Kuah Panas Sup Wortel Ayam

"Tuan sudah datang ?" Linda menghampiri Brian dan mengambil alih tas kerja pria itu seketika.

Brian hanya diam melewati nya dan memasuki ruang kerjanya.

"Kita ada meeting sebelum makan siang, Tuan tidak melupakannya bukan ?" Linda mengikuti langkah Brian dan meletakkan tas kerja boss besarnya.

"Tentu, kau siapkan saja semuanya !" Brian masih berucap datar dan melanjutkan untuk membuka laptopnya.

"Kenapa dia seperti ini kembali ?"

"Siapa orang yang telah bersamaku tadi malam ?"

Linda nampak berdecak kesal didalam hati karena Brian yang kembali bersikap dingin padanya.

"Tuan,"

"Apa Tuan baik-baik saja ?"

"Apa maksud dari perkataan mu Linda ?"

"Saya merasa tidak mengenali diri Tuan,"

"Tuan sangat berbeda dari tadi malam !" gadis itu nampak memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya.

"Tidak ada yang berubah," Brian memperhatikan penampilan sekretaris nya yang kian berani untuk tampil begitu seksi di hadapannya.

Lama Brian beradu pandang dengan wanita itu, hingga akhirnya ia beranjak dan berdiri berhadapan dengan Linda sekretaris nya.

"Kau, kenapa tampil begitu seksi pagi ini ?" Brian nampak mengintimidasi sang sekretaris.

Tanpa berpikir panjang Linda menangkup wajah Brian hingga pria itu sedikit tertunduk karena tarikan dari tangan Linda.

"Mmmmmphh," Brian kembali terbungkam karena Linda telah kembali menguasai bibirnya.

"Ini masih terlalu pagi untuk hal seperti ini," Brian menghentikan Linda dan kembali duduk di kursi kerjanya.

Wanita itu tersenyum karena Brian mengisyaratkan bahwa ia juga menyukai nya.

"Tuan,"

"Saya hanya ingin membuat Tuan bahagia,"

"Nona Joanna, tak pernah memberikan hal semacam ini pada Tuan akhir-akhir ini ?" Linda kembali menggoda Brian dengan duduk dipangkuan nya dan memperlihatkan belahan dari aset berharga pribadinya.

"Saya turut prihatin dengan hal itu !"

"Jika Tuan sudah begitu jenuh dengan kelakuan istri Tuan di rumah,"

"Maka sudah menjadi kewajiban saya untuk membuat Tuan selalu bersemangat di tempat kerja !" suara Linda terdengar begitu lembut mendayu.

Untuk sesaat Brian memikirkan perkataan Linda.

Pria itu menatap dalam wajah Linda yang telah duduk dipangkuan nya dengan manja.

"Tak ada salahnya untuk mencoba bermain dengannya,"

"Sepertinya juga akan percuma,"

Brian terdiam memikirkan tentang kekurangan dalam dirinya.

"Ayolah Tuan," wanita itu kembali menyerang bibir Brian dengan sengaja.

Ia nampak begitu antusias untuk mendapatkan sepenuhnya perhatian dari boss besarnya.

Hari itu Joanna berencana untuk pergi ke butik miliknya, namun lagi-lagi cuaca membuat wanita itu mengurung kan niatnya.

Ia hanya kembali duduk dan menikmati rintik hujan siang itu di teras rumahnya.

"Kau sudah kembali Ken ?" Joanna nampak menyapa adik iparnya yang terlihat keluar dari mobil dan sedikit basah karena air hujan.

"Kelas fotografi dibatalkan untuk hari ini Nona," wajah Kennedy terlihat begitu kecewa.

"Kenapa kau tak mencoba mengambil gambar pemandangan tentang kabut dan air hujan ?"

"Sepertinya itu menyenangkan !" Joanna berucap seraya beranjak dan menengadahkan tangan serta kepalanya.

Wanita itu begitu terlihat anggun dengan posenya saat ini.

Tanpa berpikir panjang Kennedy mengambil gambar Joanna.

"Kenapa jadi memotret diriku Ken ?"

Kennedy hanya tersenyum memperhatikan hasil jepretan gambar Joanna pada lensa kameranya.

"Lihatlah tanaman basah ini,"

"Ini tak kalah menarik dari pemandangan ketika hari cerah bukan ?" Joanna berjongkok serta mengamati.

"Bagiku dirimu jauh lebih menarik Nona," Kennedy berucap dalam hati dan tersenyum menatap tingkah laku Joanna yang nampak memercikkan air hujan ditangannya.

Tak mempedulikan ucapan Joanna, Kennedy kembali memasukkan kamera dan mengangkat dengan begitu entengnya tubuh kakak iparnya.

"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu Nona," Kennedy membawa Joanna menuju kamarnya.

Joanna yang nampak terkejut dan takut terjatuh seketika memegang erat leher Kennedy.

"Ini ?" Joanna terpaku saat mendapati beberapa gambar dirinya di kamar Kennedy, ia sama sekali tak menyadari Kennedy telah beberapa kali memotret dirinya dengan pose candid di tempat yang berbeda.

"Nona selalu terlihat anggun, ketika berada di sekitar tanaman," Kennedy tersenyum melihat ekspresi kagum Joanna yang melihat hasil karya fotografi nya.

"Haruskah kita ambil gambar ketika Nona menampilkan wajah seksi di bawah tubuhku dan menahan kenikmatan ?" pria itu berbisik serta memeluk tubuh Joanna dari belakang.

Mendengar hal itu Joanna seketika berbalik badan dan menatap Kennedy.

"Aku hanya bercanda Nona," Kennedy terkekeh melihat ekspresi wajah kakak iparnya.

"Aku akan membunuhmu jika kau melakukan hal itu Ken !" Joanna nampak memukul pelan dada bidang adik iparnya.

Joanna yang telah nampak nyaman dan tak melepaskan pelukannya membuat Kennedy kembali memberikan kecupan lembut pada bibir Joanna.

"Aku tidak peduli meskipun kau telah bersuami Nona," Kennedy tetap melanjutkan aktivitas bibirnya setelah mengungkap isi hatinya.

"Aku benar-benar telah jatuh hati padamu," Kennedy berucap dengan menatap dalam mata sayu Joanna yang telah mengalungkan tangan pada pundaknya.

Pria itu perlahan kembali menghujani Joanna dengan kecupan pada wajah serta leher kakak iparnya.

"Ken ...," suara Joanna lagi-lagi membuat Kennedy semakin bersemangat untuk membimbing Joanna supaya mengikuti permainan nya.

"Sebut namaku Nona," Kennedy kembali membuat Joanna melupakan bahwa ia merupakan istri dari Brian Syahputra.

"Aku akan membuat mu melupakan suami mu !" Kennedy kembali berbisik dan menghembuskan nafasnya pada area telinga kakak iparnya, tangannya pun tak kalah gencar dalam memberikan serangan pada setiap inci tubuh Joanna.

Ia kembali mengangkat serta membawa tubuh Joanna di atas ranjang tanpa melepas permainan lidah mereka.

Keduanya kembali hanyut dan sama-sama mencari kehangatan dibawah dinginnya rintik hujan siang itu.

"Haruskah saya memesan hotel Tuan ?" Linda kembali memancing Brian dan mencoba untuk lebih merayu boss nya.

"Aku lelah Linda," Brian berucap dengan memejamkan matanya saat berhenti pada traffic light.

"Saya bisa memijat seluruh area tubuh Tuan !" wanita itu kembali melajukan mobil dengan tetap merayu Brian yang tak lain adalah boss nya.

"Jika Tuan tidak keberatan !" Linda kembali menampilkan senyum nakalnya.

"Apa kau juga sering menawarkan hal seperti ini pada pria lain ?" Brian melontarkan pertanyaan dan menatap nya dengan sinis.

"Saya bukanlah wanita murah seperti itu Tuan," Linda menghentikan mobilnya seketika di pinggir jalan.

Ucapan Brian sukses membuat wanita itu mendidih dan berniat untuk turun dari mobil meninggalkan Brian.

"Kenapa kau emosi Linda ?" Brian menahan tangan sekretaris nya dan membuat ia terduduk kembali dan menatap wajahnya.

"Aku hanya bercanda," pria itu akhirnya memulai permainan untuk meredakan amarah sekretaris nya.

"Mmmmmphh,"

"Tuan jangan disini !" Linda menghentikan Brian yang hendak menyentuh area sensitifnya.

"Kenapa ?"

"Bukankah justru ini tempat yang mendebarkan sekaligus menyenangkan untuk melakukan nya ?" Brian kembali ******* kasar bibir sang sekretaris.

"Tuan kau melukai ku ?" wanita itu nampak mendesis kesakitan karena Brian dengan sengaja menggigit bibirnya.

"Maaf !"

"Penampilan mu hari ini terlalu membuat ku bersemangat !" Brian berucap datar dan menatap menyaksikan Linda yang nampak kesakitan.

"Wanita ini, mungkin dia bisa ku jadikan mainan !" Brian berucap dalam hati dengan tetap menampilkan wajah datarnya.

Gerimis yang tak kunjung berhenti membuat Joanna serta Kennedy terlelap hingga sore pada hari itu.

Kennedy yang terbangun lebih dulu akhirnya memutuskan untuk kembali memasak sesuatu.

Cacing di perutnya semakin terasa menggelitik,

Permainan nya bersama Joanna siang itu benar-benar menguras energi pria itu.

"Nona sudah bangun ?" Kennedy berucap seketika saat mendapati Joanna yang tengah melangkah menuju ke arahnya.

"Aku lelah Ken, tapi aku juga lapar !" Joanna nampak menguap dan terduduk lesu di kursi meja makan.

"Tunggulah sebentar," Kennedy tersenyum dan mengusap lembut surai Joanna sebelum akhirnya melanjutkan aktivitas memasak nya.

"Kau membuat sup ?" Joanna beranjak dan mendekati Kennedy yang terlihat sibuk memasukkan beberapa bumbu dalam masakannya.

"Ini akan membuat kita segar kembali," pria itu menanggapi kalimat Joanna tanpa menghiraukan Joanna yang tengah berdiri di sampingnya.

"Apa masih lama ?" Joanna tiba-tiba menyenderkan kepalanya pada punggung Kennedy.

"Aku juga masih mengantuk Ken," lagi-lagi Joanna tampak menguap.

"Tenanglah Nona," dengan perlahan Kennedy terus bergerak dan mencicipi masakan nya demi tak membuat jatuh Joanna yang bersandar pada tubuhnya.

"Ini tidak akan lama lagi."

"Bisakah Nona, duduk sekarang ?" Kennedy bertanya serta tersenyum menunduk saat mendapati Joanna yang tak kunjung bergeser dari sandaran tubuhnya.

"Kenapa meja makan terlihat begitu jauh ?" rasa malas pada Joanna membuat tubuhnya begitu berat untuk bergerak.

Mendengar hal itu Kennedy kembali tersenyum dan mengangkat serta mendudukkan tubuh Joanna pada kursi meja makan.

"Kau yang terbaik Ken," wanita itu nampak tersenyum dan berucap manja pada Kennedy.

"Benarkah ?" Kennedy menjawab serta menghidangkan semangkuk sup wortel ayam panas dihadapan kakak iparnya.

Joanna menanggapi kalimat Kennedy dengan mengangguk-angguk kan kepalanya.

"Bagaimana dengan Brian ?" Kennedy menatap Joanna yang nampak meniup serta menikmati masakan nya.

"Dia," Joanna tersenyum mengingat suaminya.

"Dia memang pria dingin tapi dia juga bisa berubah lembut dan hangat secara bersamaan."

"Aku tak menyangka dulu aku menerima pinangannya !" Joanna berucap terputus seraya menikmati kuah sup nya.

Kennedy nampak datar mendengar kalimat yang keluar dari bibir Joanna.

"Andai Nona tahu, bahwa suami Nona tak sebaik itu !" pria itu berucap dalam hati.

"Aaaaa,"

"Buka mulut mu Ken !"

Lamunan Kennedy buyar seketika saat Joanna menyodorkan satu suapan sendok sup ke mulutnya.

"Tidak Nona," Kennedy mencoba memalingkan wajahnya.

"Kenapa Ken ?"

"Bukankah kau telah berkali-kali menjelajahi rongga mulutku ?" wanita itu nampak kecewa karena penolakan dari Kennedy.

Kennedy kembali tersenyum mendengar kalimat yang keluar dari bibir Joanna.

"Ken ...," bibir Joanna kembali terbungkam karena Kennedy telah kembali mencium nya.

Pria itu membungkuk serta menyetarakan posisi tubuhnya untuk kembali ******* bibir Joanna.

Episodes
1 Kennedy Yang Harus Turut Campur Tangan Karena Tragedi Kecelakaan Sang Kakak
2 Lekuk Tubuh Indah Sang Kakak Ipar
3 Klaustrophobia Yang Menghantui Joanna
4 Kehangatan Yang Tak Terlupakan
5 Tautan Panas Di Atas Ranjang Rumah Sakit
6 Cinta Yang Tak Semestinya
7 Rayuan Sang Sekretaris
8 Kuah Panas Sup Wortel Ayam
9 Isak Tangis Yang Berakhir Di Sofa
10 Event Fotografi Kennedy
11 Luka Tikam Yang Begitu Tajam Menyiksa
12 Air Mata Joanna, Luka Bagi Kennedy
13 Rencana Camping Sang Ibu Mertua
14 Permainan Dengan Penutup Mata
15 Senja Indah Dengan Tanda Kepemilikan
16 Menu Makanan Bagi Si Wanita Pemilih, Joanna
17 Kecurigaan Orang Tua Joanna
18 Luapan Emosi Kennedy
19 Luka Itu Memudarkan Segala Rasa
20 Runtuhnya Rumah Tangga Joanna
21 Lebih Dari Sekedar Hancur
22 Langkah Berat Sang Wanita Malang
23 Tangisan Sang Ibu Yang Kehilangan Putrinya
24 Ketika Semua Telah Bersemi
25 Bulir Padi Yang Membahagiakan
26 Wanita Sang Pemuas Hasrat.
27 Wanita Sadis Penghimpun Luka
28 Manisnya Buah Mangga Bak Penawar Luka Bagi Joanna
29 Gadis Masa Lalu Kennedy
30 Selai Strawberry, Kebahagiaan Sederhana Bagi Joanna
31 Direct Message Sosial Media Milik Joanna
32 Retakan Lubang Pada Kolam Ikan
33 Pameran Pasar Malam
34 Miniatur Mobil Merah
35 Seorang Kawan Berambut Pirang
36 Janin Yang Tak Di Harapkan
37 Pencarian Media Tanam Di Pasar Tradisional
38 Wanita Kurus Itu Joanna
39 Benarkah Ini Kennedy ?.
40 Perbincangan Sean Bersama Kennedy
41 Kesalahpahaman Joanna
42 Hamparan Ladang Gandum
43 Malam Gelap Gulita
44 Sikap Dewasa Kennedy.
45 Ketakutan Yang Telah Sirna.
Episodes

Updated 45 Episodes

1
Kennedy Yang Harus Turut Campur Tangan Karena Tragedi Kecelakaan Sang Kakak
2
Lekuk Tubuh Indah Sang Kakak Ipar
3
Klaustrophobia Yang Menghantui Joanna
4
Kehangatan Yang Tak Terlupakan
5
Tautan Panas Di Atas Ranjang Rumah Sakit
6
Cinta Yang Tak Semestinya
7
Rayuan Sang Sekretaris
8
Kuah Panas Sup Wortel Ayam
9
Isak Tangis Yang Berakhir Di Sofa
10
Event Fotografi Kennedy
11
Luka Tikam Yang Begitu Tajam Menyiksa
12
Air Mata Joanna, Luka Bagi Kennedy
13
Rencana Camping Sang Ibu Mertua
14
Permainan Dengan Penutup Mata
15
Senja Indah Dengan Tanda Kepemilikan
16
Menu Makanan Bagi Si Wanita Pemilih, Joanna
17
Kecurigaan Orang Tua Joanna
18
Luapan Emosi Kennedy
19
Luka Itu Memudarkan Segala Rasa
20
Runtuhnya Rumah Tangga Joanna
21
Lebih Dari Sekedar Hancur
22
Langkah Berat Sang Wanita Malang
23
Tangisan Sang Ibu Yang Kehilangan Putrinya
24
Ketika Semua Telah Bersemi
25
Bulir Padi Yang Membahagiakan
26
Wanita Sang Pemuas Hasrat.
27
Wanita Sadis Penghimpun Luka
28
Manisnya Buah Mangga Bak Penawar Luka Bagi Joanna
29
Gadis Masa Lalu Kennedy
30
Selai Strawberry, Kebahagiaan Sederhana Bagi Joanna
31
Direct Message Sosial Media Milik Joanna
32
Retakan Lubang Pada Kolam Ikan
33
Pameran Pasar Malam
34
Miniatur Mobil Merah
35
Seorang Kawan Berambut Pirang
36
Janin Yang Tak Di Harapkan
37
Pencarian Media Tanam Di Pasar Tradisional
38
Wanita Kurus Itu Joanna
39
Benarkah Ini Kennedy ?.
40
Perbincangan Sean Bersama Kennedy
41
Kesalahpahaman Joanna
42
Hamparan Ladang Gandum
43
Malam Gelap Gulita
44
Sikap Dewasa Kennedy.
45
Ketakutan Yang Telah Sirna.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!