"Ibu !" Joanna melambaikan tangannya tatkala mendapati sosok ibu mertuanya dari kejauhan, wanita itu bahkan berlari kecil untuk segera menghampiri sang Ibu mertua.
Joanna dan Kennedy akhirnya tiba di lokasi camping dan menggelar makan siang bersama keluarga suaminya.
"Bagaimana rasanya Nona ?" Kennedy tampak menyuapkan hasil masakannya pada mulut Joanna.
"Emmmm," wanita itu mencicipi dan mencoba merasakan hasil masakan Kennedy dengan menutup mata.
"Apa tidak enak ?" Kennedy nampak cemas menunggu jawaban dari kakak iparnya.
"Kau yang terbaik Ken," Joanna akhirnya membuka mata dengan senyum tengilnya.
Kennedy tersenyum lega dan mencubit hidung kakak iparnya.
Kedua orang tua Kennedy justru tersenyum melihat hal itu.
"Segeralah cari pendamping dan bergabung di perusahaan Ken !" Ibu Kennedy membuka percakapan dan menyuarakan isi hatinya.
Joanna serta Kennedy nampak terdiam seketika.
"Kau sudah nampak begitu manis dalam memperlakukan Nona mu !"
"Rasanya sudah cocok jika kau mencari wanita untuk dijadikan calon istri !" Ayahnya turut menimpali perkataan sang Ibu.
"Aaaah, itu ...,"
"Saya masih memikirkannya Ayah, Ibu !" Kennedy tersenyum seraya mengunyah perlahan makanan di mulutnya.
"Apa kau sudah memiliki kekasih ?" Ibunya kembali melontarkan pertanyaan dengan menikmati salad buah pada piring ditangannya.
"Tentu," Kennedy menjawab tanpa ragu.
"Benarkah ?" Ayah dan Ibu mertua Joanna itu nampak bertanya secara bersamaan.
"Aku masih memperjuangkan wanita ku Ibu," Kennedy melirik Joanna yang berada di samping Ibu nya.
"Ibu dukung keputusan mu Ken !"
"Asal itu wanita !" sang Ibu nampak berucap dengan antusiasme yang tinggi.
Ucapan dari Ibu Kennedy sukses membuat Joanna tersedak ringan.
Wanita itu menutup mulutnya yang penuh dengan buah-buahan dan mencoba untuk meraih air minum.
"Makanlah perlahan Nona !" Kennedy dengan cekatan memberikan sebotol air mineral pada Joanna.
"Udaranya sangat sejuk disini !"
"Ayah dan Ibu ingin berjalan santai untuk menikmati pemandangan di area taman ini," Ayah Kennedy mencoba untuk beranjak setelah selesai menikmati hidangan pencuci mulut nya.
"Baiklah Ibu, biar saya yang membereskan semuanya disini !" Joanna tersenyum serta turut membantu sang Ayah mertua untuk berdiri.
"Ibu harus menemani Ayah bukan ?" Joanna nampak tersenyum menatap wanita paruh baya yang telah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.
Meskipun status mereka adalah menantu dan mertua, Ibu Brian serta Kennedy itu amatlah menyayangi Joanna layaknya anak sendiri, semua tak lepas dari kepribadian yang dimiliki oleh Joanna.
Ibu Kennedy beranjak serta menuntun sang suami untuk berjalan mengelilingi taman pada tempat camping mereka.
"Ini saatnya untuk kita me time Nona," Kennedy kembali memeluk tubuh Joanna seolah Joanna adalah wanita milik dia seutuhnya.
"Ken, ingat ini di tempat umum !" Joanna mencoba untuk menghindari Kennedy.
"Aku ingin mencoba hal baru Nona," pria itu menangkap dan menarik paksa tubuh Joanna dan akhirnya mendekapnya.
"Aku harus membereskan ini dulu Ken," Joanna akhirnya pasrah dan menerima beberapa kecupan Kennedy pada pipinya.
"Apa setelah ini kita bisa bermain ?" Kennedy membisikkan kalimat itu pada telinga Joanna.
"Kau ini !" Joanna menoleh serta mencubit lengan Kennedy.
Pria itu terkekeh saat Joanna nampak melotot dan mendongakkan kepala serta menoleh untuk menatap matanya.
Brian nampak kembali ke rumahnya sore itu.
Pria itu tak lagi mencari keberadaan Joanna, karena ia mengetahui posisi Joanna saat ini.
"Haruskah aku menyusul acara mereka ?" pria itu bergumam perlahan sembari memainkan bolpoin di jarinya sebelum akhirnya melangkah kan kaki menuju ruang kerjanya.
Brian merebahkan tubuhnya di sofa serta memejamkan matanya.
Bayangan Kennedy serta Joanna tak luput dari matanya.
Pria itu kembali beranjak dan kembali memeriksa rekaman cctv di seluruh kediaman nya.
"Aaaaaghhh,"
"Mereka benar-benar keterlaluan !" Brian kembali berteriak untuk meluapkan emosi nya.
Pria itu gusar karena harus kembali melihat permainan panas antara Joanna dan juga Kennedy didalam kamarnya sendiri.
"Manusia tak berotak !" Brian kembali memaki gambar Joanna serta Kennedy.
"Bagaimana bisa kau sangat menikmatinya Joanna ?"
"Apa kau benar-benar telah melupakan suami mu ini ?" mata Brian tampak berkaca-kaca dengan tangan nya yang mengepal sempurna.
Acara camping yang digelar oleh Ibu mertua Joanna tampak begitu meriah malam itu.
Meskipun hanya beranggotakan empat orang,
Ayah dan Ibu Brian serta Kennedy nampak begitu menikmati permainan-permainan masa kecil yang mereka mainkan.
"Ayo tutup mata Nona,"
"Ini giliran mu !" Kennedy tampak memasangkan alat penutup mata pada Joanna.
"Apa aku bisa ?" Joanna tampak memegangi tangan Kennedy sebelum akhirnya melepaskan nya saat matanya telah gelap sempurna.
"Tentu Jo, jangan kalah dengan Ayah mertua mu !" Ibu mertua Joanna nampak begitu menyemangati sang menantu.
Joanna akhirnya harus bermain dan berjalan perlahan untuk menebak siapa nama orang yang berhasil ditangkap nya.
"Apa ini kau Ken ?" Joanna berucap seketika tatkala ia menabrak seseorang, wanita itu mencoba untuk mengenali postur tubuh seseorang yang nampak terdiam dihadapan nya.
Tidak adanya jawaban serta hening nya suasana membuat Joanna akhirnya membuka penutup matanya.
"Brian ?" betapa terkejutnya Joanna saat ia mendapati Brian telah berada dihadapannya.
"Kenapa kau menatapku dengan ekspresi seperti ini sayang ?" pria itu nampak membelai pipi istrinya.
"Aku ingin memberikan kejutan padamu !" Brian tersenyum dan menatap dalam mata Joanna.
"Baiklah sepertinya kami harus pergi tidur terlebih dahulu !" Ayah mertua Joanna akhirnya membuka suara untuk memecah keheningan.
Kennedy hanya menghela nafasnya dan berpaling dengan kesal.
"Aku merindukanmu sayang !" Brian seketika mencoba untuk mencium bibir Joanna tanpa mempedulikan keberadaan Kennedy.
"Tidak Bri," Joanna mendorong kasar tubuh Brian dan berhasil membuat jarak diantara mereka.
"Kenapa kau kemari ?" Joanna menatap sendu wajah sang suami.
"Waah, apa kau tak mengharapkan kehadiran ku lagi ?" Brian mencengkeram dagu Joanna untuk kembali menatap nya.
"Kau yang mengajarkan diriku untuk tidak membutuhkan mu Bri," wanita itu berucap tegas dihadapan suaminya juga Kennedy.
"Tapi aku masih menjadi suami sah mu Joanna !"
"Apa kau melupakan hal itu ?" pria itu kembali mencium paksa bibir istrinya dengan atau tanpa persetujuan Joanna.
Joanna akhirnya luluh dan menerima perlakuan Brian.
"Aku merindukanmu Bri,"
"Tapi kenapa kau tega melakukan hal itu padaku ?" wanita itu bertanya pada dirinya sendiri dalam hati, ia juga menikmati setiap kecupan hangat dari bibir suaminya dengan berlinang air mata.
Kennedy termenung dan duduk seorang diri, pria itu benar-benar cemburu dan tak menyangka bahwa Brian akan menghampiri mereka di lokasi camping saat ini.
"Apa ini ?"
"Kenapa aku semakin tak bisa melihat Nona bersama dengan suaminya ?"
"Harusnya aku bahagia jika Nona dan juga Brian memperbaiki hubungan mereka,"
"Apa yang telah kau lakukan Ken ?" Kennedy tampak mengacak rambutnya dan sibuk berargumen dengan dirinya sendiri, ia juga menghela nafas kasar serta menendang kursi taman untuk meluapkan emosi.
"Ada apa denganmu Ken ?" Brian melangkah perlahan dan menghampiri adiknya.
"Apa maksud Kakak ?" Kennedy menanggapi kalimat Brian dengan wajah datar.
"Kau ini sungguh munafik sekali !"
"Kau berpura-pura menolak saat itu, tapi sekarang dia benar-benar berpaling dariku !"
"Dan itu semua karena ulah mu !"
"Kau juga sungguh tak tahu diri ya Ken ?"
"Ayah, Ibu ku memungut mu dari panti,"
"Dan seperti ini balasan mu padaku ?" Brian sama sekali tak memberi celah bagi Kennedy untuk menyela semua kalimatnya.
"Kak ...," Kennedy mencoba untuk memberikan penjelasan nya pada Brian, tapi lagi-lagi pria itu memotong kalimatnya.
Joanna tampak muncul dan menghentikan langkahnya.
"Jangan sebut diriku dengan panggilan itu !"
"Aku benar-benar tak ingin mendengarnya !"
"Jika kau benar-benar masih memiliki harga diri, keluar dari rumahku secepatnya !"
"Kennedy tidak akan pernah pergi dari rumah !" wanita itu akhirnya berjalan perlahan mendekati suami serta adik iparnya.
Atensi Brian dan Kennedy seketika tertuju pada Joanna.
"Ternyata seperti ini sifat aslimu Bri ?"
"Merendahkan orang lain demi mencari kebenaran dalam dirimu sendiri."
"Setelah semua yang dilakukan oleh Kennedy untuk membantu masa sulit mu ?"
"Kau tega berucap seperti ini ?" Joanna, wanita itu menumpahkan air matanya demi membela adik iparnya.
"Diriku sama sekali sudah tak mengenali mu Bri,"
"Sama sekali !" Joanna berucap kasar pada suaminya sendiri dan berlalu pergi.
Kennedy hanya terdiam, dalam hati pria itu bahagia karena melihat Joanna yang dengan tulus menyayangi nya.
Joanna bahkan tak rela melihat suaminya merendahkan harga diri Kennedy.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments