlalu buru-buru tadi," Joanna nampak tersenyum canggung.
"Apa yang Kau lakukan ?"
"Hanya mengambil beberapa gambar dari segala tanaman milik Ibu," Kennedy tersenyum melihat hasil jepretan yang baru ia lakukan.
"Waaah, ini nampaknya bagus !" Joanna turut memperhatikan hasil jepretan pada lensa milik adik iparnya.
"Benarkah ?" Kennedy tersenyum mendengar pujian dari Joanna kakak iparnya.
Brian yang melihat istri dan adiknya tampak begitu akrab sama sekali tak menaruh cemburu ataupun curiga.
Pria itu berpikir dengan kedekatan keduanya segala rencana nya justru akan segera terlaksana.
Jadwal penerbangan pada tiket pesawat Brian yang begitu pagi membuat Joanna tak bisa tidur dengan nyenyak semalaman di rumah kedua mertuanya.
"Kau terlihat acak-acakan sayang !"
"Apa masalahnya ?"
"Ini semua karena dirimu !" Joanna berucap ketus dengan mengalihkan pandangan dari suaminya.
"Maaf," Brian tersenyum sembari mencubit pipi istrinya.
"Apa kau ingin mencoba sesuatu yang baru ?" Brian berbisik nakal ditelinga Joanna.
Hal itu sontak membuat Kennedy yang duduk sendirian di kursi depan melirik sepintas pada kedua kakaknya.
"Apa maksudmu ?" Joanna melotot dan mendorong Brian saat itu juga.
"Mana mungkin aku melakukan hal gila semacam itu !" ia kembali meninggikan suaranya.
"Apa kau sering mengunjungi situs mesum selama ini ?" raut wajah wanita itu bahkan kini telah berubah masam seketika.
"Hey sayang," Brian kembali mendekap tubuh Joanna.
"Tenanglah, aku hanya bercanda !" pria itu terkekeh perlahan ditengah meletup nya emosi Joanna.
"Aku minta maaf !" Brian kembali memeluk serta mencium kening istrinya.
"Tapi jika Kau menikmatinya, aku juga akan bahagia !" Brian kembali mengucapkan hal konyol pada Joanna.
"Hentikan, aku membencimu !!" Joanna nampak memukul dada Brian.
"Aku pergi Sayang !"
"Ingat jaga kesehatan !!" Brian memeluk dan mencium kening Joanna sepintas.
"Aku akan merindukanmu !" Joanna berucap lesu seakan tak rela melepas kepergian suaminya.
"Ken,"
"Aku titipkan istriku padamu."
"Tolong jaga Joanna selama aku tidak disini," Brian menepuk pelan bahu Kennedy.
Brian segera berpamitan serta terburu-buru untuk menuju gate penerbangan pada nomor tiketnya.
Lambaian tangan Joanna serta Kennedy mengiringi langkah pria itu hingga menghilang dan tak lagi menampakkan tubuhnya.
"Apa Nona baik-baik saja ?" Kennedy mencoba untuk memecahkan keheningan diantara dirinya dengan Joanna.
"Entahlah Ken," Joanna menoleh serta menatap Kennedy yang sedari tadi fokus menyetir untuk membawanya kembali ke rumah.
"Apa ada sesuatu yang disampaikan Kakakmu sebelumnya ?" wanita itu mencoba menggali informasi dari Kennedy.
"Maksud Nona ?" Kennedy seketika terlihat gugup serta berucap dengan terbata-bata.
"Kesepakatan ?"
"Apa ada kesepakatan diantara kalian berdua ?" Joanna nampak bingung serta terlihat menuntut jawaban dari adik iparnya.
"Itu ?"
"Aku sama sekali tidak menyetujuinya Nona ?" Kennedy pun tak sadar akan apa yang telah diucapkan nya.
"Jadi benar-benar ada kesepakatan diantara kalian ?"
"Kesepakatan tentang apa Ken ?"
"Bisakah kau memberitahu ku ?" Joanna seketika mengajukan pertanyaan dengan raut wajah yang menuntut jawaban.
Kennedy terdiam, pria itu bingung.
"Apa Kakak sudah mengatakan semuanya pada Nona ?" Kennedy berucap seorang diri dalam hati.
"Ken, jawab !" Joanna mengguncang pelan tubuh Kennedy.
"Kakak meminta ku untuk menggantikan dirinya pergi menemui kliennya Nona !" Kennedy sengaja membohongi Joanna, pria itu cemas dan tak ingin mengatakan yang sebenarnya terhadap kakak iparnya.
"Nona tahu kan, aku tidak begitu paham dalam hal mengurus perusahaan ?" Kennedy mengalihkan pandangannya dan mencoba menyembunyikan kebohongan dari matanya.
"Benarkah seperti itu ?" Joanna menghela nafas kasar, ia merasa ada yang janggal dengan kelakuan Brian akhir-akhir ini.
Kennedy akhirnya bernafas lega melihat Joanna yang percaya akan kalimatnya.
Pria itu kembali terdiam dan tak lagi berani membuka suara.
"Linda kita bertemu di lobby hotel !" Brian tampak menginstruksikan sekretaris nya untuk menemui dirinya.
"Baik Tuan, saya akan menjemput Tuan di lobby !" gadis itu tersenyum, dan dengan suara lembut ia menyapa boss nya di telepon.
Semenjak pulang dari mengantar Brian ke bandara, Joanna tak begitu banyak bicara.
Ia bahkan tak terlihat dan sengaja mengurung diri di kamarnya.
Kennedy yang melihat hal itu hanya bisa diam tak mampu berbuat apa-apa.
"Saya sudah menyiapkan kamar Tuan," Linda tersenyum sembari mengambil alih koper dari tangan Brian.
Ya, Linda merupakan sekretaris kepercayaan Brian dalam waktu kurang lebih dua tahun ini.
Paras cantik serta kinerjanya yang bagus membuat Brian mempertahankan Linda di perusahaan nya.
"Letakkan saja disitu,"
"Tinggalkan aku sekarang !" Brian berucap datar pada Linda yang baru saja memasuki ruangan hotelnya.
"Ada apa Ken ?"
"Aku baru saja tiba di hotel !" Brian yang dengan sengaja menonaktifkan ponselnya akhirnya segera menghubungi Kennedy karena begitu banyaknya panggilan yang ia terima dari adiknya.
"Nona,"
"Dia mengurung diri dikamar sejak tadi siang Kak !"
"Aku bahkan telah mengetuk pintu kamarnya untuk makan malam, tapi sama sekali tak ada jawaban !" Kennedy, pria itu terdengar sangat mengkhawatirkan kakak iparnya.
"Baiklah,"
"Biar aku yang menghubungi nya !" Brian memutuskan sambungan telepon nya begitu saja.
Brian tampak cemas saat tak mendapati jawaban dari Joanna.
Pria itu kembali menghubungi Kennedy sang adik.
"Ken,"
"Buka pintu kamar Joanna sekarang, kunci duplikat kamarnya ada di laci meja kecil disebelah kanan tepat didepan kamar !"
Kennedy yang turut panik akhirnya memutuskan panggilan seketika dan melakukan perintah sang Kakak.
"Nona, !" Kennedy yang panik serta cemas akhirnya masuk begitu saja ke kamar Joanna.
"Apa yang Kau lakukan Ken ?" Joanna menutup tubuhnya seketika dan terkejut saat mendapati Kennedy memasuki kamarnya.
"Maaf Nona !"
"Aku permisi," Kennedy seketika berbalik badan dan keluar dari kamar Joanna.
Pria itu tampak berjalan linglung menuju meja makan.
"Kenapa lekuk tubuh Nona begitu indah ?"
"Kakak benar-benar beruntung mendapatkan nya !" Kennedy berbicara seorang diri dalam hati.
"Astaga !"
"Apa yang kulakukan " pria itu tersadar dan akhirnya memukul pelan kepalanya sendiri.
"Maafkan aku sayang,"
"Aku tak bisa membawamu bersama ku kali ini !" mata Brian berkaca-kaca, pria itu tertunduk cemas mengingat Joanna.
Atensinya teralihkan saat mendapati sebuah notifikasi pesan masuk.
Raut wajahnya kembali cerah saat menyadari nama sang Istri adalah si pengirim pesan.
Sayang maaf, Aku tertidur hampir semenjak pulang dari bandara
Aku baru saja terbangun dan selesai mandi sekarang.
Jaga dirimu baik-baik,
Aku selalu merindukan mu Tuan Brian Syahputra.
Brian tersenyum dan akhirnya merebahkan tubuhnya serta memejamkan mata.
"Joanna, Aku mencintaimu !" kalimat itu selalu saja mengalun indah dalam relung hatinya.
"Kau tak makan ?" Joanna melontarkan pertanyaan pada Kennedy yang hanya terlihat diam sedari tadi.
"Aku," pria itu gemetar tak berdaya untuk menjawab pertanyaan kakak iparnya.
"Kau kenapa Ken ?" Joanna beranjak mendekati Kennedy, wanita itu bahkan menaruh telapak tangannya pada dahi Kennedy.
"Suhu tubuh mu normal !" Joanna berucap ringan.
"Nona,"
"Hentikan !" Kennedy mencoba untuk menampik perlahan tangan Joanna dari dahinya.
"Tolong jangan menyentuh ku !" pria itu sekuat tenaga menahan hawa nafsunya dengan memejamkan mata.
"Kau sakit ?" Joanna justru merasa cemas melihat nafas Kennedy yang makin tak beraturan.
"Nona,"
"Hentikan !" Kennedy menahan lengan Joanna sebelum akhirnya ia beranjak, pria itu nampak tegang dan memutuskan untuk pergi menuju kamarnya.
"Ada apa dengannya ?" Joanna bergumam dan kembali duduk untuk menyantap makan malam.
"Aaaaaaggghhhh,"
"Sial !" Kennedy berteriak serta membanting kasar pintu kamarnya.
"Jangan salahkan aku jika aku benar-benar menyukai istri mu Kak !" nafas pria itu kian memburu karena hasratnya.
"Bagaimana bisa seseorang terlihat manis serta **** dalam satu waktu seketika ?" bayangan tubuh polos Joanna kembali terpampang nyata dalam ingatan Kennedy, hal itu semakin membuat pria itu frustasi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments